Pages

Sunday, June 28, 2009

Menemukan Kembali Kecerdasan Yang Hilang

(thoughtful) Penulis: GedePrama

Demikian pesatnya perkembangan teknologi, sehingga tidak saja cara berbisnis dan sumber - sumber pengetahuan yang mengalami pergeseran,sumber humorpun mengalami perubahan. Dulu, ketika majalah Humor belum berstatus almarhum, majalah ini menjadi sumber tawa dan canda yang mengagumkan.

Ketika internet hadir, situs-situs yang menebar senyumanpun ada di mana-mana. Dan sejalan dengan hadirnya M-commerce, SMS juga menjadi kendaraan menebar tawa di mana-mana.

Di sebuah kesempatan, seorang rekan jenderal berbintang empat pernah mengirim SMS. Karena yang mengirim seorang perwira tinggi, saya membacanya dengan amat serius. SMS- nya berbunyi begini : kau pegang punyaku, aku pegang punyamu, kau eratkan cengkeramanku, akupun mempereratnya juga, kau goyang punyaku, akupun menggoyang punyamu, itulah cara kita bersalaman !.

Di lain kesempatan, jenderal yang sama mengirim pesan serupa : begitu engkau rindu, engkau datang, engkau duduk di atasku, kau tumpahkan seluruh rindumu dan kitapun bersatu jadi satu. Dari yang merindukanmu : toilet !.

Entah bagaimana imajinasi Anda ketika pertama kali membaca pesan-pesan singkat tadi. Saya dan banyak rekan tidak sedikit yang terkecoh.

Kepala-kepala terdidik yang pernah lama menelusuri lorong-lorong panjang pendidikan, dibingkai oleh empirisme dan rasionalisme, kemudian demikian terkondisikan sehingga melihat hampir semuanya secara hypothetical deductive (baca : berhipotesa dari awal, dan kemudian mereduksi penglihatan sebatas ruang sempit yang menjadi wilayah hipotesa).

Maka,terkejutlah sejumlah kepala ketika terpaksa menemui realita yang berjalan jauh dari ruang sempit hipotesa. Ini yang terjadi pada pemikir manajemen yang kecewa dengan ilmu manajemen yang semakin impoten, ekonom yang hanya bisa gigit jari karena pisau analisisnya ternyata demikian tumpul, pakar politik yang kehilangan adaptasi terhadap realita yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan ilmu yang berkembang, sahabat-sahabat akuntan yang hanya bisa menggelengkan kepala ketika tahu kalau akuntansi telah menjadi kuda tunggangan banyak skandal korporasi.

Sehingga dalam totalitas, tidak sedikit manusia di zaman ini yang sudah mulai kehilangan kecerdasan yang sebenarnya pernah dimilikinya. Coba perhatikan anak-anak kecil yang innocent, penglihatannya demikian jernih, bernas dan bersih.

Sehingga banyak pertanyaan yang tidak dipikirkan oleh pakar sekalipun, tetapi ia tanyakan ke orang lain. Tidak ada filter, rel, apa lagi penjara hypothetical deductive yang sering digunakan sebagai basis untuk menyimpulkan sebuah argumen dengan sebutan ilmiah.

Krishnamurti betul sekali ketika berargumen : begitu kita memberi sebutan terhadap sebuah burung sebagai burung perkutut ke seorang anak kecil, maka berhentilah proses mengerti dan imajinasi anak tadi terhadap burung pujaannya tadi. Bahasa, pengetahuan dan pengalaman memiliki akibat fatal yang sama terhadap banyak orang dewasa.

Ketika bahasa memberikan sebuah judul terhadap sebuah kejadian, pengalaman memberikan sebutan sukses untuk sebuah langkah, atau pengetahuan meletakkan stempel benar terhadap sebuah ide, maka orang dewasapun berhenti proses imajinasinya.

Pengotoran-pengotoran melalui bahasa, pengalaman dan pengetahuan ini terus menerus terjadi hampir sepanjang hidup. Sehingga sulit dihindari,kalau kemudian ada banyak orang dewasa yang buta dan tuli akan wajah segar realita, kecerdasannya dibiarkan hilang pergi entah ke mana.

Lama saya sempat berefleksi akan dosa-dosa pengetahuan manusia modern. Dan dalam sebuah kesempatan dikunjungi kejernihan, pernah terlintas bayangan arah panah yang luput dari perhatian banyak orang. Kalau boleh jujur, terlalu banyak pengetahuan manusia yang arah pemahamannya bergerak hanya dari subyek ke obyek.

Kecongkakan pengetahuan demikian,terletak pada kesombongan seolah-olah kepala manusia adalah alat pantul dan alat potret yang bersih dan jernih tanpa menimbulkan distorsi. Kalau asumsi congkak ini memang demikian adanya, tidak perlu pengetahuan memakan korban demikian banyak manusia yang kehilangan kecerdasan.

Ada pergerakan panah yang kerap terlupakan, yakni pergerakan arah pemahaman dari obyek ke subyek. Ketika proses pemahaman manusia terjadi,tidak saja subyek memahami obyek, obyek juga memberikan masukan tentang kejernihan subyek. Kendaraan pemahaman subyek terhadap obyek bernama pengetahuan. Ketika obyek memberikan masukan tentang kejernihan subyek kendaraannya bernama meditasi.

Di sinilah bertemu sintesis antara pengetahuan dengan meditasi, antara logika dan mistik, antara kesementaraan dan keabadian. Sebagaimana pernah dikutip Fritjoff Capra dalam The Tao of Physics, Tao adalah akar dan pengetahuan adalah cabangnya. Akar tanpa cabang akan membusuk. Cabang tanpa akar akan mengering.

Sebuah wilayah pertemuan yang baru dibicarakan oleh segelintir manusia jernih seperti Fritjoff Capra, James Redfield, Deepak Chopra. Benar sebagaimana sering diajarkan oleh alam semesta, keabadian memang senantiasa berdiri di atas kendaraan keseimbangan.

Setiap ketidakseimbangan termasuk pengagungan berlebihan terhadap pengetahuan menghasilkan kesementaraan- kesementaraan yang menyesatkan. Dan apa yang saya sebut kecerdasan, juga berdiri di atas kendaraan-kendaraan keseimbangan.

Pengetahuan memang sudah berjalan cepat dan mengagumkan, namun meditasi,ia diberi sebutan tidak ilmiah, mistis, hanya cocok dengan orang jenis tertentu. Padahal, ketika arah pemahaman dari obyek ke subyek terjadi (baca : obyek memberikan masukan kejernihan pada subyek), manusia sedang bergerak pada wilayah-wilayah The King of Knowledge.

Disebut demikian,karena pengetahuan tidak lagi menjadi raja yang berkuasa sendirian. Sebagaimana sudah mulai disadari sejumlah manusia jernih dan cerdas seperti Fritjoff Capra, pengetahuan adalah pembantu yang baik, namun penguasa yang buruk.

Sebagai pembantu, pengetahuan memang sudah membawa manusia ke tempat yang maju dan jauh. Namun sebagai penguasa, pengetahuan telah menghasilkan jutaan manusia tuli yang membiarkan kecerdasannya terbang entah kemana.

Di titik inilah, kita memerlukan gerakan-gerakan memposisikan ulang pengetahuan. Ia memang hanya sekadar pembantu baik yang duduk di bawah, bukan raja pongah yang bercokol dan berkuasa di atas kepala.

Sayangnya, setiap kali saya masuk ke lumbung-lumbung pengetahuan yang bernama sekolah, ke lahan-lahan pengalaman yang bernama organisasi korporasi maupun birokrasi, atau ke pengguna-pengguna bahasa, setiap kali juga saya bertemu manusia yang meletakkan pengetahuan, pengalaman dan bahasa sebagai raja yang berkuasa.

Sebagai hasilnya mudah ditebak, konflik bertebaran di mana- mana,pembela-pembela ?kebenaran? mengibarkan bendera permusuhan yang mengerikan, pemimpin merasa paling benar, korupsi dicarikan justifikasinya, rasa malu hilang entah kemana. Dan yang paling penting kejernihan dan kecerdasan menguap ditelan langit. Inilah hasil dari loyalitas manusia yang berlebihan pada pengetahuan sebagai raja.

Saya mengundang Anda memasuki wilayah-wilayah the King of Knowledge,tidak dengan melupakan pengetahuan, tetapi dengan meletakkannya sebagai seorang pembantu yang baik, dan kemudian dimurnikan oleh kendaraan-kendaraan meditasi.

Saya memang belum sejernih Fritjoff Capra,James Redfield dan Deepak Chopra, namun sedang mendidik diri untuk se-innocent anak kecil sekaligus sebijaksana orang dewasa. Dan rekan jenderal tadipun tidak perlu membuat saya terkejut lagi tentang cerita toilet.

_______________________________________________
Be more concerned with your character than your reputation,
because your character is what you really are,
while your reputation is merely what others think you are."

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback