Pages

Friday, June 26, 2009

TOLOK UKUR KEBERHASILAN

(thoughtful) By Bugsy Bascon

Kerja, kerja, dan lagi2 KERJA! Itulah hidupku sepanjang beberapa tahun yang lalu ini. Aku sebenarnya masih muda, jangan salah mengerti, tapi kadang2 aku merasa tua karena ambisi ingin sukses dalam hidupku ternyata menggerogoti aku. Kapan sih orang bisa tahu diri batas kecukupan yang cukup?

Memang aneh dan sulit. Kalau anda sudah terlanjur terbiasa lebih mementingkan karir melebihi yang lain2nya, waktu akan benar2 terbang. Lambat laun, anda akan merasakan semangatmu dan gairah sebagai orang muda terisap hilang; ini pastilah tidak sehat.

Kembali lagi pada pertanyaan tadi, beberapa orang menyadarinya setelah terlambat, sedangkan yang lain2nya cukup mujur untuk masih sempat mengamati peristiwa2 tertentu dalam hidup, yang kemudian merubah perspektif mereka se-lama2nya.

Kematian! Dalam berbagai cara kita telah mendengar soal kematian. Biasanya kita mendengar sanak keluarga tua dan orang2 sakit yang mati. Tetapi begitu kita mendengar salah satu dari mereka yang sebaya sezaman kita sudah "berangkat" pergi selamanya, ah..., tiba2 saja kita ini dibawa kembali untuk berpikir dan mulai merenungkan kembali soal kehidupan ini. Dan inilah pengalamanku baru2 ini:

Kutemukan diriku sedang mengevaluasi-ulang eksistensi hidupku didunia ini sebagai seorang pribadi dan bukannya sebagai karyawan perusahaan besar. Aku mulai sadar bahwa segala pemusatan fokus di-tahun2 lalu hanyalah sekedar suatu kebetulan, keberuntungan besar, saja.

Aku ternyata gagal menghidupi hidupku ini secara sepenuhnya, karena tidak memanfaatkan waktu bermutu baik dengan teman2 dan keluargaku. Pada tahap analisa akhir, aku ternyata hanya ibarat seorang mati yang berjalan.

Jelas sekali aku luar biasa puasnya dengan jenjang jalannya karirku tapi, sekali lagi, apakah itu membuatku bahagia sebagai seorang pribadi? TIDAK!! Itu lebih menyakiti aku, lebih2 untuk memikirkan "kok" aku sampai bisa begitu terikat dalam sistim itu, sehingga aku kehilangan akal sehat mengapa aku bisa begitu lapar mengejar sukses.

Kini, aku merasa jauh lebih ringan. Aku masih bekerja keras, namun kurasa perbedaan utamanya ialah bahwa segalanya dalam batas wajar tanpa ber-lebih2an. Saya tidak lagi mencoba menghancurkan diriku sendiri dengan berusaha mati2an memburu batas waktu tugas kerjaan yang tak pernah akan habis. Aku bersyukur dan terberkati bahwa Allah telah membukakan mataku untuk menanggapi hidup lebih serius.

Kehidupan itu demikian bernilainya untuk kita abaikan. Setiap saat, setiap menit hidup kita bisa diambil begitu saja. Apa yang penting ialah diakhir hari, kita bisa berkata bahwa kita telah hidup sepenuhnya.

Sukses keberhasilan tidaklah selalu diukur berdasarkan kekayaan material yang dimiliki seseorang, atau status sosialnya dalam masyarakat, melainkan,adalah jauh lebih penting, cara dan bagaimana anda telah menyentuh hidup orang2 lain. (JM)

Resent by Joe Gatuslao

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback