Pages

Friday, September 11, 2009

Puding Beras

Sheila masuk ke ruang staf dengan kasar, seragamnya kena noda makanan,"Aku tak tahu bagaimana kau melakukannya !" semburnya pada Helen, perawat yang bertugas sebagai pengawas dinas malam. Sheila menghenyakkan diri ke kursi dan dengan tampang kesal memandang kantong makan siangnya yang sudah tak berbentuk. "

Bu Svoboda lagi-lagi melemparkan nampannya ke arahku. Dia ngamuk-ngamuk sampai aku tidak tahu apakah aku akan bisa membersihkannya sebelum waktunya tidur. Kenapa kau tidak pernah mendapatkan kesulitan menghadapinya ? " Helen tersenyum penuh simpati. "

Aku juga pernah di lakukan seperti itu. Tapi aku sudah lebih lama bekerja di sini dan....aku kenal suaminya." "Hmm, Troy. Aku pernah dengar tentang dirinya Itu satu-satunya kata yang bisa ku mengerti kalau dia sedang ngamuk-ngamuk." Helen memandang siswa perawat yang masih muda itu dengan tenang.

Bagaimana dia akan menjelaskan apa yang di lihatnya dibalik penampilan luar para penghuni panti jompo yang mereka rawat ? Sheila bekerja di sini hanya sepanjang musim panas. Apakah waktu sesingkat itu cukup untuk belajar mencintai orang yang menyebalkan dan paling tak mungkin dicintai ?

"Sheila," dia memulai ragu-ragu. Aku tahu sulit sekali bekerja dengan orang seperti bu Svoboda. Dia kasar, tidak kooperatif, dan sangat menyebalkan." Sheila tersenyum masam. Tapi dibalik kekurangan yang kau saksikan setiap hari, ada kebakikan yang tersembunyi dalam dirinya.

" Helen berdiri untuk mengisi cangkir kopinya lagi."Aku ingin bercerita padamu tentang saat pertama kau berkenalan dengan suami-istri Svoboda." "Ketika bu Svoboda di terima disini, dia belum separah sekarang, tetapi lidahnya memang sudah tajam.

Dia sering sekali mengeluh padaku tentang hal-hal yang sangat remeh --tehnya tidak cukup panas, ranjangnya kurang di rapikan. Pada hari-hari buruknya dia menuduh kami mencuri semua barang-barangnya. Aku tidak sabar menghadapinya, sampai pada suatu hari suaminya kebetulan datang pada waktu dia sedang dimandikan.

Aku sudah bersiap-siap untuk bertengkar dengannya ketika suaminya minta di izinkan membantu. "Tentu saja," kataku penuh terima kasih. Bu Svoboda baik-baik saja sampai aku mulai menurunkan Lift --kursi pengaman-- ke bak mandi. Untunglah tali-tali pengaman sudah terpasang karena tiba-tiba dia menjerit-jerit dan menendang-nendang.

"Aku memandikannya cepat-cepat, ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, tapi Troy meletakan tangannya di lenganku. Beri dia waktu untuk membiasakan diri dengan air,' katanya. Kemudian, dengan lembut Troy bicara dalam bahasa Rusia.

Beberapa saat kemudian istrinya menjadi tenang dan kelihatannya menyimak kata-kata suaminya. Dengan lembut Troy mengambil kain lap dan sabun dari tanganku, lalu mengusap kedua tangan istrinya.

Kemudian, pelan dan hati-hati dia membasuh lengan dan bahunya, mengusap-usap kulit yang tipis dan keriput. Setiap sentuhan adalah belaian, setiap gerakan adalah janji, dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku telah menyaksikan ungkapan kasih yang begitu dalam dan mesra.

Beberapa saat berlalu, bu Svoboda memejamkan mata dan terlihat nyaman didalam air yang hangat. `Nadja-ku yang cantik,` gumam pria itu. `Kau cantik sekali`. Aku kaget melihat bu Svoboda membuka mata dan membalas gumaman itu, Troy ku yang tampan.`

Dan yang lebih menakjubkan lagi air mata menggenang di matanya ! "Pak Svoboda memiringkan lift dan mencelupkam rambut istrinya ke dalam air. Wanita tua itu mendesah senang ketika suaminya membelai dan mengeramas rambutnya.

Kemudian suaminya mengecup keningnya."Sudah selesai manisku. Sekarang sudah waktunya keluar." "Aku harus berada di sana bersama mereka meskipun mereka tidak membutuhkan aku. Dan sekilas aku melihat sosok wanita yang sangat dicintai, yang rapat tersembunyi di balik raga yang tua dan rusak.

Sebelum kejadian itu, aku tak pernah berpikir begitu tentang dirinya. Aku bahkan tak pernah tahu nama kecilnya." Sheila diam membisu. Dia menunduk sambil mengaduk-aduk yoghurt-nya. Helen menarik napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.

"Sepanjang sore itu bu Svoboda tenang. Suaminya menolongku mengenakan pakaiannya dan menyuapkan makan siangnya. Dia mengeluh tentang makanannya, bahkan sempat menumpahkan supnya. Dengan sabar pak Svoboda membersihkan tumpahan itu dan menunggu sampai amukan istrinya mereda.

Kemudian pelan-pelan dia melanjutkan menyuapkan sisa makanan dan mengajak istrinya mengobrol sampai tiba waktunya tidur. "Aku prihatin melihat lelaki tua itu. Dia benar-benar kecapekan. Aku bertanya, mengapa dia memaksa melakukan semua itu sendiri, padahal kami dibayar untuk melakukannya.

Dia berpaling kepadaku dan menjawab ringkas, "Karena aku mencintainya." "Tapi anda membuat diri anda kecapekan," sahutku. "Anda tidak mengerti," dia melanjutkan. "Kami menikah selama hampir empat puluh sembilan tahun. Waktu kami mulai membangun keluarga, kehidupan di tanah pertanian jauh lebih berat dari yang dapat Anda bayangkan.

Musim kering mematikan tanaman kami,rumput di padang tak pernah cukup untuk makanan ternak. Anak-anak masih kecil, aku tidak tahu apakah kami akan selamat melewati musim dingin. Aku merasa sangat tidak mampu dan itu membuatku marah-marah.

Tahun itu, hidup bersamaku pastilah sangat sulit. Nadja bisa memahami perasaanku, dan membiarkan aku berbuat semauku. Tetapi, suatu malam aku mengamuk di meja makan. Dia memasak makanan istimewa kegemaran keluarga kami, puding beras.

Dalam hati aku langsung menghitung banyaknya gula dan susu yang diboroskannya untuk membuat puding itu." "Tiba-tiba, aku tak tahan lagi. Aku mengangkat mangkuk ku, melemparkannya ke dinding, lalu kabur ke gudang jerami. Aku tak tahu berapa lama aku bersembunyi di sana, tetapi menjelang matahari terbenam, Nadja keluar mencari ku.

"Troy," katanya, "kau tidak sendirian menghadapi kesulitan ini. Aku berjanji akan selalu mendampingimu dalam keadaan apapun. Tetapi kalau kau tak mengizinkan aku mendampingimu,kau harus pergi." Dia berkata sambil menangis tetapi suaranya tegas sekali.

"Saat ini kau bukan dirimu, tetapi kalau kau sudah siap untuk hidup bersama kami lagi, kami menunggumu di sini." Kemudian dia mencium pipiku lalu kembali ke rumah.' "malam itu aku tidur di gudang jerami. Esok harinya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan.Tentu saja tak ada apa-apa di sana,tetapi aku harus terus mencari.

Setelah seminggu kerja tanpa hasil, aku putus asa. Aku benar-benar merasa gagal, sebagai petani maupun sebagai lelaki. Aku berjalan pulang, tanpa tahu apakah aku akan disambut dengan senang hati. Tetapi aku tak punya tempat lain untuk pulang.

Ketika melihatku berjalan menyusuri jalan setapak, Nadja berlari keluar, tali celemeknya melambai-lambai. Dia memelukku erat-erat dan aku menangis. Aku bergantung kepadanya seperti bayi yang baru di lahirkan. Dia terus memelukku dan membelai-belai kepalaku. Kemudian kami masuk ke rumah, seakan tak pernah terjadi apa-apa. '

"Kalau dia bisa tahan mendampingiku selama masa-masa sulitku, selama masa-masa paling sulit dalam hidup kami, yang sedikitnya bisa kulakukan untuknya sekarang adalah menghiburnya. Dan mengingatkannya akan masa-masa indah yang kami alami bersama. Kami saling tersenyum kalau makan puding beras, dan itu adalah satu dari sedikit kenangan manis yang masih diingatnya.

" Helen diam. Tiba-tiba Sheila mendorong kursinya kebelakang. "Waktu istirahatku sudah habis," katanya, sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Ada seorang wanita tua yang sudah waktunya disuapi makan malam." Dia tersenyum kepada Helen. "Kalau aku meminta dengan baik-baik, berani taruhan, juru masak pasti bisa menyediakan sepiring puding beras untuknya."

Roxanne Willems Snopek
_____________________________________________________
As is a tale, so is life
not how long it is but how good it is, what matters


indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback