Psikolog Dra RAy Yayi Suryo Prabandari MSi percaya betul bahwa gizi pada saat ibu hamil sangat bagus bagi perkembangan dan kesehatan anak yang dikandungnya hingga anak tersebut lahir. Hal itu ia buktikan sendiri dari pengalamannya saat hamil pertama dan hamil kedua (anak kembar).
Hamil anak pertama, si janin meninggal di dalam kandungan saat sudah berusia sembilan bulan. "Waktu itu diketahui bahwa anak saya pertumbuhannya tidak normal, di antaranya anus tidak terbentuk," cerita Yayi yang mengajar Perilaku Kedokteran di Fakultas Kedokteran UGM ini. Waktu itu, ungkapnya,dia langsung melakukan berbagai tes laboratorium seperti toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, diabetes, penyakit menular seksual, dan lain-lain.
''Hasilnya negatif semua. Saya menyimpulkan bahwa pada saat hamil janin kurang gizi, karena salah satu penyebab anus tidak terbentuk biasanya karena kurang gizi,'' tuturnya. Diakuinya, waktu hamil pertama hampir setiap hari pola makannya tidak bagus, akibat menumpuknya tugas dan pekerjaannya. Terkadang, bila siang hari ia hanya makan mie instan, minum minuman yang mengandung soda, dan lain-lain.
Karena itu setelah hamil kedua, ia benar-benar menjaga pola makan empat sehat lima sempurna. Ia tidak pernah lagi makan makanan instan. Kalau pun makan mie, mie yang non-instan, kalau makan telur yang telur ayam kampung, menjaga supaya jangan sampai stres dan mengurangi pekerjaan. Hasilnya memang terbukti, ia melahirkan pada saat usia kehamilan 39 minggu dan anak lahir kembar dengan berat badan masing-masing 2,8 kilogram dan 3,5 kilogram.
Bahkan, kata Yayi, sampai si kembar berusia lima tahun hampir tak pernah sakit. Pengalamannya tersebut sering ia sampaikan sebagai contoh saat mengajar. ''Kondisi ibu saat merencanakan kehamilan dan pada saat hamil memang harus benar-benar dijaga gizinya,'' tutur anak kedua dari Prof KPH Soejono Prawirohadikusumo dan RAy Soeratmiyati Notonegoro BA (Alm) ini. Kedua anak kembar Yayi, Adrian Adhya Hermanu dan Oswindra Odhya Hermanu yang kini berusia enam tahun tumbuh sehat dan cerdas.
Sejak usia empat tahun kedua anak tersebut sudah bisa komputer dan suka musik klasik. Yayi yang saat ini sedang menyelesaikan S3-nya di University of New Castle punya pengalaman tentang merokok saat mahasiswa. Ia termasuk salah seorang anggota kelompok pecinta alam dan sering mendaki gunung bersama-sama rekan kuliahnya. Teman-teman perempuannya banyak yang merokok saat mendaki gunung untuk mengurangi rasa dingin.
Yayi pun penasaran ingin mencobanya. ''Hampir semua merek rokok saya coba,tapi rasanya tidak ada yang enak. Teman saya mendorong supaya saya bisa merokok, katanya mungkin saya salah memegang dan mengisapnya. Sudah saya coba lagi, tetap saja saya tidak merasakan nikmatnya merokok. Bagi saya the panas lebih enak daripada rokok,'' tuturnya.
Teman-temannya yang merokok umumnya sebagai pelampiasan rasa sedih. ''Untungnya saya mencoba merokok bukan sebagai pelampisan ketika lagi sedih,melainkan hanya karena penasaran. Saya kalau sedih biasanya mendengarkan musik klasik atau menangis,'' ungkap Yayi yang lahir di Yogyakarta tanggal 15 November 1964 ini.
Kakak dari Drs KRMT Roy Suryo Notodiprojo ini sejak tahun 1998 aktif menyadarkan masyarakat terutama di kalangan remaja untuk melakukan harm reduction (mengurangi bahaya yang ditimbulkan) akibat rokok. Saat ini ia bersama koleganya di UGM bekerja dengan National Institute of Health di Amerika Serikat, sedang melakukan penelitian untuk menghentikan kebiasaan merokok yang disesuaikan dengan budaya Yogyakarta.
Penulis : nri
Sumber : Republika Online
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback