Pages

Saturday, November 14, 2009

Membuka Jendela-Jendela Kepekaan

(thoughtful) Penulis: Gede Prama   

Bom meledak lagi, kali ini di hotel JW Marihot Jakarta 5 Agustus 2003. Banyak orang yang mulai lelah menghitung, bom ke berapakah ini yang meledak setelah rangkaian bom yang panjang serta mengerikan. Dan sebagaimana bom terdahulu, korbannyapun manusia-manusia tidak bersalah.

Tidak ada kegiatan manusiawi lain yang lebih layak dilakukan selain mengalirkan air mata. Sejumlah sahabat mengeluh kalau mereka tidak lagi punya air mata. Dan mereka juga mulai khawatir, jangan-jangan kita juga akan kehilangan kepekaan dan empati kita setelah diterjang rangkaian peristiwa duka berulang-ulang.

Seperti seorang anak kecil yang pertama kali melihat seekor ayam dipotong lehernya. Ia terkejut, menjerit, kasihan, dan bahkan menangis. Namun begitu melihatnya berulang-ulang, bahkan diberitahu orang tuanya kalau daging enak di meja makan adalah daging ayam, anak inipun kehilangan seluruh kepekaannya di awal.

Serupa dengan kegiatan memasuki toilet. Ketika baru masuk hidung bisa mencium hampir semuanya. Beberapa menit kemudian, semua bau tidak sedap jadi hilang.

Kita semua memang bukan rangkaian anak kecil, bukan juga kumpulan orang yang setiap hari mengamati bau tidak sedap di toilet. Semua rumus dan kesimpulan memang hanya analogi, bukan wakil obyektif dari realita.

Cuman,ada bagian-bagian tertentu di dalam sini yang mulai biasa, kebal, tidak peka akan tangisan-tangisan, kesedihan-kesedihan yang mengikuti perginya sejumlah nyawa yang hilang tiba-tiba.

Mungkin di sini letak tantangan dan tugas belajarnya. Kendati duka datang berulang-ulang, meskipun diterjang kesedihan berkali-kali, tetapi kita wajib menjaga sang kepekaan tetap peka dan senantiasa bekerja. Tidak saja berkaitan dengan berurainya air mata, tetapi karena melalui jendela-jendela kepekaan ini manusia bisa pergi ke tempat yang jauh lebih tinggi.

Betul seperti sering diucapkan banyak sekali sahabat di dunia kejernihan,kalau mind memang terbatas. Lebih dari sekadar terbatas, ia juga menjadi awal banyak petaka. Seorang Cosmologist dari Princetown (dikutip majalah Discover Mei 2003) mengemukakan empat persen semesta terbuat dari atom,sisanya hanya unidentified objects.

Stephen Hawking pernah menulis, common sense hanya berguna untuk menghitung kecepatan dunia material seperti apel. Namun, ketika ia digunakan untuk menghitung hal-hal dengan kecepatan cahaya, common sense kehilangan seluruh dayanya. Ini soal mind yang terbatas.

___________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback