(thoughtful) Penulis: Gede Prama
Karena mendidik diri peka dengan suara-suara kehidupan, setiap kali mengalami kejadian, atau bertemu orang penting, kerap ada yang bertanya dari dalam diri ini : apa makna dari kejadian ini? Pertanyaan ini juga yang muncul ketika sang ?kebetulan? membuat saya duduk bersebelahan dengan Bapak Marie Muhammad ?
mantan menteri keuangan zaman orde baru ? dalam penerbangan dari Medan ke Jakarta empat Agustus 2002 lalu. Beruntung bisa duduk dekat dengan salah satu tauladan Indonesia dalam hal kebersihan hidup, maka beberapa pertanyaanpun dilemparkan oleh mulut ini.
Ketika pertanyaan bagaimana Pak Marie bisa bertahan lama dalam lingkungan orba dilontarkan, tokoh yang senantiasa bersemangat inipun menjawab sederhana : lingkungan memang menentukan, tetapi kitalah yang paling menentukan dalam hidup kita sendiri !?.
Ada angin kekaguman yang berdesir di dalam sini ketika mendengar jawaban seperti itu.
Lebih-lebih ketika berjalan meninggalkan pesawat, Pak Marie menentengkan tas seorang Ibu yang menggendong dua tas dan membawa seorang anak. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba melalui suara yang tidak bersuara ada yang membisikkan kalimat indah Kahlil Gibran dari dalam sini : our daily life is our true temple?. Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.
Setelah mendengar bisikan kalimat Gibran ini, tiba-tiba Indonesia yang telah lama gelap ini seperti muncul cahaya. Ya cahaya keteladanan. Sebab,tanpa keteladanan bangsa manapun berjalan dalam kegelapan. Demikian juga dengan kehidupan perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang berjalan dalam kegelapan. Enron, World Com dan sejumlah perusahaan yang memecahkan rekor skandal korporasi dunia, hanyalah sebagian contoh korporasi yang tersandung dalam kegelapan.
Angka-angka neraca, rugi laba, arus kas memang sebentuk peta yang berguna. Tanpa cahaya keteladanan yang memadai, angka-angka tadi berubah menjadi deretan kebohongan yang menakutkan. Betul kata Richard Morris dalam The Big Questions, ilmu pengetahuan hasil produksi pikiran manusia memang tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Lebih dari tidak bisa menjawab semua pertanyaan, mind - dari mana konstruksi logika itu dibangun ? memang bias jadi sahabat bisa juga jadi teman.
Meminjam argumen seorang guru, sebagai pembantu mind adalah sahabat yang baik. Karena ia juga yang membantu manusia berkomunikasi, merangkai analisa dan masih banyak lagi yang lain. Akan tetapi, sebagai penguasa mind sungguh sebuah penguasa yang buruk. Keserakahan, ketakutan, kebencian, pengkotakan adalah rangkaian hasil kerja mind.
Amerika sebagai contoh, adalah sebuah bangsa yang memiliki banyak sekali hal. Termasuk memiliki pemenang hadiah nobel paling banyak. Namun dalam perjalanan peradaban yang dikuasai mind,Amerika harus menuai malu melalui serangkaian skandal korporasi, kekeliruan serangan di Afghanistan dan Irak, sampai ketakutan akan teroris.
Sejarah seperti ini seperti sedang bertutur ke kita manusia, tempat mind memang hanya duduk di bawah sebagai pembantu. Tidak berdiri pongah di atas kepala sebagai penguasa. Sayangnya, melalui rangkaian pengetahuan dan pengalaman, banyak sekali manusia yang tidak bisa keluar dari jeratan tali-tali mind. Dan lebih dari sekadar terjerat, ada yang mengidentikkan dirinya dengan mind ? bahkan ada yang rela mati demi serangkaian hal yang keluar dari mind.
Di tengah-tengah kegagalan ilmu pengetahuan membawa manusia kewilayah-wilayah kejernihan, ada segelintir orang yang mulai melemparkan isu going beyond the mind. Kendaraannya memang bukan pengetahuan, bukan pengalaman melainkan meditasi.
Kendaraan terakhir memang tidak sepongah pengetahuan seperti ketika pertama kali ditemukan. Meditasi bukan substitusi pengetahuan. Bukan juga lawannya pengalaman. Dan ia bukanlah sesuatu yang bisa ditambahkan di kepala ini. Ia lebih menyerupai perjalanan sunyi ke dalam diri.
Kata-kata membantu teramat sedikit dalam perjalanan penuh keheningan ini. Sejumlah penulis Sufi ? sebagai contoh Hazrat Inayat Khan dalam The Heart of Sufism - bahkan berani berspekulasi, sebagian dari hasil perjalanan ke dalam ini hanya menjadi rahasia bersama dengan seorang kekasih yang senantiasa mengamati.
Sebagian sahabat dari lingkungan Zen bahkan menyebut kata-kata sebentuk awan yang menghalangi penglihatan. Semua ini seperti sedang bertutur tentang dunia understanding without languaging. Pemahaman tanpa melalui pembahasaan.
Dulu, ketika para pilosof seperti Plato dan Socrates demikian kagumnya dengan kedahsyatan pikiran, memang ada pemikiran untuk mendudukkan pilosof sebagai pemimpin negara dan pemerintahan. Sekarang, ketika banyak pojokan kehidupan menjadi demikian kering oleh logika dan kata-kata, sempat terpikir pertanyaan : maukah Kahlil Gibran memimpin perusahaan ?
Tentu saja tidak ada yang bisa menjawabnya. Disamping karena Kahlil Gibran sudah meninggal, ia mungkin akan ditertawakan orang karena di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia hanya bisa diam dan hening.
Dan Andapun boleh ikut tertawa, dan mengatakan tidak mungkin sebuah perusahaan dipimpin manusia yang hanya mengenal diam dan hening. Dan entah dibawa oleh siapa, tiba-tiba saja ada angin dari atas mind yang berbisik : "keheningan tidak memerlukan pembelaan kata-kata, dan tidak juga memerlukan pembelaan dari siapa-siapa. Ia hanya meminta waktu saja".
Be more concerned with your character than your reputation,
because your character is what you really are,
while your reputation is merely what others think you are
***********************************************
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback