Pages

Friday, April 24, 2009

Hamba Setia

(nice story) (Trish Harrison)
Hari itu, banyak orang yang mencari pekerjaan sebagai budak di tuan tanah yang kaya raya. Aku adalah gadis petani yang miskin. Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Dan pada saat itu, sebuah berita tersebar di seluruh desa, bahwa ada seorang tuan tanah yg kaya raya yang terkenal tegas dan keras tetapi ia sangat adil dan bijaksana terhadap seluruh hambanya.

Ia selalu memperlakukan semua hambanya dengan sangat baik dan tidak memperlakukannya semena-mena. Pekerjaan di tempatnya memang sangat keras, tetapi ia selalu memelihara hamba-hambanya selama mereka semua bekerja dengan giat. Mereka yang malas akan dikeluarkan tanpa uang pesangon.

Aku datang ke rumah kediaman tuan tanah itu. Rumahnya sangat menakjubkan dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Sejauh mata memandang, di situ terhampar lahan yang luas, perkebunan anggur, dan peternakan. Aku sangat senang bercampur tegang ketika aku memasuki pekarangannya. Banyak yang bilang, kalau anak tuan tanah adalah seorang yang sangat tegas, pekerja keras tetapi baik hati, ramah dan pengertian.

Ia minta jika ada orang yg ingin bekerja kepadanya, adalah total pengabdian selama 7 tahun. Setelah itu, akan dilepaskan dengan diberi imbalan sebuah kediaman indah di mana kamu bisa memeliharanya sendiri untuk selamanya.

Aku memasuki gerbang, gemetaran. Aku dibawa ke anak tuan tanah itu. Ia menjelaskan dengan sangat spesifik mengenai apa yang ia inginkan dariku, tetapi sebagai imbalannya, ia akan memperlakukanku dengan sangat baik dan membayarku sesuai dengan upah yang adil.

Pekerjaanku mulai di lahan-lahannya. Kamu bisa bekerja sangat lama di lahannya, sepanjang hari penuh dengan perjuangan, tetapi setelah itu, ia akan memberikan makanan yang baik dan kediaman yang sangat nyaman dibandingkan dengan kediaman hamba tuan tanah yang lain.

Sekali-sekali,anak tuan tanah itu berjalan-jalan mengelilingi lahannya untuk memeriksa kami. Yang rajin bekerja akan mendapatkan imbalan, sedangkan yang malas, diperingati bahkan dikeluarkan apabila mereka tidak berubah.

Setelah 7 tahun, setiap hamba diundang pesta seperti suatu upacara kelulusan, dimana anak tuan tanah tersebut akan mengucapkan selamat dan memberikan uang pesangon sebesar $15000 untuk setiap orang yang benar-benar bekerja dengan giat. Kemudian mereka dibebaskan.

Tetapi ada juga yang diberi kesempatan untuk menjadi hamba seumur hidup, semacam dibeli oleh tuan tanah, tanpa pernah dibebaskan. Sebaliknya, tuan tanah akan memelihara mereka untuk seumur hidup. Hanya sedikit saja yang memikirkan pengabdian semacam ini.

Tujuh tahunku segera tiba, aku bertanya kepada hamba yang lain apakah mereka mempertimbangkan untuk menjadi hamba seumur hidup.

  • Mereka tertawa dan berkata, "Tidak akan!!! Hanya orang gila yang akan mempertimbangkan hal semacam itu!"

Pernah sekali-sekali aku melihat salah satu dari hamba seumur hidup tuan tanah itu datang. Mereka sangat berbeda. Mereka hanya muncul di lahan untuk membawa pesan dari tuan tanah, tetapi mereka tidak bergaul dengan kami.

Setiap kali anak tuan tanah akan datang ke lahan, jantungku berdebar-debar gembira! Ia adalah orang yang sangat baik hari, lembur, ramah, kuat, dan tegas. Ia adalah orang yang sangat berkuasa, sama seperti ayahnya. Ketika aku melihatnya, jantungku seperti berhenti berdetak.

Jantungku kemudian berdebar-debar dengan cepat dan cepat dan aku terpesona dengan setiap kata yang diucapkannya, meskipun ia jarang bicara langsung denganku. Sekali, ia berhenti dan bertanya namaku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak memiliki nama. Ia hanya tersenyum mendengar jawabanku,

Dan inilah saatnya untuk "kelulusan". Aku dibebaskan pada malam itu. Anak tuan tanah itu memanggilku dan mengucapkan selamat kepadaku atas pekerjaanku. Ia akan memberikan kepadaku uang pesangon ketika aku berkata dengan suara pelan,

  • "Aku tidak ingin pergi, aku ingin menjadi hamba seumur hidup, hamba setiamu."

Kerumunan para hamba terkejut!!! Ia menenangkan mereka dan minta aku untuk mengulang perkataanku.

  • Aku berkata, "Aku tidak ingin meninggalkanmu, tuan. Aku ingin tetap tinggal bersamamu untuk selamanya. Aku ingin menjadi hamba setiamu!"

Ia bertanya apakah aku memiliki pertimbangan mengapa aku berani memutuskan hal itu. Aku katakan kepadanya bahwa aku punya alasan, tetapi ia memintaku untuk memikirkannya kembali malam itu dan memberitahukannya esok hari.

  • Ketika pagi datang, ia mendekatiku lagi dan bertanya, "Apakah kau telah membuat keputusan?"
  • Aku katakan, "Ya, tuanku. Aku ingin menjadi hamba setiamu." Ia tersenyum dan membawaku ke suatu tempat, kemudian ia memintaku untuk berbaring.

Sebilah kayu diletakkan di belakang telinga kiriku. Kemudian salah satu dari hamba setianya mengambil paku dan memakunya ke daun telingaku untuk melubanginya. Ia memasangkan sebuah giwang emas di telinga kiriku. Ini adalah simbol dari perjanjian kami. Sakit di telingaku sangat hebat, tetapi kegembiraan di dalam hatiku jauh lebih hebat dari sakitku itu.

Ketika aku mulai untuk pergi,anak tuan tanah memanggilku untuk mendekat kepadanya. Ia membuatku lega dan memintaku untuk mengemas barangku.

  • Kataku kepadanya, "Tetapi tuan, kemana aku akan pergi?" Ia katakan kepadaku bahwa aku tidak akan tinggal di perkampungan hamba lagi, tetapi aku akan tinggal di rumahnya. Aku adalah miliknya sekarang dan ia akan selalu memperhatikan aku, tidak peduli apa yang terjadi! Bahkan ia memberikan aku nama!

Kediamannya lebih menakjubkan dari yang kubayangkan. Aku bahkan memiliki kamarku sendiri! Aku memang masih bekerja keras untuk tuan tanah dan anaknya, tetapi keadaan di sana sangat berbeda. Aku tinggal di rumahnya. Aku mulai mengetahui kehidupannya. Aku melihat bagaimana ia hidup. Sekali-sekali ia datang ke kamarku hanya untuk berbincang denganku. Aku memelihara semua keperluannya. Aku mulai mengetahui apa yang ia suka dan tidak suka.

Beberapa tahun berlalu, aku menjadi tua dan rapuh. Suatu hari, ketika aku sedang membawa pesan untuknya di lahan, aku berasa lemah. Aku harus duduk sebentar. Tetapi, anak tuan tanah itu segera berlari memeriksa keadaanku. Ia melihatku dan menggendongku di punggungnya, membawaku ke kediaman ayahnya. Ia membaringkan aku di ranjangku dan menungguiku.

Ia tidak meninggalkanku sejengkal pun. Aku bertanya kepadanya mengapa ia melakukan hal ini dan ia menjawab,

  • "Aku telah berjanji kepadamu beberapa tahun yang lalu bahwa jika kau menjadi hamba setiaku,aku akan memeliharamu seumur hidupmu, bahkan ketika kau sudah tua dan rapuh. Inilah giliranku untuk menunggumu!"

Aku tidak pernah menyesal hari itu ketika aku membuat keputusan untuk menjadi hamba setianya, Aku tahu bahwa apapun yang terjadi, ia akan selalu hadir untukku. Dan giwang emas ini selalu mengingatkanku akan hubungan kami.

Aku selalu terbayang-bayang apa yang terjadi dengan hamba yang lain, berapa lamakah mereka bisa bertahan dengan uang pesangon itu? Dan apa yang terjadi jika mereka tua? Siapa yang akan memelihara mereka ketika mereka tidak lagi mampu untuk menjaga diri mereka sendiri?

______________________________________________________________________________
You can at any time decide to alter the course of your life.
No one can take that away from you.
You can do what you want to do. You can be who you want to be.

Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback