(about men)
Setelah kita melalui masa pacaran, umumnya hubunganpun dilanjutkan ke sebuah ikatan perkawinan alias memasuki bahtera rumah tangga.
Namun tahukah Anda bahwa menuju sebuah pernikahan tidaklah selalu dihadapkan pada sebuah jalan yang mulus dan rata. Berikut penuturan 3 orang pria tentang bagaimana ia menyikapi hari-hari menjelang persiapan perkawiannnya.
Ada yang gentar ada yang maju terus. Gejala ini biasa disebut pre marriage syndrome. Mungkin dari sini Anda bisa menarik pelajaran untuk lebih mengerti isi pikiran pasangan Anda, terutama jika Anda 'menemukan keanehan' pada dirinya menjelang hari pernikahannya dengan Anda!
Santoso, 33 th, Menikah 2 Putra, Pengacara
Pre marriage syndrome? Saya pernah mengalaminya. Bagi saya itu wajar-wajar saja dialami oleh pria yang akan menikah, Yang saya rasakan adalah ketika menjelang pernikahan, tiba-tiba kepercayaan diri saya sebagai laki-laki lenyap.
Ketakutan-ketakuata mulai muncul. Apa saya sanggup menghidupi keluarga nantinya secara ekonomi? Apa isteri saya nanti bisa melayani dengan baik? Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti. Hanpir-hampir saya berpikir untuk menunda perkawinan saya sampai saya betul-betul merasa siap.
Tetapi kemudian saya mencari solusi dengan bertanya pada beberapa teman dekat yang telah menikah lebih dulu. Diskusi kecil ini mengantarkan saya pada kesimpulan; siap atau tidak, saya harus menjalani pernikahan ini. Toh prinsip saya, perkawinan bias dijadikan sebagai tempat belajar juga. Jadi tidak ada alasan untuk menunda kan?
Denny, 31 th, menikah 1 putera, Arsitek
Saya boleh dibilang tidak pernah mengalami pre marriage syndrome kalau itu dihubungkan dengan perasaan saya terhadap isteri saya. Karena pada saat saya memutuskan untuk menikahi dia, saya berpikir bahwa dia adalah wanita ideal yang pantas mendampingi saya dalam hidup.
Tapi jika itu dihubungkan dengan kelelahan yang saya alami menjelang pernikahan, jujur saya katakan. Saya sempat stress. Gimana nggak? Segala persiapan perkawinan, mulai dari gedung, undangan sampai hal-hal kecil lain, benar-benar bikin capek!
Belum lagi mempersiapkan acara adat yang mesti dijalani. Tapi ya itu tadi, karena saya cinta sama isteri saya, apapun saya jalani. Walau dalam hati saya sempat berkata, aduh…semoga perkawinan ini cuma sekali sajalah! Capeknya, ampuun deh!
Dedy, 32 th, belum menikah, Art Director
Mungkin harusnya saat ini, gue sedang senang-senangnya mempersiapkan perkawinan gue. Tetapi hal itu sekarang hanya tinggal kenangan! Karena keputusan gue untuk membatalkan perkawinan ini. Barangkali ini yang dinamakan pre marriage syndrome. Gue memutuskan untuk batal kawin karena gue nggak yakin akan perkawinan gue nantinya.
Saat memutuskan untuk menikahi Kania, gue tadinya merasa yakin sekali. Walau nggak bisa gue pungkiri, kadang-kadang gue merasa bahwa dia masih jauh dari sosok wanita matang. Tetapi waktu itu gue nggak pernah memikirkannya secara mendalam.
Hingga akhirnya gue merasa capek. Sementara pekerjaan gue menuntut kreatifitas yang tinggi. Bagaimana mungkin gue bisa mematangkan visi dalam berumahtangga jika bergelut dengan pekerjaan aja, sudah cukup berat buat gue.
Tadinya gue berpikir dia bisa dijadikan tempat berbagi disaat gue sedang stress,baik itu karena pekerjaan. Tapi kenyataannya malah di saat gue bete, dia malah ikutan bete juga, berabe kan? Gimana bisa kita hidup berdampingan dan saling mengisi.
Belum lagi dia itu nggak bisa bersikap dewasa di depan keluarga besar gue. Wah, yang ada malah nanti gue sibuk kasih pengertian sama keluarga gue. Mending nggaklah !!
Indo community
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback