Anda pernah mendengar istilah omdo alias omong doang? Mungkin pernah juga mendengar pelesetan NATO, alias no action talk only. Istilah ini cocok sekali buat orang-orang yang takut terluka, tidak berani menghadapi kegagalan, bahkan takut menghadapi kenyataan. Orang yang senang melihat orang lain dalam kesusahan, suka menyakiti orang lain dengan kritikan yang menjatuhkan, dan paling sering bilang "Tuh kan, apa ku bilang!".
Sesungguhnya omdoers juga natois (julukan buat orang omdo) sebenarnya berharap bahwa impian mereka terwujud. Sayangnya daripada melakukan tindakan nyata, orang-orang ini berbicara dengan keras, berdebat, saling menyalahkan. Kalau bisa mereka akan menyeret siapa pun yang berada di dekatnya untuk gagal bersama mereka. Hati-hati, tipe orang seperti ini akan senang melihat orang lain gagal, mereka tidak senang jika seseorang berhasil.
Ini berkaitan dengan tulisan saya beberapa waktu lalu tentang mompreneurship, wirausaha untuk ibu rumah tangga. Saya yakin ibu-ibu rumah tangga bukan termasuk dalam golongan orang-orang yang cuma bisa bermimpi dan berharap menunggu suatu mukjizat terjadi. Niat menjadi mompreneur sudah dikukuhkan, motivasi sudah setinggi langit, tetapi semua hanya angan-angan jika ibu-ibu calon mompreneur ini tidak segera bertindak.
Ide jadi rencana
Memutuskan untuk menjadi mompreneur berarti menyatakan kesediaan untuk menjalani sebuah proses usaha yang tidak mudah. Begitu banyaknya permasalahan nanti yang akan dihadapi yang bisa bikin frustrasi. Persiapan yang cukup diperlukan untuk menjaga konsistensi dan komitmen menjadi mompreneur. Perencanaan usaha dalam hal ini adalah langkah persiapan yang harus dilakukan, sebelum benar-benar menjalankan usahanya.
Masalahnya begitu mendengar kata 'perencanaan usaha' para calon mompreneur dengan secepat kilat kehilangan semangatnya. Cobalah menjalani tahap prapersiapan dulu, yaitu sebuh perencanaan tindakan pendahuluan yang akan mendukung penyusunan perencanaan usaha. Artinya persiapan yang dilakukan dalam rangka membuat rencana usaha yang sesungguhnya.
Kenapa tidak langsung membuat rencana bisnis? Membayangkan duduk berpikir berjam-jam dengan pulpen di tangan dan selembar kertas kosong, sungguh menyiksa. Belum lagi kerumitan menghitung berapa modal yang dibutuhkan, target penjualan, kapan balik modal, tingkat keuntungan, dan istilah-istilah keuangan lainnya. Calon mompreneur bisa lari terbirit-birit. Kalah sebelum perang.
Pada tahap prapersiapan ini yang harus dilakukan para ibu adalah menuliskan tindakan apa saja yang akan mereka lakukan untuk menjadi mompreneur. Tulis ide luar biasa yang saat ini sudah memenuhi kepala, agar tidak hilang begitu saja. Maklum, daya ingat manusia sangat terbatas, coba saja ibu-ibu diminta menghafal sepuluh nomor telepon teman-temannya, sulit bukan?
Menjadi mompreneur tidak cukup dengan memikirkannya saja. Ibu-ibu harus melakukan tindakan untuk mewujudkannya. Nah, jangan asal melangkah, bisa-bisa tersesat di tengah jalan. Tindakan yang diambil secara sembrono tanpa perencanaan matang malah akan membahayakan diri sendiri. Inilah perlunya menuangkan ribuan gagasan ke dalam sebuah rencana persiapan.
Walaupun diistilahkan prapersiapan, tetapi rencana ini juga jangan dianggap enteng. Ini bukan seperti mencatat nomor telepon, hingga gagasan yang dituangkan di atas kertas tersebut hanya akan menjadi catatan yang berfungsi sebagai pengingat. Jika lupa, tinggal buka catatan itu lagi. Ibu-ibu calon mompreneur tidak hanya mencatat agar tidak lupa tetapi membuat panduan yang berfungsi sebagai petunjuk.
Rencana 1 bulan
Bisakah rencana berjalan tanpa tenggat? Tidak bisa. Seorang pelari tidak akan menjadi pemenang jika dalam perlombaan tidak ditentukan garis finisnya. Di sinilah pentingnya tenggat. Fungsinya untuk menjadi batasan kapan suatu proses harus sudah selesai dilaksanakan.
Tanpa tenggat, hidup berjalan tanpa arah. Keinginan menjadi mompreneur pun tidak akan pernah terwujud. Tenggat adalah target yang harus dipatuhi. Bukan hukum yang dibuat kemudian dilanggar sendiri. (lihat tabel)
Ibu-ibu bisa membuatnya rencana menjadi mompreneur seperti di atas atau menyesuaikannya ke dalam berbagai versi. Misalnya, rencana menjadi mompreneur dalam 2 minggu, 3 bulan atau 6 bulan. Panjang pendeknya persiapan usaha akan bergantung pada jenis usaha dan ukuran usaha yang ditargetkan.
Usaha mikro berbasis rumah tangga tidak membutuhkan persiapan lama, sekitar 1 bulan. Sementara usaha berskala kecil menengah kemungkinan permodalan lebih besar sehingga target usaha pun harus lebih besar. Ini mungkin membutuhkan persiapan lebih lama 3 – 6 bulan.
Mike Rini Sutikno CFP
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Sumber: Bisnis Indonesia
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
11 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback