Pages

Friday, November 27, 2009

a child called it (6)

(true story)

Ketika ayah tidak di rumah
Setelah kejadian dengan pisau itu, Ayah semakin jarang di rumah, dia lebih sering di tempat kerjanya. Banyak alasan diutarakan Ayah untuk menjelaskan kesibukannya itu, tetapi aku tidak mempercayainya. Sambil duduk di basement sering aku menggigil ketakutan. Aku berharap ada alasan cukup kuat yang bisa menahan kepergian Ayah.

Bagaimanapun,berbagai peristiwa yang telah terjadi sama sekali tidak mematikan perasaanku bahwa ayah adalah pelindungku. Kalau Ayah di rumah, lbu Cuma melakukan separo saja perlakuannya terhadapku dibandingkan kalau Ayah sedang tidak di rumah.

Saat di rumah, Ayah punya kebiasaan membantuku mencuci peralatan makan malam. Ayah mencuci, aku mengeringkan. Sambil bekerja, kami ngobrol pelan-pelan supaya tidak kedengaran siapa pun di rumah itu. Kadang kala untuk beberapa waktu kami tak bicara. apa-apa. Kami ingin keadaan betul-betul aman.

Selalu Ayah yang memulai pembicaraan. "Bagaimana kabarmu, Tiger?" begitu biasanya ia memulai.

Aku selalu tersenyum setiap kali Ayah menyapaku dengan sebutan yang sering ia gunakan ketika aku masih kecil. "Aku baik-baik saja", begitu biasanya aku menjawab.

Ayah sering juga bertanya, "Kau sudah makan sesuatu hari ini?".
Pertanyaan itu lebih sering kujawab dengan gelengan kepala.
"Jangan khawatir", katanya suatu hari kita berdua harus pergi dari rumah gila ini".

Aku tahu Ayah tidak betah tinggal di rumah, dan itu karena salahku. Aku berjanji padanya bahwa aku akan jadi anak baik dan tidak akan mencuri makanan lagi. Aku juga berjanji padanya akan berusaha lebih keras lagi dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga dengan lebih baik lagi. Setiap kali aku mengatakan semua itu Ayah selalu tersenyum dan berusaha meyakinkan diriku bahwa semua itu bukan salahku.

Kadang kala, sambil mengeringkan piring, aku merasakan harapan baru timbul. Aku tahu ayah boleh dikatakan tidak akan menentang lbu dalam bentuk apa pun, namun aku tetap merasa aman setiap kali berdiri disampingnya.

Semua hal baik yang terjadi padaku tidak berlangsung lama. lbu melarang Ayah membantuku mencuci piring. la bersikeras bahwa anak itu tidak butuh bantuan. la berkata bahwa Ayah memberikan perhatian berlebihan kepadaku dibandingkan kepada orang-orang lain dalam keluarga itu. Ayah mengalah begitu saja. Maka, lbu mengendalikan semua orang yang ada di rumah itu.

Tak lama setelah keluar larangan lbu itu, Ayah semakin jarang lagi ada di rumah, bahkan ketika ia sedang tidak bekerja sekalipun. Hanya beberapa menit Ayah ada di rumah. Setelah bertemu saudara-saudaraku, ia akan mencariku di mana pun aku sedang mengerjakan tugasku, mengatakan beberapa kalimat kepadaku, lalu meninggalkan rumah.

Tidak lebih dari sepuluh menit Ayah di rumah, sesudah itu ia kembali ke tempatnya menyendiri-biasanya di bar. Saar bercakap-cakap sebentar denganku, Ayah mengatakan bahwa ia sedang merancang cara bagi kami berdua agar bias pergi dan rumah itu. Aku selalu tersenyum mendengarkan ucapan Ayah itu.
Namun dalam hati aku tahu itu khayalan belaka.

Pada suatu hari Ayah berlutut di depanku, dan mengatakan penyesalannya. Kuperhatikan wajahnya. Perubahan yang kulihat di situ membuatku takut. Ada lingkaran di sekeliling kedua matanya. Wajah dan lehernya merah-merah. Bahunya yang dulu tegap kini tampak lunglai. Uban merusak warna rambutnya yang dulu hitam pekat. Sebelum Ayah meninggalkan rumah itu, kupeluk pinggangnya. Tak tahu kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.

Hari itu, setelah menyelesaikan semua tugas, aku bergegas ke basement. Aku disuruh mencuci pakaian rombengku dan setumpuk lagi pakaian rombeng yang bau. Kepergian Ayah hari itu membuatku sangat sedih. Aku menangis di atas tumpukan pakaian kotor, memohon Ayah tidak pergi dan mengajak aku bersamanya.

Beberapa menit kemudian setelah menenangkan diri, aku tegar kembali, lalu mulai mengucek pakaian-pakaianku yang mirip "keju Swis". Aku mengucek sedemikian rupa sampai buku-buku jariku berdarah.


Aku tak peduli lagi apakah aku dianggap ada atau tidak ada. Rumah lbu jadi tempat yang mengerikan. Aku berharap, entah bagaimana caranya,suatu saat bisa melarikan diri dari rumah yang sejak saat itu kusebut "rumah gila".

Pernah pada suatu masa ketika Ayah tidak di rumah, Ibu tidak memberiku makan sekitar sepuluh hari berturut-turut. Bagaimanapun kerasnya aku berusaha memenuhi batas waktu yang ditetapkan lbu untuk menyelesaikan semua pekerjaanku,aku tetap tak mampu memenuhinya.

Dan itu berarti tidak makan. lbu sangat cermat dalarn rnemastikan bahwa aku tidak punya kemungkinan sedikit pun untuk mencuri makanan. la sendiri yang mernbereskan meja makan, membuang sisa rnakanan ke tempat sampah.

Setiap hari ia memeriksa untuk memastikan tidak ada sisa makanan di tempat sampah, sebelum aku rnembuangnya ke bawah. Freezer di dekat garasi ia kunci, dan kuncinya ia simpan. Aku sudah terbiasa tidak makan tiga hari berturut-turut, namun tidak makan lebih dari tiga hari seperti kali ini sungguh tak tertahankan. Air menjadi satu-satunya penyambung hidup.

Setiap kali mengisi cetakan es batu dari lemari es, aku biasa meminum airnya yang dingin dari pinggiran cetakan itu. Aku juga biasa merangkak ke bawah keran di dekat garasi, membuka keran pelan-pelan agar lbu tidak rnendengarnya, kemudian memasukkan mulut keran ke dalam mulutku, dan meminum air keran sebanyak mungkin sampai perutku terasa akan rneletus.

Pada hari keenam tubuhku terasa amat lemah. Aku hampir tak bisa bangun dari dipan tuaku. Kukerjakan tugas-tugasku dengan amat lambat. Aku mati rasa. Kerja otakku pun jadi lamban. Aku Merasa perlu waktu cukup lama untuk memahami kalimat-kalimat yang diteriakkan lbu kepadaku. Ketika kutegakkan kepalaku perlahan-lahan untuk memandang lbu, aku tahu lbu menganggap semua ini permainan-sebuah permainan yang sangat ia nikmati.

"Oh, anak kecilku yang malang", kata lbu sambil bertingkah laku yang dibuat-buat. Lalu ia bertanya apa yang kurasakan, dan ia tertawa ketika aku rninta rnakanan. Di akhir hari keenam itu, dan hari-hari sesudahnya,aku betul betul berharap lbu memberiku sesuatu yang bisa kumakan, apapun itu aku tak peduli.

Pada suatu malam, menjelang akhir "permainan"-nya, setelah aku menyelesaikan semua tugasku, lbu membanting sepiring makanan dihadapanku. Sisa makanan dingin di piring itu tampak begitu mewah bagiku. Tetapi aku ragu-ragu; rasanya itu tidak mungkin terjadi. "Dua menit!" teriak lbu.

"Kau cuma punya waktu dua menit untuk menghabiskannya".
Secepat kilat kusambar garpu, tapi belum lagi sisa rnakanan itu sampai ke mulutku, lbu sudah menyambar piringnya lalu membuang isinya ke tempat sampah. "Terlambat!" desisnya.

Aku berdiri saja di depan lbu, bengong. Tak tahu aku harus bagaimana atau mengatakan apa. Yang sempat terpikir olehku cuma "Kenapa?" Aku tak mengerti mengapa ia memperlakukan aku seperti itu. Sisa makanan itu begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium baunya. Aku tahu ia berharap aku akan mengais-ngais tempat sampah itu, tetapi aku berdiri tegak sambil menahan diri untuk tidak menangis.

Sendirian lagi di basement, aku merasa tidak punya apa-apa lagi. Aku sangat menginginkan makanan. Aku menginginkan ayahku. Tetapi yang paling kuinginkan adalah sedikit saja rasa hormat; sedikit saja harga diri. Sambil duduk di atas tanganku, aku bisa mendengar saudara-saudaraku mernbuka lernari es untuk mengambil hidangan penutup makan, dan aku membenci semua itu.

Kupandangi diriku sendiri. Warna kulitku pucat kekuningan, otot-ototku kecil seperti serabut. Setiap kali kudengar salah seorang saudaraku menertawai adegan acara televisi yang ia tonton,aku menyumpahi namanya. "Dasar kampret bemasib baik! Mengapa Ibu tidak menggilir mereka dan sekali-sekali memukuli salah satu dari mereka?" Dengan berteriak kuungkapkan segala perasaan benciku itu, dalam hati.

Sudah hampir sepuluh hari aku tidak makan. Baru saja aku menyelesaikan tugas mencuci piring makan malam ketika lbu mengulangi permainannya: "kau punya dua menit untuk makan". Kali itu hanya sedikit sisa makanan yang ada di piring yang ditawarkannya. Aku menduga ia akan menyambar lagi piringnya seperti yang terjadi sebelumnya, jadi kuubah gerakanku.


Tak kuberi ibu kesempatan untuk menyambar lagi piringnya seperti yang terjadi tiga malam sebelumnya. langsung kurebut piringnya dan cepat-cepat menelan sisa makanan yang ada di piring itu, tanpa mengunyahnya. Hanya dalam hitungan detik kuhabiskan semua yang ada dipiring itu, lalu menjilatinya hingga tandas.

"Kau makan seperti babi!" kata Ibu dengan rasa marah yang tertahan. Kutundukkan kepalaku,seakan-akan aku peduli. Tetapi, di dalam hati, aku menertawainya sambil berkata, "Rasain lu! Yang penting kan gua makan!"

lbu juga punya permainan lain untuk aku yang menjadi kegemarannya pada saat Ayah tidak di rumah. la menyuruhku membersihkan kamar mandi dengan batas waktu seperti biasanya. Tetapi kali itu ia membawa sebuah ember berisi campuran amonia dan Clorox.

Di kamar mandi ada aku dan ember tadi, pintu kamar mandi ditutup. Saat pertama kali permainan itu dilakukannya, lbu berkata bahwa ia tahu permainan seperti itu dari koran, dan ia ingin mencoba. Aku bersikap pura-pura ketakutan, padahal tidak sama sekali.

Aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika lbu menutup,pintu kamar mandi dan melarang aku membukanya, barulah aku mulai cemas. Karena pintu ditutup, udara di dalam kamar mandi cepat berubah. Aku merangkak ke pojok kamar mandi untuk melihat isi ember tadi.

Uap tipis berwarna abu-abu melayang ke langit-langit kamar mandi. Ketika kuhirup udara di dekat situ, aku merasa pusing dan mual. Tenggorokanku terasa seperti terbakar. Beberapa menit kemudian tenggorokanku menjadi sangat sakit. Gas yang dihasilkan oleh campuran amonia dan Clorox membuat mataku berair. Aku jadi panik, jangan-jangan aku tak bisa memenuhi batas waktu yang ditetapkan ibu untuk membersihkan kamar mandi.

Beberapa menit kemudian aku mulai merasakan mual, seperti mau muntah. Aku tahu lbu tidak akan menghentikan permainannya di tengah jalan, lalu membuka pintu kamar mandi. Aku harus berpikir agar selamat dari permainan barunya. Aku berbaring di lantai kamar mandi, kuregangkan badanku, lalu dengan kaki kugeser ember itu sampai ke dekat pintu kamar mandi.

Itu kulakukan dengan dua alasan: aku mau menyingkirkan ember itu sejauh mungkin dari diriku, dan aku berharap kalau lbu masuk ke kamar mandi dia sendiri akan menghirup uap ciptaannya sendiri. Aku berguling ke sisi lain kamar mandi sambil menutupi mulut, hidung, dan mataku dengan kain lap.

Sebelum kupakai untuk menutupi wajahku, kain lap itu kubasahi dulu dengan air dari toilet. Aku tidak berani menggelontorkan air sebab takut lbu bisa mendengarnya. Dari kain lap yang menutupi wajahku kuintip uap dari ember itu sedikit demi sedikit melayang kebawah, ke arah lantai.

Rasanya aku sedang berada di kamar gas. Lalu aku ingat ada ventilasi kecil untuk menyalurkan udara panas ke kamar mandi di dekat kakiku. Aku tahu alat pemanasnya bekerja mati dan menyala silih berganti secara teratur setiap beberapa menit. Kudekatkan wajahku ke ventilasi itu lalu menghirup udara sebanyak mungkin.

Setelah setengah jam, lbu membuka pintu kamar mandi dan menyuruhku membuang cairan di ember itu ke saluran air di garasi sebelum aku memenuhi rumah-nya dengan uap di ember itu. Di bawah, selama lebih dari satu jam, aku batuk batuk darah. Dari semua bentuk hukuman ibu, permainan kamar gas paling aku benci.

Sampai menjelang akhir musim panas tahun itu tampaknya Ibu sudah bosan dengan cara-cara penyiksaannya terhadap diriku yang selama itu dilakukan di sekitar rumah. Pada suatu hari, setelah aku menyelesaikan semua tugasku di pagi hari, ia menyuruhku bekerja memotong rumput di rumah tetangga.

Sebetulnya itu bukan pertama kalinya Ibu menyuruhku memotong rumput. Pada musim semi tahun sebelumnya, ketika sekolah libur merayakan Paskah, lbu juga menyuruhku bekerja memotong rumput. la menetapkan target sejumlah uang yang harus kubayarkan kepadanya dari hasil kerjaku.


Tentu saja target yang ditetapkan lbu tidak mungkin bisa kupenuhi. Maka,karena putus asa, pernah aku mencuri sembilan dolar dari celengan seorang anak tetangga. Beberapa jam kemudian, ayah anak itu mendatangi rumah lbu. Sudah pasti Ibu mengembalikan uangnya dan berkata kepada ayah anak itu bahwa itu memang salahku.

Setelah orang itu pergi, Ibu menghajarku habis-habisan. Aku mencuri uang itu semata-mata untuk memenuhi target yang ia tetapkan. Bagiku, rencana untuk bekerja memotong rumput pada musim panas tahun itu ternyata tidak lebih baik daripada pada liburan Paskah sebelumnya. Aku menawarkan jasa memotong rumput dari rumah yang satu ke rumah yang lain.


Tidak ada yang mau. Pakaianku yang rombeng dan tanganku yang kurus pasti menjadi pemandangan yang menyedihkan. Karena kasihan, seorang ibu memberiku makanan dalam kantong cokelat agar bisa kumakan di jalan. Setengah blok berjalan dari situ sepasang suami istri menerima tawaranku untuk memotong rumputnya.

Setelah selesai aku berlari pulang ke rumah ibu, sambil membawa kantong cokelat berisi makanan tadi. Maksudku,kantong itu nanti akan kusembunyikan begitu aku berbelok ke arah rumah Ibu. Tapi itu tak sempat kulakukan. Aku berpapasan dengan lbu yang sedang bermobil. lbu berhenti, bergegas keluar dari mobil, dan menangkapku bersama kantong cokelat tadi.

Sebelum lbu menghentikan station wagon-nya dengan mendadak sehingga bannya berdecit-decit, aku sudah mengangkat tanganku tinggi-tinggi, persis seperti yang dilakukan penjahat. Aku ingat, pada saat itu aku berharap nasib baik dengan seorang ibu yang memberiku makan tidak meninggalkan aku sekali itu saja.

lbu bergegas turun dari mobil. Dengan tangannya yang satu ia menyambar kantong cokelat clan dengan tangannya yang lain ia memukulku. Ia mendorongku masuk mobil, lalu menjalankan mobilnya menuju rumah ibu baik hati yang tadi memberiku makan siang dalam kantung cokelat. Ibu tadi sedang tidak di rumah.

lbu yakin bahwa aku menyelinap masuk rumah itu lalu mencuri makan siang. Aku tahu memiliki makanan merupakan tindakan kriminal berat. Dalam hati aku berteriak kepada diri sendiri karena tidak sejak awal menghabiskan atau menyembunyikan atau membuang makanan itu.

Begitu sampai di rumah, hukuman lbu membuatku terkapar di lantai. Kemudian Ibu menyuruhku duduk di halaman belakang, sementara. Ia mengajak "anak-anak lelakinya" ke kebun binatang. Aku diharuskan duduk di atas batu-batu kecil yang tajam dengan posisi duduk seperti "tawanan perang".

Peredaran ke seluruh tubuhku terganggu. Aku tak bisa lagi mengharapkan pertolongan Tuhan. Menurutku, Tuhan pasti membenciku. Adakah cukup alasan yang membuat hidupku seperti ini? Segala usahaku untuk sekadar bertahan hidup tampaknya sia-sia. Semua usahaku untuk mengalahkan lbu, untuk menghindarinya, gagal. Tampaknya bayangan hitam selalu mengikutiku.

Matahari pun tampaknya menghindari aku, dengan bersembunyi di balik awan tebal yang melayang di atas kepalaku. Aku melemaskan pundakku, mencoba menikmati kesendirian dalam khayalan-khayalanku. Aku tak memperhatikan waktu, namun akhirnya bisa kudengar suara station wagon lbu memasuki garasi.

Hukuman duduk di atas kerikil tajam sebentar lagi selesai. Aku mencoba menduga rencana lbu selanjutnya untukku. Semoga bukan hukuman kamar gas. Dari garasi Ibu berteriak menyuruhku mengikutinya ke atas. La menyuruhku ke kamar mandi. Aku takut. Aku merasa terkutuk. Menarik napas panjang-panjang mulai kulakukan, sebab pasti aku akan butuh udara segar sebanyak mungkin.

Sama sekali di luar dugaanku, tak ada satu ember atau botol pun di kamar mandi. "Apakah aku sudah lepas dari ujung tanduk?" Begitu saja? Takut-takut, kuperhatikan lbu sewaktu ia membuka lebar-lebar keran air dingin di bak mandi.

Kupikir aneh juga Ibu sampai lupa membuka keran air panas. Ketika air dingin di bak mandi hampir penuh, Ibu membuka paksa pakaianku, lalu menyuruhku masuk ke bak mandi. Aku menurut, dan berbaring di dalamnya.

Badanku menggigil ketakutan. "Lebih masuk lagi!" bentak Ibu. "Taruh mukamu di air seperti ini!" la membungkuk, mencekal tengkuk dan leherku dengan kedua tangannya, menenggelamkan kepalaku. Dengan sendirinya aku meronta, sekuat tenaga Berusaha menjaga kepalaku tetap di atas permukaan air agar bisa bernapas. Cengkeraman lbu kuat sekali.

Di dalam air kubuka mataku. Bisa kulihat gelembung-gelembung udara keluar dari mulutku dan naik ke permukaan air ketika aku mencoba berteriak. Kugerakkan keras-keras kepalaku ke kiri ke kanan ketika kulihat gelembung-gelembung udaranya semakin kecil. Aku mulai merasa lemah.

Dalam kepanikan, aku menggapai tanganku ke atas dan kucengkeram bahu Ibu. jari-jari tanganku pasti mencengkeram bahunya sedemikian kuat sehingga lbu melepaskan aku. la memandang ke bawah ke arahku sambil terengah-engah. "Sekarang tenggelamkan kepalamu di bawah air, atau nanti aku memaksamu lebih lama lagi begitu!"

Kutenggelamkan kepalaku, tetapi kuusahakan hidungku tetap berada di atas permukaan air. Aku merasa seperti buaya di rawa. Sewaktu lbu keluar dari kamar mandi, aku semakin tahu rencananya.

Saat berendam seperti itu,airnya kurasakan sangat dingin, seakan-akan aku ada di dalam lemari es. Aku takut sekali terhadap lbu, maka kutenggelamkan kepalaku seperti yang ia perintahkan, dan tak bergerak.

Berjam-jam kemudian kulitku jadi berkeriput. Aku tidak berani menyentuh badanku sendiri untuk membuatnya agak hangat. Tetapi kepalaku kuangkat sehingga cukup bagiku untuk bisa mendengar suara-suara. Setiap kali kudengar ada yang berjalan di dekat kamar mandi, pelan-pelan kutenggelamkan kembali kepalaku ke air yang dingin itu.

Yang kudengar biasanya langkah-langkah saudara-saudaraku yang berjalan ke kamar tidurnya. Kadang kala salah seorang di antara mereka masuk kekamar mandi untuk memakai toilet. Mereka cuma melihat sepintas ke arahku, menolehkan kepala, lalu pergi. Kucoba membayangkan diriku berada di tempat lain, tetapi aku tidak bisa merasa rileks supaya bias berkhayal.

Sebelum keluarga ini duduk untuk makan malam, lbu masuk ke kamar mandi. Dengan berteriak, ia menyuruhku keluar dari bak mandi dan memakai kembali pakaianku. Aku langsung melaksanakan perintahnya, dan menyambar handuk untuk mengeringkan badanku. Eh, jangan!" bentaknya. Pakai pakaianmu begitu saja!" Perintah yang ini juga langsung kuturuti.


Pakaianku basah kuyup saat aku mengenakannya sambil berlari kembali kehalaman belakang sesuai perintah lbu. Aku harus duduk lagi di situ. Matahari mulai terbenam, tetapi separo halaman masih terkena sinarnya langsung. Aku duduk di bagian yang masih terkena sinar matahari, tetapi lbu menyuruhku duduk di tempat yang terlindung.

Di pojok halaman belakang itu, sambil duduk seperti tawanan perang, aku menggigil kedinginan. Aku kepingin sebentar saja kena panas, tetap keinginanku untuk mengeringkan badan itu semakin lama semakin tidak mungkin. Dari jendela ruang makan di atas kepalaku terdengar suara "keluarga ini" sedang saling mengoper piring yang penuh makanan.

Sesekali terdengar juga tawa. Karena Ayah sedang di rumah, aku tahu masakan apa pun yang dibuat lbu pasti lezat. Ingin rasanya aku mendongakkan kepala dan melihat mereka makan, tapi aku tidak berani. Aku hidup di dunia lain. Sepintas melihat kepada kehidupan yang baik pun aku tidak pantas.

Hukuman di bak mandi dan di halaman belakang lalu biasa dilakukan Ibu terhadapku. Kadang kala, ketika aku direndam di bak mandi,saudara-saudaraku mengajak teman-temannya untuk menonton saudara mereka yang telanjang bulat. Sering kali mereka mencemoohkan aku. "Apa yang ia lakukan kali ini?" mereka bertanya. Biasanya saudara-saudaraku menjawab pertanyaan itu dengan "Nggak tau".

Bersamaan dengan kegiatan sekolah di musim gugur, muncul harapan untuk sesekali keluar dari hidupku yang menyedihkan. Selama dua minggu pertama itu kelas tempat kami murid-murid kelas empat melaporkan kehadiran kami setiap harinya memiliki seorang ibu guru pengganti.

Menurut berita yang kudengar, guru kami yang biasanya sedang sakit. lbu guru pengganti ini lebih muda dibandingkan dengan kebanyakan guru di sekolah itu, dan tampaknya ia lebih lembut. Di akhir minggu pertama, ia memberi hadiah es krim kepada murid-murid yang selama satu minggu itu berkelakuan baik.
Saat itu aku tidak mendapat hadiah.

Aku berusaha lebih keras lagi untuk berkelakuan baik, dan akhirnya kuperoleh juga hadiahku pada akhir minggu kedua. lbu guru baru itu memutar sebuah lagu, dan. bernyanyi bersama semua murid di kelas itu. Kami sangat menyukai ibu guru baru itu. Pada hari Jumat sore itu aku tidak mau pulang.

Setelah semua murid meninggalkan kelas, ia membungkuk ke arahku dan berkata kepadaku bahwa aku harus pulang. la tahu aku anak bermasalah. Kukatakan padanya, aku mau bersamanya saja. la memegangku sebentar, lalu berdiri dan memutarkan lagu yang paling kusukai. Setelah itu baru aku pulang.

Karena terlambat pulang,, aku berlari sekencang Mungkin, lalu langsung mengerjakan tugas-tugasku. setelah semua tugas kuselesaikan, ibu menyuruhku duduk dihalaman belakang, di atas lantai semen yang dingin.

Pada hari jumat itu kulihat kabut menutupi matahari di langit, dan aku menangis dalam hati. lbu guru pengganti itu baik sekali terhadapku. La memperlakukan diriku seperti manusia pada umumnya. la tidak menganggapku seperti kotoran di comberan.

Sambil duduk di luar merasakan kesedihan,aku mencoba membayangkan sedang berada di mana ibu guru yang baik itu,dan apa yang kira-kira sedang ia lakukan. Pada saat itu aku tak mampu memahami perasaanku, tetapi aku mengaguminya.

Aku tahu aku tidak akan mendapat makan malam itu atau malam berikutnya. Karena Ayah tidak di rumah, aku pasti mengalami akhir minggu. Yang buruk. Duduk di halaman belakang pada anak tangga semen yang dingin, diudara terbuka yang dingin, aku bisa mendengar suara lbu sedang makan bersama saudara-saudaraku. Aku tak peduli. Kupejamkan mata.

Aku bias melihat wajah ibu guru baruku yang penuh senyum. Malam itu, ketika aku duduk di luar dan menggigil kedinginan, kecantikan serta kelembutannya membuatku merasa hangat. Memasuki bulan Oktober, hidupku yang tak wajar itu betul-betul habis-habisan. Di sekolah jarang ada makanan. Aku sering dijadikan mangsa empuk oleh murid-murid nakal yang badannya jauh lebih besar daripada badanku-mereka memukuli aku setiap saat, sesuka mereka.

Begitu sekolah usai, aku harus berlari ke rumah dan harus memuntahkan isi perutku untuk diperiksa ibu. kadang kala ia langsung menyuruhku mnegerjakan semua tugasku. kadang kala ia mengisi bak mandi dengan air. Kalau sedang betul-betul dalam suasana hati yang enak, ia mencampur kedua bahan kimia itu untuk kuhirup campuran gasnya di kamar mandi.


Kalau ia tidak ingin aku berada di rumahnya, ia menyuruhku bekerja memotong rumput di rumah tetangga yang menginginkannya-itu pun sesudah ia memukuli aku. Beberapa kali ia mencambukku dengan rantai anjing. Kugertakkan saja gigiku untuk menahan rasa sakit yang sangat, dan menerima semua itu.

Yang paling sakit adalah akibat pukulan dengan tangkai sapu lidi ke bagian belakang kaki. Kadang kala pukulan-pukulan dengan gagang sapu lidi ke bagian itu membuatku terkapar di lantai,nyaris tak bisa bergerak. Lebih dari satu kali aku berjalan terpincang-pincang sambil mendorong alat pemotong rumput berkeliling rumah tetangga, berusaha mencari uang yang harus kuserahkan kepada-nya.

Akhirnya tiba juga saat ketika keberadaan Ayah di rumah pun ticlak mampu meringankan penderitaanku, sebab lbu melarangnya bertemu denganku. Harapanku pupus, dan aku mulai yakin bahwa hidupku tak akan pernah berubah. Aku pikir aku akan tetap menjadi budak Ibu selama hidupku.

Hari demi hari semangat hidupku semakin lemah. Aku tidak lagi mengkhayalkan Superman atau seorang pahlawan atau Jagoan yang akan dating menyelamatkan diriku. Aku tahu, janji Ayah untuk mengajakku pergi dari rumah itu sekadar janji belaka. Aku tidak lagi berdoa. Aku hanya ingin hidup sehari itu saja, pada hari itu, dan begitu seterusnya.

Pada suatu pagi di sekolah, aku disuruh menghadap perawat sekolah. Wanita perawat itu menanyai aku soal pakaianku dan berbagai luka maupun memar yang kelihatan di sepanjang permukaan kedua lenganku. Pada mulanya jawabanku kepadanya adalah jawaban buatan lbu yang harus kukatakan kepada perawat itu.

Tetapi aku semakin menaruh kepercayaan pada perawat itu, maka kuceritakan kepadanya semakin banyak hal mengenai lbu. La membuat catatan mengenai apa saja yang kukatakan, dan berpesan padaku untuk datang menghadapnya kapan saja aku membutuhkan seseorang untuk mengobrol.

Baru kemudian aku tahu bahwa. perawat itu menjadi tertarik akan diriku berdasarkan sejumlah laporan yang ia terima dari ibu guru pengganti dulu pada awal tahun kegiatan sekolah.

Selama minggu terakhir di bulan Oktober berlangsung tradisi di rumah lbu bagi anak-anak lelaki membuat ukiran pada buah labu. Hak istimewa itu sudah tidak aku lakukan sejak umurku tujuh atau delapan tahun. Saat malam untuk membuat ukiran itu tiba, lbu mengisi bak mandi begitu aku selesai mengerjakan tugas-tugasku.

Seperti biasanya, ia mengancam aku untuk tetap membenamkan kepalaku di bawah permukaan air. Sebagai tanda bahwa ia tidak main-main dengan ancamannya itu, dicekalnya leherku, lalu membenamkan kepalaku. Kemudian ia bergegas keluar dari kamar mandi dan mematikan lampunya. Aku menoleh ke kiri. Dari kaca jendela kecil dikamar mandi aku bisa melihat malam mulai turun.

Aku mengisi waktu dengan menghitung angka dalam hati. Aku mulai dari angka satu dan berhenti di angka seribu. Kemudian kuulangi hitungan itu. Begitu seterusnya. Jam demi Jam berlalu, sampai kurasakan air di bak mandi itu menyusut. Semakin iar itu menyusut, semakin kedinginan aku. kujepitkan kedua tanganku di antara kakiku dan menempelkan tubuhku ke sisi kanan bak mandi.

Bisa kudengar kaset Halloween yang dibeli lbu untuk Stan beberapa tahun sebelumnya. Hantu-hantu dan setan-setan mengeluarkan suara yang menakutkan, sementara pintu-pintu berderit terbuka sendiri. Setelah anak-anak lelaki itu selesai mengukir buah-buah labu mereka, kudengar lbu dengan suaranya yang lembut mulai menceritakan cerita yang menakutkan.

Semakin kudengarkan cerita itu, semakin aku membenci mereka. Sungguh tidak enak menunggu seperti anjing yang duduk di atas batu-batu kerikil di halaman belakang sementara mereka menikmati makan malam,tetapi berbaring di bak mandi yang dingin dan menggigil karena berusaha tetap hangat sementara mereka menikmati popcorn sambil mendengarkan cerita lbu membuat aku mau berteriak saja.

Nada suara lbu malam itu mengingatkan aku pada Mommy yang sangat aku cintai bertahun-tahun sebelumnya. Tetapi sekarang, semua anak lelaki itu bahkan tidak mengakui keberadaanku di rumah itu. Bagi mereka, aku tidak lebih berarti dibandingkan dengan hantu-hantu bersuara menakutkan dikaset milik Stan itu.
Setelah semua anak lelaki itu naik ke tempat tidur, lbu masuk ke kamar mandi. la tampak tertegun sejenak melihat aku masih berbaring di bak mandi. "Kau kedinginan?" desisnya. Aku menggigil sambil menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa aku betul-betul kedinginan. "Nah, mengapa anak lelaki kesayanganku tidak keluar dari bak mandi dan menghangatkan badannya yang telanjang di ranjang ayahnya?"

Agak terhuyung, aku keluar dari bak mandi, mengenakan pakaian dalamku,lalu naik ke ranjang ayah. yang jadi basah karena badanku basah. Apa pun alasannya, aku tak mengerti mengapa lbu menyuruh aku tidur di kamar tidur utama, tanpa peduli apakah Ayah sedang di rumah atau tidak.

Ibu sendiri tidur di kamar atas bersama saudara-saudara lelakiku. Aku tak memedulikannya sama sekali, asalkan aku tidak tidur di dipan kain tua dibasement yang dingin. Malam itu Ayah pulang, tetapi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu kepadanya, aku sudah terlelap.

Menjelang Natal, semangat hidupku terkuras. Aku tidak diajak berlibur selama dua minggu. Aku jadi tidak sabar menunggu saat masuk sekolah lagi. Pada hari Natal aku memperoleh roller skate. Aku selalu senang mendapat hadiah Natal. Tetapi hadiah roller skate itu ternyata tidak diberikan dalam semangat Natal.

Hadiah itu justru. menjadi alat lain bagi Ibu untuk memaksa aku berada di luar rumah dan membuat aku menderita. Pada setiap akhir minggu Ibu menyuruhku bermain roller skate di luar rumah, padahal anak-anak lain justru berdiam di dalam rumah karena udara di luar sangat dingin.

Dengan roller skate itu aku berputar-putar di sekitar wilayah tempat tinggalku, tanpa jaket untuk menahan dingin. Aku satu-satunya anak di wilayah itu yang bermain diluar rumah. Lebih dari sekali, Tony, salah seorang tetangga kami, keluar rumah untuk mengambil koran sorenya, dan melihat aku bermain skating.

Ia tersenyum lebar kepadaku, lalu cepat-cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk menghindari dinginnya udara di luar. Sebagai usaha agar badanku tetap hangat, aku meluncur sekencang-kencangnya.

Bisa kulihat asap mengepul dari cerobong asap di rumah-rumah yang memiliki perapian. Biasanya ibu menyuruhku bermain skating selama berjam-jam. Ia memanggil aku hanya jika ia menginginkan aku menyelesaikan beberapa tugas rumah tangga.

Pada akhir bulan Maret tahun itu, ketika kami berada di rumah karena liburan Paskah, Ibu melahirkan. Ketika Ayah mengantar Ibu ke sebuah rumah sakit di San Francisco, aku berdoa agar semua itu nyata, bukan berita bohong. Aku ingin sekali Ibu tidak ada di rumah. Aku tahu kalau Ibu tidak di rumah, Ayah akan memberiku makan. Selain itu, aku juga senang karena terbebas dari pukulan-pukulan.

Ketika Ibu sedang di rumah sakit, Ayah membolehkan aku bermain bersama saudara-saudaraku. Aku langsung saja diterima kembali oleh mereka. Kami bermain "Star Trek", dan Ron memberiku kehormatan untuk memerankan tokoh Kapten Kirk. Hari pertama Ibu di rumah sakit, Ayah menyajikan roti lapis isi, dan ia mengizinkan aku memakan roti isi yang kedua.

Saat ayah menjenguk ibu di rumah sakit, kami berempat bermain di rumah tetangga diseberang jalan. Nama tetangga itu shirley. ia baik terhadap kami semua dan memperlakukan kami layaknya anak-anaknya sendiri. Ia erus menerus mengajak kami bermain, misalnya bermain ping pong, atau sekadar membiarkan kami bermain sepuas mungkin di halaman luar. dalam beberapa hal, shirley mengingatkan aku pada ibu yang dulu, sebelum ia mulai memukuli aku.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, ibu pulang. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama kevin. beberapa minggu kemudian suasana rumah normal kembali. Ayah jarang sekali ada di rumah, sedangkan aku sendiri kembali menjadi pelampiasan segala rasa frustasi ibu.

ibu jarang sekali bertetangga, maka aneh juga ketika ia berteman dekat dengan shirley . Setiap hari mereka saling mengunjungi. Kalau Shirley berkunjung ke rumah, lbu memainkan peran orangtua yang mencintai dan memperhatikan keluarganya-persis seperti ketika ia menjadi ibu pembimbing Pramuka Siaga.

Setelah persahabatan lbu dan Shirley berjalan beberapa bulan, Shirley bertanya kepada lbu mengapa David tidak boleh main bersama saudara-saudara yang lain atau adiknya. Shirley juga penasaran mengapa David sering sekali dihukum. Banyak alasan yang dikemukakan lbu-David sedang terserang flu-lah, David sedang mengerjakan tugas khusus dari sekolah-lah, dan sebagainya. Tapi pada akhirnya, lbu berkata kepada Shirley bahwa David adalah anak nakal, sehingga ia pantas dihukum untuk waktu yang lama.

lalu datanglah saat ketika persahabatan antara lbu dan Shirley renggang. Pada suatu hari, tanpa alasan yang jelas, lbu memutuskan segala bentuk hubungannya dengan Shirley. Anak letaki Shirley dilarang Ibu bermain dengan anak-anak lelakinya, dan lbu berlari-lari sekeliling rumah sambil berseru-seru menyebut Shirley "perempuan jalang". Sekalipun aku dilarang bermain dengan semua anak lelaki itu, aku merasa lebih aman kalau Shirley dan lbu berteman.

Pada suatu hari Minggu dalam bulan terakhir di musim panas, lbu masuk keruang tidur utama. Aku sudah ada ruang tidur itu, sebab Sebelumnya ibu sudah menyuruhku masuk ke situ. seperti biasa, aku duduk dalam posisi tawanan perang. Ibu menyuruh aku berdiri dan duduk pojok tempat tidur.


Kemudian ia berkata kepadaku bahwa ia sudah lelah menjalani hubungan seperti yang terjadi antara dia dan aku. lbu juga berkata bahwa ia menyesal dan berniat membayar saat-saat yang hilang bersamaku. Aku tersenyum lebar dan langsung memeluknya erat-erat. Aku menangis ketika ia mulai mengusap-usap rambutku. lbu juga menangis.

Pada saat itu aku mulai merasa bahwa masa sengsaraku selesai. Kulepaskan pelukanku, lalu kutatap mata lbu. Aku merasa perlu meyakinkan diri. Aku merasa perlu mendengar Ibu mengulangi ucapannya. "Benar-benar sudah selesai?" tanyaku takut-takut.

"Sudah selesai, Sayang. Sejak saat ini aku berharap kau sama sekali melupakan bahwa pernah terjadi hubungan yang buruk di antara kita. Kau mau mencoba menjadi anak baik, bukan?"

"Kalau begitu, aku akan mencoba jadi ibu yang baik."

Setelah berbaikan, lbu membolehkan aku mandi air hangat dan memakai pakaian baru yang kuperoleh sebagai hadiah Natal tahun sebelumnya. Tadinya aku tidak boleh memakai pakaian itu. Setelah itu lbu mengajak aku dan saudara-saudaraku bermain boling, sementara Ayah di rumah menunggui Kevin.

Dalam perjalanan pulang sehabis main boling, lbu mampir ke sebuah toko kelontong dan membelikan kami masing-masing sebuah mainan. Sampai di rumah, lbu berkata bahwa aku boleh main di luar bersama anak-anak lainnya, tapi pada waktu itu aku lebih suka bermain sendiri, maka kubawa mainanku ke tempat tidur utama dan bermain sendirian di situ.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun ini,kecuali pada hari-hari libur ketika rumah kami kedatangan tamu, aku makan bersama keluarga di meja makan. Sepertinya keadaan begitu bertolak belakang, terlalu cepat berubah, dan entah mengapa sulit bagiku untuk menerima semua ini begitu saja-too good to be true. Betapapun senangnya rasa hatiku, aku tetap merasa seakan-akan berjalan di atas kulit telur.


Aku mencoba meyakinkan diri bahwa sebentar lagi lbu akan terbangun dan kembali kepada jati dirinya. Ternyata tidak. Malam itu aku makan sekenyangku. Aku pun diizinkan nonton acara televisi bersama saudara-saudaraku sebelum kami berangkat tidur. Yang juga ganjil adalah bahwa aku didesak untuk tetap tidur bersama Ayah. lbu sendiri berkata bahwa ia ingin tidur bersama bayinya.

Pada siang esok harinya, saat Ayah sedang di tempat kerjanya, seorang wanita dari dinas sosial datang ke rumah. lbu menyuruhku bermain di luar bersama saudara-saudaraku, sementara ia bercakap-cakap dengan wanita tadi. Mereka berdua bercakap-cakap lebih dari satu jam lamanya.

Sebelum wanita itu pulang, lbu memanggilku masuk rumah. Wanita itu ingin ngobrol sebentar denganku. Wanita itu ingin tahu apakah aku bahagia. Kujawab ya. la ingin tahu apakah hubunganku dengan lbu baik-baik saja. Kujawab ya. Akhirnya ia bertanya apakah lbu pernah memukul aku. Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku memandang lbu, yang memperlihatkan senyum ramah.


Rasanya seperti ada bom yang meledak dalam sekali di perutku. Rasanya seperti mau muntah. Tiba-tiba aku tersadar mengapa lbu berubah sikap seratus delapan puluh derajat terhadapku sehari sebelumnya-secara tiba-tiba ia jadi begitu baik terhadapku. Aku merasa seperti orang dungu karena aku mudah terkelabui oleh sikap baiknya itu. Aku sangat mendambakan cinta, sampai-sampai kutelan begitu saja perubahan sikapnya.

Sentuhan tangan Ibu pada bahuku mengembalikan aku pada kenyataan. "Ayo, Sayang, jawab pertanyaannya", kata lbu, lagi-lagi sambil tersenyum. "Katakan padanya aku tidak memberimu, makan dan memukulimu seperti anjing", kata lbu dengan suara pelan, dan dengan sikapnya itu lbu juga berharap wanita itu ikut tertawa.

Kupandang wanita itu. Kurasakan wajahku memerah, dan bisa kurasakan keringat mulai keluar di keningku. Ticlak berani aku mengatakan yang sebenarnya kepada wanita itu. "Tidak, sama sekali tidak seperti itu", kataku. "Ibu memperlakukan aku sangat baik".

"Jacli, ia tidak pernah memukulimu?" tanya wanita itu.

"tidak... emm... maksudku, hanya ketika aku dihukum... ketika aku jadi anak nakal", kataku, mencoba menutupi yang sebenarnya. Dari raut waiah lbu ketika ia mendengar jawabanku, aku tahu bahwa jawabanku itu salah. Bertahun-tahun ia "mencuci otakku" untuk mengatakan apa yang harus kukatakan, dan pada saat itu aku melakukannya dengan buruk sekali. Dilain pihak, aku juga tahu bahwa wanita itu berhasil menangkap sesuatu dari komunikasi antara lbu dan aku.

"Baiklah", kata wanita itu. "Saya cuma mampir dan ingin tahu keadaan disini." Setelah mengucapkan selamat tinggal, lbu mengantar tamunya keluar.

Ketika wanita itu benar-benar sudah pergi, Ibu menutup pintu dengan murka. "Anak sialan!" teriaknya. Begitu lbu mengangkat dan mengayunkan tangannya, aku langsung melindungi wajahku. Ibu memukuliku beberapa kali, lalu mengusir aku ke basement. Setelah memberi makan anak-anaknya,lbu memanggilku ke atas untuk mengerjakan tugas-tugasku siang itu.

Saat mencuci peralatan makan, aku merasakan perlakuan lbu kali itu belum seberapa. Aku jadi tahu bahwa perlakuan baik lbu terhadapku sekitar dua hari sebelumnya bukan karena alasan dia mencintaiku melainkan karena alasan lain. Seharusnya aku tahu itu, sebab setiap kali ada yang berkunjung ke rumah ini pada musim liburan, Nenek misalnya, sikap lbu terhadapku jadi baik.

Bagaimanapun, aku sudah menikmati dua hari yang menyenangkan. Sudah bertahun-tahun aku tidak menikmati saat menyenangkan selama dua hari berturut-turut, jadi aku pantas menikmatinya. Aku kembali menjalani segala sesuatu yang biasanya kujalani, dan mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan hidup.

Paling tidak, aku tidak lagi harus merasa seperti berjalan di atas telur yang sewaktu-waktu kulitnya yang tipis amblas terinjak. Segala sesuatu kembali normal. Aku berfungsi sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga ini.

Sekalipun mulai bisa menerima nasibku, aku tak pernah merasa benar-benar sendirian seperti pada beberapa pagi hari saat Ayah berangkat ke tempat kerja. Pada hari kerja, Ayah bangun jam lima pagi. la pasti tak menyadari bahwa aku pun terbangun pada saat itu. Aku mendengar Ayah berjalan ke kamar mandi dan bercukur di sana.

Aku mendengar Ayah berjalan ke dapur untuk mencari makanan. Aku tahu kalau Ayah sudah memakai sepatunya, itu berarti ia sudah siap meninggalkan rumah. Ada kalanya aku membalikkan badanku persis pada saat Ayah mengangkat tas biru tuanya yang bertuliskan Pan Am dan berisi pakaian untuk menginap. Ayah pasti mencium keningku, lalu berbisik, "Berusahalah membuat lbu senang dan tak usahlah menghalanginya".

Aku pasti menangis, walaupun sudah berusaha untuk tidak menangis. Aku tak ingin Ayah pergi. Itu tak pernah kukatakan padanya, tetapi aku yakin ia tahu. Setelah kudengar Ayah menutup pintu depan, kuhitung langkahnya dan aku tahu sampai hitungan ke berapa ia akan sampai ke trotoar.

Aku masih bisa mendengar langkah-langkahnya yang semakin jauh. Dalam anganku, aku melihat Ayah berbelok ke kiri, lalu menunggu bus yang akan membawanya ke San Francisco. Ada kalanya, kalau sedang merasa cukup berani, aku turun cepat-cepat dari tempat tidur, berlari ke jendela kamar, dan dari kaca jendela aku masih sempat melihat sosok Ayah.

Tapi biasanya aku berbaring saja di tempat tidur, berguling ke bagian yang ditiduri Ayah yang masih terasa hangat. Aku membayangkan masih bias mendengar suara Ayah meskipun ia sudah lama pergi. Dan ketika aku menyadari bahwa Ayah benar-benar sudah pergi, aku mulai kedinginan,terasa ada kekosongan dalam jiwaku.
Aku sangat mencintai Ayah. Aku ingin bersama dia selamanya, dan aku menangis dalam hati sebab aku tak pernah tahu kapan aku akan bertemu Ayah lagi.


_______________________________________________

indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback