Pages

Monday, April 13, 2009

Aku mencintaimu (satu dasawarsa)


"AKU MENCINTAIMU, MAS"

Cintamu padaku
adalah kerinduan waktu
memeluk bisu di batu-batu
saat gerimis jatuh

Cintamu padaku
adalah ketabahan matahari
tatkala menumbuhkan mawar
di nadi sunyi

Cintamu padaku
adalah keindahan purnama
kala meneteskan cahaya
pada lara

Cinta tanpa musim itu
memberi nafas dan sayap
pada beribu puisi abadi
tentang kita

: Pernahkah kusampaikan padamu, Mas?


Aku mengetahui sosoknya sejak 1994 awal. Namun aku baru mengenal alumni
Fakultas Ekonomi UI itu, Oktober 1994. Tiga bulan kemudian kami menikah.
Dan November 1995 anak pertama kami, Abdurahman Faiz lahir.

Mas Tomi adalah suami yang saleh, rutin shalat lail dan tak pernah tinggal puasa Senin Kamis. Ia tak banyak bicara tapi banyak berpikir dan bekerja. Mas Tomi bukan lelaki romantis, namun perhatian. Aku takjub karena menjelang tahun ke 10 pernikahan kami, ia belum pernah sekali pun marah padaku. Ya, ia tak pernah membentak, apalagi memukul—meski tak keras.

Ia juga lelaki yang sangat mudah tersentuh perasaannya. Kalau aku bercerita tentang siapa saja yang kurang beruntung di sekitar kami, bila masih terjangkau dan mungkin, ia selalu mengulurkan tangannya tanpa sempat berpikir panjang. "Rezeki gampang dicari lagi, Bunda," katanya sambil tersenyum.

Lalu apalagi yang istimewa dengan Mas Tomi? Ialah lelaki pertama yang menjadi pendukung FLP! Tentu saja, karena ketika gagasan mengenai FLP kulontarkan, wartawan televisi ini yang pertama tahu dan ia sangat antusias.

Sejak itu ia merelakanku untuk melakukan yang terbaik bersama FLP. Tak pernah sedetik pun ia tak menyokongku, baik dari segi dana maupun moril. Ia juga banyak memberikan pemikiran yang berguna bagi kelangsungan FLP.
Setiap malam sebelum tidur kami sering berdiskusi mengenai perkembangan FLP. Mas Tomi juga sering memenuhi undangan memberi pelatihan bagi teman-teman FLP di tengah kesibukannya yang seabreg.

Seiring dengan perkembangan FLP, hampir setiap minggu aku harus ke luar kota dan sesekali ke luar negeri. Mas Tomi tak pernah mengeluh. Bahkan ia sering mempersiapkan keberangkatanku, mengecek tiket perjalanan sampai membantu mengepak pakaian dan barang-barang yang akan kubawa dengan rapi. Ya, ia tahu aku selalu memasukkan semua pakaian dan barang secara ceroboh, berjejalan di kopor. Berbeda dengan Mas Tomi yang sangat teratur.

Ia juga kerap membantu memberi bahan pelatihan penulisan. Bila aku menyiapkan bahan-bahan untuk penulisan sastra, maka ia menyiapkan bahan untuk pelatihan jurnalistik. Bila ada waktu ia selalu menyempatkan mengantarku ke Kampung Rambutan, Stasiun Jatinegara, atau ke Bandara, dan tak berpaling sampai aku benar-benar hilang dari pandangannya.

Aku ingat, ia paling resah saat aku pergi ke Banda Aceh, tahun 2001.

"Aku mengizinkan Bunda, tapi tetap harus hati-hati," katanya. "Situasi di Aceh belum kondusif."

Maka selama di Aceh, ia meneleponku setiap hari! Ke handphone dan ke penginapan. Saat itu aku sempat mengalami beberapa kejadian yang "mengguncangkan." Termasuk mendengar suara tembakan dan ledakan, bertemu dengan para janda dan anak-anak yatim piatu korban DOM, tapi tak kuceritakan padanya.

"Sudah bertemu anak-anak FLP?"

"Sudah, Mas! Kami malah sempat buat beberapa pelatihan," kataku mengabari.

Sementara ini perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh adalah ke Mesir dan Amerika. Ketika aku akan berangkat ke Mesir ia tenang-tenang saja. Saat itu aku berangkat dengan dua wartawan lelaki. "Kamu boleh berangkat, bunda, karena ini penting, terutama bagi FLP di sana. Kedua, karena teman seperjalananmu orang baik," katanya. Maka aku pun berangkat. Dua minggu aku meninggalkannya untuk menghadiri undangan ICMI Orsat Kairo sekaligus meresmikan FLP di sana.

Oktober 2003 aku harus berangkat ke Amerika Serikat. Mulanya ia sedikit khawatir bila aku akan mendapatkan masalah. Maklum saja, peristiwa 11 September menimbulkan prasangka terhadap kaum muslimin. Apalagi aku berjilbab dan harus pergi sendiri! Sendirian! Padahal aku belum pernah sekali pun ke Amerika. Ia mencari berbagai informasi tentang situasi dan kondisi terkini di Amerika, termasuk mengenai instansi yang mengundangku, yaitu Universitas Wisconsin dan Universitas Michigan.
Sungguh, aku sudah siap bila ia tak mengizinkanku berangkat.

"Sebaiknya kamu pergi, Bunda. Ini kesempatan yang baik untuk menunjukkan bahwa sebagai penulis muslimah karyamu juga tak kalah dengan mereka."

Aku tak percaya mendengar keputusannya. Aku sempat ragu dan tak tahu harus memutuskan apa, tetapi ia segera memeluk dan menguatkanku.
"Berangkat, dong! Ingat, kamu diundang sebagai pembicara! Kapan lagi kamu berbicara di depan orang-orang Amerika!" katanya. "Kan itu yang kamu impikan? Menyampaikan, menebar kemaslahatan, di negeri Bush?" sambungnya lagi. Ia tahu aku sangat geregetan dengan Presiden Amerika yang satu itu. Aku pun mengangguk pelan.

"Sudah dipersiapkan apa yang akan kamu sampaikan di Universitas Wisconsin dan Universitas Michigan?"

Aku mengangguk lagi. "Di Wisconsin aku akan bicara tentang: Writing In Modern Indonesia: Perspectives from Muslim Women Writer's View. Di Michigan mengenai Indonesian Islamic Literature: A Case Study on Forum Lingkar Pena (FLP), A Caderization Program for New Writers. Selain itu ada beberapa acara lain juga, termasuk mendiskusikan bukuku: Lelaki
Kabut dan Boneka."

Dia mengangguk dan kemudian seperti biasa—walau lelah dengan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga di kantor-- ia kembali mempersiapkan segala sesuatu, termasuk membekaliku dengan berbagai alamat dan nomor telepon teman-temannya di sana. Ia juga memastikan bahwa selain panitia,ada kenalannya yang menjemputku di airport.

"Tenang saja, aku akan mengurus Faiz dengan baik," katanya lagi ketika aku masih ragu untuk berangkat. "Ingat, biar bagaimana kamu membawa nama FLP! FLP makin go internasional kan? Bayangkan, orang-orang Amerika akan tahu tentang FLP!"

Ketika aku benar-benar sudah sampai di Amerika, aku tak percaya menerima email darinya setiap hari!

Aku mungkin bukan istri yang setiap saat mendapat kejutan dan bunga mawar segar dari seorang suami atau diajak pergi ke tempat-tempat romantis yang berakhir dengan makan malam disertai cahaya lilin. Tapi aku yakin, bahwa aku adalah istri yang paling beruntung. Aku memiliki suami yang sangat mempercayaiku. Yang tak penah berhenti menunjukkan cintanya, dalam bentuk pengertian dan dukungan tak terhingga, atas apapun yang kulakukan di jalan kebaikan.

Dan kini menjelang milad pernikahan kami ke 10, 28 Januari 2005, aku tak jua bisa berhenti untuk berkata, "Aku mencintaimu, Mas. Sangat." (HelvyTiana Rosa)

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback