(true story) Epilog Sonoma County, California
Aku merasa begitu hidup.
Aku berdiri, berhadapan dengan keindahan Lautan Pasifik yang membentang tanpa batas. Udara sejuk sore hari berembus dari perbukitan dibelakangku. Selalu hari yang indah. Matahari sernakin turun. Sebuah pesona akan segera mulai. Langit mulai berubah wama jadi semburat terang, dari biru lembut menjadi jingga tua terang.
Ke arah barat, aku memandang dengan takjub kedahsyatan ombak. Sebuah gulungan ornbak semakin membesar,lalu menghantam pantai dengan suara berdebur. Udara basah yang tak terlihat mengusap wajahku, beberapa saat sebelum air berbuih putih nyaris membenam seluruh bagian kakiku. Riak putihnya dengan cepat surut kembali.
Tiba-tiba sepotong kayu yang terapung mendarat di pasir pantai. Bentuknya berpilin aneh. Potongan kayu itu berlubang, halus, dan warnanya kusam akibat lama terpapar sinar matahari. Aku membungkuk untuk memungutnya. Sebelum jariku sempat menyentuhnya, lidah air lebih dulu menangkap potongan kayu itu dan menariknya kembali ke laut.
Selama beberapa saat, potongan kayu itu tampaknya berusaha keras untuk tetap bisa berada di pantai. Ia meninggalkan bekas-bekasnya di pasir pantai, sebelum akhirnya masuk kembali ke air, di mana ia terombang-ambing hebat untuk kemudian menyerah pada kekuatan laut.
Pandanganku terpaku pada potongan kayu itu-betapa kayu itu mengingatkan aku pada kehidupanku sebelumnya. Awal kehidupanku sedemikian kejam,penuh dengan tarikan dan dorongan ke segala arah. Semakin menyiksa situasi yang kualami, semakin kurasakan seakan-akan ada kekuatan sedemikian besar yang menarikku masuk ke pusaran arus bawah air. Aku berjuang membebaskan diri sekuat tenaga, namun putaran itu rasanya tak pernah berakhir. Lalu, secara tiba-tiba saja tanpa peringatan lebih dulu, aku terbebas.
Aku merasa sangat beruntung. Masa laluku yang hitam sudah kutinggalkan. Seburuk apa pun masa laluku itu, aku jadi tahu bahwa hidupku sepenuhnya terserah padaku. Dulu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa bila aku bisa keluar hidup-hidup dari situasi yang menimpaku, aku harus berhasil melakukan sesuatu. Aku harus menjadi yang terbaik sesuai kemampuanku.
Begitulah aku hari ini. Aku memastikan bahwa masa laluku sudah kulepaskan, dengan menerima fakta bahwa bagian dari kehidupanku itu hanyalah sebagian kecil saja dari seluruh kehidupanku. Aku sadar bahwa lubang hitam itu ada di sana, senantiasa menunggu untuk mengisap aku dan mengendalikan nasibku selamanya-tetapi itu kalau aku membiarkannya. Aku melakukan kontrol Positif atas hidupku.
Aku merasa diberi anugerah. Segala tantangan yang biasa kuhadapi di masa lalu membentuk kekuatan yang sangat besar di dalam diriku. Aku beradaptasi dengan cepat, dengan belajar bagaimana bertahan hidup didalam situasi yang buruk. Aku tahu bagaimana membangun motivasi di dalam diri sendiri.
Pengalamanku memberi aku kemampuan untuk melihat hidup ini secara berbeda, yang mungkin tidak dilihat oleh orang pada umumnya. Aku memiliki penghargaan yang sangat besar terhadap berbagai hal yang mungkin oleh orang lain dianggap biasa saja. Tentu saja aku membuat beberapa kesalahan, tetapi untunglah aku menjadi semakin baik lagi setelah kukoreksi kesalahan itu.
Aku tidak berdiam di masa lalu, tetapi aku mempertahankan fokus yang sama yang kuajarkan pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika aku hidup di basement, bahwa Allah yang baik selalu melindungi, diam-diam memberiku keberanian dan kekuatan pada saat-saat aku paling membutuhkannya.
Anugerah yang kuterima termasuk pertemuanku dengan begitu banyak orang yang memiliki pengaruh positif terhadap hidupku. Begitu banyak wajah yang mendorong aku, mengajari aku untuk membuat pilihan-pilihan yang benar, serta membantu aku dalam usahaku mengejar keberhasilan. Mereka mendukung niatku untuk mengembangkan diri.
Dalam usahaku memperkaya wawasan, aku mendaftarkan diri ke United States Air Force. Di situ aku menemukan nilai-nilai historis dan rnenanamkan dalam diriku rasa bangga dan rasa memiliki yang baru pada saat itulah aku rnenyadarinya.
Setelah berjuang bertahun-tahun lamanya, tujuanku semakin nyata di situ; di atas segalanya, aku menyadari bahwa Amerika benar-benar menjadi tempat dimana seseorang dengan bekal awal yang sangat minim dapat menjadi pemenang berkat dirinya sendiri.
Terpaan tiba-tiba riak ombak membuyarkan lamunanku. Potongan kayu Yang sejak tadi kuperhatikan, tenggelam, ditelan gerakan air laut. Aku berbalik, dan segera menuju mobilku. Beberapa saat kemudian aku sudah memacu truk Toyota-ku melalui banyak tikungan berkelok-kelok seperti tubuh ular.
Aku bergegas menuju tempat idamanku Yang selama ini tak kuberitahukan kepada siapa pun. Bertahun-tahun Yang lalu, ketika aku hidup dalam kegelapan, aku selalu mendambakan tempat rahasia itu. Kini, setiap kali ada kesempatan, aku selalu mengunjungi sungai itu. Setelah berhenti untuk mengambil bawaanku Yang tak ternilai harganya di Rio Villa, dekat Monte Rio, aku kembali memacu kendaraanku.
Bagiku, aku berpacu dengan waktu, karena matahari hampir terbenam, dan salah satu impian seumur hidupku tak lama lagi menjadi kenyataan. Begitu memasuki kota Guerneville Yang tenang, aku harus menjalankan Toyota-ku perlahan-lahan. Sampai pada sebuah persimpangan, aku berbelok ke kanan, menapaki jalan menuju Riverside.
Dari jendela mobil Yang kacanya kuturunkan, kuhirup dalam-dalam, udara beraroma manis dan bersih dari pepohonan redwood, Yang daunnya melambai-lambai. Kuhentikan mobil di depan rumah Yang sama, Yang dulu sekali dipakai kami sekeluarga menginap selama liburan musim panas-I 7426 Riverside Drive. Sama seperti banyak hal lainnya, runaah itu pun sudah berubah.
Bertahun-tahun Yang lalu, dua kamar tidur kecil ada di belakang perapian. Terlihat ada bekas upaya Yang asal-asalan untuk melebarkan dapur Yang sempit sebelum terjadi banjir pada tahun 1986. Bahkan pohon besar dan kokoh, Yang bertahun-tahun lalu kami-aku dan saudara -saudaraku-panjati selama berjam-jam, kini membusuk. Yang tak berubah tinggal langit-langit cabin dari kayu pohon cedar berwarna gelap dan perapian Yang terbuat dari batu kali.
Ada rasa sedih muncul dalam diriku ketika aku hendak menapaki jalan setapak berpasir dan berkerikil. Kemudian, sambil berusaha untuk tidak mengganggu siapa pun di situ, kutuntun anak lelakiku, Stephen, melalui jalan sempit di samping rumah Yang sama. Di jalan itulah dulu,bertahun-tahun Yang lalu, orangtuaku menuntun aku dan saudara-saudaraku.
Aku kenal pemiliknya, dan aku yakin ia tidak keberatan aku dan anakku lewat situ. Tanpa sepatah kata pun, aku dan anakku memandang ke arah barat. Russian River tak pernah berubah-hijau gelap dan selicin kaca,airnya tiada henti mengatir lembut ke Samudra Pasifik Yang mahabesar.
Burung-burung blue jay bersahut-sahutan saat mereka menari di udara,untuk kemudian menghilang di antara pepohonan redwood. Langit di atas kami sudah bermandikan alur-alur warna jingga tua dan biru. Sekali lagi kuhirup napas panjang dan kupejamkan mata, sepuas mungkin kunikmati saat-saat itu seperti dulu, bertahun-tahun Yang lalu.
Setetes air mata mengalir di pipiku ketika aku membuka mataku. Aku berlutut, kurengkuh Stephen ke dalam, pelukanku. Ia memberiku ciuman. "Aku menyayangimu, Ayah. "Aku juga menyayangimu, " jawabku.
Anak lelakiku menengadah, memandangi langit Yang beranjak gelap. Matanya membelalak saat ia tersentak oleh pesona pemandangan Yang mengiringi terbenamnya matahari. "Inilah tempat Yang paling kusukai di seluruh dunia! " Stephen berkata mantap.
Tenggorokanku tercekat. Air mata mengambang di pelupuk mataku. "Aku juga, " jawabku. "Aku juga. " Stephen masih dalam usia seorang anak kecil yang polos, namun sifat bijaksananya melampaui usianya. Bahkan saat itu, ketika air mata yang asin membasahi wajahku, Stephen tersenyum, memberiku kesempatan untuk mempertahankan harga diriku. Dan ia tahu mengapa aku menangis. Stephen tahu air mataku adalah air mata bahagia.
"Aku menyayangimu, Ayah. "
"Aku juga menyayangimu, Nak. "
Aku bebas.
_______________________________________________
indo community
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback