Dari kaca jendela hotel Santika, Juha memandang Bandung telah jatuh tertidur. Beberapa becak dan pengemudinya masih terlihat jaga di jalan samping hotel. Tentu, abang becak itu tak berharap banyak akan ada tamu hotel atau pejalan kaki yang mau menawar becaknya. Sebab pada pukul satu dini hari, cuma tukang pijit sajalah yang mereka harap akan menyewa becaknya.
Juha sendiri malas untuk jalan-jalan malam, sebuah kebiasaan yang beberapa tahun lalu amat digemarinya jika datang ke Bandung. Kali ini, selain harus mempersiapkan tenaga buat mengikuti sidang kasus pelanggaran hak cipta di Pengadilan Negeri Bandung pada pagi harinya, juga tiada kawan yang bisa diajak bincang-bincang sampai subuh menjelang.
Lagi pula, Bandung belakangan ini memang sudah jauh dari citra sebuah kota yang romantis dengan kreativitas seni beberapa warganya yang membuatnya lebih "berwibawa" dibanding kota-kota lainnya di pertiwi ini.
Kini lihatlah Bandung, amat susah membedakannya dengan Jakarta, bukan? Dengarlah percakapan anak-anak muda dipusat-pusat pertokoan kota ini, amat jarang mereka menggunakan bahasa ibu mereka: Sunda.
Belum lagi gaya hidup mereka, adakah bedanya dengan anak-anak muda Jakarta dalam soal dandanan, makanan dan minuman yang mereka pesan ketika berada di food court?
Lalu pandanglah juga wilayah Bandung Utara yang juga sudah ditumbuhi rumah-rumah megah menggantikan rimbun pepohonan yang dulu menghiasi wilayah itu.
Dan, Jalan Braga..., wahai ke manakah perginya tuan pemetik kecapi yang dulu kerap menyanyikan lagu-lagu milik Rolling Stone? Adakah ia juga tergusur seperti halnya penjara bersejarah Sukamiskin tempat Ir Soekarno pernah ditahan pada zaman penjajahan Belanda dulu?
Ya, ya, kini yang sisa bagi Juha tentang kota Bandung adalah karena di sana ia pernah mengenal Harry Roesli,Lie Fung, Ron Reeves, Lea Pamungkas, Ging Ginanjar,Christine, Encis, Jalan Cihampelas, Toko You, Kafe Teko di Ciumbuleuit, Hotel Sartika, colenak, toko kue Kartikasari, dan travel 4848.
Di luar itu, Bandung tak ada bedanya dengan kota-kota lain yang dipenuhi oleh manusia, kendaraan, dan gedung-gedung tinggi. Bahkan, spesifikasi sebagai kota berhawa sejuk,karena terletak pada 800 meter di atas permukaan laut serta dikelilingi oleh Gunung Burangrang, Tangkuban Perahu, dan Gunung Papandayan, pelan-pelan mulai pudar.
Juha ingat, betapa almarhumah penyanyi Nita Tilana memutuskan untuk tidak berjualan sweater di Bandung pada akhir tahun 80-an ketika masih sekolah menengah,lantaran orang Bandung tak lagi membutuhkannya. "Bandung sudah panas karena kebanyakan orang dan kendaraan," kata Nita kepada Juha suatu sore di Cirebon tahun 1997.
Ah, tak mengira ya, Nita akan sependek itu usianya. Padahal dulu anak itu amat enerjik. Damailah engkau dalam pelukanNya, Nit.
Malam itu, di kamar hotel, Juha kembali mengenang satu per satu kawan-kawan "Bandung"nya. Sebagian telah pergi untuk mencari penghidupan yang lebih baik, beberapa lainnya masih di Bandung.
Lea telah menikah, kini ia mukim di Belanda. Mengenangkan Lea, adalah mengenang pribadi seorang perempuan yang cerdas sekaligus keras kepala. Sebelum mengembara ke Belanda, sempat ia menulis cerpen di Kompas Minggu. Pada sebuah pertemuan, Juha pernah bertanya kepada Lea, sudah berapa lama ia tak pulang ke rumah?
Entah apa yang dipikirkan Juha, tiba-tiba saja ia ingin Lea pulang dari pengembaraan pikiran dan cita-citanya untuk memerdekakan "bangsa Indonesia" dari ketertindasan rezim Soeharto melalui tulisan dangerakan bawah tanahnya bersama Ging Ginanjar lewat buletin Independen kala itu.
Pada perjumpaan lainnya, Lea bilang, ia telah pulang ke rumah. Bertemu keluarga dan juga tetangga. Bertemu kembali dengan kenangan-kenangannya di masa kecil saat hidup bergulir dengan manis, wajar dan bersahaja.
Itulah rupanya awal bagi Lea untuk mengambil keputusan besar bagi hidupnya. Sebab setelahnya, ia pergi ke Belanda dan bertemu dengan pemuda Indonesia yang mukim di sana. Mereka berdua menikah. Kabar terakhir mereka telah dikarunia anak.
Lie Fung, keramikus yang cantik itu kini sedang mengejar kemulyaan hidup di negeri Cina. Lulusan ITB jurusan seni rupa dengan predikat suma cum laude itu sungguh pribadi yang mengesankan. Bicaralah kepadanya tentang apa saja, kecuali politik. Tentu akan dilayaninya dengan seabreg referensi yang ia kutip dari buku-buku bacaan yang memenuhi perpustakaan di rumah kontrakannya di Bandung Utara.
Harry Roesli, ah... pemusik bandel yang belakangan sering diserang penyakit pastilah butuh istirahat pada tengah malam begini. Meski Juha yakin, seperti biasanya Harry tentulah tak bisa tidur sampai pagi. Ia tetap bandel melanggar pantangan dokter untuk tak begadang dan tak merokok.
Christine, wanita pujaan Harry itu pastilah sudah benam dalam mimpi. Perempuan berwajah aristocrat dengan rambut ikal mayang yang tergerai sampai punggung itu, adalah puisi hidup. Harry Roesli pernah menuduhnya seperti ini, "X-tine, ayahmu adalah pencuri, yang mencuri hidung, mata dan bibir bidadari untuk ditempelkan pada wajahmu."
"Eh, sudah bisa ngomong Sunda belum ya dia," mendadak Juha bergumam sendiri. Maklumlah, pada pertemuan ditahun 1998, Christine yang mengaku telah sepuluh tahun tinggal di Bandung belum bisa bicara bahasa Sunda.
Ron Reeves, tentulah ia sedang sibuk mempersiapkan pementasannya bersama Indra Lesmana di Jakarta. Musisi asal Australia yang datang ke Indonesia pertama kali di tahun 1977 itu adalah seorang kawan yang hangat. Pernah pada sebuah pagi, Ron bercerita banyak soal musik dan dirinya di Toko You.
Ia bilang pernah jadi guru musik di beberapa sekolah,sebelum akhirnya mendirikan kelompok musik perkusi bernama Warogus yang terdiri dari Wahyu Roche, Ron Reeves dan Agus Super pada 1993.
Sawung Jabo-lah yang memperkenalkan Juha dengan pemusik yang menguasai instrumen tiup macam didgeridoo dari Australia, irish whistle dari Irlandia, sarunai dari Sumatera, dan khene dari Thailand. Secara berseloroh Jabo memperkenalkan Ron sebagai adiknya John Lenon.
Sementara Encis, sebagai seorang ayah dan suami tentulah fotografer itu lebih memilih tidur di rumah katimbang melayani ajakan untuk klayapan di tengah malam. Satu hal yang tak pernah bisa dilupakan tentang Encis adalah kafe Teko milik ibundanya di bilangan Ciumbuleuit. Kue-kue dan minuman hasil olahan sang ibu yang disajikan dengan cita rasa penuh estetika itu sungguh amat sukar untuk dilupakan jika berkunjung ke Bandung.
Pergi sendiri membelah malam kota Bandung, ah rasanya tak lucu. Dulu memang, di kala Juha masih lajang,kamar Hotel Sartika di Jalan RE Martadinata yang jadi langganannya, hanya dijadikan tempat untuk menyimpan kopor pakaian. Selebihnya, Juha lebih suka menghabiskan malam-malamnya di Pub Ohara, Laga Pub,atau ngobrol bersama anak-anak DKSB di Jalan Supratman.
Morning call membangunkan Juha pukul 05.30. Tubuh Juha menggigil oleh suhu 5 derajat celcius dari Air Conditioning di kamarnya. Beginikah kiranya dulu suhu kota Bandung sebelum warganya membabati pohonan disepanjang jalanan kota dengan sebutan Parijs Van Java itu, serta menggunduli gigir-gigir bukit di tiga penjuru mata angin bumi Parahyangan?
Kini, jika Anda merasa kegerahan di Bandung,maklumilah. Sebab Bandung memang telah tua. Sudah 192 tahun usianya. Sesak oleh nafas mobil, dan juga manusia!
Salam
~Yogha
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback