(thoughtful) FOOD FOR THOUGHT By Chass Campbell
Kesepian itu bukan sesuatu hal yang menghormati orang. Bahkan tokoh besar Albert Einstein pernah berkata, "Aneh juga rasanya, menjadi begitu terkenal diseluruh dunia, namun [tetap] menjadi begitu kesepian."
Tapi, meski rasa kesepian telah menyusupi hidupnya, boleh jadi kecemerlangannya yang mengisolasikannya dari kita, para mahluk fana yang lebih rendah [IQnya]. Bisa juga justru karena dalam kesepiannya itulah maka ia mampu menghasilkan begitu banyak penemuan2 yang hebat sekali.
Mungkin kini - melebihi kapanpun dalam sejarah - hantu rasa kesepian telah begitu merembes meresap kedalam dunia. Ini telah makin cepat jadi bagian dari eksistensi manusia dan fakta hidup yang tak terelakkan. Secara tepat ini telah dirumuskan sebagai penyakit defisiensi yang melemahkan dan yang tidak mengenal batas umur, kelas maupun kelamin.
Sebuah surat kabar, yang ingin menemukan problim yang paling memprihatinkan bagi pembaca2nya, melakukan semacam jajak pendapat. Ada tiga problim yang menonjol dalam respons yang mereka terima. Ini adalah rasa takut, kuatir dan kesepian. Rasa takut dan kuatir menyertai rasa kesepian, tapi adalah rasa kesepian yang membuat bayangan terpanjang [dan tergelap] dalam dunia kontemporer kita ini.
Gelombang2 [radio] diudara melantunkan lagu dan nada kesepian. Sebagian besar lagu2 pop dan liriknya begitu jenuh dan berat dengan tema melankolik mengenai frustrasi, kehampaan rasa kosong, kesepian. Lagu2 "country" dan "western" tanpa pengecualian dan selalu mengungkapkan relasi yang patah, perpisahan akibat ditinggal minggat,dan penyelewengan, perselingkuhan, dan rasa kesepian sebagai akibat yang menyusul.
Tampaknya rasa kesepian itu ada di-mana2. (JM)
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback