Pages

Monday, October 12, 2009

Membumikan Sejarah dengan Ramuan

Tidak menutup kemungkinan, bagi banyak orang sejarah merupakan serangkaian pengetahuan masa silam yang lumayan sulit dan merepotkan bagi penikmatnya untuk meniti keabsahan yang benar-benar orisinal.

Semisal sejarah dalam konteks Indonesia, dewasa ini "sejarah" yang disajikan pemerintah mengalami kemprosotan dan kegamangan dalam mempercayakan karyanya kepada publik, setelah munculnya karya-karya sejarawan yang konon sempat terbungkam akibat kondisi perpolitikan dimasa orde baru (orba) dan baru berani eksis setelah masa orde baru digantikan orde reformasi.

Ironisnya, para penikmat sejarah yang beraroma ke-Indonesia-an mulai kebingungan dan memunculkan berbagai benih kecurigaan terhadap berbagai karya-karya sejarah, khususnya sejarah yang memotret situasi dan kondisi Indonesia pada masa kolonial penjajah dan pasca penjajahan bumi pertiwi ini.

Berbeda dengan penulis-penulis sejarah Indonesia yang kini mulai kesulitan menyajikan kebenaran karya-karya sejarahnya kepada publik, Nancy Farmer bersama novelnya yang berjudul The Sea Of Trolls ini, tergolong sukses dalam menyajikan sejarah atau peristiwa yang terjadi pada sekitar tahun 773 masehi di Inggris, kepada pembaca.

Cerita sejarah yang diramu dengan bumbu-bumbu penyedap ala novel pada umumnya ini, laris manis dipasaran buku dan mendapat berbagai penghargaan dari berbagai penilai buku-buku bertaraf dunia.

Walaupun tidak secara menyeluruh dalam menyajikan sejarah kehidupan masa silam di Inggris, Nancy Farmer dalam menginformasikan kehidupan di daratan Eropa, sebelum ditemukannya masa Aufklarung (pencerahan) pada abad ke-17,terasa jelas seperti halnya buku-buku sejarah yang selama ini dikenal publik.

Hanya saja dalam menceritakannya, Nancy tidak memperjelas bahwa novel yang diangkatnya berangkat dan berlatar kehidupan didaratan Eropa yang masih jauh dari ditemukannya masa revolusi industri.

Kehidupan bangsa Barbarian masa itu dikenal sebagai bangsa yang bangga dengan kebodohannya dan masih suka mengarungi kehidupannya dengan cara berperang dan menaklukkan bangsa lain. Bahkan mereka akan lebih bangga apabila kematiannya berakhir pada saat peperangan dan kecewa ketika kematiaannya selain dimedan peperangan walaupun luka-luka yang mengantarkan kematiaannya diperoleh pada saat peperangan.

Dikisahkan, segerobolan bangsa Viking yang melabuh dipantai lautan Troll dengan berbagai peralatan, senjata dan seperangkat pakaian anti senjata tajam (pada masa mereka) bertujuan merebut segala barang-barang berharga dan segala binatang ternak penduduk yang terlihat makmur.

Mereka merebut secara paksa dan tidak segan-segan membunuh, membakar serta membumi ratakan daerah yang didatanginya. Apabila menemukan manusia yang dinilai bisa memberikan kemanfaatan, mereka akan menangkap dan mengikatnya diawak kapal yang kemudian dibawa berlayar dipulau lain dan menjualnya apabila mampir dipulau yang terdapat transaksi jual beli budak.

Melabuhnya bangsa Viking yang terlihat bergerombol-gerombol disertai dengan riuh tawa dan jeritan serta tangisan penduduk desa disekitar pantai Troll pun mengundang perhatian seorang Bard (julukan salah seorang pendeta) yang sedang mengajar Jack (muridnya).

Mengetahui hal itu, Bard dan Jack bergegas turun gunung dan menuju desa keduanya. Dengan penuh meyakinkan, Bard dan Jack berhasil mengajak penduduk desa untuk menyelamatkan diri dan harta benda dari bangsa Viking menuju pegunungan yang diselimuti hutan belantara.

Dihutan yang belum dijamah oleh tangan-tangan jahil manusia itu, Jack berusaha mempraktekkan ilmu yang telah ia pelajari dari Bard, sebuah ilmu sihir yang mampu mendatangkan kabut yang tebal dan menutupi segala yang ia inginkan selama yang ditutupinya tidak keluar dari garis yang telah ia buat sebelumnya.

Usaha Jack pun berhasil, semua bangsa Viking yang berseliweran disekitar hutan tempat penduduk desa mengungsi, sama sekali tidak melihat bahkan mencium bau manusia yang berada didalam perlindungan sihir Jack.

Tapi sayang, ketika bangsa Viking belum begitu jauh meninggalkan area pengungsian, adik kesayangan Jack yang bernama Lucy sudah keluar dari garis batas sihir yang telah dibuat Jack.

Sehingga, Lucy pun terlihat oleh pandangan beberapa gerombolan bangsa Viking yang kemudian menangkap dan membawanya kekapal untuk digabung bersama tawanan-tawanan yang lain. Sementara, Jack baru mengetahui tragedi itu setelah keadaan aman dan bangsa Viking sampai dipantai.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya setelah mengeluarkan energi untuk mengelabuhi bangsa Viking dengan sihir, Jack berlari dan mengejar adiknya untuk diselamatkan dari bangsa Viking tadi.

Ironisnya, Jack yang masih kepayahan itu ketahuan dan dikeroyok oleh bangsa Viking hingga tak berdaya. kemudian diikat bersama-sama dengan tawana-tawanan yang lainnya. Dilain tempat, Bard yang ilmunya jauh diatas Jack terserang penyakit hingga tak berdaya untuk membantu Jack dalam menyelamatkan Lucy.

Setelah menempuh pelayaran yang cukup lama, bangsa Viking yang diketuai oleh Olaf menjual semua tawanan-tawanan yang barusan ia peroleh disebuah pasar Budak. Semua tawanan terjual laris, walaupun masih ada beberapa tawanan yang tidak laku karena memiliki kecacatan fisik dan belum cukup umur untuk dijadikan sebagai budak, Olaf pun tetap memperoleh banyak keuntungan yang kemudian dibagi-bagi bersama semua angotanya.

Sementara tawanan yang tidak laku jual dijadikan budak sendiri oleh Olaf dan anggotanya dalam berlayar serta mencari mangsa jajahan, termasuk Jack dan Lucy yang tidak laku jual gara-gara belum cukup umur untuk menjadi budak.



Tetapi situasi dan kondisi berkata lain, ketika awak kapal Olaf terpontang-panting akibat derasnya hujan dan badai serta halilintar yang menyambar-nyambar kapal mereka. Potensi Jack yang memiliki ilmu sihir pun diketahui oleh Olaf. Sehingga Jack diminta bantuan oleh Olaf untuk menenangkan keadaan dan mengembalikan seperti sediakala.

Melihat permintaan Olaf yang begitu serius, Jack pun memanfaatkannya untuk melepas tali ikatan dirinya dan Lucy kemudian setelah berhasil meredakan semuanya keduanya harus diberi makan. Karena kekhawatiran dan ketakutan yang begitu mencekam, Olaf pun terpaksa menyetujui semuanya.

Jack dan ilmu sihirnya yang sebenarnya belum sempurna itu, mulai beraksi. Semua angin dan halilintar itu diputar balik oleh Jack, yang kemudian mejauh dari awak kapal. Tak lama kemudian hujan pun reda dan keadaan kembali tenang.

Karena merasa tugasnya selesai, Jack menagih janji kepada Olaf. Tapi sayang,Olaf mendustai janjinya dan mengembalikan Jack dan Lucy pada posisi semula. Bahkan mengabari Jack bahwa Lucy akan dijadikan hadiah oleh Olaf kepada ratunya yang berada disebuah pulau. Penyesalan dan kegundahan Jack pun kembali bersarang dihatinya.

Setelah melanjutkan pelayaran hingga beberapa mil dari tempat kejadian, alam yang melihat kejadian itu seakan tidak tega dan kemabali mengganggu pelayaran Olaf. Kabut putih yang begitu tebal sedikit demi sedikit menghampiri awak kapal yang menyebabkan Olaf dan anak buahnya kehilangan arah untuk melanjutkan pelayaran. Kali ini Jack juga dihantui ketakutan sebagai mana Olaf dan anak buahnya.

Dengan permintaan dan janji akan dipenuhi, Olaf meminta Jack kembali menyelamatkan mereka. Dengan perasaan yang takut pula Jack kembali memanfaatkan sihirnya dengan mendatangkan angin untuk mengusir kabut yang menutup pandangan seluruh penghuni kapal. Jack kembali berhasil.

Sebelum ketakutan Olaf dan anak buahnya mereda, Jack mendahului gertakan dengan mengancam akan mengembalikan kabut tersebut apabila keinginan Jack tidak terpenuhi.

Sambil menonton anak buah Olaf yang membersihkan dan merapikan awak kapal yang berantakan, Jack dengan perasaan yang sebenarnya masih ketakutan menikmati imbalan pemberian Olaf dan baru menyadari bahwa ketika proses mengundang angin dan mengusir kabut, ternyata ditemani seekor burung Gagak yang ia kenal dan diakrabinya ketika berguru kepada Bard disebuah gua diperbukitan.

Dari situlah diam-diam Jack meyakini dan berkesimpulan bahwa sihirnya yang masih mentah itu dibantu oleh Gagak peliharaan gurunya. Bahkan bersama Gagak itu Jack berhasil memadukan ilmu sihirnya untuk meloloskan diri dan membebaskan adik kesayangannya dari cekalan bangsa Viking dan menghindar dari sasaran calon persembahan kepada ratunya Olaf.

Membaca novel sejarah setebal 543 halaman ini, pembaca akan dibuai Nancy Farmer bahwa yang diceritakannya ternyata menyimpan serpihan-serpihan sejarah bangsa Eropa masa silam dan bisa ditelusuri dan dicocokkan dengan buku-buku sejarah yang pernah menceritakan kehidupan sekitar tahun 733 diEropa.

Sebuah cara baru dalam membumikan sejarah kepada publik ini lah yang menjadikan Nancy sebagai sejarawan yang menyamar dan digandrungi masyarakat serta menjadikan sejarah sebagai ilmu pengetahuan yang tidak bosan untuk dipelajari dan dinikmati. ***


*Judul buku : The Sea Of Trolls
Penulis : Nancy Farmer
Penerbit : Mata Hati, Jakarta Selatan
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 543 halaman *

* *

By Sungatno….

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback