(thoughtful) Penulis: GedePrama
Melakukan kilas balik kehidupan, mungkin itu salah satu hobi dan kesenangan saya di waktu senggang. Bukannya tidak menghargai dan tidak mensyukuri hari ini, tetapi saya masih meyakini bahwa kita lahir dari ibu kandung yang bernama masa lalu.
Dari bibit-bibit masa lalu itulah kita dibuat. Kemanapun kita bergerak, apapun kita lakukan, atau apa saja yang kita impikan di masa depan, bibit-bibit terakhir akan senantiasa ikut dan ada dalam diri kita.
Dalam salah satu perjalanan kilas balik untuk mengenali bibit dan bahan dari masa lalu tadi, masih teringat jelas dalam bayangan, bagaimana orang tua dan kakak-kakak saya pertama kali mengajarkan agama.
Mirip dengan pengalaman banyak sekali orang dan ini sudah saya cek ke banyak sekali orang secara lintas agama sayapun dijejali pelajaran agama melalui pendekatan surga-neraka. Mereka yang hidup baik masuk surga,mereka yang hidup jahat masuk neraka. Sederhana, simpel dan mengena demikianlah banyak orang tua dan banyak manusia meyakini.
Saya khawatir, tidak hanya saya, jangan-jangan Andapun masuk dalam perangkap surga-neraka ini. Kendati sudah belajar ilmu pengetahuan kesana-sini, menumpuk perjalanan karir dan hidup yang tidak sedikit, tetap saja bayangan akan surga dan neraka mengikuti setiap perbuatan, ucapan dan pikiran saya sebagai manusia biasa.
Positifnya, ada semacam pagar dan rel-rel yang membuat kita tidak terlalu jauh melanggar etika-etika hidup dan kehidupan. Boleh saja ada yang beranggapan bahwa agama gagal dalam memecahkan masalah manusia kontemporer, namun tanpa pagar dan rel-rel yang bernama surga-neraka,peradaban manusia tentu saja akan jauh lebih mengerikan dibandingkan apa yang kita alami sekarang-sekarang ini.
Negatifnya, pagar dan rel-rel tadi mengurangi keikhlasan, ketulusan dan kemurnian kita dalam berdoa. Surga-neraka membuat banyak manusia kemudian melakukan transaksi dagang dengan Tuhan. Kalau baik, surga hadiahnya. Kalau jahat, neraka hukumannya.
Bukankah itu rumus-rumus sederhana kaum pedagang Saya tidak tahu, sejauh bacaan saya terhadap sejumlah buku suci, tidak ada satupun buku suci yang menyebutkan bahwa Tuhan berprofesi sebagai pedagang.
Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Pemaaf adalah sebagian sebutan yang diberikan kaum bijak pada Tuhan. Tetapi sebagai pedagang Belum pernah saya mendengar dari kiai, pendeta,rahib, pemuka agama manapun, atau kaum bijak yang lain.
Dalam bingkai perenungan seperti ini, saya angkat topi sekali kepada seorang pemikir Sufi maaf lupa namanya yang memiliki keinginan untuk membakar surga dan menyiram neraka. Bukan untuk berperang dan mbalelo kepada Tuhan, namun untuk melapangkan jalan keikhlasan, ketulusan dan kemurnian dalam berdoa.
Pada setiap agama memang ada rangkaian cara berdoa yang sama sahnya. Hanya saja, dalam cara manapun, niat untuk berdagang dengan Tuhan,senantiasa menjadi penghambatnya keihklasan, ketulusan dan kemurnian.
Coba Anda bayangkan kalau berdoa, dilengkapi dengan harapan agar gaji kita naik bulan depan. Atau berdoa sambil memohon agar Anda dicium wanita cantik setelah berdoa. Bukankah seluruh keheningan dan kebersihan doa kita menjadi terganggu? Ia mirip dengan kaki dan badan bersih yang berjalan di atas jembatan yang kotor. Demikianlah nasib siapa saja yang berdoa disertai niat berdagang dengan Tuhan.
Dalam tataran refleksi seperti ini, kadang saya memang agak kecewa dengan warna awal tentang agama yang masuk ke dalam pikiran ini. Kenapa mesti surga-neraka? Kenapa bukannya keihlasan, ketulusan dan kecintaan pada Tuhan? Demikianlah kira-kira hati kecil ini kadang melemparkan kekecewaannya.
Pandangan seperti ini memang bukan pandangan populer. Bahkan beresiko untuk dikira melakukan radikalisasi agama. Dan pada sahabat-sahabat yang kurang menyukai sikap seperti ini, mohon izinkan saya berjalan dengan jalan ini. Dan jangan dibumbui oleh kebencian. Ini penting, karena kebencian jenis terakhir ikut juga membuat jembatan doa saya menjadi lebih kotor lagi.
Saya tidak tahu, apa yang ada di benak dan niat Anda ketika berdoa. Saya berusaha untuk mengurangi sekecil-kecilnya niat untuk berdagang dengan Tuhan. Untuk kemudian, bergerak ke dalam jembatan-jembatan doa yang bernama keheningan, ketulusan, kemurnian dan kecintaan pada Tuhan.
Jangan tanya saya hasilnya, karena ini hanya ditanyakan oleh pedagang doa. Jangan juga tanya kemana saya mau pergi dengan langkah-langkah doa seperti ini. Apa lagi kalau ditanya apakah saya pernah bertemu Tuhan dengan cara seperti ini. Jelas saja tidak jawabannya.
Bagi mereka yang hidup dalam kaidah-kaidah hasil, cara seperti ini memang membingungkan. Namun, siapa saja yang menyelami prinsip- prinsip mengalir dalam kehidupan, ia akan bisa mencernanya secara lebih mudah.
Seperti air laut yang disinari mata hari, kemudian menjadi awan, dan pada tahap berikutnya menjadi hujan, melewati sungai dan kembali jadi laut lagi, demikianlah keikhlasan dan kecintaan pada Tuhan sedang saya bangun.
Keindahan memang relatif dan sulit dijelaskan. Rezeki memang bukan urusan kita manusia. Apa lagi kesuksesan, ia adalah hasil kombinasi banyak variabel yang kompleks. Dan kalau benar pemikir Sufi diatas mau membakar surga dan menyiram neraka, saya akan ikut berkontribusi di sana.
_______________________________________________
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback