(inspiration)
Reseh nggak sih, kalau setiap menghadiri pesta perkawinan ditanyai begini:
"Kapan dong nyusul? Ayo dong, nyebar undangan secepatnya. Emang mau sendirian terus?
Uh, urusan amat sih, begitu kata para lajang yang kupingnya serasa panas setiap kali menerima komentar macam begini. Mau sendirian mau berdua, who cares?
Masalahnya, memang ternyata masih banyak orang yang menaruh perhatian pada soal status. Padahal, banyak banget lho keasyikan-keasyikan yang dimiliki para lajang.
Coba deh baca daftar ini:
1. Lajang itu independen
Namanya juga belum terikat siapa-siapa, ya semua urusan adalah hasil pilihannya sendiri. Ia tidak tergantung siapa pun untuk melakukan sesuatu. Mau begini oke, mau begitu siapa yang melarang. (Konsekuensinya, untuk memperoleh suatuhal, biasanya juga harus diusahakan sendiri pula).
2. Lajang itu merdeka
Bukan berarti yang menikah jadi tidak merdeka, sih. Tapi, para lajang kan bias pergi ke mana saja tanpa harus memperhitungkan kondisi suami,istri, anak, dan semacamnya. Mau nonton di bioskop kek, mau di rumah aja, nggak ada yang ngomelin. Mereka selalu punya waktu 'bebas', yang mungkin tak lagi dimiliki orang yang sudah menikah. Uang hasil bekerja pun bisa dipakai sesuka hati.
3. Lajang itu uncommitted
Karena belum mengikat janji, wajar saja kan kalau si lajang tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak memberikan kebahagiaan (atau keuntungan) pada irinya sendiri. Sementara, bagi orang yang sudah menikah, kata 'pengorbanan' pasti akrab didengar telinga.
Hal-hal itu, kalau dinikmati dengan sepenuh hati, tanpa harus bertanya-tanya kapan si jodoh tiba, bukannya mengasyikkan? Oke, tentu saja Anda yang lajang juga memikirkan betapa inginnya menjadi milik (atau memiliki) seseorang, dimana Anda akan merasa diterima tanpa harus meminta.
Boleh jadi, pada saat-saat tertentu Anda merasa kesepian, tak ada orang lain yang menomorsatukan dirinya. Nggak ada yang beliin bunga, memasakkan makanan,atau membagi pemikiran dan mimpi-mimpi. Pendeknya, pasti ada perasaan di mana si lajang ingin dirinya berharga untuk seseorang atau beberapa orang.
Toh, perasaan-perasaan sedih itu bisa diatasi dengan menerima hidup ini apa adanya. Justru, kemewahan-kemewahan yang hanya dimiliki para lajang(misalnya,bisa jatuh cinta setiap hari pada orang yang berbeda atau punya daftar kencan yang berlainan dari Senin sampai Senin lagi) itu bisa jadi menimbulkan iri hati yang lain.
Jadi, syukuri saja, deh. Ingat saja kata John Naisbitt dalam bukunya Megatrends: "Sekarang ini pembentukan masyarakat lebih cenderung pada individu, bukan lagi keluarga."
So, kalau memang masih lajang, anggap saja ini pilihan dan anugerah hidup yang selayaknya dinikmati. Percaya deh, si lajang itu juga berhak hidup bahagia.
Indo community
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback