Pages

Friday, June 19, 2009

Mengatasi Konstipasi pada Usia Lanjut

SUDAH hampir setahun Bapak Alam (68) mengalami sembelit alias kesulitan buang air besar. Segala cara dilakukan, dari menghindari minum teh, banyak minum air, makan pepaya dan sayuran, sampai gerak badan yang dianjurkan dokter. Semua itu tidak mempan. Bapak Alam tetap tak bisa buang air besar tanpa obat pencahar, padahal secara umum kondisi kesehatannya baik dan masih rajin jalan kaki pagi atau naik sepeda keliling kompleks tempat tinggalnya.

BAPAK Alam ternyata tidak sendirian. Apa yang dialaminya ternyata banyak dirasakan orang lanjut usia. Menurut dr Kris Pranarka SpPD KGer dari Subbagian Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP dr Kariadi Semarang dalam Temu Ilmiah Geriatri , sembelit atau konstipasi merupakan keluhan saluran cerna terbanyak pada usia lanjut. Sekitar 30–40 persen orang di atas usia 65 tahun mengeluh konstipasi.

Di Inggris, 30 persen penduduk di atas usia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Di Australia, sekitar 20 persen populasi di atas 65 tahun mengeluh menderita konstipasi. Suatu penelitian melibatkan 3.000 orang usia lanjut di atas 65 tahun menunjukkan, 34 persen wanita dan 26 persen pria mengeluhkan konstipasi.

Menurut dr Siti Setiati SpPD KGer dari Subbagian Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUP dr Cipto Mangunkusumo, survei yang dilakukan di poliklinik usia lanjut RSCM tahun 2003 pada 127 pasien geriatri mendapatkan angka kekerapan konstipasi sebesar 12,6 persen.

Konstipasi dialami semua umur. Sekitar 80 persen manusia pernah menderita konstipasi dalam hidupnya dan konstipasi berlangsung singkat adalah normal. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) berdasarkan National Health Interview Survey tahun 1991, sekitar 4,5 juta penduduk Amerika mengeluh menderita konstipasi terutama anak-anak,wanita, dan orang usia di atas 65 tahun. Hal ini menyebabkan kunjungan kedokter sebanyak 2,5 juta kali per tahun dan menghabiskan dana sekitar 725 juta dollar AS untuk obat-obatan pencahar.

Menurut situs National Institute on Aging, AS, konstipasi adalah suatu gejala, bukan penyakit. Konstipasi didefinisikan sebagai frekuensi buang air besar kurang dari normal dengan waktu yang lama serta kesulitan dan rasa sakit dalam mengeluarkan tinja.

Konstipasi memang lebih banyak dialami usia lanjut dibanding usia muda. Disisi lain orang usia lanjut sering terpancang dengan kebiasaan buang air besar sejak masa kanak-kanak dan masa muda. Padahal, seiring pertambahan usia, fungsi tubuh bisa menurun.

Namun, orang usia lanjut tidak perlu terlalu khawatir, belum ada batasan mengenai periode normal dari buang air besar. Ada orang yang buang air besar dua–tiga kali sehari, ada yang dua kali seminggu.

Pedoman untuk menentukan seseorang menderita konstipasi adalah buang air besar kurang dari dua kali seminggu, sulit mengeluarkan tinja, ada rasa nyeri serta masalah lain seperti tinja disertai darah. Jika tak ada gejala itu, bukan konstipasi.

Penyebab
Ada sejumlah sebab yang mendasari konstipasi, dari kurang gerak, kurang minum, kurang serat, sering menunda buang air besar, kebiasaan menggunakan obat pencahar, efek samping obat-obatan tertentu sampai adanya gangguan seperti usus terbelit, usus tersumbat sampai kanker usus besar.

Menurut Kris, defekasi atau buang air besar seperti halnya berkemih adalah suatu proses fisiologik yang melibatkan kerja otot polos dan serat lintang,persarafan sentral dan perifer, koordinasi sistem refleks, kesadaran yang baik dan kemampuan fisik untuk mencapai tempat buang air besar. Karena banyaknya mekanisme yang terlibat, konstipasi menjadi sulit didiagnosis dan dikelola/diobati.

Proses buang air besar dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang mengantarkan tinja ke rektum (poros usus) untuk dikeluarkan. Tinja masuk dan meregangkan pipa poros usus diikuti relaksasi otot lingkar dubur dan kontraksi otot dasar panggul. Poros usus akan mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut.

Pengukuran aktivitas motorik usus besar pada penderita konstipasi dengan elektrofisiologik menunjukkan pengurangan respons motorik usus besar akibat degenerasi jaringan saraf otonom di selaput lendir usus. Ditemukan pula pengurangan rangsang saraf pada otot polos sirkuler yang menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Selain itu, ada kecenderungan menurunnya tegangan jaringan otot lingkar dubur dan kekuatan otot polos berkaitan dengan usia, terutama pada wanita.

Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik pada konstipasi sebagian besar tidak mendapatkan kelainan yang jelas. Namun demikian, papar Kris, pemeriksaan fisik yang teliti dan menyeluruh diperlukan untuk menemukan kelainan yang berpotensi mempengaruhi fungsi usus besar. Pemeriksaan dimulai pada rongga mulut meliputi gigi geligi, adanya luka pada selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan.

Daerah perut diperiksa apakah ada pembesaran perut, peregangan atau tonjolan. Perabaan permukaan perut untuk menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam dapat mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau pelebaran batang nadi.

Pada pemeriksaan ketuk dicari pengumpulan gas berlebihan, pembesaran organ,cairan dalam rongga perut atau adanya massa tinja. Pemeriksaan dengan stetoskop digunakan untuk mendengarkan suara gerakan usus besar serta mengetahui adanya sumbatan usus.

Sedang pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir, hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air besar. Colok dubur memberi informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau adanya darah.

Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor risiko konstipasi seperti gula darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat keluarnya darah dari dubur. Anoskopi dianjurkan untuk menemukan hubungan abnormal pada saluran cerna, tukak, wasir, dan tumor.

Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi untuk mendeteksi adanya pemadatan tinja atau tinja keras yang menyumbat bahkan melubangi usus. Jika ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari dubur atau riwayat keluarga dengan kanker usus besar perlu dilakukan kolonoskopi.

Bagi sebagian orang konstipasi hanya sekadar mengganggu. Tapi, bagi sebagian kecil dapat menimbulkan komplikasi serius. Tinja dapat mengeras sekeras batu di poros usus (70 persen), usus besar (20 persen), dan pangkal usus besar (10 persen). Hal ini menyebabkan kesakitan dan meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit dan berpotensi menimbulkan akibat yang fatal.

Pada konstipasi kronis kadang-kadang terjadi demam sampai 39,5 derajat celcius, delirium (kebingungan dan penurunan kesadaran), perut tegang, bunyi usus melemah, penyimpangan irama jantung, pernapasan cepat karena peregangan sekat rongga badan.

Pemadatan dan pengerasan tinja berat di muara usus besar bisa menekan kandung kemih menyebabkan retensi urine bahkan gagal ginjal serta hilangnya kendali otot lingkar dubur, sehingga keluar tinja tak terkontrol. Sering mengejan berlebihan menyebabkan turunnya poros usus.

Terapi
Menurut Siti Setiati, penatalaksanaan konstipasi tergantung penyebab yang mendasari. Penatalaksanaan nonfarmakologik yang merupakan kombinasi pengaturan makanan (tinggi serat dan cairan), pengaturan jadwal buang air besar dan latihan jasmani, merupakan fase awal yang harus dilakukan pada pasien konstipasi sebelum melakukan penatalaksanaan farmakologik.

Penderita perlu diperbaiki konsepnya tentang konstipasi. Penderita akan tenang jika diberitahu bahwa buang air besar tiga kali seminggu sampai tiga kali per hari adalah normal. Penderita perlu didorong ke jamban setengah jam setelah sarapan pagi untuk memanfaatkan refleks gastrokolik.

Kekurangan air bisa berakibat konstipasi. Karena itu, orang perlu minum enam sampai delapan gelas (1,5 liter cairan) per hari. Serat yang berasal dari biji-bijian, beras, buah sayuran, kacang-kacangan akan memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan massa tinja dan mengurangi waktu transit usus. Serat juga menyediakan substrat untuk bakteri usus besar memproduksi gas dan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Serat tidak efektif tanpa cairan cukup.

Tomotari Mitsuoka DVM PhD dalam publikasinya di Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition Vol 5 tahun 1996 melaporkan, pemberian bakteri asam laktat seperti lactobacillus dan bifidobacteria, yang paling mudah dalam bentuk yogurt atau yakult, selain menyeimbangkan flora usus juga menekan pembusukan sisa makanan di usus, mengurangi konstipasi serta penyakit geriatri lain, mencegah dan mengobati diare, meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Penting pula membuat jadwal buang air besar, pada pagi atau malam hari setelah makan. Selain itu, perlu dilakukan olahraga, misalnya jalan kaki tiap pagi.

Penggunaan obat perlu dievaluasi dengan mengurangi dosis atau mengganti obat yang berefek samping menimbulkan konstipasi. Misalnya obat antidepresan,obat parkinson, obat mengandung zat besi, antihipertensi serta antikolinergik dan jenis narkotik.

Jika cara itu tidak mempan, baru diobati pencahar. Pemilihan pencahar yang tepat sangat penting dihubungkan dengan penyebab konstipasi serta kondisi penderita agar efektif dan aman. (ATK)

Sumber : Harian KOMPAS

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback