Pages

Friday, August 21, 2009

Perlihatkan Ketenangan Anda

Dinasti Sung Utara
960 sampai 1127

Menurut tradisi, orang-orang percaya bahwa seorang komandan pasukan perang yang gagah dan berotot merupakan pilihan terbaik sebagai kepala kantor di kota perbatasan. Hal ini mungkin benar bila kita menyeleksi seorang pegulat untuk kontes fisik.

Namun untuk dengan benar menangani penduduk yang tidak berpendidikan dan berhubungan dengan orang barbar yang tidak ramah, seorang pemimpin garnisun membutuhkan kecerdasan dan keberanian, yang merupakan karakteristik yang tidak dapat diketahui melalui penampilan fisik. Berikut ini adalah sebuah kisah menarik yang mengilustrasikan pemikiran tersebut.

Pada awal abad kesebelas, seorang pejabat pemerintah bernama Lee Gi diluar dugaan ditunjuk menjadi komandan di suatu kota perbatasan. Promosi ini membuat semua teman dan koleganya terkejut dan khawatir.

Karena dia bertubuh kecil dan tingkah-lakunya sangat tertutup,mereka menganggap dia terlalu lemah untuk bekerjasama dengan para jenderal yang galak yang akan ditempatkan menjadi bawahannya. Dengan acuh tak acuh,pejabat ini dengan tenang menerima tugas yang tidak lazim ini dan memulai perjalanannya yang membosankan menuju kota yang jauh itu.

Sesudah berjalan berminggu-minggu ia mencapai perbatasan dan disambut dengan hangat oleh para pengusaha dan jenderal setempat. Keheranan karena penampilannya yang di luar dugaan, mereka mulai menyangsikan kemampuannya. Sesudah beberapa penyambutan yang hangat, ucapannya yang lembut dan pembawaannya yang pendiam semakin membuat mereka sangsi.

Mereka sepenuhnya percaya bahwa pemimpin baru mereka hanyalah seorang bekas politikus, yang sedang menantikan masa pensiun. Sebagai konsekuensinya, para pedagang jarang mengundangnya ke pertemuan social mereka.

Para jenderal dan bawahannya, yang telah mendapatkan posisi mereka dengan memenangkan banyak pertempuran berdarah dan brutal,diam-diam memandang rendah, mengabaikan dan memperlakukannya sebagai pemimpin boneka.

Meskipun mereka menghargai pendidikannya, mereka amat meragukan kemampuannya untuk menangani pasukan,dan jarang mendiskusikan persoalan militer dengannya. Tetapi Lee Gi tidak tersinggung sama sekali. Dia melewati hari-hari yang panas dan monoton dengan membaca buku buku sastra klasik sendirian di kantornya.

Suatu hari di kota tersebut, seorang tentara merampok seorang wanita disiang bolong. Dia segera ditangkap dan "secara tak sengaja" dikirim ke Lee Gi untuk diadili. Seperti biasa, Gi sedang membaca sebuah buku dengan santai. Sambil meletakkan bukunya ia mengajukan beberapa pertanyaan penting kepada tentara itu, dan si tentara tersebut mengaku terus terang.

Tanpa ragu-ragu, Lee Gi memutuskan bahwa tentara itu harus menerima hukuman mati. Dia menuliskan perintah tersebut, memberikannya kepada asistennya dan dengan'tegas memerintahnya untuk melaksanakannya.meskipun terkejut akan tindakan atasannya yang cepat sang asisten memerintahkan tiga penjaga untuk menyeret pelanggar yang terbengong-bengong itu keluar dari ruangan dan memenggalnya di halaman depan. Keseluruhan pengadilan dan eksekusi itu dilaksanakan tidak lebih dari satu jam.

Sesudah menuliskan perintah tadi, Lee Gi mengambil bukunya dan meneruskan bacaannya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu sama sekali. Melihat hat ini, para bawahannya mendadak menyadari bahwa komandan mereka sebenarnya seorang pemimpin yang jempolan dan tegas, dan segera menyebarkan berita ini ke seluruh kota.setelah mendengar hal ini para jenderal dan pejabat setempat terkagum-kagum akan tindakannya yang cepat dan tegas. Sejak saat itu, mereka mulai menaruh hormat kepadanya.

Perkataan dan ucapan itu murah dan tidak efektif.tindakan lebih penting.
Sikapnya membuktikan kemampuannya dan menimbulkan keyakinan dari rekan-rekan seperjuangannya.

(taken from Wisdom's Way By Walton C.Lee)

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback