(nice story) By Judith Hayes, (compiled by Alice Gray, Stories for a Teen's Heart)
Hari itu, dimusim panas akhir Juli, hawanya segar menyejukkan. Tetapi sebab aku merasa mual dan muak, kuputuskan pergi kedokter. "Ny. Hayes, saya senang memberitahu anda sudah mengandung 10 minggu," kata dokterku. Hampir2 aku tak percaya, seperti impian yang menjadi kenyataan. Suamiku dan aku masih muda dan kami baru menikah setahun.
Kami bekerja keras untuk membangun suatu kehidupan bahagia bersama. Berita bahwa kami bakal mendapat seorang bayi begitu mengasyikkan dan juga menakutkan. Dalam entusiasme mudaku ini, aku memutuskan untuk menulis "surat2 cinta" pada bayi kami untuk menyatakan semua perasaan2 soal sukacita dan harapan mendatang. Tidak terpikirkan olehku -sedikit sekali - bahwa ternyata surat2 itu bakal kemudian menjadi begitu bernilai dalam tahun2 yang menyusul.
AGUSTUS 1971: Aduh, bayi kesayanganku, bisakah kau merasakan cintaku untukmu saat kau masih begini kecil dan tinggal dalam dunia yang sepi,terkandung dalam tubuhkku? Ayahmu dan aku menginginkan dunia yang sempurna untukmu, tanpa kebencian, perang maupun polusi. Aku hampir tak kuasa menunggu enam bulan lagi untuk memegangmu dalam tanganku. Aku mencintaimu dan ayah mencintaimu meski ia belum bisa merasakanmu.
SEPTEMBER 1971: Aku hamil empat bulan dan merasa lebih baik. Aku tahu dan merasa kau tumbuh, dan aku harap kau baik2 dan merasa nyaman. Aku makan vitamin2 serta makanan2 sehat lainnya demi kamu. Puji Tuhan rasa muak pagi hari sudah hilang. Aku selalu memikirkanmu.
OKTOBER 1971: Ah, suasana2 murung yang menyedihkan ini. Aku begitu sering menangisi hal2 yang sepele. Terkadang aku merasa begitu ke- sepian, dan lalu aku teringat kau sedang tumbuh dalam diriku. Aku merasa- kan kau menggeliat, kini jungkir balik dan berputar arah dan mendorong. Tidak pernah gerakanmu sama, dan tiap kali selalu menggembirakan aku.
NOVEMBER 1971: Kini aku merasa jauh lebih enak saat semua rasa muak dan letih lesu telah lewat. Luar biasanya terik musim panas juga sudah berakhir. Cuaca baik sekali, sejuk segar dan angin berhembus. Aku bisa me- rasakan gerakan2mu lebih sering sekarang. Terus menerus meninju dan me- nendang. Sangat membesarkan hati dan menggembirakan sekali mengetahui bahwa kau hidup dan baik2 adanya. Minggu lalu ayah dan aku mendengarkan detak jantungmu yang kuat dikantor dokter.
2 FEBRUARI, 1972 jam 23:06 malam: Kau lahir! Kami memberimu nama Sasha. Itu proses kelahiran yang lama, perjuangan berat selama 22 jam, dan ayahmu membantuku agar bisa santai dan tetap tinggal tenang. Kami begitu amat gembira melihatmu, memegangmu, dan menyalamimu. Selamat datang, anak sulung kami. Kami begitu mencintaimu.
Sebentar si Sasha sudah berumur setahun dan dengan hati2 tertatih,berjalan sekeliling rumah. Lalu ia mulai menaiki kuda kerdil dan ber-ayun2 dikehangatan matahari ditaman. Sicantik kecil bermata-biru kami memasuki TK dan tumbuh menjadi seorang gadis cerdas berkemauan keras. Begitu ce- pat tahun2 lewat sampai2 suamiku dan aku bergurau, bahwa kami menidurkan putri lima-tahun kami suatu malam dan keesokannya ia bangun sudah menjadi seorang gadis remaja.
Beberapa tahun masa pendewasaan dan pemberontakan tidaklah mudah. Ada saat2 dimana putri remajaku yang cantik tapi sedang marah menyepak dan meng-hentak2kan kakinya ketanah dan berteriak, " Aku benci pada mama, mama tidak pernah mencintaiku. Mama kan tak peduli padaku dan tidak ingin aku bahagia!"
Kata2nya yang keras kasar begitu mengiris hatiku. Apa kiranya kesalahanku?
Selewatnya salah satu ledakan begitu, tiba2 aku teringat pada kotak kecil berisi surat2 cinta yang kusimpan dalam lemari dikamar tidurku. Aku temukan dan diam2 kuletakkan itu diatas ranjangnya, berharap semoga ia membacanya. Beberapa hari kemudian, ia muncul dihadapanku dengan air mata membasahi pipinya.
"Mama, aku tak pernah tahu mama begitu sungguh2 mencintaiku – bahkan sebelum aku lahir!" katanya. "Bagaimana mungkin mama bisa men- cintaiku tanpa mengenal aku? Mama begitu mencintaku tanpa syarat!" Saat yang begitu indah, bernilai itu, menjadi perekat pemersatu kami yang sampai hari ini masih ada. Surat2 tua berdebu itu mencairkan kemarahan dan pemberontakan yang telah ia alami.
Catatan dari Mama: "Aku tahu kau sedang marah. Tapi jangan sedetikpun kau lupakan bahwa aku mencintaimu. Tak peduli apapun yang kau lakukan, atau kau katakan, atau pikirkan, kau selalu bisa mengandalkan dukunganku dan cinta kasihku." ** (JM)
Indo community
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback