Teman saya memang setia. Di usianya yang hampir mendekati senja, ia masih tetap setia menjadi buruh. Sebuah pengalaman lucu, ia ceritakan kepada saya dan kepada teman-teman buruh lainnya sebagai penghibur dikala senggang.
Beberapa puluh tahun yang lalu, ia selalu pamit kepada anak-anaknya yang masih kecil-kecil dengan mengatakan "berangkat ke kantor", ketika ia pergi ke sebuah pabrik tempat bekerja. Dalam gambaran anaknya, bapaknya adalah seorang pekerja kantoran seperti orang lain yang berangkat dengan kemeja yang rapi.
Suatu saat anaknya merengek untuk ikut ke tempat kerja bapaknya. Namun sekali saja ajakannya dituruti, ia tidak pernah lagi mau diajak untuk kedua kalinya. Anaknya mulai mengejek bapaknya jika "pamit ke kantor".
" Ke kantor ? Apanya yang ke kantor!" Nadanya tinggi dan ketus.
"Ke kantor kok, ngurusin drum-drum !" Anaknya mencela profesi bapaknya yang ternyata hanya seorang buruh yang mengurusi pengisian minyak goreng curah dalam drum-drum kaleng di sebuah pabrik.
Saya dan teman-teman buruh tertawa mendengar cerita kawan saya tersebut. Ada yang lucu tetapi ada juga kegetiran. Sebuah penyepelean profesi buruh, bahkan oleh orang yang begitu kita cintai.
Bahkan teman saya yang sering melucu juga sempat mentertawakan nasibnya sebagai buruh. Ia selalu melucu dengan gayanya yang khas," Kalau emak gue tau, kerja anaknye kayak gini, bisa nangis die. Gue berangkat rapi jali, di sini Cuma ngangkutin karung-karung begini." Sambil memindah-mindahkan karung-karung berisi bahan kimia.
Ketika saya berkenalan dengan orang-orang kantoran. Ia menanyakan profesi saya,maka saya jawab, "Menjadi buruh pabrik." Mereka tidak melanjutkan lagi pembicaraan. Mereka menjauh seakan alergi dengan profesi saya sebagai buruh. Saya menerimanya dengan lapang dada karena sungguh, saya hanya seorang buruh.
Menjadi buruh memang sebuah pilihan yang mudah dibandingkan profesi lainnya. Berbekal kegesitan dan tenaga yang kita miliki, semua bisa menjadi buruh. Tidak perlu skill, pengalaman atau sekolah yang tinggi. Tetapi menjadi buruh memang merupakan keputusan yang sulit. Bahkan saya sekalipun masih merasakannya.
Bayangkan, sebagai buruh, keberadaan anda bukan dinilai sebagai pribadi tetapi hanya sekedar alat produksi. Jika anda tidak masuk, seorang manajer hanya bertanya, " Kenapa produksi macet ?" Paling-paling akan dijawab, " Si Fulan tidak masuk." Selesai.
Maka orang lain akan menggantikan posisi anda agar produksi dapat berjalan kembali. Tidak pernah di tanya, "kenapa sakit ?" "Bagaimana keadaannya ?" Pertanyaan semacam ini hanya cocok dilontarkan kepada sesama buruh, sesama orang-orang yang senasib.
Menjadi buruh memang menyakitkan. Bayangkan, yang anda dapatkan adalah upah yang hanya cukup untuk makan, minum, transport dan sewa rumah. Anda ingin rekreasi ? Itu keinginan yang mahal bagi buruh karena kenyataannya nasib buruh hanya dinilai dari apa yang dinamakan upah minimum regional.
Itupun tidak semuanya mentaatinya. Teman-teman di sektor garmen adalah contoh bagaimana mereka dibayar dibawah upah minimum regional, juga menghadapi kenyataan eksploitasi yang berlebihan. Jam lembur yang dibayar tidak memadai.
Bukankah tidak enak menjadi buruh ? Sayapun dahulu lebih memilih menjadi guru,penyuluh pertanian atau menjadi seorang penulis. Tapi itu dulu, kenyataannya sungguh sangat berbeda. Saya sudah belasan tahun menjadi buruh dan merasakan apa yang dirasakan oleh buruh lainnya.
Untunglah, kebahagiaan bukan datang dari banyaknya upah yang terima. Di tengah himpitan hidup, ada saja kebahagian datang mengisi ruang-ruang kosong yang tidak terisi oleh upah yang minim.
Persaudaraan, rasa senasib sepenanggungan, teman-teman yang selalu setia menperjuangkan hak-hak buruh, adalah kebahagian bagi sebagian besar buruh. Kebahagian datang tidak melulu ketika kita sanggup memenuhi kebutuhan hidup, keinginan yang tiada batasnya.
Justru kebahagian itu datang dari hati kita, dari sanubari kita. Rasa kebersamaan itu yang datang memenuhi kebahagiaan di atas penderitaan demi penderitaan. Lihatlah sebuah pabrik garmen yang dipenuhi pekerja wanita.
Begitu jam istirahat tiba, mereka berhamburan keluar. Mencari makan siang dan menikmati makanan yang nilainya hanya dua, tiga sampai empat ribu rupiah. Tetapi lihatlah, tidak ada kesedihan di wajah mereka.
Mereka senang, tertawa, bercanda bersama teman-teman lainnya. Melupakan himpitan hidup dalam sistem yang mengeksploitasi mereka. Kebahagian memang bukan datang dari upah atau uang yang kita miliki tetapi salah satunya dari rasa kebersamaan.
Kemarin, para buruh memperingati hari jadinya. Saya teringat Marsinah, yang tewas karena memperjuangkan nasib teman-teman buruh di tempat dia bekerja. Jasadnya remuk dipukuli dan dianiaya orang-orang yang mengatas keuntungan diatas segala-galanya.
Tetapi Marsinah tidak pernah mati, ruhnya menjadi sumber inspirasi bagi banyak buruh. Saya juga teringat Wiji Tukul, jasadnya belum ditemukan hingga hari ini tetapi puisi-puisinya menjadi abadi dengan perlawanan-perlawanannya. Baginya, menulis adalah cara untuk melawan kezoliman.
Saya teringat teman-teman saya yang telah dipecat, di PHK karena mereka memperjuangkan hak-hak saya dan teman-teman lainnya. Saya selalu ingat, kebahagiaan tidak datang dari upah yang kita terima tetapi oleh rasa persaudaraan, cinta kasih, rasa senasib dan sepenanggungan. Saya sebagai buruh,akan terus menjadi buruh. Ini bukan karena tidak ada pilihan tetapi atas nama cinta pada profesi, sebagai buruh.
Selamat Hari Buruh Sedunia
Perjuangan tidak selalu datang dengan perlawanan
Tetapi juga dengan diam,
juga dengan airmata.
salam
Munadi
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback