(thoughtful story)
Di SMU, di kelas menulis kreatif yang kuajar, aku berusaha keras memberikan tugas yang dirancang untuk membuat murid-muridku memikirkan detail hidup. Dalam menggambarkan detail-detail ini, ternyata mereka dapat menghasilkan tulisan terbaik mereka.
Mereka memanfaatkan dengan baik setiap indra dan juga kreativitas mereka untuk mendapatkan intisari segala hal. jika mereka dan aku mujur, beginilah caranya mereka bisa menemukan suara batin terbaik mereka sendiri untuk menulis kreatif. Bagi beberapa muridku, suara ini mengungkapkan perasaan tertentu yang sangat memerlukan penyaluran.
Baru-baru ini aku meminta murid-murid menggambarkan suatu benda dan kepentingannya yang khas bagi mereka pribadi. Mereka diberi waktu seminggu untuk menyelesaikan tugas ini. Tapi, salah seorang muridku,Kerry Steward, menghampiriku keesokan harinya dan memberitahu bahwa ia tak akan mengerjakan tugas itu.
Aku cukup mengenal Kerry. Ia sudah mengikuti kelasku selama dua tahun,di kelas satu dan dua SMU. Ia adalah penulis yang baik dan sangat mau bekerja sama. jadi, pernyataannya ini mengejutkanku. Aku memandangnya sejenak sementara ia berdiri di samping mejaku. Sikapnya yang menentang sangat di luar kebiasaan, jadi aku memintanya menemuiku seusai sekolah untuk membahas hal ini lebih jauh.
Saat aku bertemu dengannya di akhir hari, ia tak lagi bersikap menentang, tapi ia tetap mengatakan ia tak mau mengerjakan tugas itu. La bertanya apakah ia boleh meminta tugas lain. Sesuatu dalam suaranya membuatku menanyakan apa masalahnya.
"Apakah kau sulit memikirkan benda tertentu?" tanyaku.
la diam sejenak. Lalu berkata, "Tidak. Tadi malam, waktu aku menceritakan tugas ini kepada ibuku, ia berkata punya gagasan tentang sesuatu yang istimewa yang dapat kutulis. Ia mengajakku ke kamarnya lalu membuka kotak perhiasan besar miliknya.
Kusangka ia akan menunjukkan padaku anting-anting atau sesuatu yang dulu milik ibunya. Aku sudah memikirkan banyak hal asyik yang pernah diceritakannya kepadaku tentang nenekku untuk dituliskan. Itu tentu esai yang mudah ditulis."
Ia berhenti sejenak. Aku dapat melihat bahwa ia kesulitan untuk mengungkapkan pikiran berikutnya.
"Tapi ia tidak memberiku perhiasan milik nenek. la mengambil cincin kawin yang diberikan ayahku kepadanya dan menyerahkannya kepadaku.'
Aku terdiam sejenak. Aku ingat pertemuan orangtua murid bahwa orangtua Kerry memiliki nama keluarga yang berbeda. Tapi, ayah tiri Kerry selalu memperhatikan kemajuan Kerry dan bangga akan prestasinya, sama seperti ibu Kerry. jadi, aku hanya berasumsi bahwa meskipun Kerry hanya memiliki ayah tiri, keluarga mereka itu bahagia. Dan Kerry selalu tampak dapat menyesuaikan diri sehingga aku tak punya alasan untuk berpikiran lain.
Tapi, remaja di hadapanku ini sedang merana.
- "Kenapa ia mau menyimpan cincin itu? Kenapa ia ingin aku memilikinya?" Kerry mulai menangis.
"Mereka bercerai saat aku masih bayi. Aku bahkan tak tahu bagaimana wajah ayahku. Ia tak pernah mau menemuiku atau mendengar kabarku. Aku benci padanya! Buat apa aku memiliki cincin kawin konyol itu?"
Amarah Kerry sangat meledak-ledak. Aku membiarkannya menangis sejenak.
Lalu, aku bertanya dengan lembut, "Lalu, apa yang kaulakukan?"
"Aku melemparkan cincin itu sekuat tenaga ke dinding. Dindingnya sampai tergores dan cincinnya jatuh di belakang lemari jati. Lalu, aku berlari ke kamarku dan membanting pintu." Kerry mengambil tisu dari mejaku dan membersihkan hidungnya. "Ibu tidak memarahiku. la pun tidak menyuruhku menggeser lemari dan mengambil cincin itu."
Wanita yang bijaksana, pikirku.
- "Kau tak usah menulis tentang cincin itu, kataku. "Kau tahu, kau boleh memilih benda apa saja, kan?" Bahkan saat aku mengatakannya, aku tahu bahwa sesungguhnya Kerry ingin setidaknya bercerita, atau setidak-tidaknya menuliskan, tentang cincin itu. Aku tahu bahwa sernua amarah dan rasa frustrasi anak yang diabaikan itu telah dilambangkan oleh cincin itu. Tapi, aku guru Bahasa Inggris, bukan psikolog dan jelas bukan ibu Kerry. Bukanlah tempatku untuk memaksanya mengungkapkan perasaan yang menyakitkan. Aku berkata padanya bahwa ia boleh tidak mengerjakan tugas itu.
Malam itu, aku menelepon ibu Kerry. Kupikir ia sebaiknya tahu tentang percakapan antara aku dan Kerry. Ia berterima kasih karena aku telah menceritakannya.
- Lalu, ia berkata, "Aku tak menyadari betapa marahnya ia-tak hanya kepada ayahnya, tapi juga kepadaku. Tapi, aku menyimpan cincin itu untuk mengingatkan aku tentang saat-saat indah dalam pernikahanku-saat-saat indah itu ada." Ia berhenti. Lalu, ia berkata lirih, "Andai aku tak menikahinya, tentu aku tak memiliki Kerry sekarang."
"Katakanlah itu kepadanya," kataku.
Keesokan harinya, aku menunggu dengan cemas dimulainya kelas Kerry. Malamnya aku tak bisa tidur. Perasaan Kerry mudah dipahami. Tapi,kuharap cinta yang begitu jelas antara ibu dan anak dan keluarga aman yang mereka miliki sekarang dapat membantu Kerry menangani perasaan-perasaan itu. Kerry tersenyum kepadaku saat ia masuk.
- Katanya, "Aku agak pegal hari ini. Aku menggeser -geser perabot berat semalam."
Aku balas tersenyum. Untuk sejenak aku tergoda untuk berkomentar tentang angkat besi, tapi kemudian Kerry maju dan meletakkan karangan di mejaku.
- "Bacanya nanti saja," bisiknya.
Karangannya tentang cincin kawin itu pendek saja. Kerry menulis: "Benda hanyalah benda tak memiliki kekuatan untuk menyakiti atau menyembuhkan. Hanya oranglah yang dapat melakukannya. Dan kita sernua dapat memilih untuk disakiti atau disembuhkan oleh orang- orang yang mencintai kita." Hanya itu saja. Dan itu adalah segalanya.
Marsha Arons
(chicken soup for the teenage soul II)
_______________________________________________
If we want a love message to be heard, it has to be sent out.
To keep a lamp burning, we have to keep putting oil in it.
***********************************************
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback