Pages

Tuesday, December 15, 2009

Perjuangan Tak Lekang Waktu Dauzan Farook

USIANYA bisa dibilang lanjut, namun semangatnya untuk berjuang tetap membara. Pada usianya yang telah sembilan windu, Dauzan Farook atau Mbah Dauzan, kelahiran Kauman, Yogyakarta, 21 Januari 1925, semakin bersemangat berjuang membangun perpustakaan partikelir gratis miliknya.

Perpustakaan Mabulir (Majalah dan Buku Keliling Bergilir) yang dia dirikan, kelola, dan danai sendiri berdiri sejak tahun 1990. Dengan jumlah koleksi sekitar 5.000 buku dan 4.000 majalah serta dibantu empat pegawai, Mbah Dauzan menjalankan perpustakaan ini di rumahnya di bilangan Kauman, Yogyakarta.

Selepas shalat asar, Mbah Dauzan dibantu seorang pegawainya berkeliling Kota Yogyakarta mengedarkan berbagai macam buku dan majalah. Dia mendatangi kelompok bermain anak, remaja masjid, karang taruna, kelompok belajar, serta mahasiswa untuk dipinjaminya buku atau majalah secara gratis. Tiap hari tiga sampai empat tempat ia datangi. Kini sekitar 100 kelompok dengan masing-masing anggota kelompok 4-20 orang menjadi pembaca setia perpustakaan Mabulir.

Selama berdiri lebih dari sepuluh tahun, Mbah Dauzan dan perpustakaan miliknya belum pernah memperoleh bantuan keuangan dari siapa pun. Untuk membiayai kebutuhan operasional perpustakaan itu, semua biaya mulai dari pembelian dan perawatan buku serta majalah sampai menggaji asisten dikeluarkan dari kocek pribadi, yaitu dari uang pensiun yang dia terima setiap bulan sebagai mantan pejuang.

Dulu, saat Perang Kemerdekaan, Dauzan ikut bergabung dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia terlibat kontak fisik dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1945 dan Serangan Umum 1 Maret 1949. Kini Dauzan tetap berjuang. Dengan caranya sendiri yang amat mulia. (Donang Wahyu, fotografer, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas
-------------------

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback