Pages

Thursday, June 25, 2009

Fluoride Tinggi Bahayakan Anak

JAKARTA --Dampaknya tulang menjadi rapuh dan pertumbuhannya terhambat. Hasil pengujian terhadap sembilan produk pasta gigi anak oleh Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) PIRAC ditemukan delapan diantaranya menggunakan fluoride di atas 1.000 ppm. Hanya satu produk yang mengandung fluoride di bawah 500 ppm (part per million).

Padahal, dari penjelasan LKJ PIRAC, di beberapa negara-negara Uni Eropa,Australia, dan Selandia Baru, batas maksimal kandungan fluoride makin dikurangi dan kini berkisar 250-500 ppm.

''Hasil penelitian Departemen Kesehatan Belgia menyimpulkan penggunaan fluoride secara berlebihan dapat menyebabkan osteoporosis dan kerusakan sistem syaraf,'' kata Koordinator LKJ PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), As'ad Nugroho, di Jakarta, Selasa (29/10).

Ahli mikrobiologi Universitas Antwerpe, Prof Dirk Vanden Berghe, menyatakan bahwa sekitar 30-40 persen pasta gigi ditelan anak-anak pada saat mereka menyikat giginya atau melalui air ludah. Yang terjadi kemudian, anak-anak mengalami overdosis fluoride.

Apalagi produsen umumnya menambahkan aroma seperti rasa buah yang disukai anak-anak. Padahal semakin besar kandungan fluoride dalam pasta gigi anak,maka semakin besar pula risiko kesehatan yang akan dideritanya kelak dikemudian hari.

Seorang ahli gigi dari Maulana Azad Medical College, India, dr Pankaj Goel,mengatakan pasta gigi yang mengandung fluoride tidak cocok digunakan untuk anak di bawah usia empat tahun. Pasalnya, kata dia, dapat mengakibatkan fluorosis pada anak. ''Jika terjadi, anak dapat mengalami kerapuhan tulang dan terhambat pertumbuhannya,'' papar Goel.

Selanjutnya, kata As'ad, survey UNICEF di suatu daerah di Vietnam menunjukkan bahwa banyak anak-anak yang giginya coklat atau hitam karena penggunaan fluoride yang overdosis. Laporan WHO di tahun 2001 menunjukkan bahwa negara-negara yang menggunakan fluoridesi, seperti Amerika Serikat pada air minumnya, dibandingkan negara-negara yang tidak menggunakan fluoridesi, seperti Belgia, Denmark, Finlandia, Jerman, Swedia, ternyata penurunan kerusakan gigi sama.

Bahkan lebih baik di negara yang tidak menggunakan fluoridesi. Oleh karena itu pernyataan bahwa fluoridesi berhubungan erat dengan penurunan kerusakan gigi adalah pernyataan yang dangkal dan menyesatkan.

Malah, lanjutnya, FDA (Food Drugs Administration) telah memberikan ketentuan bahwa pasta harus mencantumkan kuantitas penggunaan pasta gigi saat sikat gigi karena bisa overdosis. Tetapi pasta gigi di Indonesia tidak ada yang mencantumkan hal itu.

Berdasarkan hal itulah, kata peneliti LKI PIRAC, Iman Firmansyah, pihaknya melakukan pengujian terhadap kandungan fluoride dan pengamatan kemasan dalam pasta gigi anak. Uji sampel hanya difokuskan pada pasta gigi anak karena banyak risiko bagi anak diantaranya banyak yang tertelan.

Ada dua tahapan yang dilakukan yaitu, pertama, pengujian dilakukan diLaboratorium Balai Besar Industri Kimia (BBIK) Deperindag. Kedua,menghitung kandungan fluoride dari label/kemasan. Uji kemasan sesuai dengan perhitungan yang dilakukan Universitas Toronto Canada.

Untuk melindungi kepentingan konsumen, LKJ meminta kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan agar menurunkan standar kandungan fluoride dalam pasta gigi khususnya untuk anak-anak dari 800-1500 ppm menjadi 250-500 ppm. Lainnya, segera menginstruksikan penarikan seluruh produk pasta gigi anak yang masih mengandung fluoride lebih dari 500 ppm dari pasaran.

Permintaan lainnya mewajibkan produsen agar menghilangkan rasa yang dapat meningkatkan keinginan anak-anak untuk menelan pasta gigi saat mereka menggosok gigi. Serta, mengganti kewajiban pelabelan kandungan fluoride dalam kemasan pasta gigi dari penggunakan persentase zat dengan jumlah (ppm). PIRAC juga meminta BPOM mewajibkan produsen pasta gigi anak memberikan peringatan dan keterangan dalam kemasannya. nri


Sumber : Kompas

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback