Penulis: GedePrama
Setiap kali bertemu dengan ribuan anak muda yang penuh dengan pertanyaan akan masa depan, hampir selalu saya dihadang pertanyaan yang sama: bagaimanakah tanda-tanda awal orang akan berhasil? Hal yang sama saya temui ketika sebuah majalah bisnis mengumpulkan ribuan mahasiswa di Manggala Wana Bakti Jakarta pertengahan September 2001 lalu.
Sebagaimana pernah dan mungkin sering saya kemukakan, demikianlah sifat pertanyaan,ia bersifat lebih dalam dan abadi. Sedangkan jawaban, ia senantiasa dangkal dan dibingkai waktu yang terbatas. Oleh karena alasan itulah,setiap kali dihadang pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti di atas,saya memilih mengurangi jawaban dan menambahnya dengan pertanyaan-pertanyaan baru.
Mirip dengan apa yang saya alami sekian tahun yang lalu, banyak sahabat mahasiswa juga menyimpulkan kalau kecerdasan, nilai di sekolah,pengalaman, jaringan pergaulan adalah tanda-tanda awal keberhasilan. Semua ini tidak salah tentunya, serta masih layak dipertimbangkan sebagai serangkaian sinyal awal. Dan yang memerlukan perenungan lebih lanjut, cukupkah semua ini digunakan sebagai kendaraan keberhasilan ditengah sejarah dan kehidupan yang berubah secara amat radikal?
Izinkan saya bertutur apa yang pernah saya alami, atau apa yang saya temukan dalam interaksi saya sebagai eksekutif puncak perusahaan,pembicara publik sekaligus konsultan manajemen. Yang jelas, sekian tahun setelah tahun pertama di dunia kerja berlalu, dan sempat menyaksikan secara langsung maupun tidak langsung bagaimana wajah tangga- tangga keberhasilan, sungguh tanda-tanda awal tadi perlu direnungkan kembali.
Sebagai konsultan yang berinteraksi di tingkatan paling tinggi perusahaan, saya pernah ditendang agar segera keluar karena tidak bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sebagai pekerja yang baru belajar dulu, tidak sedikit orang yang menyebut bahasa saya terlalu akademis, untuk kemudian membuat orang menjauh dengan alis yang berkerut.
Sebagai pimpinan perusahaan, tidak jarang terjadi values shocks yang membuat saya merenungkan kembali tanda- tanda keberhasilan di atas. Sejumlah sahabat yang hanya mengkaitkan umur dengan kinerja saya, banyak yang tidak menyangka kalau saya pernah menemukan batu koral kehidupan yang terjal dan mengerikan seperti ini.
Demikian juga ketika menjadi saksi kehidupan di banyak puncak perusahaan sebagai konsultan. Ada perusahaan yang berganti CEO empat kali dalam waktu lima tahun. Ada perusahaan keluarga yang isinya hanya ketidakpercayaan, ketidakpercayaan dan ketidakpercayaan.
Ada juga intrik dan politik yang saling menjatuhkan. Ada manusia-manusia yang bertopeng demikian rapi, sehingga singa kelihatan seperti kelinci, harimau kelihatan seperti kuda yang lembut. Dan tiba- tiba dalam waktu tertentu,di luar kesadaran mereka menerjang dan menerkam.
Semua ini bertutur jelas ke saya, nilai di sekolah, kecerdasan,pengalaman dan jaringan pergaulan, memang masih diperlukan. Cuman, ia masih memerlukan bumbu-bumbu penyedap yang lain. Dan bukan tidak mungkin, bumbu penyedap terakhirlah yang membawa banyak orang ke dalam posisi puncak baik di perusahaan maupun dalam kehidupan.
Dalam tataran perenungan dan pencaharian ini, tiba-tiba saja saya teringat apa yang pernah ditulis Dalai Lama dalam The Little Book of Wisdom. Tokoh yang sudah sampai di puncak karir sekaligus puncak kehidupan ini bertutur lain tentang tanda-tanda keberhasilan.
In your daily life, as you learn more patience, more tolerances with wisdom and courage, you will see it is the true signs of success?, demikian tulis Dalai Lama. Dengan kata lain, kesabaran dan toleransi pada orang lain adalah tanda-tanda awal keberhasilan.
Sekilas terlihat kuno dan klise. Dan dari umur yang amat mudapun saya sudah tahu. Cuman, begitu melalui demikian banyak tanjakan dan angin ribut kehidupan yang demikian mengganggu dan menggoda, pikiran-pikiran Dalai Lama memperoleh kebenaran yang amat dalam.
Di puncak pohon yang kerap digoyang angin ribut, keberanian untuk tetap tinggal memang menjadi nilai tambah, namun bersabar untuk tidak hidup dalam dendam dan kebencian adalah nilai tambah yang lebih tinggi lagi. Disamping itu, kesabaran adalah saudara kembarnya kejernihan dan keheningan. Sulit dibayangkan, bagaimana wajah informasi dan keputusan kalau kejernihan dan keheningan tidak pernah berkunjung dalam kehidupan seorang pimpinan.
Toleransi apa lagi. Wajah kehidupan di atas memang selalu kaya warna. Informasi tidak pernah utuh dan satu, semuanya menuntut untuk senantiasa dirangkai dan dirangkai. Hanya kepekaan dan toleransilah yang bisa membuat rangkaian- rangkaian informasi bisa lebih utuh.
Mirip dengan apa yang pernah ditulis Chao-Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle, Each misery is the result of intolerance. Setiap kesengsaraan adalah hasil ketidakmampuan untuk toleran terhadap orang lain. Ini berarti, toleransi tidak hanya perlu untuk posisi pimpinan, ia juga berkaitan dengan kesengsaraan dalam hidup.
Bercermin dari sini, bukankah layak untuk direnungkan agar senantiasa mendidik diri di sektor kesabaran dan toleransi? Dan dengan pengembangan di dua sektor terakhir, bukankah manusia bisa bisa sekali dayung dua pulau terlampaui (sukses di karis sukses juga dalam kehidupan)? Sekali lagi, ini hanyalah rangkaian pertanyaan yang layak untuk direnungkan.Tidak lebih dan tidak kurang.
_______________________________________________
Be more concerned with your character than your reputation,
because your character is what you really are,
while your reputation is merely what others think you are."
***********************************************
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback