Pages

Monday, October 12, 2009

Nakita

(Info)
Saat memasuki usia prasekolah, sepertinya anak kehilangan spontanitas dan keceriaannya. Ia bukan lagi si kecil yang lucu dan menggemaskan. Waktu masih berusia 2-3 tahun, Dipa adalah anak yang ceria dan menggemaskan.

Ia tak sungkan menyambut tamu yang berkunjung, memperkenalkan diri, bahkan ketika diminta menyanyikan sebuah lagu yang baru saja dihapal,dia sangat antusias melakukannya.

Namun kini, Dipa tidak selalu mau bila diminta menyanyi, apalagi ketika sedang asyik dengan kegiatannya sendiri. Saat ditanya pun ia tidak langsung menjawab, melainkan pikir-pikir dulu. Normalkah perubahan ini? "Sampai batasan tertentu, perkembangan ini wajar terjadi pada seorang anak," ungkap Natalia Yuliastini, Psi.

PERUBAHAN WAJAR
Pengajar di Unika Atma Jaya yang akrab disapa Lia ini melanjutkan, Namun,perubahan perilaku itu dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, sebagai perubahan yang wajar dan kedua tidak wajar, karena disebabkan trauma tertentu. Selama perubahannya tidak terlihat ekstrem, maka masih bias dikategorikan wajar."

Perubahan perilaku ini, seperti dikutip Lia, dapat dijelaskan menurut teori Erik Erikson yang mengatakan, anak usia 1-3 tahun sedang mengembangkan fase otonominya atau fase dimana ia belajar bahwa dirinya berbeda dengan orang lain sekaligus belajar menerima respon dari orang lain. Jadi, jangan heran kalau di usia ini anak mau disuruh apa saja, termasuk menyanyi didepan keluarga.

Begitu memasuki usia 3-5 tahun, anak akan mengembangkan fungsi inisiatifnya. Ia sudah mulai menyadari bahwa dirinya mempunyai keinginan sendiri yang bisa jadi berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Apa yang diminta orang lain untuk dilakukannya, maka belum tentu dipenuhinya.


Menyanyi, contohnya, karena bisa jadi di saat yang sama anak mempunyai keinginan untuk melakukan aktivitas yang berbeda. Ini yang kemudian sering terlihat oleh awam, "Kok, anak saya tidak seceria dulu lagi." Anak usia ini biasanya juga sudah dikenalkan dengan dunia "sekolah" seperti kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang memberinya banyak informasi.

Anak mulai dikenalkan pada bentuk huruf dan angka, belajar memegang gunting, mencoret-coret, mewarnai, membuat hiasan dari guntingan kertas, dan lainnya yang berkaitan dengan hal-hal akademis, perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus. "Oleh sebab itulah menyanyi yang selama ini menjadi 'gaya andalannya' saat tampil di depan keluarga, sudah tidak diminatinya lagi," ungkap Lia.

Kemampuan menyerap informasi yang makin tinggi juga menyebabkan makin banyaknya kosakata yang dikuasai, "Kalau selama ini anak terlihat spontan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan, itu lebih karena keterbatasan kosakatanya.

Sementara di usia prasekolah, anak sudah bisa memilih kata-kata yang diperlukan secara tepat karena daya nalarnya juga sudah bertambah. "Ini yang mungkin oleh sebagian orang tua diasumsikan, anak tidak spontan lagi dalam menjawab pertanyaan."

KESEMPATAN MENGEMBANGKAN DIRI
Agar pergantian fase menurut usia itu berjalan wajar dan optimal, berikan kesempatan yang seluas-luasnya pada anak. Perhatikan apa yang sedang diminatinya saat itu. Kalau anak terlihat sangat menikmati kegiatan mewarnai, orang tua sebaiknya paham dan memberikan fasilitas, misalnya menyediakan buku mewarnai sebanyak yang dibutuhkan anak.

Sebaliknya, orang tua tidak bisa memaksakan keinginannya. "Kalau anak sudah tidak mau menyanyi, ya jangan dipaksa untuk terus menyanyi. Kalau anak tidak mau menyapa dan bersalaman dengan tamu yang sedang berkunjung kerumah, ya jangan dipaksa, diolok-olok, atau bahkan diseret agar mau bersalaman.

Ini jelas akan membuat anak tertekan dan semakin menarik diri. Padahal, di saat yang sama anak mungkin sedang mengerjakan sesuatu yang diminatinya."

Sampai batasan tertentu, biarkan anak melakukan kegiatan apa saja yang diinginkan. Untuk melatih suatu keterampilan, orang tua bisa mengusahakan suatu lingkungan yang menyenangkan, sehingga dorongan akan tumbuh dari dalam dirinya. Namun, kalau anak memang tidak mau, sebaiknya orang tua tidak memaksa.

Dalam jangka panjang, anak yang tidak diberi kesempatan mengembangkan inisiatif akan tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu, tidak bisa mengambil keputusan, kurang percaya diri, atau justru overkompensasi dengan cara pamer pada orang-orang di sekitarnya bahwa dia bisa melakukan banyak hal.

Asal tahu saja, fase prasekolah ini adalah fase krusial dimana rasa percaya diri, inisatif dan kompetensi anak sedang tumbuh. "Bila orang tua salah memberikan penanganan, maka dampaknya bisa terbawa sampai anak dewasa kelak," sambung Lia.

Juga, walaupun umumnya di usia yang sama anak mengalami perkembangan serupa, kondisi masing-masing sebenarnya pastilah berbeda-beda, termasuk dalam proses penguasaan fase inisiatif ini. Ada anak yang sampai usia prasekolah masih belum menunjukkan inisiatif, tapi ada pula yang telah menguasainya di usia yang lebih awal.

Kondisi ini juga dipengaruhi karakteristik masing-masing anak. Ada anak yang memang dari kecilnya pendiam dan pemalu, sehingga perubahan perilakunya tidak begitu terlihat. Ada pula yang sampai usia sekolah tetap mau melakukan keinginan-keinginan orang tua seperti ketika belum mengalami fase inisiatif.

Perubahan yang tidak terlihat itu bisa disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah, "Orang tua tidak memberikan kesempatan cukup banyak ketika anak sedang berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang diinginkan, seperti membuat coretan, menggunting, dan membentuk lilin permainan.

Bisa jadi inisiatif yang ditekan itu kemudian terpendam. Apalagi kalau orang tuanya terus memaksa anak melakukan kegiatan lain sesuai keinginannya. Akhirnya,anak tidak punya inisiatif sendiri, melainkan hanya menuruti saja apa yang diminta oleh orang tuanya," ungkap Lia.

PERUBAHAN AKIBAT TRAUMA
Waspadai adanya trauma mendalam jika perubahan yang terjadi terlihat sangat ekstrem. Misalnya, dulu ia suka sekali menyanyi di rumah, tapi kini tidak sama sekali, atau sebelum ini dia senang sekali diajak ke rumah nenek untuk bertemu keluarga besar, tapi kini tidak lagi.

Trauma mendalam biasanya disebabkan kasus besar dalam keluarga, seperti perceraian orang tua. Tentu saja, tidak semua kasus serupa akan membawa dampak perubahan perilaku secara ekstrem. Namun yang pasti, jika memang terjadi trauma berat diperlukan bantuan ahli untuk mengatasinya, karena bias jadi masalahnya sangat kompleks.

Trauma ringan ternyata juga dapat memadamkan keceriaan seorang anak,seperti olok-olok yang dilontarkan kepadanya saat sedang bernyanyi di depan keluarga, atau ada kejadian memalukan yang membuatnya ditertawakan.


Dampaknya memang tak seekstrem trauma berat, di mana anak berhenti melakukan hampir semua aktivitas yang disukai sebelumnya. Dalam kasus ini ia hanya menolak melakukan kegiatan tertentu, sedangkan untuk aktivitas lain, dia masih mau melakukannya.

APA YANG HARUS DILAKUKAN
Bila orang tua mendapati keadaan buah hatinya seperti itu, pelan-pelan tanyakan apa sebabnya. Ambil waktu saat kondisinya sudah agak santai,sehingga tidak terkesan sedang menginterograsi. Lain waktu, lakukan persiapan sehingga anak sudah punya bayangan harus melakukan apa.

Misalnya,masih pada kasus tidak mau memberi salam pada tamu tadi, beritahu dia kurang lebih dengan cara seperti ini, "Nanti, Tante Ani, teman Mama itu mau main kesini. Mama kangen, deh, ngobrol sama Tante Ani. Kamu beri dia salam ya, setelah itu kamu boleh main lagi.

" Dengan begitu anak bisa mempersiapkan diri bahwa akan ada tamu di rumahnya. Atau bisa juga kita bekerjasama dengan tamu tersebut, misalnya minta dibawakan oleh-oleh majalah kreativitas kesukaan anak.

Lakukan latihan itu secara bertahap. Kalau anak sudah mau menemui tamu dan memberi salam, cukuplah untuk saat itu. Setelahnya, biarkan anak kembali melakukan aktivitasnya sendiri. Dengan begitu anak diberi kesempatan untuk menarik napas lega, "Oh, ternyata tidak apa-apa ya."

Begitu juga untuk kasus tidak mau menyanyi lagi, "Minta anak untuk menyanyi di depan mamanya saja, kemudian di depan mama dan papanya,selanjutnya di depan keluarga inti, dan seterusnya. Intinya adalah lakukan kegiatan itu secara bertahap, sehingga anak dapat melupakan trauma kecilnya. Jangan lupa berikan pujian bila anak sudah berhasil melakukan suatu kegiatan," saran Lia.

Kalau kebetulan kita menyaksikan kejadian yang mempermalukan anak, yang oleh karenanya mungkin muncul trauma, sebaiknya segera berikan rasa aman kepadanya. "Anak usia ini sudah merasa aman kalau orang tua memeluknya. Berikan pula dorongan dengan mengatakan bahwa kejadian seperti itu bias dialami siapa saja. Diharapkan, anak tidak sempat kehilangan rasa percaya diri yang menyebabkannya jadi trauma."

BILA TIDAK SEGERA DIKETAHUI
Amat disayangkan bila orang tua tidak segera menyadari trauma yang dialami anak maupun penyebabnya. Efek trauma ini akan terus terbawa sehingga akan menghambat proses perkembangan pada tahap-tahap selanjutnya. Baru setelah lama berselang dampaknya terlihat oleh kita. Fatalkah akibatnya?


"Orang tua jangan terlalu khawatir," tukas Lita, "karena bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang punya potensi untuk berubah dan berkembang. Apalagi trauma anak yang terjadi pada usia prasekolah masih sangat memungkinkan untuk dikoreksi." Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi/nakita


Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback