| Mother And Baby Fri, 03 Apr 2009 16:00:00 WIB
Cerita di atas bisa jadi juga banyak dialami orangtua ketika berkomunikasi dengan anaknya. Kalau yag dibicarakan adalah sesuatu yang menyenangkan, anak langsung merespon, meskipun sebelumnya ia tampak tak peduli pada kegiatan lain selain yang sedang dilakukannya. Sebaliknya kalau diminta tolong ini-itu, apalagi kalau diminta untuk mendengarkan nasihat yang panjang lebar. Jangankan merespon, mau mendengarkan saja sudah bagus. Anak-anak yang berusia sekitar empat tahunan, umumnya sudah bisa memahami apa yang dikatakan orang dengan baik. Namun tak jarang, mereka hanya merespon untuk hal-hal yang menyenangkan dirinya saja. Berhubung anak lebih suka mendengar hal yang menurutnya menyenangkan, maka cara orangtua menyampaikan pesan perlu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang. Misalnya, dalam kasus Tiara tadi. Mungkin Tiara akan merespon lain, bila Erna mengatakan, “Tiara mau ikut Mama belanja? Tapi mainannya tolong dibereskan dulu ya…” Gunakan kalimat positif Kalimat berisi larangan atau nasehat, menurut Diana, bukannya tidak boleh digunakan. Namun akan lebih efektif disampaikan kepada anak, dalam suasana yang netral. Misalnya, ketika anak dan orangtua sedang saling berinteraksi dengan akrab, bermain atau membaca bersama. Dalam suasana seperti itu, anak akan lebih mudah memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan, dan bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya. Diana juga menambahkan, komunikasi dengan anak hendaknya tidak dilakukan sekenanya, atau seenaknya orangtua. “Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan komunikasi dengan anak, yaitu positif, bermanfaat, jujur, valid, dan reliable.” Oleh karena itu, sebaiknya orangtua memikirkan dengan baik, hal-hal apa yang perlu disampaikan kepada anak. Misalnya, tidak menggunakan kalimat bertanya yang justru akan mendorong anak untuk berkata tidak. Umpamanya, “Kamu mau enggak membereskan mainanmu?”, akan lebih baik jika mengatakan, “Sayang ya, kalau mainanmu yang berantakan ini sampai terinjak-injak. Kita beresin yuk?!” Orangtua juga perlu memahami, bahwa pada dasarnya banyak orang yang tidak suka diperintah. Begitu pula anak-anak. Daripada mengatakan, “Habis makan, taruh piring di tempat cucian ya,” sebaiknya katakan, “Sayang, sehabis makan dimana sebaiknya kamu menyimpan piring ini?” Dengan begitu, anak juga belajar untuk berpikir mencari solusi. Kalimat-kalimat yang menjurus pada jawaban ya atau tidak, sebaiknya dihindari. Hal ini berlaku dalam upaya memberi perintah, nasihat, atau pun percakapan sehari-hari. Contohnya, daripada menanyakan, “Kamu senang di sekolah tadi?”, akan lebih bijak jika bertanya, “Apa saja kegiatan seru yang tadi kamu lakukan di sekolah?” Setelah itu, ajak anak membicarakan topik-topik menarik yang bagi anak, yang ia lakukan di sekolah. Kalaupun bermaksud memberi perintah kepada anak, usahakan agar unsur-unsur memerintah disamarkan. Akan lebih bijak bila keinginan orangtua untuk memerintah anak, diikuti pula dengan pemberian contoh. Misalnya, ketika ingin memerintah anak untuk membereskan mainannya yang berantakan. Anak mungkin akan menolak atau pura-pura tidak mendengar jika diperintah langsung untuk membereskan semua mainannya yang berantakan. Akan lebih efektif bila perintah untuk membereskan mainan itu, dilakukan dengan cara mengajak sambil mencontohkan. Misalnya, “Waduh kalau mainanmu sampai terinjak bisa berbahaya. Yuk kita bereskan sama-sama.” Dengan memberi ajakan dan contoh, bukan tidak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan yang diharapkan, tanpa menunggu perintah atau permintaan orangtua. Langkah ini selain untuk menumbuhkan sikap mandiri pada anak, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, pekerjaan akan lebih cepat selesai. Perhatikan nada bicara Satu hal yang tak kalah penting, kenali karakter anak untuk menemukan gaya berkomunikasi yang pas dengannya. Anak yang cenderung pemalu atau pasif memang biasanya lebih cuek ketimbang anak yang terbuka atau aktif. Cobalah berbagai gaya bicara yang paling efektif untuk masing-masing karakter anak. “Sesekali mungkin Anda lepas kontrol. Kembali ke gaya lama atau cenderung emosional menghadapi anak yang cuek. Tidak apa, tapi ubahlah segera gaya bicara Anda sebelum anak menutup telinganya rapat-rapat,” tutur Diana. Kata-kata yang diucapkan sebaiknya pendek atau sederhana. Tidak terlalu berbelit-belit. Bila Anda sulit membuat kalimat seperti itu, sesekali perhatikan bagaimana si anak berkomunikasi dengan teman seusianya. Cermatilah caranya, dan tiru. Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ia tak terlalu mengerti ucapan orangtuanya karena bertele-tele, atau terlalu banyak berisi kalimat perintah atau larangan. Posisi tubuh Meskipun orangtua berhak dan wajib menegur, menasihati, atau sekedar mengomentari anaknya, namun tetap perlu berhati-hati dalam memilih kata dan nada bicara. Salah bicara sedikit dapat mengakibatkan efek yang akan terbawa hingga mereka dewasa nantinya. Maklum saja, dalam usia yang masih dini, wawasan anak agak terbatas, dan cara berpikirnya juga masih polos sehingga perasaan mereka juga agak peka. Namun begitu, anak-anak memiliki “keunggulan”, yaitu daya ingat dan daya cerna mereka yang luar biasa hebatnya. Menurut Ratih Andjayani Ibrahim, Psi, MM, psikolog perkembangan dan pendidikan dari Personal Growth, bagaimana informasi itu disampaikan serta diterima oleh anak akan memberikan pengaruh yang tak main-main terhadap perkembangan anak, diusianya sekarang maupun nanti. “Meliputi perkembangan dirinya secara keseluruhan, termasuk di dalamnya perkembangan mental, kepribadian dan karakternya,” ungkap Ratih. Trust merupakan faktor terpenting Trust merupakan unsur terpenting karena tanpa adanya trust, cara komunikasi secanggih apapun, akan macet. Oleh karena itu, orangtua harus menyadari pentingnya membangun trust di dalam diri anak. Membangun trust, masih menurut Ratih, tak semudah membalikkan telapak tangan. “Faktor trust perlu dibangun seumur hidup, sejak usia anak masih sangat dini,” tegasnya. Dengan adanya trust, berbagai isu seperti cinta kasih, sopan santun, relasi, etiket, serta masih banyak isu lain dapat muncul dengan sendirinya dalam perbincangan sehari-hari antara anak dan orangtua. Oleh karena itu, orangtua perlu membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkomunikasi dengan anak, tanpa harus secara khusus mempersiapkan waktu dan mengangkat isu khusus untuk dibicarakan. Selain mengakrabkan hubungan orangtua-anak, Ratih memastikan komunikasi antara anak-orangtua memiliki manfaat yang luar biasa. Anak diharapkan akan memperoleh informasi yang benar dari sumber yang terpercaya, yaitu orangtuanya sendiri. Ada klarifikasi informasi jika memang dibutuhkan. Orangtua maupun anak dapat saling belajar satu sama lain dan bertumbuh bersama-sama, dan terdapat suatu ikatan emosional yang terbangun secara positif. “Anak yang terbiasa berkomunikasi secara baik dengan orangtuanya juga akan tumbuh sebagai pribadi yang lancar dalam berkomunikasi, dan mengekspresikan dirinya. Ada self esteem yang baik, serta sikap kritis dan analitis yang tumbuh dalam diri anak. Juga akan muncul sikap sportif untuk mampu berdiskusi dan menerima perbedaan pendapat,” lanjut Ratih. Bila anak tak mau mendengarkan saat diajak bicara oleh orangtuanya, menurut Ratih, orangtua perlu memahami mengapa anak bersikap demikian. Mungkin isu yang dibicarakan tidak menarik bagi anak, di luar konteks minat anak, cara memaparkannya atau mendiskusikannya tidak cocok dengan gaya si anak. Atau jangan-jangan anak memang tidak nyaman, atau enggan, mengobrol dengan orangtuanya. “Jadi bukan isunya, tapi tentang dengan siapanya,” katanya. Bila kemungkinan ini yang terjadi maka perlu mengintrospeksi hubungannya dengan anak. Tapi bisa saja, ketika diajak bicara anak sedang “sibuk” dengan hal lain yang lebih diminatinya. Oleh karena itu orangtua perlu mengetahui apa yang sedang jadi minat anak, apa yang menurut dia penting, apa yang membuat dia jadi suka sekali dengan sesuatu hal. “Kita bisa masuk dari situ untuk kemudian menariknya ke isu lain yang ingin dibahas bersama,” papar Ratih. Bila orangtua sudah dapat memahami hal-hal tersebut di atas, cobalah untuk menemukan cara yang pas untuk mengajak anak keluar sejenak dari keasyikannya sendiri, dan terlibat dengan isu dan pembicaraan orangtuanya. Bambang Hari Sumarto |
| Sumber: Majalah Inspire Kids |
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback