Pages

Saturday, September 12, 2009

KEMURAHAN HATI YANG SEJATI

By Elizabeth Cobb

Waktu sebuah angin taufan menimpa sebuah kota kecil dekat2 sini,banyak keluarga mengalami musibah. Sesudah itu, semua surat kabar local memuat banyak berita kemanusiaan yang menarik dengan liputan keluarga2 yang paling menderita.

Diedisi Minggu, sebuah gambar khusus begitu menyentuh hatiku. Ada seorang ibu muda berdiri didepan sebuah rumah-mobil yang hancur, raut wajahnya mencerminkan kesedihan yang begitu memelas.

Seorang bocah laki,sekitar 7 atau 8 tahun, berdiri disampingnya, matanya memandang kebawah. Seorang gadis kecil lagi memegang erat2 gaun ibunya, matanya memandang kelensa kamera, lebar terbelalak penuh kebingungan dan rasa takut.

Berita yang menyertai gambar itu memberikan nomor2 ukuran pakaian tiap anggauta keluarga itu. Perhatianku makin bertambah, aku mengamati ukuran2nya hamper menyamai punya kami. Ini sebuah kesempatan bagus untuk mendidik anak2ku membantu mereka2 yang kurang beruntung daripada mereka.

Gambar keluarga muda itu aku tempelkan pada lemari es, kuterangkan bencana mereka itu pada putra2 kembarku, Brad dan Brett, yang berumur 7,dan pada putriku Meghan yang baru berumur 3 tahun. Aku bilang, "Kita ini punya begini banyak, mereka itu sekarang hampir2 tak memiliki apapun. Ayo,mari kita membagikan milik kita dengan mereka."

Aku bawa turun 3 kotak besar dari gudang-bawah-atap yang lalu kutaruh diruang keluarga. Meghan diam2 mengamati kedua kakaknya dan aku yang lagi mengisi salah satu kotak itu dengan makanan kaleng dan lain2nya yang tahan lama,juga sabun dan kebutuhan kebersihan lain2nya.

Waktu aku memilah pakaian2,aku menyemangati putra2ku untuk me-lihat2 mainan mereka dan menyumbangkan apa yang kiranya sudah kurang digemari. Si Meghan terus memandang, diam saja,saat mereka itu mulai menumpuk mainan maupun "game" yang mau dibuang. "Nanti habis ini akan ibu bantu carikan sesuatu untuk gadis kecil itu," kataku.

Bocah2 laki itu mengisikan mainan2 yang mereka pilih untuk disumbangkan kedalam salah satu kotak sedangkan aku mengisi kotak ketiga dengan pakaian2. Meghan datang berjalan sambil mendekap erat2 didadanya, Lucy, boneka kainnya yang selain sudah luntur, kucel bocel dan lusuh kumal namun begitu ia sayangi.

Ia berhenti sejenak didepan kotak yang memuat mainan2 itu, menempelkan wajahnya yang bulat kecil mungil pada muka-hasil-lukisan Lucy yang datar ceper,memberinya sebuah ciuman selamat tinggal, lalu menaruhnya dengan lembut diatas lain2nya. "Lho.., sayang," kubilang, "Lucy tidak perlu kauberikan. Itu kan kesayanganmu?"

Meghan mengangguk dengan khidmad, matanya agak berkilau membasah dengan air mata yang tertahan. "Lucy membuatku begitu bahagia, Bu. Mungkin nanti dia juga akan membuat gadis kecil itu bahagia sekali." Aku, yang semula maunya mengajar, malah mendapat pelajaran.

Anak2 laki itu telah melihat dan melongo, mulut terbuka, saat adik perempuannya meletakkan boneka kesayangannya kedalam kotak. Tanpa sepatah kata, Brad berdiri dan menghilang kekamarnya.

Ia muncul kembali dan membawa salah satu mainan tokoh aksi2an yang paling ia kagumi. Terlihat ia agak ragu2, maju mundur sambil menggenggam mainan itu, lalu ia melirik Meghan dan kemudian diletakkannya dikotak,disamping Lucy.

Sebuah senyum pelan2 melebar dimuka Brett, lalu ia lompat berdiri, matanya ber-sinar2 saat ia lari pergi mengambil beberapa buah mobil2an dari kumpulan Matchbox yang ia begitu sayangi.

Begitu terkagum, aku menyadari bahwa merekapun juga menangkap isi makna sikap dan tindakan Meghan. Dengan menahan air mata, aku merangkul ketiga anak2ku dalam pelukanku.

Dengan rasa menelan yang berat, aku memandangi Meghan agak lama, termenung sebentar memikirkan bagaimana caranya aku bisa mengajar putra2ku pelajaran yang Meghan baru ajarkan padaku.

Karena tiba2 saja aku sadar bahwa setiap orang bias memberikan apa saja yang memang mau dibuang. Kemurahan hati yang sejati ialah bila memberikan apa yang justru paling kau sayang dan hargai.

Kebajikan murni sejati dan jujur ialah disaat gadis umur tiga tahun mengorbankan boneka tersayangnya,meskipun sudah kumal, pada seorang gadis kecil lainnya yang tak ia kenal, dengan harapan bahwa itu akan membawa kadar kebahagiaan yang sama seperti yang ia terima.

Dengan mengambil contoh dari sikecilku, aku mengambil kembali jaket coklatku ber-jumbai2 yang lama dari kotak pakaian. Aku ganti itu dengan jaket baru berwarna hijau-pemburu yang baru kutemukan minggu lalu waktu ada obral. Aku harap wanita muda digambar itu akan menyukainya sama seperti aku.
_______________________________________________________________
The worst way to miss someone is to be sitting right beside them,
knowing you can't have them

Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback