Pages

Wednesday, September 30, 2009

CINTA SEJATI VERSUS CINTA PALSU

(relationship)

Setiap pasangan kekasih--apalagi yang sedang dimabuk cinta—sering banget diganggu dengan pertanyaan, "Punya lo cinta palsu atau cinta sejati?" Nggak usah bingung dalam menjawabnya, karena ada empat pertanyaan yang bisa dijadikan patokan apakah cinta kita sejati,sekaligus memutuskan apakah hubungan itu layak diteruskan hingga kejenjang pernikahan.

1. Urusan Kebebasan
Apakah pasangan kita memberikan kebebasan penuh? Hubungan cinta, kan,bukan tempat untuk mengubah atau membelenggu kebebasan pasangan. Cinta sejati memiliki prinsip untuk membiarkan kebebasan. Artinya, harus tetap ada ruang gerak bagi masing-masing agar mandiri.

2. Urusan Ego
Hubungan cinta yang sehat selalu berprinsip, "Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Menomorduakan rasa egois dan menggantikannya dengan keinginan menyenangkan pasangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tindakan sederhana atau kata-kata. Jangan lewatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa cinta pada si dia.

3. Urusan Minta Maaf
Kalau memang salah, mau mengaku, nggak? Meminta maaf sebetulnya Cuma soal kemauan untuk mengakui kesalahan dan menyesalinya. Bila hal ini menjadi bagian dari hubungan kita, tidak perlu takut untuk menyembunyikan sesuatu dari pasangan kita. Cinta sejati itu memiliki rasa kasih yang tulus dan nyaris tak terbatas.

4. Urusan Kemesraan
Apakah kita cukup sensitif terhadap kebutuhan si dia? Memahami apa yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak sebenarnya sudah menunjukkan rasa cinta yang sesungguhnya.

Bila kita menjawab 'ya' atas semua pertanyaan di atas, rasanya cinta kita pada si dia, begitu pula sebaliknya, memenuhi kriteria cinta sejati. Tetapi bila ada pertanyaan yang membuat kita sulit mengatakan 'ya', barangkali kita mesti memberikan perhatian khusus terhadap masalah tersebut. Tidak perlu menemukan orang tepat, tetapi cukup dengan berusaha menjadi Miss Right bagi si dia.
______________________________________________________________________________
There is a story living in us that speaks of our place in the world.
It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves.
The story is not given to us, it flows naturally from within; to hear it
we only have to be silent for a moment and turn our face to the wind.



Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback