(about men) From: Susanto, Ervan
Seperti kebanyakan pria, mereka masih saja takut mengungkapkan rasa saying dan cintanya dengan kata-kata. Seperti wanita, pria sebenarnya menyukai penjajakan (pendekatan) dengan didasari suka sama suka, sebelum akhirnya mengucap kata cinta.
Jadi, jangan terlalu berharap dapat mendengarkan kata CINTA itu dari mulutnya -- seperti kebanyakan lagu-lagu boysband yang terlalu mengobral kata cinta. Pria tidak lagi memasukkan kata-kata itu didalam kamus percintaannya. Karena di samping akan mendapat julukan "buaya" dari wanita incarannya, kini mereka juga sudah menyadari bahwa kata-kata itu terkesan "basi".
Memang, buat sebagian wanita, pengungkapan kata cinta itu adalah urusan yang mudah. Tapi tidak bagi pria. Kenapa? Karena jika mereka mengucapkan kata itu terlalu lantang, mereka khawatir mendapat penolakan dari wanita yang diajaknya untuk mengikrarkan suatu hubungan cinta. Malah jika hal itu sampai terjadi, mereka berarti sudah dipermalukan.
Hal kedua yang seringkali ditakutkan pria adalah jika anda sudah mengajaknya makan malam bersama orangtua dan seluruh keluarga. Itu sama saja dengan menodongnya dengan sebuah perkawinan. Untuk mereka yang belum siap serius dan ingin berkomitmen, itu memang hal yang berat sekali. Karena bagi mereka,jika sudah masuk dalam lingkungan keluarga, akan susah sekali untuk keluar dan melarikan diri.
Jadi, jangan heran jika suatu saat Anda mengajaknya ke rumah, si dia akan kelihatan letih, lesu, tegang, dan keringatan. Apalagi kalau bukan takut dipandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki sama orangtua anda, apalagi kalau mereka sampai melontarkan satu kritik di dalam perbincangan keluarga dengannya.
Jadi, agar semua orang dapat rileks saat bertemu, Anda harus menatar kedua belah pihak untuk saling easy-going saat pertemuan nanti. Dan kalau semuanya berjalan lancar, pasti hubungan orangtua Anda dengan si dia akan sama mesranya dengan Anda dan si dia.
Kalau sudah dalam situasi seperti itu,bukankah Anda berdua sudah seperti berada di jalan tol, yang bebas hambatan? Yah, kelancaran suatu hubungan pun dapat didasari dengan sikap dan perilaku orangtua dan orang-orang di dalam rumah Anda yang tidak kaku, apalagi super galak seperti detektif.
Ketika sudah "jadian" pun, jangan terlalu merasa Andalah orang satu-satunya yang sangat disayang dan dicintainya. Karena seperti di dalam laut yang ikannya beraneka ragam dan banyak sekali.
Ini sama saja dengan prinsip jika ia sedang bersama-sama Anda berarti ia tidak dapat bersama yang lainnya, dan sebaliknya. Jadi, kalau hubungan ini terasa belum jelas sekali, jangan coba-coba membuat peraturan-peraturan yang memberatkan Anda dan dia.
Soalnya mungkin saja pada masa itu, Anda maupun pasangan Anda masih belum menemukan kecocokan, dan masih bingung menentukan pilihan. Karena mungkin saja si dia masih ingin mendekati wanita lain yang juga terasa dekat dihatinya dan disayanginya. Dan jika si dia sedang melakukan itu, berarti ia sedang menjajaki dan memperjelas pilihannya itu. Pilih Anda atau yang lain.
Nah, kalau Anda benar-benar sayang dan mencintainya dan ingin bersabar, yah,tinggal ditunggu saja, perasaan seseorang tidak akan bohong karena cinta tidak dapat dipaksakan. Entah si dia bakal menjauh atau malah makin lengket dengan Anda. Jadi, selama menunggu, ada baiknya juga kalau kita melakukan seleksi pada beberapa pria yang lumayan dekat dan menyukai anda. That's fair, right ?
Yang satu ini beda, anda kebanyakan suka "ember" bercerita tentang kegiatan anda bersama si dia pada weekend kemarin, apalagi kalau sampai kena "sun" dipipi, atau, di bibir! Wah, pasti Anda cerita panjang lebar tentang yang satu ini. Beda dengan pria.
Yang namanya cowok paling malas cerita sama teman soal "sun-sun"an ini. Mereka tidak ingin kegiatan ini menjadi go-public dan malah sampai membuat hubungan Anda berdua menjadi meradang.
Sepertinya mereka juga tidak suka jika kegiatan yang dilakukan bersama-sama Anda ini sampai terkupas tuntas dengan teman-teman Anda. Jadi, lebih baik, Anda lihat-lihat teman dulu sebelum menceritakan yang satu ini dengannya,daripada perang dunia dengan do'i.
Kalau urusan belanja, lain lagi ceritanya. Belanja berdua dengan pasangan boleh-boleh saja. Tapi Anda harus mengerti kalau kebiasaan belanja pria itu lain dengan wanita. Pria menginginkan segalanya to the point, dalam arti begitu datang ke pusat perbelanjaan, mereka biasanya mencermati satu barang yang diinginkannya, membandingkan dengan merek lain, dan tidak ragu-ragu untuk langsung mencomot dan membayar barang itu di kasir.
Tidak seperti wanita, yang kerjanya hanya cuci mata, banding sana-sini, tapi akhirnya tidak jadi beli karena terlalu banyak barang bagus yang harus dibeli dan terlalu banyak pertimbangan. Jadi, jangan sampai pasangan Anda menjadi tersiksa karena harus berlama-lama menemani Anda belanja, apalagi kalau just shopping without buying.
Anda juga perlu memperhatikan yang ini. Ketika cinta seorang pria telah diterima oleh wanita yang disayanginya, itu berarti ia telah resmi mempunyai hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan dengan wanita tersebut. Dan secara otomatis, pria yang mempunyai pasangan itu akan menjadi lain di mata sohib-sohib teman nongkrongnya.
Misalnya, mulai jarang bermain ataupun pergi dengan teman-temannya karena ia ingin ataupun diminta kekasih barunya untuk selalu berada di dekatnya dan menemaninya dalam beraktivitas. Atau, yang dulunya suka kumpul bareng teman-teman se-gank untuk nge-band lagu-lagu jazz, kini cenderung memilih jenis musik bertemakan cinta.
Jika pada tahap awal, pasangan Anda menunjukkan tanda-tanda perubahan sikap,itu bukan berarti ia berubah total, bisa saja ia melakukan hal itu hanya karena ingin menyenangkan hati anda saja.
Tapi Anda juga perlu curiga ketika terlalu sering melihat pasangan Anda mau saja disuruh ini dan itu, perhatikan sikapnya itu. Pria seperti itu malah terlihat tidak mempunyai kepribadian dan tidak bisa dijadikan tempat berlindung untuk kita.
Intinya, Anda maupun pasangan harus dapat menerima masing-masing kepribadian dengan apa adanya, tentunya untuk saling mengerti diperlukan kesabaran. Jika memang ada satu - dua perilaku yang harus diubah, ya ubahlah, akan tetapi jangan lupa untuk mengompromikannya terlebih dahulu, karena tidak semua orang suka dengan perubahan.
Ketika anda baru meresmikan hubungan cinta dengan pasangan, rasanya beda sekali dengan pasangan yang sudah menjalaninya selama beberapa tahun. Inginnya selalu bertemu, dan terasa selalu kangen.
Belum lagi, jika Anda terjangkit virus senyuman si dia yang belakangan ini menjadi sindrom yang selalu kambuh ketika teringat tingkah polahnya yang lucu dan seksi. Kalau bisa, Anda berdua pasti ingin 7 hari seminggu 24 jam selalu berada didekatnya. Tapi, apakah si dia juga berpikiran seperti itu terhadap anda?
Tidak! Tidak semua pria mempunyai perasaan dan keinginan yang terlalu "dalam" seperti itu terhadap pasangannya. Dan hal ini pula yang membuat mereka tidak ingin memberitahu ataupun membicarakan hal ini dengan Anda.
Mereka takut Anda menjadi sakit hati, kesal ataupun marah padanya. Mestinya,andalah yang harus mengerti kalau ada beberapa situasi dan kondisi yang memang wajar dan sepantasnya tidak dilakukan bersama-sama.
Seperti Anda, mereka pun masih ingin melakukan aktivitas kesehariannya,melakukan hobinya, atau kumpul-kumpul bareng dengan teman-teman se-gank-nya,atau menghabiskan weekend bersama keluarganya.
Jangan menganggap cinta sama dengan sebuah lem perekat super yang dapat membuat pasangan Anda selalu dekat di manapun anda berada. Jadi, jika masalah-masalah di atas ini sudah mulai bermunculan mengiringi kisah percintaan Anda berdua, sebaiknya dibicarakan dengan jelas dan dari hati ke hati.
Jangan sampai masalah ini menjadi perusak hubungan Anda berdua. Dan jika pasangan Anda uring-uringan dengan sikap dan perilaku Anda,tunjukkan saja padanya kalau Anda masih tetap sayang, dan selalu memperhatikannya. Dijamin hubungan cinta yang mesra seperti dulu terjadi lagi.
________________________________________________
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback