Pages

Thursday, June 25, 2009

BERIKAN SEMUA KEPINGAN KEPADANYA

(thoughtful story) By Jennifer Leigh Youngs, Taste Berries for Teens Pick Up the Pieces (orig. title)

Ketika aku duduk dikelas sembilan (SMP kelas 3), seorang teman cowokku, yang aku telah betul2 jatuh cinta padanya, mulai mengencani teman terbaikku. Enak saja, langsung begitu saja. Suatu hari ia membarengi aku berjalan ketempat lemariku, ehhhh..., esok harinya, seenaknya gitu dia berjalan mengantar teman terakrabku itu kelemarinya.

Sudah begitu, tenang dan dingin sekali dia ngomong begini, "Ehh, kita ini sudah sudahan ya, putus! Habis deh, kita sudah nggak pergi duaan lagi!" Lalu,dalam nada dan tarikan nafas yang sama, ia lanjutkan, "Sekarang aku pergi duaan sama Tammy saja. Sudah tahu ya..."

Aku betul2 tak tahu bagaimana "menangani " sikon ini. Aku betul tak tahu harus berpikir atau berperasaan yang bagaimana. Haruskah aku ini marah padanya? Marah juga terhadap sahabat terbaikku? Lalu, gimana caranya menerangkan pada teman2ku lainnya?

Aku begitu jelas mengenai satu hal ini: seluruh diriku sakit dan menderita sekali. Tidak ada seorangpun, tidak juga teman2ku, atau saudara laki2ku atau saudara perempuanku atau bahkan orang tuaku, mengerti betapa dalam dan sakitnya penderitaanku ini.

Aku sudah tak ingin pergi kesekolah, malas juga pergi menghadiri latihan sepak bola. Pendeknya,aku tidak ingin berbuat apapun juga. Aku hanya ingin seorang diri saja. Aku tak ingin bicara dengan siapapun soal ini --- yang pasti tidak dengan orangtua ku.

Bukan itu yang membuat mereka menanyaiku. Mengamati bahwa aku [menjadi] begitu rewel terhadap siapa dan hal apa saja, ibu mulai tanya2, "Kau ingin ngomong, apa yang sebetulnya mengganggumu ini?" "Berbicara dan cerita itu pasti akan membuatmu merasa baikan," Ibu mengingatkan.

"Ah, itu cuma soal dan gara2 teman terkaribku sialan itu. Aku nggak apa dan bakal baik kok," kataku, dengan harapan tak usah musti meneranglam lebih lanjut.

Ibu tak tanya2 lagi, pasti yakin bahwa aku akan cerita padanya lagi apabila aku sudah siap. Sementara itu, orang tuaku bersikap khusus ramah sekali padaku dan mencoba memberiku lebih banyak ruang yang kuperlukan; seperti misalnya beberapa kali mereka mengizinkan aku makan malam dikamarku dan bukannya mengharapkan aku datang dan makan bersama dimeja makan.

Setelah sekitar seminggu mukaku terus bersedih, seakan airmata tak kunjung kering, ibuku melangkah memulai penyelidikannya dalam hal ini. Katanya, "Aku bisa melihat kok, kau pasti amat menderita menahan semua ini," lanjutnya, " Aku kira kita pantas mulai membicarakannya."

"Aduhhh, mama," jeritku, "terlalu sakit sekali untuk diceritakan, ahh...."
"Iya sayangku," hibur ibuku, " Mama tahu itu sangat menyakitkan kok."
"Iya, kenapa sih kok begitu menyakitkan sekali, Mama?" tanyaku.
"Sakit itu ialah jalan dan cara Allah menyatakan bahwa hatimu patah."

"Ya, tapi aku kan tak butuh Allah memberitahuku bahwa hatiku patah," sambil menangis aku berkata begitu, "terus, yang kubutuhkan kan agar aku ini dibetulkan kembali, kan itu yang aku perlukan sekarang?"

"Ahhh", hibur ibuku dengan lembut, "bukankah lebih baik kau berikan semua kepingan kepadaNya? Allah tak akan sanggup memulihkan hatimu yang patah itu kalau kau tidak memberikan semua kepingan padaNya."

Aku akan selalu mengingat kata2 yang indah itu: "Allah tidak akan mampu memulihkan sebuah hati yang patah, apabila kau tidak memberikan semua kepingan dan pecahan itu kepadaNya." (JM)

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback