(touching story) GUNDOLO SOSRO
Waktu itu tahun 1994. Saya berkesempatan mewakili sekolah dalam Temu Diskusi Pelajar SLTA se-Jakarta Bogor - Tangerang - Bekasi, untuk membahas masalah narkotika dan penanggulangannya.
Diskusi dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok berisi sepuluh pelajar. Saya beruntung bisa berada dalam kelompok diskusi yang hebat. Rekan-rekan diskusi saya semua sangat periang, humoris tapi juga 'berisi.' Bukan hal aneh, sebab kebanyakan dari mereka peraih ranking I di sekolah masing-masing.
Saat makan siang tiba. Paket nasi,lauk, sayur dan buah ditaruh dalam dus. Kami diminta makan siang bersama kelompok diskusi masing-masing.
Saya melihat Toto (bukan nama sebenarnya) dari SMA 14,ketua kelompok diskusi kami tidak makan.
- "Mengapa tidak makan, To? Kamu nggak lapar??
- Dia tersenyum. "Makasih."
- "Kamu puasa, ya?" tebak saya. la mengangguk.
- "Hari Rabu begini?"
- la mengangguk lagi. "Jatah saya dibawa pulang."
Semua asyik makan dan tak lagi mempedulikan Toto. - "Wah, saya kenyang nih, nasinya kebanyakan...," suara seorang teman lelaki kami.
- "Ya, gue juga nggak habis nih!" timpal yang lain. Sari dari SMA 1, yang duduk di samping saya juga tak menghabiskan makannya. Lalu tiba-tiba saya juga merasa sangat kenyang.
Selesai makan kami menaruh kardus sisa makanan dikolong meja masing-masing dan bersiap-siap mengikuti ceramah di ruang utama. Karena notes saya ketinggalan,setengah berlari saya pun kembali ke ruang diskusi ditemani Sari.
Saya hampir tak percaya apa yang kami lihat di ruang diskusi. Tak ada siapa pun. Hanya Toto yang sedang melongok meja kami masing-masing dan mengeluarkan kardus sisa makanan kami semua.
Saya menatapnya tak mengerti. Dan sebelum saya bertanya, Toto tersenyum, setengah menunduk. "Untuk adik-adik di rumah, mereka pasti gembira..."
Saya tak sanggup berkata sepatah pun. Sari menggigit bibirnya sendiri. Sesuatu yang pedih merembesi relung-relung batin kami. Hanya mata ini yang semakin berkaca-kaca.
________________________________________________________________________
Pesan moral dari cerita ini adalah :
- Apa yang bagi kita tidak berarti belum tentu tidak berarti pula bagi orang lain.
- Bahkan mungkin sebaliknya, orang lain sangat membutuhkan hal yang kita anggap sepele tersebut.
- Tengoklah ke belakang dan kamu akan lihat masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran bantuan dan belas kasihan kita.
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback