Pages

Thursday, August 13, 2009

Kisah Tentang Pasir

(thoughtful story)


Sebuah arus, dari sumber pegunungan yang jauh, yang melintasi beragam wilayah pedesaan, akhirnya menyentuh pasir di hamparan padang. Seperti layaknya ketika ia melintasi segala bentuk rintangan, arus itu mencoba untuk melintasi hamparan pasir tersebut, tetapi secepat ia melintasi, air2nya menghilang.

Ia yakin, meskipun demikian, bahwa sudah menjadi taqdirnya utk melintasi padang pasir, akan tetapi ia tidak menemukan adanya jalan. Tiba2 sebuah suara tersembunyi, yang muncul dari padang pasir itu, berbisik, "Angin mampu melintasi padang pasir, pastilah arus juga dapat."

Arus menyangkal bahwa dirinya telah menggerakkan diri melawan pasir dan hanya membuatnya terserap: karena angin dapat terbang, maka ia dapat menyeberangi padang pasir. "Dengan caramu bergerak itu, kau tidak akan mampu melintasinya. Kau akan lenyap atau jadi lumpur. Kau harus mengizinkan angin membawamu terbang, menuju tujuanmu."

Tetapi bagaimana ini bisa terjadi? "Dengan membiarkan dirimu terserap oleh angin."
Gagasan ini tidak bisa diterima arus. Lagi pula, ia tidak pernah terserap sebelumnya. Ia tidak ingin kehilangan jati dirinya. Dan, ketika sudah lenyap, siapa menjamin bahwa dirinya dapat kembali?

"Angin," kata pasir, "memang melakukan pekerjaan itu. Ia mengangkat air,membawanya melintasi padang pasir, dan kemudian membiarkannya jatuh lagi. Jatuh sebagai hujan, dan air akan menjadi sungai kembali."

"Bagaimana aku tahu yang kau ucapkan itu benar?"
"Memang demikian, dan jika kau tidak mempercayainya, dirimu paling2 akan jadi lumpur, dan itu pun memerlukan waktu bertahun2; dan tentu kau tahu lumpur sama sekali tidak sama dengan arus."

"Tetapi tidak bisakah aku tetap menjadi arus seperti sekarang ini ?"
"Kau tidak bisa terus-menerus sama," bisik suara itu. "Bagian pentingmu akan dibawa pergi dan membentuk sebuah arus kembali. Kau sendiri tidak tahu siapa dirimu sekarang ini, karena kau tidak tahu bagian mana darimu yang penting."

Ketika arus mendengar ini, muncullah gaung2 yang bergejolak dalam pikirannya. Dengan tenang, ia mengingat sebuah keadaan dimana dirinya --- atau sebagian darinya, apa itu? --- telah digenggam dalam rengkuhan tangan angin. Ia juga ingat --atau ingatkah ia?-- bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Dan arus mengepulkan asapnya ke dalam rengkuhan angin, yang dengan lembut dan sayang membawanya ke atas dan menjauh, membiarkannya jatuh dengan lembut segera setelah mereka mencapai atap sebuah gunung, bermil2 jauhnya. Dan karena ia idak ragu, arus mampu mengingat dan merekam dengan lebih kuat dalam pikirannya tentang pengalaman itu secara mendetil. Ia berkata, "Ya,sekarang aku telah belajar tentang siapa diriku yang sejati."

Arus sedang merenung, ketika pasir berbisik, "Kami tahu, karena kami melihatnya terjadi dari hari ke hari: dan karena kami, pasir, terhampar dari sisi sungai sampai kepegunungan."

Dan itulah mengapa dikatakan, bahwa kemana Arus Kehidupan melanjutkan perjalanannya telah tertulis di Pasir.

*********************
Source : Kisah Berhikmah
by Idries Shah

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback