Pages

Saturday, August 29, 2009

Ketika Tuhan Memberikan SenyumNya

(thoughtful story)

Seorang pemuda yg hidup di Ibukota, seperti biasa mengawali hari-harinya dengan menunggu bus yg akan membawanya ke tempat kerja. Pagi itu ia merasa sedikit lelah. Nggak tau, mungkin karena kelelahan kerja sepanjang minggu.

Ia menunggu bus dengan perasaan sedikit berbeda pagi itu. Ia merasa bahwa tempat tersebut sedikit lebih lengang dari hari biasanya dan angkutan pun jumlahnya nampak lebih sedikit. Sebuah metromini berwarna oranje berhenti dan sekelompok penumpang turun terburu2 untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka ketempat tujuan.

Tiba2 mata pemuda itu menangkap sesosok tubuh lelaki tua yg berjalan tertatih-tatih dan.. nampak bicara sendiri sambil kedua tangannya menunjuk2 kedepan. "Orang gila, kali.." pikir si pemuda.. Pandangannya tak bisa lepas dari sesosok tubuh renta itu sampai ia menyadari bahwa tubuh renta itu adalah seorang tuna netra yg mencari-cari seseorang untuk memberinya panduan.

Sang pria tua sama sekali tidak membawa tongkat yg umum dibawa seorang tuna netra. Pun ia tak memiliki teman sebagai pendamping dan penunjuk jalan. Samar-samar sang pemuda menangkap kata-kata... "tolong saya... cari mobil angkot XX.."

Duuh... tak ada seorang pun menggubris bapak itu. Tangannya yang keriput nampak tetap menggapai2 mencari seseorang sambil kakinya menendang trotoir perlahan2 seakan mencari pijakan untuk langkah kakinya... Ya Tuhan..

Pemuda itu diam. Ia tak menghampiri lelaki tua itu pun tidak pula menghindarinya. Lambat laun lelaki tua itu makin mendekat kearahnya dan menyenggol siku sang pemuda. Langkah bapak tua itupun berhenti.

"Dik, tolong saya cari angkot nomor XX atau XY.." Leher pemuda serasa tercekat, namun hatinya merasa... entahlah rasa apa itu namun rasanya sejuk sekali.. "Bapak mau kemana?" tanya sang pemuda. Sang bapak kembali berkata, "saya mau naik angkot nomor XX ato XY.. saya mau ke daerah Z.. Tolong di-stopin ya.. yang langsung ke Z itu yang nomor XY.."

Sang pemuda tiba-tiba teringat kepada Tuhan. Ia mengingat bahwa Tuhan menuangkan kasih sayangnya kepada manusia lewat berbagai cara... "Baik, Pak.." ujar sang pemuda pelan. Mata sang pemuda mulai melihat kerumunan angkot dan terima kasih Tuhan, tiba2 angkot nomor XY berhenti didepannya...
"Pak.. pak.. itu ada nomor XY.. ayo pak..", seru sang pemuda..

Sang bapak menyodorkan lengan kirinya.. untuk dibimbing menuju angkot yg telah dinantinya.. Ragu, namun ditepisnya keraguan itu. ia raih tangan sang bapak tua dan dibimbingnya berjalan ke angkot tersebut.. "Terima kasih, Dik..." ujar sang bapak ketika ia menaiki angkot... Sang pemuda kemudian berbalik karena bus yang ia tunggu telah datang...

Didalam bis ia kembali merasakan kesejukan dalam hatinya. Ia ingin menangis.. sungguh ia ingin menangis... Ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada orang yg sesungguhnya membutuhkan bantuan... Namun Tuhan sungguh baik kepadaku, pikir sang pemuda..

Ia menegurku melalui orang lain, ia mengingatkanku untuk selalu bersyukur atas segala karunia yg aku miliki...bisa melihat dunia, bisa menikmati kisah2 melalui buku2, bisa memandang wajah orang2 yg dikasihi.. suatu nikmat yang tak terhingga nilainya yang kadang lalai kita syukuri....

Sang pemuda tersenyum... bahagia.. karena pagi itu Tuhan telah memberikan senyum-Nya kepadanya...


Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback