(thoughtful) Oleh: Gede Prama
Di salah satu kesempatan diundang sebagai pembicara dalam acara Aqua Leadership Forum, Ibu Tirto Utomo (istri pendiri Aqua Golden Missisipi) sempat tersentuh dengan salah satu langkah yang saya rekomendasikan agar berhasil: flood your self with love. Dengan ekspresi muka yang amat bersyukur, Ibu Utomo berucap pelan tentang almarhum suaminya: 'he has been a very good husband to me.'
Orang boleh saja skeptis dengan hubungan antara usaha dan cinta, tetapi saya amat meyakini kalau usaha dan cinta adalah dua belahan mata uang keberhasilan. Usaha tanpa cinta, sering berakhir dengan petaka. Cinta tanpa usaha hanyalah mimpi di siang bolong.
Sebagai konsultan yang bergaul intensif dengan banyak pemilik perusahaan, saya sering menjadi saksi hidup dari kehidupan yang penuh usaha tetapi miskin cinta. Kekayaan materi yang menjadi warisan melimpah, tidak membuat hidup lebih mudah dan sejahtera. Sebaliknya, menjadi sumber petaka dan kehancuran keluarga.
Ada yang bermusuhan seumur hidup karena merasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian harta. Ada yang menghabiskan sebagian besar hidup untuk berperkara dipengadilan. Makanya, saya merasakan beda amat fundamental antara melayat dirumah orang kaya dengan melayat di rumah orang yang secara materi sederhana.
Di rumah orang kaya, begitu yang punya harta meninggal mulai terjadi kasak kusuk, yang tidak jarang berakhir dengan perkelahian. Di tempat orang sederhana,tidak ada kegiatan lain yang lebih dominan selain berdoa menghantar arwah yang meninggal.
Sebaliknya, cinta tanpa usaha juga keropos. Seperti sepasang muda-mudi yang dimabok cinta, sepertinya hanya dengan modal cinta semuanya akan terselesaikan. Ternyata, sebagaimana dicatat oleh sejarah banyak manusia, ini juga berakhir sengsara. Cinta yang pada mulanya demikian indah, pada akhirnya demikian menyakitkan.
Ada memang orang yang tidak perduli cinta tetapi amat perduli usaha. Demikian juga sebaliknya. Akan tetapi James W. Lewis - direktur eksekutif Golden Key National Honor Society AS - pernah menulis: 'Education and ambition will carry you out far in the pursuit of your goals, but if you combine your knowledge with altruistic action, your potential for success will be unbounded.'
Dengan kata lain, ambisi dan pendidikan memang bisa membawa kita ke wilayah sukses yang jauh. Namun, bila kita menemukan kombinasi tepat antara usaha dan cinta, potensi sukses kita tidak terbatas.
Dalam bingkai berfikir yang tidak terlalu berbeda, Raymond V. Gilmartin (orang nomer satu di Merck & Co) - dalam sebuah pidatonya di Union College – bertutur apik: 'Treating others with dignity and respect is not only right, but it means you'll end up surrounding yourself with the best and most talented people.' Sekali lagi, ini juga sebuah bukti bahwa keseimbangan antara cinta dan usaha sering berakhir amat mengagumkan.
Belajar dari sinilah, maka menemukan titik keseimbangan antara cinta dan usaha menjadi amat krusial dalam hidup setiap orang. Seorang sahabat saya yang telah meninggal sambil tersenyum damai, berulang kali merayakan ulang tahunnya di panti asuhan dan memiliki sejumlah anak asuh.
Seorang top eksekutif sebuah perusahaan terkemuka, bahkan amat terobsesi dengan konsep mengelola penuh cinta. Begitu kebanyakan orang merasa dicintai secara penuh - demikian suatu hari ia bertutur yakin – jangan pernah takut dengan prestasi. Roda kinerja akan berputar dengan sendirinya.
Berkaitan dengan usaha, banyak sudah ulasan yang telah lahir. Namun berkaitan dengan sukses melalui cinta, masih teramat sedikit ulasan yang muncul. Untuk itulah, izinkan saya mengulas aspek cinta lebih banyak dibandingkan dengan usaha.
Berbekalkan sedikit kejujuran, kita sebenarnya tahu bahwa dengan menambahkan cinta ke orang lain, kita juga menabung cinta buat diri sendiri. Ada sejumlah pengalaman hidup yang unik dan kaya yang bersembunyi dalam hal ini.
Dalam bahasa Lewis: 'To experience life through the eyes of another gives you understanding,which leads to knowledge and, ultimately, to wisdom.' Jadi, wisdom sebagai kekayaan yang amat berharga, bersembunyi di balik ketekunan belajar untuk hidup dalam kaca mata orang lain.
Ibarat menarik perhatian lawan jenis, demikian tubuh dan jiwa ini tampil seksi,kebahagiaan dan keberhasilan itu tidak perlu dikejar, ia akan datang tanpa diundang. Untuk itulah, membuat tubuh dan jiwa ini menjadi seksi melalui gunungan cinta menjadi amat dan teramat menentukan.
Dan ini tidak selalu membutuhkan tindakan besar yang penuh pengorbanan. Ia juga bisa dilakukan melalui tabungan tindakan-tindakan kecil yang tidak dikenal. Semakin tidak dikenal sebuah tindakan, semakin tinggi nilai tabungan dan bunganya.
Tersenyum tulus pada orang lain, menyalami selamat lebaran/natal/tahun baru penuh kehangatan, membukakan pintu pada orang yang tidak dikenal, memberi jalan pada orang lain yang lebih membutuhkan, mencium anak/istri/suami sebelum tidur,menghargai tetangga, mendengarkan keluhan dan pendapat orang lain, hanyalah sebagian kecil saja contoh dari hal ini.
Seperti sebuah pepatah Nigeria: 'hold a true friend with both hands.' Bukankah enak sekali terdengar di telinga siapa saja, kalau setelah meninggal istri/suami/anak/teman/keluarga berucap jujur seperti cerita Ibu Tirto Utomo di awal tulisan ini: 'He has been a very good husband to me.'
______________________________________________________________________________
A friend is someone we turn to when our spirits need a lift,
A friend is someone we treasure for our friendship is a gift.
A friend is someone who fills our lives with beauty, joy, and grace
And makes the whole world we live in a better and happier place.
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback