(true story)
...Dan Bebaskanlah Aku dari Yang jahat"
Kira-kira satu bulan sebelum aku masuk ke kelas lima, aku semakin yakin,bahwa bagiku Tuhan tak ada. Saar sedang duduk sendirian di basement atau membaca sendirian dengan bantuan cahaya matahari sore di tempat tidur orangtuaku, aku semakin yakin bahwa hidupku tidak akan berubah sampai aku mati.
Tak ada Tuhan yang adil yang membiarkan aku hidup seperti ini. Aku percaya bahwa aku sendirian dalam perjuanganku dan bahwa perjuanganku adalah perjuangan mempertahankan hidup.
Ketika aku meyakini bahwa Tuhan tidak ada, rasa sakit fisik tidak kurasakan. Setiap kali Ibu menghantamku, rasanya seakan-akan ia sedang melampiaskan rasa berangnya pada sebuah boneka rombeng. Di dalam,emosiku berpusar antara rasa takut dan rasa marah yang amat sangat.
Diluar, aku adalah robot yang jarang mengungkapkan emosi kecuali kalau itu akan menyenangkan Si Perempuan jalang dan menguntungkan diriku. Aku menahan air mata, tak sudi aku menangis sebab aku tak ingin memberi dia kepuasan karena aku kalah.
Pada malam hari, aku tidak lagi bermimpi. Pada siang hari, aku tak membiarkan diriku berangan-angan. Khayalan-khayalanku menjadi Superman yang dulu begitu hidup, sekarang tak ada lagi. Saar tertidur, jiwaku bagai masuk ke sebuah lubang hitam. Pada pagi hari aku tak lagi terbangun dalam keadaan segar; aku selalu merasa lelah dan berkata pada diri sendiri bahwa hidupku di dunia ini berkurang satu hari lagi.
Kuselesaikan tugasku yang satu, kemudian mengerjakan yang lainnya, lalu mengerjakan yang lainnya lagi, selalu dengan perasaan takut, setiap hari. Tanpa satu pun mimpi, kata-kata seperti harapan dan iman bagiku hanya rangkaian huruf yang tersusun begitu saja menjadi sesuatu yang tak punya arti - kata-kata seperti itu cuma ada dalam dongeng.
Saat mendapat makanan, aku seperti sedang berpesta. Kulahap makanan itu seperti seekor anjing yang tak punya tuan - menggeram, siap menerkam,bersamaan dengan perintah lbu. Tak lagi aku peduli bahwa lbu melihat sikapku itu sebagai hal yang memuaskan dirinya-yang penting bagiku adalah melahap secepat kilat makanan yang diberikan kepadaku sampai tandas.
Tak ada lagi yang lebih rendah daripada diriku. Pada suatu hari Sabtu, saat aku sedang mencuci peralatan sarapan, kulihat lbu menaruh sisa-sisa pancake dari sebuah piring ke tempat makan anjing peliharaannya. Binatang peliharaannya yang terawat baik itu memakan sisa-sisa pancake tadi sampai puas, lalu pergi mencari tempat untuk tidur.
Masih ada sisa pancake di tempat makan anjing itu. Beberapa saat kemudian, setelah menaruh teko dan panci di laci bawah, aku. Merangkak menuju tempat makan anjing tadi, lalu memakan sisa pancake yang tersisa di tempat makan itu. Saat mengunyah, aku bisa mencium bau anjing pada pancake itu, tapi tetap kumakan juga. Aku tak peduli.
Aku menyadari betul kalau perempuan jalang itu memergoki aku memakan makanan yang menjadi hak anjingnya, aku harus menanggung risikonya. Bagaimanapun, mendapat makanan--entah bagaimana caranya-adalah satu-satunya cara bertahan hidup bagiku.
Jiwaku menjadi sangat dingin. Aku membenci segala sesuatu. Bahkan matahari kucemooh dengan marah, sebab aku tahu aku tak bakal bias bermain pada saat sinarnya memancar hangat. Aku diselimuti oleh kemarahan setiap kali mendengar tawa riang anak-anak lain yang sedang bermain di halaman luar.
Setiap saat mencium bau makanan yang akan dihidangkan kepada orang lain, perutku serasa dipilin karena aku tahu makanan itu pasti bukan untukku. Setiap kali di panggil untuk menjalankan fungsi budak bagi keluarga ini, aku selalu ingin melampiaskan kemarahan dengan menghantam apa saja. l
Ibulah yang paling kubenci. Aku berharap dia mati saja. Tetapi sebelum dia mati, aku ingin dia merasakan berlipat kali rasa sakit dan kesepian yang kurasakan selama bertahun - tahun. Ketika aku masih biasa berdoa kepada Tuhan, hanya sekali doaku dikabulkan. Pada suatu hari, ketika usiaku lima atau enam tahun, lbu memukuliku di mana pun aku berada dirumah itu.
Malam harinya, sebelum. tidur, aku berlutut dan berdoa. Aku meminta Tuhan untuk membuat lbu sakit supaya dia tidak memukuliku lagi. Aku berdoa dengan sangat khusyuk dan lama sekali, sampai-sampai kepalaku pening. Esok paginya aku sangat terkejut karena lbu benar-benar sakit.
Seharian dia berbaring saja di kursi panjang, hampir tidak bergerak-gerak. Karena Ayah di tempat kerjanya, aku dan saudara-saudaraku merawat lbu seakan-akan dia pasien kami.
Seiring berlalunya tahun dan hukuman-hukuman lbu yang semakin intens,aku mulai berpikir tentang usia lbu - kira-kira pada umur berapa dia akan mati. Aku mendambakan saat ketika jiwa-nya diambil dan dibuang ke neraka yang paling dalam, dan baru pada saat itulah aku bisa terbebas darinya.
Aku juga membenci Ayah. la tahu persis bahwa aku hidup, dalam neraka,tetapi ia tak punya cukup keberanian untuk membebaskan aku dari neraka itu seperti yang berkali-kali ia janjikan pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau aku pikirkan hubunganku dengan Ayah, aku sampai pada kesimpulan bahwa ia menganggap aku sebagai bagian dari masalah.
Aku yakin Ayah menganggap aku bersikap membangkang. Hampir pada setiap percekcokan antara lbu dan Ayah, perempuan jalang itu melibatkan diriku. lbu akan menyeretku dari mana pun aku sedang berada, lalu menyuruh aku mengulangi setiap perkataan kasar yang pernah dilontarkan Ayah dalam banyak cekcok mereka sebelumnya.
Aku tahu persis tujuan pennainan lbu, tetapi ketika aku harus memilih siapa yang harus kuturuti dalam keadaan seperti itu tidaklah sulit. Kemurkaan lbu jauh lebih buruk bagiku. Maka, aku selalu mengangguk sambil dengan takut-takut mengucapkan kata yang Ibu ingin dengar. Di depan Ayah, lbu meneriakkan kata-kata kasar yang pernah aku ucapkan di depan lbu, padahal kata-kata itu aku ucapkan atas perintah
lbu.
Sering kali aku lupa kata-kata yang harus kuucapkan, dan pada saat-saat seperti itu lbu memaksaku untuk mencari-cari kata lain. Situasi seperti itu membuat aku merasa sangat tidak enak, sebab itu berarti aku menghindari pukulan-pukulan dengan cara menggigit tangan yang selama masa itu paling sering memberiku makanan.
Mulanya aku mencoba menjelaskan kepada'Ayah mengapa aku berbohong dan memusuhinya. Waktu itu Ayah mengaku bahwa ia mempercayai aku, namun akhirnya aku tahu bahwa ia tidak lagi bisa mempercayai aku. Sikapnya itu bukannya membuat aku menyesal atau sedih. Aku malah semakin membenci ayah.
Anak-anak lelaki yang tinggal di lantai atas itu bukan lagi saudara-saudara kandungku. Pada awal-awal penderitaanku mereka memang pernah sesekali mencoba menguatkan diriku. Tetapi pada musim panas tahun 1972 mereka mulai bergantian memukuli aku dan tampaknya senang sekali memerintah aku untuk metakukan sesuatu bagi mereka.
jelas, bahwa mereka merasa lebih berkuasa dibandingkan seorang budak di keluarga itu. Setiap kali mereka mendekati aku, hatiku mengeras seperti batu, dan aku tahu persis mereka bisa melihat rasa benci yang tergambar pada raut wajahku.
Sekalipun amat jarang dan selalu dengan perasaan kosong, aku pernah merasa menang terhadap mereka. Pada saat seperti itu, dengan geram dan suara tertahan supaya tidak terdengar oleh mereka, kulontarkan kata "asshole". Aku pun jadi membenci para tetangga, para saudara, dan siapapun yang mengenal aku dan tahu apa yang kualami. Rasa benci, tinggal itulah satu-satunya yang kumiliki.
Tetapi yang paling aku benci sebetulnya adalah diriku sendiri. Semakin hari aku semakin percaya bahwa segala sesuatu yang menimpa diriku atau teriadi di sekitarku adalah akibat kesalahanku sendiri karena aku membiarkan semua itu berlangsung sekian lama. Aku menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tetapi aku tak bisa memilikinya, maka aku membenci semua orang yang memiliki apa saja yang tak bisa kumiliki.
Aku ingin menjadi kuat, tetapi dalam hati aku tahu aku orang yang rapuh. Aku tak pernah punya keberanian untuk melawan perempuan jalang itu, maka aku tahu sepantasnyalah aku menerima segala sesuatu yang menimpa diriku.
Bertahun-tahun lbu mencuci otakku dengan menyuruhku berteriak sekeras-kerasnya, "Aku benci diriku! Aku benci diriku!" Usahanya itu berhasil. Beberapa minggu sebelum aku masuk ke kelas lima, aku merasa sangat membend diriku sendiri sampai-sampai aku merasa ingin mati saja.
Bagiku, sekolah tidak lagi menarik seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku berjuang keras memusatkan perhatian pada pelajaran, tetapi rasa marah yang kupendam sering kali menggelegak di saat-saat yang tidak tepat.
Pada suatu hari jumat siang di musim dingin tahun 1973, tanpa alas an yang jelas, aku menghambur keluar kelas, berteriak kepada siapa pun yang berpapasan denganku. Pintu kelas kubanting keras-keras sampai-sampai aku sempat berpikir kacanya pasti pecah berantakan.
Aku berlari ke kamar kecil, dan seperti kesetanan kuhantam dinding berkeramik di kamar kecil itu berkali-kali dengan tinjuku yang kecil sampai tenagaku terkuras. Sesuidah itu aku terkapar, berdoa memohon ada mukjizat. Dan mukjizat itu tidak pemah datang.
Bagaimanpun, waktu -waktu di luar ruang kelas masih lebih mendingan daripada di dalam "rumah neraka" lbu. Karena aku ini murid yang dikucilkan oleh semua murid lain, teman-teman sekelasku sering menggantikan peran lbu memukuli aku. Salah seorang dari mereka bernama Clifford.
Clifford senang berkelahi di sekolah, dan pada waktu-waktu tertentu ia menghadangku pada saat aku sedang berlari pulang dari sekolah. Dengan memukuli aku, Clifford ingin menunjukkan kehebatannya dihadapan teman-temannya. Kalau sudah begitu, paling-paling aku menjatuhkan diri ke tanah sambil melindungi kepalaku, sementara Clifford dan gengnya menendang aku silih berganti.
Lain lagi dengan Aggie. Teman perempuan sekelasku ini sama-sama sering "menyiksa" aku, tetapi caranya berbeda. la selalu bisa menemukan cara baru untuk mengatakan betapa ia menginginkan aku "mati mendadak" dan lenyap begitu saja. Aggie selalu berpamer diri. la selalu ingin memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin sekelompok kecil teman-teman perempuannya.
Selain mencemooh dan menyakiti aku, Aggie dan kelompoknya terlihat puas memamerkan pakaian mereka yang bagus-bagus. Aku sendiri tahu bahwa sejak semula Aggie tidak pernah menyukaiku, namun aku tidak tahu sampai sejauh apa ia tidak menyukai aku. Dan aku mengetahui hal itu baru pada hari terakhir kami di kelas empat.
lbu Aggie mengajar aku dikelas pagi, dan pada hari terakhirku di kelas empat itu Aggie masuk kelas, bergaya seperti orang mau muntah, sambil berkata, "David Pelzer Smelizer tahun depan akan menjadi muridku di kelas ini". Tiada hari yang ia lewati tanpa mengeluarkan cemoohan terhadap diriku di hadapan teman-temannya.
Aku tidak terlalu. memedulikan Aggie, sampai ketika kami murid-murid kelas lima melakukan studi wisata ke salah satu.Clipper Ship di San Francisco. Ketika aku sedang sendirian berdiri di bagian lambung kapal memandangi air laut, Aggie mendekati aku dengan senyumnya yang licik dan berkata dengan suara pelan, "Loncat!" la membuatku terkejut.
Kuperhatikan raut wajahnya, mencoba memahami apa yang ia inginkan. Sekali lagi ia berkata, pelan dan tenang, "Aku bilang, jangan ragu-ragu,ayo meloncatlah. Aku tahu segala sesuatu mengenai dirimu, Pelzer, dan meloncat ke laut adalah satu-satunya cara bagimu untuk keluar dari masalahmu".
Terdengar suara lain dari belakang Aggie, "Ya, betul itu". Itu suara John, teman kelasku juga, salah satu "pengawal" Aggie yang bertubuh kekar. Kualihkan pandanganku dari mereka ke air taut berwarna hijau yang mengempas-empas lambung kayu kapal. Sejenak kubayangkan diriku terjun keair laut, dan aku tahu aku pasti tenggelam.
Nyaman sekali rasanya punya pikiran seperti itu, sebab kalau aku mati tenggelam berarti aku terbebas dari Aggie, teman-temannya, dan semua saja yang kubenci di dunia ini. Tetapi aku tersadar kembali, lalu aku menengadah dan kutatap langsung mata John. Kucoba untuk tidak mengalihkan tatapanku pada John. Beberapa saat kemudian, John pasti bisa merasakan kemarahanku sebab ia beranjak pergi sambil mengajak Aggie.
Pada awal tahun ajaran kelas lima, Mr. Ziegler, guruku di kelas pagi,tidak mengerti mengapa aku menjadi murid yang bermasalah. Baru kemudian perawat sekolah memberitahu Mr. Ziegler mengapa aku mencuri makanan dan mengapa pakaian yang kukenakan begitu lusuh. Berdasarkan informasi itu, Mr. Ziegler berusaha keras memperlakukan aku sebagaimana murid normal lainnya.
Salah satu. tugas Mr. Ziegler sebagai sponsor koran sekolah adalah membentuk sebuah komite yang terdiri dari murid-murid sekolah untuk mencari sebuah nama bagi koran sekolah itu. Aku mengajukan usul sebuah nama yang menarik, dan seminggu kemudian usulanku itu masuk dalam daftar usulan yang akan dipilih melalui pemilihan yang diikuti seluruh murid dan staf sekolah.
Usulan nama yang kuajukan menang telak. Beberapa jam setelah pemilihan itu selesai, Mr. Ziegler memanggilku dan mengatakan betapa bangganya ia bahwa nama yang kuusulkan memenangkan pemilihan. Aku menikmati pujian itu seperti busa kering menyerap air.
Nyaris aku menangis karena sudah sedemikian lama tak ada yang mengatakan sesuatu yang positif mengenai diriku. Usai sekolah pada hari itu,setelah menjamin bahwa aku tak akan mendapat masalah, Mr. Ziegler memberiku surat yang harus kuserahkan kepada lbu.
Dengan perasaan bangga bercampur gembira, aku berlari kencang penuh semangat pulang ke rumah lbu. Seharusnya aku sudah bisa menduga bahwa kegembiraanku tak akan berumur panjang.
Perempuan jalang itu dengan kasar membuka surat yang kuberikan, membacanya cepat-cepat, dan berkata dengan sikap mencemooh, "Jadi, Mr. Ziegler berkata bahwa aku sepantasnya bangga terhadapmu karena kau berhasil memberi nama yang paling menarik untuk koran sekolah. la juga menyatakan bahwa kau adalah salah satu murid terpandai di kelasnya. Wah, bukankah itu berarti kau istimewa?"
Tiba-tiba suaranya berubah jadi sedingin es dan ia menuding-nudingkan telunjuknya ke wajahku dan berkata. tajam, "Terus terang kukatakan padamu, bangsat kecil! Kau tak bisa melakukan apa pun yang membuat aku terkesan! Paham? Kau bukan siapa-siapa, nobody! Kau adalah sesuatu, it! Kau tak pernah ada! Kau anak brengsek! Aku membencimu dan aku berharap kau mati! Mati! Kau dengar? Mati! "
Setelah merobek-robek surat itu menjadi potongan-potongan amat kecil,lbu meninggalkan aku, kembali asyik menikmati acara televisi. Aku berdiri tak bergerak, memandangi surat yang terserak menjadi potongan-potongan kecil seperti butiran salju di kakiku. Sekalipun aku sudah berkali-kali mendengar semua perkataan yang tadi diucapkan lbu,kali ini kata "It" membuat diriku tertegun tidak seperti biasanya.
Ibu telah menghilangkan seluruh keberadaanku. Segala sesuatu telah kulakukan sebaik mungkin untuk mendapat pengakuan dari-nya. Tetapi, sekali lagi,aku gagal. Hatiku semakin kecil dan kecil. Ibu mengatakan semua itu bukan karena sedang mabuk; semua perkataan itu keluar dari hatinya.
Aku berlutut, mencoba menyatukan kembali surat yang sudah menjadi potongan-potongan kecil itu. Tidak mungkin. Kubuang potongan-potongan surat itu ke tempat sampah, sambil berharap hidupku cepat berakhir saja. Pada saat itu aku yakin bahwa bagiku kematian akan lebih baik daripada kemungkinan memperoleh kebahagiaan. Aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Aku sekadar "sesuatu", "It".
Semangat hidupku menjadi sedemikian rendah, sampai-sampai aku berharap,ibu benar-benar membunuhku, dan kupikir pada akhirnya itu akan ia lakukan juga. Menurut perkiraanku semua itu sekadar menunggu saat kapan ia mau melakukannya. Maka aku pun mulai sengaja bertingkah yang membuatnya marah, dengan harapan ia akan terpancing untuk segera mengakhiri kesengsaraanku.
Aku mulai sembarangan mengerjakan tugas-tugasku. Aku sengaja "lupa" tidak menyikat lantai kamar mandi,dengan harapan Ibu atau salah satu pangeran kecilnya terpeleset dan jatuh kesakitan karena membentur lantai yang keras. Aku sengaja membiarkan peralatan makan malam yang kucuci sedikit kotor. Aku berharap perempuan jalang itu tahu bahwa aku tak lagi peduli akan apa pun.
Sikapku berubah, aku jadi semakin memberontak. Sebuah peristiwa terjadi di sebuah toko swalayan pada suatu hari. Biasanya, setiap kali berbelanja di toko itu, aku disuruh tinggal di mobil. Tetapi pada hari itu, tanpa alasan yang jelas, lbu memutuskan mengajak aku masuk ke toko.
la menyuruhku meletakkan salah satu tanganku pada kereta belanja dan menundukkan kepala ke arah lantai. Dengan terang-terangan aku menolak semua perintahnya. Aku tahu ia tidak akan menarik perhatian pembeli lain di toko itu, maka aku berjalan ticlak terlalu jauh di depan kereta belanja. Kalau saudara-saudaraku menegur kelakuanku, aku balik membentak mereka. Aku sekadar mau mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak lagi sudi menjadi budak orang lain.
Ibu tahu bahwa pembeli lain di toko itu sedang memperhatikan kami dan bisa mendengar keributan yang kami buat, maka beberapa kali ia memegang tanganku dan berkata padaku dengan suara lembut agar aku tenang. Aku merasa sangat senang berada di atas angin selama berada di toko itu,tetapi aku juga sadar bahwa begitu kami berada di luar toko, aku harus membayar risikonya. Persis seperti dugaanku, lbu membentak-bentak aku bahkan sebelum kami masuk mobil.
Begitu kami masuk mobil, lbu menyuruh anak-anak lelakinya untuk menginjak-injak aku. Kemudian begitu kami masuk rumah, lbu langsung membuatkan aku campuran amoniak dan Clorox. La pasti bisa menduga bahwa aku menggunakan kain lap untuk menutupi hidung dan wajahku sebab ia menceburkan kain lap itu ke dalam ember.
Begitu ia menutup pintu kamar mandi, aku langsung ke ventilasi tempat keluar masuk udara dari mesin pemanas. Mesinnya tidak menyala. Tak ada udara segar yang masuk dari ventilasi itu. Aku pasti sudah berada di kamar mandi lebih dari satu jam, sebab uap berwarna abu-abu sudah memenuhi ruangan sampai ke lantai.
Mataku berair banyak, yang tampaknya menambah daya kerja uap beracun itu. Aku mengeluarkan ingus dan megap-megap sampai rasanya mau pingsan. Begitu lbu akhirnya membuka pintu kamar mandi, aku langsung menghambur ke luar, tetapi tangannya mencengkeram leherku. La mendorong wajahku ke ember, tapi aku melawan. lbu gagal melakukan kehendaknya.
Rencanaku untuk bersikap memberontak pun gagal. Setelah kejadian di "kamar gas" yang memakan waktu lebih lama daripada biasanya itu, aku kembali menjadi pribadi yang rapuh. Tetapi jauh dalam jiwaku aku masih bisa merasakan dorongan naik yang semakin menguat seperti sebuah gunung berapi yang menunggu saatnya untuk meletus.
Satu-satunya yang membuat aku tetap waras adalah adikku yang masih bayi,Kevin. la adalah bayi yang manis dan aku mencintainya. Sekitar tiga setengah bulan sebelum ia dilahirkan, Ibu mengizinkan aku menonton acara kartun spesial Natal. Setelah acara itu selesai, tanpa alasan yang jelas bagiku, lbu menyuruh aku duduk di kamar saudaraku.
Beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar itu dengan begitu tiba-tiba, memiting leherku dengan tangannya, dan mencekik aku. Aku meronta tak karuan, mencoba membebaskan diri dari pitingannya. Pada saat aku merasa ingin pingsan,kudepakkan kakiku tanpa arah yang jelas, yang ternyata tepat mengenai bagian tubuh di antara kedua kakinya, dan itu membuatnya melepaskan pitingannya. Di kemudian hari, aku menyesali kejadian itu.
Sekitar satu bulan setelah kejadian lbu berusaha mencekik aku itu, ia berkata padaku bahwa aku menendang perutnya keras sekali yang bisa-bisa menyebabkan bayi dalam kandungannya menderita cacat lahir permanen. Aku merasa seperti seorang pembunuh.
Tidak cuma kepadaku lbu menceritakan kejadian itu. la punya beberapa versi mengenai kejadian itu, yang ia ceritakan kepada siapa saja yang mendengarkan omongannya. lbu bilang, ia mencoba memeluk aku, tetapi aku berkali-kali menendang dan memukul perutnya. Kata lbu, itu aku lakukan karena aku iri terhadap bayi yang akan ia lahirkan.
lbu bilang, aku takut bayi itu kelak mendapat perhatian yang lebih besar dari lbu. Aku betul-betul mencintai Kevin,tetapi karena aku tak diizinkan bahkan untuk melihat-nya atau melihat saudara-saudaraku yang lain, aku tak punya kesempatan untuk menunjukkan perasaanku.
Aku ingat betul akan suatu hari Sabtu, ketika Ibu mengajak anak-anak lelakinya yang lain nonton baseball di Oakland, sementara Ayah tinggal di rumah untuk mengasuh Kevin, sedangkan aku sendiri mengerjakan tugas-tugasku. Setelah kuselesaikan semua tugasku, Ayah mengeluarkan Kevin dari tempat tidur bayinya. Aku senang memperhatikan dia merangkak berputar-putar dalarn pakaiannya yang membuat dia makin menggemaskan.
Menurutku, dia manis. Kalau Kevin mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku, hatiku luluh. la bisa membuatku melupakan segala penderitaanku untuk sementara waktu. Kepolosannya seakan-akan menghipnotis aku, sebab aku mengikutinya terus ke mana pun ia merangkak; aku membersihkan liur yang membasahi sekitar mulutnya dan selalu berada dekat dengannya untuk menjagainya.
Sebelum Ibu pulang, aku sempat bermain kue pastel dengan Kevin. Tawa Kevin membuat hatiku hangat. Sejak saat itu, setiap kali aku merasa tertekan, aku ingat Kevin. jiwaku tersenyum setiap kali kudengar Kevin berteriak atau tertawa gembira.
Perasaan hangat karena pertemuan singkatku dengan Kevin tidak bertahan lama, sebab rasa benci dalam hatiku muncul kembali. Aku berusaha keras memendam perasaanku itu, tapi tak bisa. Aku tahu aku tidak pernah ditakdirkan untuk dicintai.
Aku tahu aku tak pernah menikmati kehidupan seperti yang dinikmati saudara-saudara lelakiku. Yang paling buruk, aku tahu bahwa pada saatnya nanti Kevin juga akan membenciku, seperti saudara-saudara kandungku yang lain.
Menjelang akhir musim gugur tahun itu, Ibu mulai melampiaskan rasa frustrasinya ke lebih banyak lagi sasaran. la sangat membenciku seperti dulu, namun ia mulai memusuhi teman-temannya, suaminya, saudara kandungnya, bahkan ibunya. Sekalipun masih anak kecil, aku bias merasakan bahwa hubungan Ibu dengan keluarganya tidak sehat.
Ibu merasa semua orang berusaha menasihatinya. Ibu tidak pernah merasa nyaman,apalagi bersama ibunya sendiri yang juga berkepribadian kuat. Biasanya Nenek mengajak Ibu membeli baju baru atau pergi ke salon kecantikan. Ibu tidak sekadar menolak semua tawaran itu. la berteriak-teriak dan menjerit-jerit kepada Nenek, sampai akhirnya Nenek meninggalkan rumah-nya.
Kadang kala Nenek mencoba membantuku, tetapi itu malah membuat keadaan lebih buruk lagi. Ibu menegaskan bahwa penampilannya dan caranya mengasuh keluarganya "sama sekali bukan urusan orang lain". Setelah beberapa kali cekcok seperti itu, Nenek jadi jarang berkunjung ke rumah Ibu.
Mendekati musim liburan, Ibu dan Nenek semakin sering bertengkar ditelepon. la menyebut ibunya sendiri dengan sejumlah nama jahat yang bisa ia bayangkan. Pertengkaran antara Ibu dan Nenek berakibat buruk bagiku,sebab di akhir pertengkaran itu aku sering jadi sasaran kemarahan Ibu.
Pernah aku dengar dari basement, Ibu memanggil semua saudara kandungku ke dapur, lalu berkata kepada mereka bahwa mereka tidak lagi punya Nenek, tidak ada lagi Paman Dan.
Dalam hubungannya dengan Ayah pun, lbu bersikap kejam. Pada saat Ayah pulang, entah itu sekadar untuk berkunjung atau bermalam satu hari, Ibu langsung berteriak-teriak kepada Ayah padahal Ayah baru. saja masuk rumah. Akibatnya, Ayah sering pulang dalarn keadaan mabuk. Agar tidak berurusan dengan lbu, Ayah sering mengerjakan hal hal yang ganjil diluar rumah.
Kemurkaan lbu bahkan mengejar Ayah sampai ke tempat kerjanya. lbu sering menelepon Ayah ke tempat kerjanya dan mengatainya dengan berbagai sebutan. "Orang yang tidak berguna" dan "Pemabuk" adalah dua sebutan yang paling sering digunakan lbu untuk mengatai Ayah.
Setelah beberapa kali mendapat telepon seperti itu, seorang anggota pemadam kebakaran teman sekerja Ayah yang menerima telepon-telepon lbu menggantungkan gagang teleponnya begitu saja dan tidak memanggil Ayah. Itu membuat lbu murka. dan, lagi-lagi, akulah sasaran kemurkaannya itu.
Untuk sementara waktu. lbu melarang Ayah pulang. Kami cuma bertemu dengannya saat pergi ke San Francisco untuk mengambil bukti pembayaran gajinya. Suatu kali, dalam perjalanan mengambil bukti pembayaran gaji Ayah, kami melewati Golden Gate Park.
Sekalipun diriku selalu dipenuhi kemarahan, aku sempat terkenang akan hari-hari bahagia saat taman itu memiliki arti besar bagi seluruh keluarga ini. Ketika kami melewati taman itu dalam perjalanan mengambil bukti pembayaran gaji Ayah, semua saudaraku pun terdiam.
Tampaknya kami semua merasakan bahwa taman itu sudah kehilangan daya tariknya, dan bahwa hari-hari bahagia kami ditaman itu, tak akan pernah kembali lagi. Aku menduga saudara-saudara kandungku pun merasa bahwa hari-hari bahagia itu tidak akan pernah kembali bagi mereka juga.
Sikap lbu terhadap Ayah berubah, tetapi untuk waktu yang tidak lama. Pada suatu hari Minggu, lbu menyuruh semua anaknya naik ke mobil. Kami diajak masuk ke toko yang satu ke toko yang lain untuk mencari rekaman lagu lagu Jerman. lbu ingin menciptakan suasana istimewa untuk Ayah pada saat ia pulang nanti.
Sepanjang siang harinya lbu sibuk menyiapkan sebuah pesta, dengan gairah seperti tahun-tahun sebelumnya. Berjam-jam ia membenahi rambutnya dan mengenakan makeup. lbu bahkan mengenakan gaun yang mengingatkan orang akan pribadi lbu dulu. Aku yakin Tuhan mengabulkan doaku. Saat lbu sibuk menata ini itu di seluruh penjuru rumah, aku memikirkan hidangan yang dimasak lbu.
Aku pikir tentunya lbu melunakkan hatinya untuk mengizinkan aku makan bersama keluarga. Itu harapan kosong.
Waktu terus berlalu. Ayah diperkirakan sampai di rumah jam satu siang. Setiap kali mendengar suara mobil mendekati rumah, lbu berlari ke pintu depan untuk menyambut Ayah dengan hangat. Sekitar jam empat sore Ayah sampai di rumah, sempoyongan, bersama seorang teman kerjanya. Suasana pesta di rumah membuatnya terkejut.
Dari kamar tidur aku bisa mendengar suara lbu yang tertahan saat ia berusaha keras untuk bersabar menghadapi Ayah. Beberapa menit kemudian Ayah masuk kamar tidur, masih sempoyongan. Aku memandanginya dengan heran. Belum pernah kulihat Ayah semabuk itu.
Bisa kucium bau minuman keras, bahkan tanpa Ayah perlu. Membuka mulutnya. Sorot matanya lebih memancarkan rasa putus asa yang membuatnya tidak lagi mampu berdiri tegar. Bahkan sebelum Ayah membuka pintu lemari pakaian, aku sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
Aku tahu kenapa ia pulang. Begitu ia menyiapkan tas biru gelapnya, aku mulai menangis dalam hati. Ingin rasanya tubuhku mengecil lalu melompat masuk ke dalam tasnya itu, dan ikut pergi bersamanya.
Setelah selesai berkemas, Ayah berlutut dan menggumamkan sesuatu kepadaku. Semakin kuamati Ayah, semakin kakiku terasa lemas. Otakku jadi buntu oleh berbagai pertanyaan. Di manakah pahlawanku? Apa yang terjadi padanya?
Ketika Ayah membuka pintu untuk keluar dari kamar tidur, teman kerjanya yang mabuk menabrak Ayah, hampir membuat Ayah jatuh. Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan suara sedih, "Aku. Tak sanggup lagi menanggung semua ini. Semuanya. Ibumu, rumah ini, dirimu. Aku betul-betul tak sanggup lagi". Sebelum ia menutup pintu kamar, aku masih sempat mendengar ia bergumam, "Ma... Ma... Maafkan aku".
Makan malam Thanksgiving tahun itu berantakan. Demi menunjukkan sikap baik sebagai orang beriman, Ibu mengizinkan aku makan di meja bersama keluarga. Aku tenggelam di kursiku. Aku mencoba tenang, berusaha keras untuk tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang bisa membuat Ibu marah.
Aku bisa merasakan ketegangan di antara kedua orangtuaku. Mereka hampir tidak berbicara sama sekali, sementara kakak-kakak dan adikku mengunyah makanan mereka dengan diam. Hampir saja makan malam itu berakhir ketika kata-kata kasar mulai saling dilontarkan.
Setelah cekcok itu selesai, Ayah pergi. Ibu mengambil botol minumannya, Ialu duduk sendirian di sofa, dan menikmati gelas demi gelas minuman beralkoholnya. Aku membereskan meja makan dan mencuci semua peralatannya. Pada saat itu aku berpikir bahwa kelakuan Ibu pada malam itu tidak hanya mempengaruhi diriku. Tampaknya saudara-saudara kandungku pun merasakan rasa takut yang sama seperti yang selama bertahun-tahun ini kurasakan.
Selama beberapa waktu, Ibu dan Ayah sama-sama berusaha menahan diri. Namun menjelang Natal, kedua orangtuaku itu merasa sudah tidak bisa lagi mempertahankan sikap di antara mereka. Menahan diri, mencoba bersikap baik satu sama lain tak lagi bisa mereka pertahankan.
Saat duduk di anak tangga atas, sementara saudara-saudara kandungku membuka bungkusan-bungkusan hadiah Natal mereka, bisa kudengar Ibu dan Ayah cekcok lagi. Aku berdoa, memohon agar mereka berbaikan, meskipun untuk satu hari yang istimewa itu saja. Pada pagi Hari Natal itu aku sadar bahwa kalau Tuhan menginginkan lbu dan Ayah bahagia, maka aku harus mati.
Beberapa hari kemudian, Ibu mengepak semua pakaian Ayah ke dalam beberapa kardus, lalu bermobil bersama semua anaknya, termasuk aku,menuju suatu tempat beberapa blok setelah tempat kerja Ayah. Di sana, didepan sebuah motel yang kumuh, Ayah berdiri menunggu kami. Raut wajahnya memperlihatkan rasa lega.
Hatiku menciut. Setelah bertahun-tahun berdoa tanpa hasil, akhirnya aku tahu bahwa hal itu terjadi juga-kedua orangtuaku berpisah. Kukepalkan tanganku. kuat-kuat, sampai aku merasa seakan-akan jari-jariku akan merobek telapak tanganku. Pada saat Ibu dan saudara-saudara kandungku masuk ke kamar Ayah di motel itu, aku duduk saja di mobil sambil mengutuki Ayah berulang kali.
Aku benci sekali padanya karena melarikan diri dari keluarganya. Tetapi mungkin juga bukan rasa benci. Mungkin aku lebih merasa iri pada Ayah karena ia berhasil menyelamatkan diri, sedangkan aku tidak. Aku masih harus hidup bersama Ibu.
Sebelum Ibu menjalankan mobilnya, Ayah mernbungkukkan badannya pada jendela yang terbuka di samping tempatku duduk, kemudian ia memberiku sebuah bungkusan. Katanya, bungkusan itu berisi informasi yang ia janjikan kepadaku, untuk bahan pembuatan laporan yang sedang kukerjakan di sekolah. Aku tahu Ayah lega bias melepaskan diri dari lbu, tetapi sekaligus bisa kulihat kesedihan pada sorot matanya ketika mobil lbu beranjak pergi.
Perjalanan pulang ke Daly City hening. Kalau saudara-saudaraku berbicara, mereka melakukan itu dengan suara setengah berbisik dan seadanya saja, supaya tidak membuat lbu marah. Ketika sampai di batas kota, lbu mencoba membuat suasana riang dengan mentraktir anak-anaknya makan di McDonald's.
Seperti biasa, aku duduk menunggu di mobil sementara. mereka masuk ke dalam rumah makan itu. Kupandangi langit melalui kaca jendela mobil yang terbuka. Selimut awan abu-abu rata menutupi seluruh permukaan langit, dan bisa kurasakan titik-titik kecil air dingin dari kabut jatuh ke wajahku.
Kuamati kabut itu, dan aku merasa takut. Aku tahu, tidak ada lagi yang bisa menahan lbu. Sedikit harapan yang pernah kumiliki, pergi sudah. Tak lagi aku punya kemauan untuk melanjutkan hidupku. Aku merasa seperti terhukum yang menanti saat hukuman mati kapan itu akan terjadi.
Rasanya ingin aku melarikan diri dari mobil itu, namun untuk bergerak sedikit saja aku takut. Aku membenci diriku sendiri karena kelemahan itu. Bukannya melarikan diri, aku malah mendekap bungkusan yang diberikan Ayah kepadaku sambil berusaha mencium cologne yang dipakai Ayah.
Tak ada sedikit pun aroma Ayah yang bisa kucium Pada bungkusan itu, maka aku pun terisak pelan. Pada saat itu, Tuhanlah yang paling aku benci dari segala sesuatu yang ada di dunia ini maupun di dunia lain.
Tuhan tahu segala perjuanganku selama bertahun-tahun, namun la berdiam diri saja, membiarkan keadaan berubah semakin buruk. la bahkan tidak memberiku sedikit pun aroma Old Spice After Shave yang biasa dipakai Ayah. Tuhan merampas satu-satunya harapan terbesarku. Dalam hati, aku mengutuk nama-Nya, dan berharap aku tak pernah dilahirkan.
Di luar, bisa kudengar suara Ibu dan anak-anak lelakinya berjalan mendekati mobil. Cepat-cepat kuhapus air mataku dan kembali kepada kekerasan hatiku yang membuat aku merasa terlindung. Sambil menjalankan mobilnya keluar dari pelataran parkir McDonald's, lbu menoleh sebentar ke belakang ke arahku, dan berkata, "Sekarang kau sepenuhnya jadi milikku.
Sayang sekali ayahmu tidak bias melindungimu." Aku tahu, segala pertahananku akan sia-sia. Aku tak mungkin bertahan hidup. Aku tahu lbu akan membunuhku, kalau bukan hari ini, besok. Bila saat itu tiba, aku berharap lbu mengasihani aku, dan membunuhku secepat mungkin.
Sementara kakak-kakak dan adikku menikmati hamburger mereka, tanpa mereka sadari aku mengatupkan kedua tanganku, kutundukkan kepalaku,kupejamkan mataku, dan aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Ketika station wagon lbu masuk pekarangan rumah, aku merasa waktuku sudah tiba. Sebelum kubuka pintu mobil, kutundukkan kepalaku lebih dalam lagi, dan dengan perasaan damai dalam hatiku, aku berbisik, "...dan bebaskanlah aku dari yang jahat".
"Amin."
_______________________________________________
indo community
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback