Pages

Monday, April 6, 2009

Aku Tak Mau Bayi Baru

(nice story)
(Rosemary Laurey - Chicken Soup for the Mother's Soul)

"Aku tak mau bayi baru." Ini sambutan anak sulungku, Brian, waktu aku memberitahu padanya bahwa aku dan ayahnya akan memiliki anak ketiga.

Kami telah melewati ronde pertama persaingan antar saudara saat adiknya, Damian,dilahirkan.

Tapi sekarang, Brian yang berusia tiga tahun ini menyatakan pendapatnya tentang bayi baru ini dan logika, alasan, maupun bujukan tak dapat mengubah pendapatnya.

Dengan bingung, aku bertanya, "Mengapa kamu tak mau bayi baru?"
Dengan mata lebar dan berkaca-kaca, ia memandangku lurus dan berkata,

"Karena aku tak ingin Damian diganti."

(inspirational story) Keberanian Bertindak
(Bill Sanders - Chicken Soup for the Teenage Soul)

Beberapa tahun yang lalu, aku menyaksikan keberanian yang membuat bulu kudukku berdiri.
Pada suatu acara pertemuan sekolah, aku berbicara tentang mengejek orang, dan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk membela orang, bukan merendahkannya.
Setelah itu, masih ada cukup waktu bagi setiap siswa untuk berdiri dan berbicara di depan mikrofon. Para siswa dapat berterima kasih kepada seseorang yang telah menolong mereka, dan sebagian bersedia maju dan melakukannya. Seorang siswa perempuan berterima kasih pada beberapa temannya yang membantunya mengatasi masalah keluarga. Seorang siswa lelaki berbicara tentang beberapa orang yang mendukungnya pada saat-saat sulit.

Lalu, seorang siswa perempuan kelas 3 SMU berdiri. Ia maju ke depan mikrofon dan menunjuk ke daerah anak kelas satu dan menantang seluruh sekolahnya. "Mari kita berhenti menggoda anak itu. Memang, ia berbeda dari kita, tapi kita disini bersama-sama. Di dalam, ia tidak berbeda dari kita dan membutuhkan kita untuk mau menerimanya, mencintainya, berbaik hati padanya, dan menyetujui pendapatnya. Ia memerlukan teman. Mengapa kita terus mempermainkannya dan merendahkannya?
Saya menantang seluruh sekolah ini untuk berhenti berbuat begitu dan memberinya kesempatan!"

Pada saat ia berbicara, aku sedang berdiri membelakangi bagian tempat anak itu duduk, dan aku tak tahu siapa orangnya. Tapi, rupanya anak- anak lain tahu. Aku nyaris tak berani menengok ke bagian itu, memikirkan bahwa anak itu pasti merah mukanya, ingin merangkak ke bawah kursinya dan menyembunyikan diri dari dunia. Tapi, saat aku menoleh ke belakang, aku melihat seorang anak laki-laki tersenyum lebar. Ia mengacungkan tinjunya ke atas. Bahasa tubuhnya berkata, "Terima kasih, terima kasih. Beri tahu mereka. Kamu menyelamatkan hidupku hari ini!"

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback