Pages

Monday, November 30, 2009

Bunga Bakung

(motivation - strory) Oleh : N.N

Seorang anak sambil menangis kembali ke rumah. Ia menangis semakin keras ketika
bertemu ibunya. Ia merasa segala usahanya tidak dihiraukan baik oleh guru maupun
teman-teman kelasnya. Ia telah berusaha, namun seakan-akan usahanya tidak layak
dihargai. Ia menjadi benci akan teman-temannya. Ia menjengkeli gurunya.

Setelah mendengar keluhan anaknya, sang ibu bertanya: 'Pernahkan engkau
memperhatikan kembang bakung milik tetangga di lorong jalan ke rumah kita?'
Anak itu menggelengkan kepala.

'Bakung itu berkembang setiap pagi, dan di akhir hari kembang bakung tersebut
akan layu dan mati. Namun sebelum mati, ia telah memberikan yang terbaik, ia
telah memancarkan keindahannya.' Anak itu berhenti menangis dan mendengarkan
dengan penuh hati.

'Setiap hari ia memberikan keindahan yang sama. Setiap hari ia memberikan
keharuman yang sama walau kadang tak dihiraukan orang. Keindahannya tak pernah
berkurang karena engkau tak pernah memperhatikannya.

Ia tidak pernah bersedih bila tak diperhatikan orang, karena ia tahu bahwa dalam hidupnya ia cuman punya satu misi yakni memberikan keindahan.' Anak itu memahami maksud ibunya.

****************************************************************

Indo community

Bukan bukan karena saya penderita anorexia

ada ceritera bagus yg saya dapat dr milis sebelah, semoga bisa diambil sbg pelajaran.
-------------------------------------------------
Ahad, 18 Muharom – Ada hal 'ajaib' yang menyebabkan saya langsung menyalakan komputer begitu sampai rumah. Adrenalin saya terpacu cepat untuk segera 'memuntahkan' kejadian malam ini melalui ketukan jari-jari saya diatas tuts keyboard komputer.

Hari ini saya menerima undangan makan malam dari seorang kawan untuk merayakan ulang tahunnya. Tadi, sekitar ½ 7 malam, saya dijemput oleh kawan yang sedang berulang tahun tersebut bersama 4 orang kawan lainnya.

Rencana telah dibuat, kawan saya telah memesan sebuah restoran di kawasan Senayan,setelah selesai makan, kami akan mampir ke Roti Bakar Eddy, menemui beberapa kawan lainnya, baru di lanjutkan dengan ber-karaoke hingga lelah di daerah Kemang, untuk yang terakhir ini saya telah memberitahu dari awal bahwa saya tidak akan ikut!

Untuk merangsang rasa lapar yang lebih, begitu tiba di kawasan Senayan,kami tidak langsung menuju Hilton, kami windows-shopping dulu di Plaza Senayan –hal yang jamak dilakukan ketika perempuan berkumpul–. Saya sendiri adalah orang yang cukup malas untuk sekedar 'liat-liat', bagi saya, Mal berguna untuk belanja dan makan.

Hanya buang waktu, energi dan biaya serta bikin kepengen kalau ke Mal dihabiskan untuk sekedar 'liat-liat' dan hanging-out. Tapi rasanya itu hanya apologi, karena mungkin perasaan tersebut terbentuk mengingat kondisi keuangan saya yang tidak memungkinkan,beda halnya dengan beberapa kawan saya yang terhitung high-class, mungkin akan ada perasaan yang berbeda ketika saya berada dalam posisi high-class seperti beberapa kawan saya yang lain.

Tapi, mari kita tinggalkan soal 'liat-liat', hanging-out dan high-class tersebut, mari kembali ke makan malam, yang memang menjadi inti dari cerita saya ini. Setelah masuk counter satu ke counter lain selama hampir 1 jam,dan rasa lapar mulai menjelajah di perut kami, akhirnya kami meninggalkan Plaza Senayan, kemudian menuju ke Hilton.

Hilton, hotel mewah bintang lima di kawasan Senayan, yang biasa digunakan oleh Event Organizer sebagai akomodasi untuk artis luar negeri yang mereka undang ke Indonesia, penginapan yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia untuk menjamu delegasi dari negara lain, atau tempat kaum borjuis yang memang ingin menghabiskan waktunya dengan berbagai alasan.

Hilton, hotel yang beberapa kali saya datangi, tapi tidak pernah terlintas di pikiran untuk makan di restoran Hilton, karena harganya yang FANTASTIS, apalagi untuk menginap (for what gitu lhoh… Saya kan tinggal di Jakarta!). Tapi malam ini, saya yang tergolong proletar, menghabiskan makan malam di Hilton!

Malam ini akhirnya saya dapat mempraktikkan ilmu table manner yang pernah saya ikuti. Makanan ala eropa yang memiliki tahapan penyajian dari appetizer main menu, hingga dessert ini membuat saya sedikit berpikir:Sesusah inikah makan bagi kaum borjuis?

Banyak aturan baku yang berlaku, padahal hanya untuk sekedar makan! Thanks God, malam ini, saya makan bersama kawan-kawan sendiri, jadi batasan baku yang dibuat sedemikian rupa dalam nama table manner itu, praktis tidak berlaku.

Makan malam 'seru' yang disertai obrolan seru –girls talk!– tersebut selesai kurang lebih pukul ½ 10 malam, tiba saatnya membayar. Walaupun saya di traktir, entah kenapa otak ekonomis saya selalu berjalan untuk menghitung-hitung berapa banyak uang yang kawan saya akan keluarkan.

Karena kami ber-enam, dengan menu komplit khas Eropa dan minimnya pengetahuan harga makanan di tempat seperti itu, saya perkirakan, kawan saya akan mengeluarkan uang sedikitnya 600 ribu.

And when the bill came…. GILA!!!! Jauh di luar perhitungan saya, angka yang tertulis di tagihan tersebut sebesar…… Coba, kalau Anda membaca tulisan ini dan rajin menghitung, tebak berapa biaya yang dibayar kawan saya itu! Bisa menebaknya??? 600? 700? 800? 900? 1 juta kah???

Ayo anak-anak, kumpulkan! Tapi sudahlah, agar Anda sekalian tidak usah pusing menghitung biaya makan yang tidak Anda makan itu, maka dengan sukarela saya memberitahu biaya makan malam ini. Dua juta enam ratus tiga puluh lima ribu rupiah!!!! SINTING!!!! Sekedar untuk makan!

Dengan sedikit malu, saya mencuri lihat ke kawan saya yang akan membayarnya. Tidak ada perubahan di raut mukanya. Dengan tenangnya dia mengambil kartu kredit yang ada di dompetnya kemudian memberikan kepada sipelayan.

Tiba-tiba kepala saya sedikit pening, dan PLAK!!! Saya memukul sendiri kening saya yang malam ini ditutupi kerudung berwarna pastel. Dalam hitungan detik, saya bergegas ke toilet, saya sempat melihat mimik heran dari kawan-kawan saya, namun saya tidak terlalu mempedulikan, yang saya pikirkan hanya menuju ke toilet.

Dan…. Huek, huek, huek….. bak seorang penderita anorexia, saya memuntahkan makanan yang malam ini saya santap.Bukan, bukan karena saya penderita anorexia, pun karena bukan makanan yang telah sampai ke perut saya ini tidak enak!

Namun, saat kawan saya memberikan kartu kreditnya, entah kenapa, perut saya menjadi mual, bersamaan dengan otak kanan saya yang secara otomatis membuka kejadian beberapa hari lalu di Stasiun Manggarai. Kejadian –yang pada saat itu– begitu menyentuh hati dan pikiran saya.

Siang itu, setelah selesai memberikan les privat di kawasan bukit duri, saya ke Stasiun Manggarai untuk menuju ke kampus saya yang terletak di daerah Depok. Setelah saya membeli tiket, saya menunggu di peron tujuan Bogor sambil membaca Supernova terbaru dari Dee.

Belum begitu lama saya menekuri buku –yang bagi saya ternyata tidak terlalu menarik– itu, saya terganggu oleh suara kumpulan orang yang bergerombol di sisi lain stasiun, entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, saya pun turut ke kumpulan orang-orang tersebut.

Innalillah….. ada dua orang anak kecil yang terkapar lemas dengan mulut berbusa. Di samping mereka, ada seorang perempuan setengah baya, yang ternyata adalah ibu dari kedua anak tersebut. Ibu itu hanya menangis berteriak "Astaghfirulloh, Alloh.. Alloh..., anak ku, anak ku..." berulang-ulang. Beberapa orang berusaha menenangkan ibu tersebut, sedang yang lainnya sibuk memeriksa kondisi dua anaknya.

Saya kembali ke tempat duduk saya dengan kumpulan pertanyaan dan berbagai kemungkinan jawaban. Belum sempat saya menyelesaikan pertanyaan dan jawaban dari hati ini, seorang ibu penjual pecel & mie goreng di samping tempat duduk saya berkata kepada orang-orang disekitarnya, "Gue kirain tuh anak bo'ongan kagak punya duit, eh, tau-taunya tuh anak dua malah minum baygon.


Tau gitu, gue kasih gratis deh nih mie, kagak usah bayar! Gue jadi ngerasa dosa ini mah!". Lalu ada tukang buah yang menimpali, "Makanya, jangan pelit-pelit luh! Pan kita sama-sama orang susah. Tau nggak luh? Katanya tuh bocah dua bunuh diri minum baygon saking lapernya, mending mati kali daripada laper!". "

Lah, mana gue tau klo tuh anak nggak bo'ong. Nah elu tau ndiri disini banyak yang ngaku-ngaku belon makan, klo tiap orang yang ngaku laper gue kasih gratisan, bangkrut dong gue!", bela si ibu. Dengan seksama saya ikuti percakapan si tukang buah dan ibu penjual mie yang memakai bahasa betawi pinggiran tersebut.

Ternyata, dua orang anak yang mencoba bunuh diri itu sebelumnya datang ke ibu penjual mie. Mereka hanya punya uang 300 rupiah, dan mengaku bahwa dari kemarin sore mereka belum makan nasi. Mereka meminta kepada si ibu penjual mie, agar dapat di berikan nasi dan mie dengan uang 300 rupiah. Namun,penjual mie tersebut bilang, mie dan nasi itu harganya dua ribu, mereka disuruh kembali ke dia, jika punya uang dua ribu rupiah.

Dua ribu rupiah, separuh harga dari ongkos Tanjung Priok – Depok. Dua ribu rupiah, separuh harga untuk setiap jam nya dari rental internet yang hampir setiap hari dalam waktu berjam-jam saya lakukan. Dua ribu rupiah, harga 1 botol air mineral, yang dalam sehari bisa saya konsumsi minimal 2 botol.


Dua ribu rupiah, harga 2 buah batere untuk Diskman yang biasa menemani aktivitas saya. Dua ribu rupiah, 1/12 dari harga voucher 20 ribu yang biasa saya isi ulang 2 minggu sekali. Dua ribu rupiah, 1/70 dari harga sepatu yang baru saya beli.

Dua ribu rupiah, 1/200 harga makanan untuk satu porsinya dari makanan yang baru saja mengisi perut saya. Dua ribu rupiah, 1/1317 yang kawan saya bayarkan dari makanan yang baru saja kami konsumsi ber-enam! Dua ribu rupiah… Yang menyebabkan dua orang anak memilih untuk meminum obat serangga, daripada menahan rasa lapar! Huek, huek, huek!!!

Saya kembali ke meja tempat kami makan. Dengan alasan tidak enak badan, saya minta ijin untuk pulang duluan. Jelas kawan-kawan saya heran, karena dari berangkat hingga makan tadi, saya dalam kondisi yang sangat baik. Tapi saya tidak terlalu memperdulikan keheranan mereka, yang saya pikirkan hanya cepat-cepat keluar dari tempat yang membuat saya semakin mual.

Mengetahui bahwa kawan saya telah memiliki rencana dari Hilton ini, maka saya menolak untuk diantar, dengan dalih saya akan menggunakan taksi. Tanpa menunggu lama saya cepat-cepat pamit dan keluar dari tempat itu. Di pintu utama,saya menunggu taksi yang telah di panggil oleh office boy, tapi begitu taksi tiba, saya mengurungkan niat untuk menggunakan taksi tersebut, saya memilih untuk berjalan kaki ke tempat menunggu bis.

Ketika, saya tiba di rumah, saya langsung menuju ke toilet (lagi!), dan huek-huek-huek…. Saya mencoba memuntahkan makanan, yang kalau-kalau masih tersisa di perut ini.

Masya Alloh..… Saya merasa begitu hina, karena sering menganggap remeh uang dua ribu rupih. Saya merasa begitu bodoh, karena terlalu gampang menghamburkan uang dua ribu rupiah.

Saya merasa begitu dungu, karena hampir saja melakukan kebodohan kembali dengan menggunakan taksi yang argonya mungkin hampir 10 kali lipat dari dua ribu rupiah. Saya merasa sangat berdosa, karena telah mengkonsumsi makanan 200 kali lipat dari dua ribu rupiah. Saya merasa….. Aaaaahhh… Sayangnya saya hanya merasa……


indo community

Orang Beragama atau Orang Baik?

(thoughtful)
Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan,sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ''Masuklah ke dalam pondok,'' katanya kepada wanita itu,''Peluklah ia dan katakan 'Apa yang akan kita lakukan sekarang'?''

Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ''Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,'' serunya. ''Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.''

Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen.

Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka.

Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan.

Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya.

Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London.

Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya,sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik,beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya,saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ''Ambil saja kembalinya.''

Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ''beragama'' seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.



Republika

BUAT APA BERSYUKUR, TERIMA KASIH??!

  • "Aku kan tidak usah berterima kasih pada siapapun juga untuk segala yang kumiliki," begitulah si kaya namun pelit itu mengomel sendiri. "Semuanya lewat kerja banting tulangku sendiri -- jerih payah keringatku sampai2 dikening. Bersyukur ?!"
  • "Tapi siapa yang memberimu keringat itu?" tanya tetangganya balik.
Si kaya tua kikir itu diam tertunduk. Kini baru ia sadar ia tak bisa mengabaikan fakta bahwa Allah jugalah yang memberinya keringat, yang memberinya kekuatan untuk kerja keras dan mendapatkan harta materi.

Memang, keberadaan kita atau apa yang kita miliki hanyalah berkat cinta kasih kebaikan Allah. Oleh karena itu, adalah baik sekali bila kita semua hening sejenak, setidaknya sekali dalam setahun, dan berkata "Terima kasih, Allah." Sebenarnya, setiap hari semestinya dan wajar jadi waktu untuk bersyukur. Kenapa? Ya karena segala berkat spirituil maupun materiil [yang kita terima se-hari2].

Ibu Green berterimakasih pada Tom, anak muda pembantu ditoko meracang, sebab ia yang mengantarkan roti. "Ah, janganlah terima kasihpadaku. Bersyukurlah pada Pak Jones," senyum Tom. " Dia yang memberi roti itu untuk kuantar."

Tapi waktu ia mengucap terima kasih pada pemeracang, ia bilang,"Lho, aku dapat roti itu dari Pak Brown, dari bakeri dan toko roti Brown. Dia yang membuat, sepantasnya dia yang harus menerima terima kasih." Jadi pergilah Ibu Green untuk bersyukur pada tukang roti itu.

Tapi ia memberitahu bahwa penggiling Milliganlah yang musti diberi terima kasih. "Wah, tanpa tepungnya tukang giling tepung Milligan, mana mungkin aku bisa membuat roti?" jawab pak Brown.

Penggiling tepung itu sebaliknya nyuruh dia mengucap syukur pada petani Foster sebab ia membuat tepung dari gandumnya Foster. Tapi lalu petani Foster juga protes, dia berseru, "Jangan, jangan terima kasih pada saya; pada Allah itu lho," terus, lanjutnya....., "Coba kalau saya tak dikasih tanah pertanian, sinar matahari dan hujan, gimana aku bisa menumbuhkan gandum?"

Benar, bahkan sepotong roti yang biasa saja bisa kita telusuri kembali kehadirat Allah.

DOA
Betapa indahnya mengetahui Engkau tetap memperhatikanku,Tuhan. Terima kasih engkau menjagaku siang dan malam. Disaat kutaruh kepalaku dibantal, Engkau ada disana. Disaat aku bangun pagi hari, aku boleh menyapaMu dan berterima kasih untuk hari yang baru. Betapa kumuliakanMu untuk kasih cinta setiaMu. Engkau tak pernah capai bosan menjagaku. HadiratMu sudah begitu melewati batas. Saat nuntun lewat hari2ku, Kau mengajarku untuk mendengar agar aku tidak salah jalan.

Tuhan, di-saat2 kelemahanku Engkau menjadi kekuatanku. Dalam perjalanan hidupku ini Engkaulah Penuntunku. Terima kasih aku boleh berlindung dalam dirimu -- yang memberi kebutuhan2ku, memberiku makanan jasmani maupun rohani. Aku tak akan takut menatap esok hari,sebab Engkau membentangkan semua hari2 didepanku. Aku hidup dari hari kehari percaya padaMu.

Karena itu, pada "Hari Sjukuran" istimewa ini, aku naikkan suaraku untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mensyukuriMu, Penyelamat dan Allahku!



Indo community

The Lost Boy (1)

(true story)


1. KABUR

Musim dingin 1970, Daly City, California -- Aku sendirian. Dalam gelap, aku kelaparan dan menggigil kedinginan. Aku duduk di atas tanganku, di bawah tangga, di basement. Kepalaku lunglai ke belakang. Sudah berjam-jam sebelumnya tanganku tak bisa merasakan apa-apa. Otot-otot di bagian leher dan pundakku nyeri dan pegal. Tapi aku sudah terbiasa dengan semua itu, dan aku juga sudah tahu cara untuk tidak merasakannya.

Aku tawanan Ibu.
Umurku sembilan tahun. Hidup tidak menyenangkan seperti itu sudah kujalani selama beberapa tahun. Setiap hari. Bandun, beranjak dari dipan berkain tua,dari basement aku naik ke ruang atas untuk menyelesaikan semua tugasku, yang harus kukerjakan di pagi hari.

Kalau nasib sedang baik, aku mendapat sarapan sereal yang tersisa di mangkuk saudara-saudara lelakiku. Aku berlari kesekolah, mencuri makanan, pulang ke "Rumah Itu" dan dipaksa memuntahkan isi perutku di WC untuk membuktikan bahwa aku tidak melakukan kejahatan mencuri makanan apa pun.

Kemudian aku dipukuli atau dipaksa melakukan salah satu "permainan"-nya,kemudian menyelesaikan segala tugas yang harus kukerjakan pada siang hari,kemudian duduk di bawah tangga sampai dipanggil ke atas untuk menyelesaikan segala tugas yang harus kukerjakan pada malam hari. Kemudian, kalau aku bisa menyelesaikan semua tugasku tepat waktu, dan kalau aku tidak melakukan "kesalahan" apa pun, barulah aku diberi sisa-sisa makanan.

Bagiku, sebuah hari baru berakhir hanya saat Ibu mengizinkan aku tidur didipan berkain tua, tempat aku meringkukkan badan sebagai satu-satunya cara menjaga agar tubuhku tetap hangat. Tidur adalah satu-satunya kenikmatan dalam hidupku. Tidur adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk melarikan diri dari hidup keseharianku. Aku senang bermimpi.

Keadaan jauh lebih buruk pada setiap akhir pekan. Tidak ada kegiatan sekolah berarti tidak ada makanan, juga berarti aku lebih lama berada di "Rumah Itu". Pada saat-saat seperti itu, satu-satunya hiburan bagiku adalah berkhayal seolah-olah aku tidak berada di "Rumah Itu"--di tempat lain dimana pun. Sudah bertahun-tahun aku dianggap bukan anggota "Keluarga Itu".


Seingatku, tiba-tiba saja aku jadi anak yang selalu menimbulkan keonaran sehingga "sudah sepantasnya" dihukum. Pada mulanya aku mengira aku ini memang anak nakal. Tapi kemudian kupikir Ibu-lah yang "sakit" sebab sikapnya berubah jadi aneh hanya kalau di rumah cuma ada dia dan aku.

Bagaimanapun,aku tahu bahwa ada hubungan yang aneh antara Ibu dan aku. Selain itu, aku juga menyadari bahwa akulah yang menjadi satu-satunya sasaran Ibu untuk melampiaskan kemarahannya yang tidak jelas dan memuaskan kecenderungannya yang menyimpang.

Aku tak punya rumah. Aku bukan anggota keluarga mana pun. Aku memang anak yang tidak pernah layak merasakan kasih sayang, perhatian. Bahkan aku tidak pantas dianggap manusia--aku cuma "It", sesuatu.

Aku merasa sendirian.
Di ruangan atas, cekcok mulai. Aku tahu, setelah jam empat sore orangtuaku sudah mabuk. Cekcok makin seru. Pertama-tama, mereka saling meneriakkan nama, tapi lama-kelamaan mereka saling mengumpat. Aku hampir selalu bisa memperkirakan kapan aku jadi sasaran cekcok mereka. Pokok cekcok mereka selalu beralih ke aku. Suara Ibu membuat perutku mual.

"Apa kau bilang?" Ibu berteriak ke ayahku, Stephen. "Kau kira aku memperlakukan 'Anak Itu' dengan buruk? Begitu?" Suara Ibu tiba-tiba berubah dingin. Aku bisa membayangkan Ibu sedang menuding-nudingkan jarinya ke wajah Ayah. "Kau... dengar... aku. Kau... tidak tahu bagaimana kelakuan si 'It' itu. Kalau menurutmu aku memperlakukan 'It' dengan buruk... silakan 'It' mencari tempat tinggal lain."

Bisa kubayangkan ayahku--yang bagaimanapun juga selama bertahun-tahun ini masih berusaha melindungiku--memutar-mutar minuman di gelasnya sehingga gelas dan es di dalamnya beradu dan menimbulkan bunyi berdenting. "Tenang dulu," katanya. "Maksudku... bagaimana ya... tak seorang anak pun boleh diperlakukan seperti itu. Astaga, Roerva, kau memperlakukan... anjing saja masih lebih baik daripada kau memperlakukan Anak Itu."

Cekcok mereka mencapai puncaknya. Ibu membanting gelas minumannya ke bak pencuci piring. Dan itu berarti Ayah sudah "keterlaluan". Tak seorang pun berhak mengatakan apa yang harus dilakukan Ibu. Dan aku tahu, akulah yang harus menjadi korban kemarahan Ibu. Aku tinggal menunggu waktunya Ibu memanggilku ke atas. Aku sudah siap.

Pelan-pelan dan hati-hati sekali kubebaskan tanganku dari impitan pantatku. Begitu pun, aku tak berani terlalu membebaskan tanganku--aku tahu persis kadang kala Ibu memeriksa posisis dudukku. Aku tahu, aku tak berhak menggerakkan ototku sendiri kecuali atas perintahnya.

Aku merasa begitu kecil. Aku cuma berharap semoga aku bisa...
Tanpa diduga-duga, Ibu membuka pintu yang menuju ke basement. "Kau!" teriaknya. "Ke sini! Cepat! Sekarang juga!" Secepat kilat aku naik. Sampai di depan pintu aku berhenti, diam, menunggu perintah Ibu selanjutnya, baru kubuka pintu Ibu dan menanti salah satu "permainan" -nya.

Kali itu permainan "address". Aku disuruh berdiri dengan jarak hampir satu meter di depan Ibu; kedua tanganku rapat ke sisi badanku; kepalaku menunduk dengan kemiringan 45 derajat dan mataku harus tetap menatap kakinya.

Pada perintah pertama, aku harus melihat bagian badan Ibu di antara dada dan matanya. Pada perintah kedua, aku harus melihat matanya dan aku sama sekali tidak boleh bicara, bernapas, atau menggerakkan ototku sedikit pun kecuali Ibu mengizinkannya. Aku dan Ibu sudah melakukan permainan ini sejak usiaku tujuh tahun, jadi bagiku permainan hari itu sudah biasa.

Tiba-tiba saja Ibu menjewer kuping kananku. Dengan sendirinya aku menyentakkan kepalaku ke belakang. Karena aku bergerak, Ibu menghukumku dengan satu tamparan keras pada wajahku. Samar-samar, aku sempat melihat tangannya bergerak sebelum mengenai wajahku.

Aku tidak memakai kacamata,sehingga pandanganku agak kabur. Kalau bukan hari sekolah, aku tidak diizinkan memakai kacamata. Tamparannya terasa panas sekali di kulit wajahku. "Siapa suruh bergerak?" bentak Ibu. Aku berusaha tidak memejamkan mata, menatap terus ke satu titik di karpet. Ibu mengamati sikapku. Kemudian dengan menjewer lagi kupingku, Ibu menarikku ke dekat pintu depan.

"Berbalik!" bentak Ibu. "Lihat aku!" Tapi aku mencuranginya. Aku melirik,ternyata Ayah sedang berdiri di dekat situ. Ia menenggak minumannya. Bahunya yang dulu bidang dan tegap, sekarang tampak lunglai. Pekerjaannya sebagai petugas pemadam kebakaran, kebiasaan mabuknya, dan hubungannya yang tidak menenteramkan hati dengan ibu, semua itu menggerogoti dirinya.

Dulu, Ayah adalah pahlawan paling hebat bagiku. Aku bangga akan keberaniannya dalam menyelamatkan anak-anak kecil yang terjebak di dalam rumah atau gedung yang terbakar. Tapi sekarang, Ayah tampak seperti orang kalah.

Kulihat Ayah menenggak lagi minumannya. Lalu suara Ibu terdengar. "Ayahmu ingin mendengar darimu sendiri apakah aku memperlakukanmu dengan buruk. Apakah aku memperlakukanmu dengan buruk? Betul begitu? Betul begitu?"

Bibirku gemetar. Aku bingung, apakah aku harus menjawab Ibu atau tidak,sebab katanya aku dilarang berbicara. Ibu pasti menyaradi kebingunganku, dan itu membuat dia semakin menikmati "permainan"-nya. Apa pun pilihanku, aku tetap akan dihukum. Aku merasa seperti serangga yang menunggu untuk ditepak. Mulutku yang kering terbuka. Aku jadi merasa sulit bicara.

Sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun, Ibu sekali lagi menjewer keras kuping kananku. Jeweran itu membuat kupingku terasa panas sekali. "Tutup mulutmu! Tak ada yang menyuruhmu bicara! Iya, kan? Iya, kan?" Ibu menggeram.

Mataku mencari-cari Ayah. Tak lama kemudian Ayah pasti bisa merasakan apa yang kubutuhkan, sebab ia lalu berkata, "Roerva, bukan begitu caranya memperlakukan Anak Itu."

Kutegangkan lagi tubuhku, dan Ibu berteriak lagi di telingaku, sambil terus menjewer kupingku sedemikian rupa sehingga aku berdiri berjinjit. Wajah Ibu menjadi merah padam. "Jadi, menurutmu aku memperlakukannya dengan buruk?" Sambil menunjuk ke dadanya sendiri, Ibu meneruskan luapan marahnya, "Aku... aku tidak perlu begini. Stephen, kalau kau mengira aku memperlakukan It dengan buruk... ya, It pergi saja dari rumahku!"

Aku meregangkan kedua kakiku, mencoba berdiri lebih tinggi sedikit lagi, lalu mengendurkan tubuhku bagian atas supaya siap menerima pukulan Ibus etiap saat. Tiba-tiba Ibu melepaskan jewerannya, lalu membuka pintu depan. "Keluar!" bentaknya. "Pergi dari rumahku! Muak aku melihatmu! Aku tak menginginkanmu! Tak sedikit pun aku mencintaimu! Enyah dari rumahku!"

Aku mematung. Yang seperti ini belum pernah terjadi. Otakku berputar,mencoba memperkirakan tindakan apa yang akan diambil Ibu. Agar bisa bertahan hidup, aku harus memikirkan segala tindakanku sebelum melakukannya. Ayah melangkah maju sampai di depanku. "Jangan!" teriak Ayah. "Cukup. Cukup,Roerva. Hentikan semuanya. Biarkan Anak Itu apa adanya."

Kemudian Ibu berdiri di antara Ayah dan aku. "Jangan?" tanya Ibu, nada suaranya penuh ejekan. "Sudah berapa kali kau bilang begitu padaku setiap kali menyangkut Anak Itu? Anak Itu ini, Anak Itu itu, Anak Itu, Anak Itu,Anak Itu. Berapa kali, Stephen?" Ibu merentangkan tangannya, lalu memegang Ayah, lalu memperlihatkan sikap memohon pada Ayah; seolah-olah hidup mereka akan menjadi jauh lebih baik kalau aku tidak tinggal bersama mereka lagi--kalau aku tidak ada lagi.

Mendengar ucapan Ibu dan melihat sikapnya, otakku menjerit, Astaga! Ternyata begitu, toh!

Cepat-cepat Ayah memotong perkataan Ibu. "Tidak," kata Ayah dengan suara rencah. Sambil merentangkan tangannya ia berkata, "Semua ini keliru". Dari nada suaranya yang terdengar agak bergetar, aku tahu Ayah sudah kehilangan daya. Ayah tampak seperti mau menangis. Ia memandangku dan menggelengkan kepalanya sebelum menoleh kembali ke arah Ibu. "Dia akan tinggal di mana? Siapa yang akan merawat...?"

"Stephen, tidakkah kau memahami sesuatu? Aku sama sekali tak peduli akan apa yang menimpa dirinya. Peduli setan dengan Anak Itu."

Tiba-tiba pintu depan itu terbuka. Ibu tersenyum. Tangannya memegang pegangan pintu. "Kalau begitu, biar Anak Itu sendiri yang memutuskan pilihannya." Ibu membungkuk. Wajahnya jadi dekat sekali ke wajahku. Napas Ibu bau minuman keras. Sorot matanya dingin dan penuh kebencian. Ingin rasanya aku pergi dari situ, kembali ke basement. Dengan suara pelan dan tajam, Ibu berkata, "Kalau kau merasa aku memperlakukanmu dengan buruk, kau boleh pergi".

Aku memberanikan diri untuk bergerak sedikit dan menoleh kepada Ayah. Ia tidak sedang melihat ke arahku karena pada saat itu ia sedang menenggak minumannya. Aku mulai bingung lagi. Aku tidak tahu persis apa maksud Ibu dengan permainannya kali ini. Tiba-tiba aku sadar bahwa semua ini bukan permainan lagi. Aku perlu waktu beberapa detik untuk memahami bahwa inilah kesempatan bagiku--kesempatan untuk melepaskan diri.

Sudah bertahun-tahun aku berniat melarikan diri, tetapi ada rasa takut yang membuat aku selalu mengurungkan niat itu. Bagaimanapun, pada saat itu aku berkata dalam hati bahwa kesempatan kali itu terasa terlalu mulus. Ingin sekali aku melangkahkan kakiku dan pergi dari situ, tetapi kedua kakiku terasa kaku dan berat.

"Bagaimana?" Ibu berteriak di telingaku. "Semuanya terserah kau." Waktu terasa tak bergerak. Pada saat aku memandang ke bawah, ke karpet, aku mendengar Ibu berkata tajam seperti berbisik. "Dia tidak akan pergi. Anak itu tidak akan pernah pergi. Si "It" tidak berani pergi."

Aku merasakan tulang-belulangku mulai gemetar. Kupejamkan mata sebentar,berkhayal diriku ada di tempat lain. Dalam khayalanku itu aku seakan-akan bisa melihat diriku sedang berjalan ke luar melalui pintu. Aku tersenyum dalam hati. Ingin sekali aku pergi. Semakin kuat aku membayangkan diriku berjalan keluar melalui pintu, semakin kuat rasa hangat yang menjalari jiwaku.

Dan, tiba-tiba, aku merasakan tubuhku bergerak. Mataku terbuka lebar. Kupandangi sepatu ketsku yang sudah butut. Kaki-kakiku melangkah keluar melalui pintu depan. Ya Tuhan, kataku dalam hati, aku tak percaya aku melakukan ini! Tak lagi aku merasa takut. Aku berjalan terus.

"Nah," kata Ibu dengan rasa menang. "Anak Itu akhirnya pergi. Itu keputusannya sendiri. Aku tidak memaksanya. Ingat itu, Stephen. Aku perlu menegaskan padamu bahwa aku tidak memaksa dia pergi."

Aku sudah berada di teras rumah. Tapi aku sadar betul bahwa bisa saja Ibu mencekal kerah belakang bajuku lalu menarikku masuk lagi ke dalam rumah. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Kupercepat langkahku, berbelok ke kanan,menuruni anak tangga yang berwarna merah. Dari arah belakangku aku bias mendengar pembicaraan antara Ayah dan Ibu yang menegang. "Roerva," kudengar Ayah berkata dengan suara rendah, "ini keliru."

"Tidak!" jawab Ibu, pendek dan datar. "Dan ingat, itu keputusannya sendiri.
Lagipula, dia akan kembali."

Karena sedemikian tegang, aku hampir jatuh karena terjegal kakiku sendiri sewaktu menuruni anak-anak tangga itu. Cepat-cepat aku berpegangan pada pegangan tangga untuk menjaga keseimbangan. Sampai juga aku ke trotoar, dan sedapat mungkin kuatur napasku. Aku berbelok ke kanan, lalu menyusuri jalanan sampai tak seorang pun melihat aku menjauhi Rumah Itu, lalu lari. Agak lama kemudian aku berhenti berlari, menoleh ke belakang, melihat kearah Rumah Itu.

Aku berhenti, terengah-engah, kedua tanganku bertumpu pada kedua lututku. Kupasang telinga lebar-lebar agar bisa menangkap suara station wagon Ibu. Bagaimanapun, rasanya terlalu mulus bahwa Ibu membiarkan aku pergi begini. Paling-paling sebentar lagi dia akan mengejarku.

Setelah napasku agak teratur lagi, aku lari lagi. Aku sampai di ujung Crestline Avenue. Ujung jalan itu agak mendaki. Dari situ, agak ke bawah sana, kupandangi lagi rumah kecil berwarna hijau itu. Ternyata tidak ada station wagon yang tergesa-gesa keluar dari garasinya. Tidak ada yang mengejarku. Tidak ada yang memakiku.


Tidak ada yang berteriak padaku. Tidak ada yang memukuliku. Aku tidak sedang duduk di bawah tangga di basement. Aku tidak sedang dipukuli di bagian belakang lututku dengan gagang sapu. Aku tidak sedang dikunci di kamar mandi dan dipaksa menghirup uap campuran amonia dan Clorox.

Aku memutar badan ketika kudengar ada suara mobil melintas di jalan itu. Aku melambaikan tangan.

Sekalipun baju, celana, dan sepatu yang kukenakan rombeng, hatiku senang. Jiwaku merasa hangat. Aku berjanji pada diri sendiri aku tak akan pernah mau pulang lagi. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, berusaha mati-matian untuk tetap bertahan terhadap berbagai pukulan yang menyiksa,dan mengais-ngais tempat sampah untuk bisa makan, kini aku tahu bagaimanapun aku akan tetap hidup.

Aku tidak punya teman, tidak punya tempat berteduh, tidak punya siapa-siapa tempat aku bisa minta tolong. Tetapi aku tahu persis ke mana aku pergi—ke sungai itu. Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi anggota Keluarga Itu, setiap liburan musim panas kami pasti menuju Russian River di Guerneville.

Saat-saat bahagia bagiku adalah hari-hari ketika aku menghabiskan waktu untuk belajar berenang di Johnson's Beach, main perosotan Super Slide, berkeliling dengan gerobak atau mobil yang penuh jerami pada saat matahari terbenam, dan bermain bersama saudara-saudara lelakiku sambil memanjati pohon tua di depan pondok tempat kami menginap. Setiap kali ingat aroma pohon-pohon raksasa redwood dan keindahan sungai yang berair hijau tua itu, aku selalu tersenyum.

Aku tidak tahu persis di mana Guerneville. Yang aku tahu letaknya di sebelah utara Golden Gate Bridge. Aku juga tahu untuk sampai di sana aku butuh beberapa hari perjalanan. Aku tak peduli. Begitu sampai di sana aku bias bertahan hidup misalnya dengan mencuri roti Prancis dan salami dari pasar swalayan Safeway di situ; aku bisa tidur di Johnson's Beach sambil mendengarkan suara mobil-mobil yang lewat di atas jembatan berpenyangga Parker yang selalu hijau, yang mengarah ke kota.

Bagiku, Guerneville adalah satu-satunya tempat yang kurasakan paling aman. Sejak masih sekolah di taman kanak-kanak, aku merasa di Guerneville-lah aku akan menetap kelak. Dan begitu sampai di sana, aku akan tinggal di situ sepanjang hidupku.

Aku mulai memasuki Eastgate Avenue ketika angin dingin menerpa tubuhku. Matahari telah terbenam dan kabut petang mulai bergulung dari arah laut kedekat situ. Erat-erat kuselipkan kedua telapak tanganku ke bawah ketiak, dan terus berjalan sepanjang jalan itu. Gigi-gigiku mulai menggeletuk.

Semangat melarikan diri yang tadinya meluap sedikit demi sedikit sirna. Aku mulai berpikir mungkin, mungkin, Ibu benar juga. Sehebat apa pun Ibu memukuli dan berteriak padaku, paling tidak udara di basement masih lebih hangat daripada di luar sini.

Lagipula, kataku dalam hati, aku memang berbohong dan memang aku mencuri makanan. Mungkin aku memang pantas dihukum. Sejenak aku berhenti berjalan, berpikir sekali lagi tentang rencanaku pergi ke Russian River. Kalau sekarang ini aku pulang, Ibu akan memukuli aku dan berteriak padaku--tapi aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.

Kalau nasibku baik, boleh jadi besok ia akan memberiku sisa-sisa makan malam. Esok harinya lagi aku bisa mencuri makanan di sekolah. Sepertinya aku memang harus pulang. Aku tersenyum sendiri. Bukankah aku pernah bertahan menghadapi perlakuan Ibu yang sangat buruk sekalipun?

Kuhentikan langkahku. Pikiran untuk pulang ke Rumah Itu sepertinya tidak jelek juga. Lagipula, kataku dalam hati, aku tak akan pernah sampai ke sungai itu. Aku berbalik arah. Ibu benar.

Aku membayangkan diriku duduk di bawah tangga, dengan tubuh gemetar karena takut--semua suara yang terdengar dari ruang atas membuatku takut. Kuhitung detik-detik yang berlalu, sebab aku ngeri akan apa yang mungkin terjadi setiap kali acara TV menayangkan paket iklan.

Saat salah satu paket iklan ditayangkan di TV, pasti akan terdengar derit lantai kayu di atas yang menandakan Ibu sedang berusaha bangun dari sofa, lalu berjalan ke dapur untuk menambah lagi minuman ke gelasnya, kemudian berteriak keras-keras memanggilku untuk naik--dan aku pun dipukulinya sampai hampir tak bias berdiri. Aku bahwa tidak mampu merangkak pergi.

Aku benci iklan.

Suara jangkrik di dekatku memecahkan lamunanku. Aku mencoba mencari jangkrik itu, lalu berhenti sejenak ketika aku merasa sudah dekat dengannya. Suara jangkrik itu berhenti. Aku tak bergerak. Kalau bisa kutangkap, jangkrik itu mungkin bisa kutaruh di sakuku dan kupelihara. Suara jangkrik itu terdengar lagi. Ketika aku membungkuk untuk menangkapnya, aku mendengar suara mobil Ibu dari arah belakangku.

Aku berlindung di balik mobil yang diparkir didekatku. Moibl itu berjalan pelan bagai merayap di sepanjang jalan itu. Bunyi remnya yang berdenging seakan mengebor gendang telingaku. Ibu sedang mencari-cari aku. Napasku mulai berat. Kupejamkan mata erat-erat begitu mobil Ibu dan sorot lampunya semakin mendekati aku.

Aku menunggu sampai mendengar suara mobil itu berhenti di dekatku, kemudian suara Ibu yang bergegas keluar dari mobil, lalu menyeret serta mendorong aku masuk kestation wagon-nya. Detik-detik waktu kuhitung. Pelan-pelan kubuka mataku,kemudian kutolehkan kepalaku ke arah kiri.

Bersamaan dengan itu lampu rem mobil itu menyala. Selesai sudah! Ia menemukan aku! Entah mengapa, itu melegakan aku juga. Aku tak akan pernah sampai ke sungai itu. Menanti apa yang akan terjadi berikutnya membuatku lemas. Ayo, ayo, kataku dalam hati. Lakukan saja. Ayo.

Mobil itu berlalu begitu saja.

Aku tidak percaya ini! Aku keluar dari balik mobil tempatku bersembunyi, dan memandangi mobil yang baru saja berlalu itu--sebuah sedan dua pintu yang mengikat, yang sebentar-sebentar berhenti. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Perutku mengencang. Terasa ada cairan yang mendesak naik ke kerongkonganku.


Aku terhuyung-huyung ke halaman rumput rumah orang, rasanya mau muntah. Berkali-kali ada desakan dari dalam, tapi tak ada yang kumuntahkan karena perutku memang tidak ada isinya. Setelah itu kupandangi binta-bintang dilangit. Dari balik kabut bisa kulihat potongan langit yang bersih. Di atasku sebuah bintang perak bersinar amat terang. Aku mencoba mengingat-ingat sudah berapa lama aku berada di luar sejak pergi dari rumah. Kutarik napas panjang beberapa kali.

"Tidak!" aku berteriak tiba-tiba. "Aku tidak mau pulang! Aku tidak mau pulang lagi!" aku berbalik arah, lalu kembali menyusuri jalan yang tadi, kearah utara, ke arah Golden Gate Bridge. Tidak berapa lama berjalan, aku melewati mobil sedan dua pintu tadi, yang saat itu sedang diparkir dihalaman sebuah rumah.

Kulihat seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di anak tangga paling atas, sedang disambut hangat oleh pemilik rumah itu. Dari pintunya yang terbuka, aku bisa mendengar suara tawa dan alunan music keluar dari rumah itu.

Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya disambut hangat dan dipersilakan masuk ke dalam sebuah rumah. ketika aku melewati sebuah rumah lain, hidungku mencium bau makanan. Langsung aku membayangkan diriku melahap makanan. Waktu itu hari Sabtu--berarti aku sudah tidak makan sejak hari Jumat pagi di sekolah. Makanan, pikirku. Y, aku harus mendapat makanan.

Beberapa waktu kemudian, aku melangkahkan kaki menuju gereja yang dulu biasa aku kunjungi. Dulu, bertahun-tahun sebelumnya, Ibu menyuruh kedua saudara lelakiku, Ron dan Stan, dan aku pergi ke gereja itu untuk mengikuti pelajaran agama. Aku tidak pernah lagi ke gereja itu sejak usiaku tujuh tahun. pelan-pelan kubuka pintunya.

Aku langsung bisa merasakan udara hangat menyusupi lubang-lubang di celanaku dan bajuku yang sudah sangat tipis. pelan-pelan juga kututup pintunya. Kulihat imam gereja itu sedang mengambili buku-buku dari bangku-bangku panjang. Aku bersembunyi di samping pintu,sambil berharap imam itu tidak melihatku.

Kemudian imam itu berjalan ke bangku panjang di bagian belakang, ke arahku. Ingin sekali aku tatap diam ditempatku, tetapi... kupejamkan mata, mencoba menarik sebanyak mungkin udara hangat ke tubuhku, lalu kubuka lagi pintu gereja.

Begitu berada di luar gereja, aku menyeberangi jalan, di mana kulihat sederetan toko. Di sebuah toko donat, aku berhenti. Pernah, pagi-pagi sekali, bertahun-tahun sebelumnya, Ayah mampir di toko ini untuk membeli donat dalam perjalanan kami sekeluarga ke Russian River. Itulah saat yang sangat berkesan bagiku. Sekarang ini, aku hanya bisa memandangi toko itu,lalu melihat-lihat gambar-gambar kartun di temboknya, dan proses pembuatan donat.

Aku mencium bau pizza, dari arah sebelah kiriku. Setelah berjalan pelan melalui sejumlah toko, sampailah aku di depan sebuah pizza bar. Terbit liurku. Tanpa ragu-ragu, kubuka pintunya. Aku masuk dan langsung menuju bagian belakang bar itu. perlu bagiku beberapa waktu untuk menyesuaikan penglihatanku.

Bisa kulihat sebuah meja biliar, juga bisa kudengar gelas-gelas bir yang beradu dan suara tawa. Aku bisa merasakan orang-orang dewasa memelototi aku. Aku berhenti di ujung bar. Mataku jelalatan sekeliling ruangan, mencari makanan yang tersisa.

Karena tidak menemukan yang aku cari, aku berjalan menuju meja biliat yang baru saja selesai dipakai bermain oleh dua orang. Di meja biliar itu kutemukan sekeping uang logam 25 sen, yang kemudian kututupi dengan tanganku.

Aku melihat berkeliling, sementara tanganku mengambil uang logam tadi. Uang logam itu terasa hangat. Dengan sikap sewajar mungkin, aku kembali ke bar. Ada suara agak keras kudengar dari atasku, tapi aku mencoba tidak menggubrisnya.

Lalu bahu kiriku terasa dipegang oleh seseorang dari arah belakang. Dengan sendirinya aku menegangkan bagian atas badanku, bersiap menerima pukulan diwajah atau perutku. "Hei, sedang apa kau di sini?"

Aku memutar tubuhku ke arah datangnya suara, namun aku tidak mau melihat ke atas.
"Aku tanya, sedang apa kau di sini?" suara itu bertanya lagi.

Aku mendongkak. Kulihat seseorang mengenakan celemek putih yang ternoda banyak saus merah pizza. Orang itu berkacak pinggang, menunggu jawaban dariku. Aku mencoba memberi jawaban, tetapi aku mulai diserang gugup. "Emm. Tid... Tidak sedang apa-apa... Pak."

Orang itu meletakkan tangannya di bahuku, lalu membimbingku ke ujung meja bar. Di situ ia berhenti, lalu membungkuk. "Hei Nak, kau harus mengembalikan padaku uang 25 sen itu."

Aku menggelengkan kepala, tidak. Sebelum aku bisa berbohong kepadanya, orang itu sudah lebih dulu berkata, "Hei, aku sendiri melihatmu mengambilnya dari atas meja biliar. Jadi, sini kembalikan uang itu kepadaku. Orang-orang disana itu membutuhkan uang logam itu supaya mereka bisa main biliar."

Aku menguatkan genggamanku. Uang logam 25 sen itu bisa kupakai untuk membeli makanan, mungkin bahkan bisa untuk membeli pizza utuh. Orang itu tidak melepaskan pandangannya dariku. Pelan-pelan kubuka genggamanku, lalu menjatuhkan uang logam itu ke tangan orang itu, yang kemudian melemparkannya kepada dua orang yang sudah memegang tongkat untuk bermain biliar. "Trims,Mark", kata salah seorang dari mereka.

  • "Ya, sama-sama." Mark kemudian mencekal bahuku ketika aku berbalik untuk mencoba mencari pintu depan. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau curi uang itu?"
    Aku mengeraskan diriku, dan mulai menatap lantai tanpa berkedip.
  • "Hei," suara Mark meninggi, "aku bertanya padamu."
  • "Aku tidak mencuri apa-apa. Aku... aku pikir... maksudku, aku melihat uang itu tergeletak begitu sana dan... aku..."
  • "Begini. Pertama, aku sendiri melihatmu mencuri uang itu, dan kedua,teman-temanku itu perlu uang itu supaya mereka bisa main biliar. Lagipula,mau kau pakai untuk apa uang itu?"
  • Aku merasa ada dorongan kemarahan yang memuncak di dalam diriku. "Untuk makan!" aku meledak. "Aku mau pakai uang itu untuk beli pizza! Ngerti?"
  • "Pizza?" tanya Mark sambil tertawa. "Hei, dari mana asalmu... Planet Mars?"
Aku mencoba mencari jawaban. Aku merasa gugup karena marah. Kutahan napasku,dan kuangkat bahuku.

"Hei, tenang. Sini, duduk di sini," Mark berkata dengan suara lembut. "Jerry, aku minta segelas Coke." Mark sekarang duduk berhadapan dengaku. Kucoba menyembunyikan bekas-bekas luka dan memar di kedua lengan tanganku dibalik lengan panjang bajuku. Aku mencoba menghindari Mark. "Hei, Nak. Kau baik-baik saja?" tanya Mark.

Aku menggeleng. Tidak! kataku dalam hati. Aku tidak baik-baik saja. Tidak ada yang baik-baik saja! Ingin sekali aku mengatakan semua itu kepadanya,tetapi...

"Minum ini," kata Mark sambil memberikan padaku segelas Coke. Dengan kedua tangan, aku terima gelas kertas berwarna merah itu, lalu kusedot isinya sampai tandas.

"Hei, Nak," kata Mark, "siapa namamu? Kau punya rumah? Di mana rumahmu?"

Aku malu sekali. Aku tahu aku tidak bisa menjawabnya. Aku bersikap seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakannya.

Mark menganggukkan kepalanya, memahami sikapku. "Jangan ke mana-mana," katanya sambil mengambil gelas kertasku. Dari balik bar aku bisa melihat Mark mengisi lagi gelasku, dan pada saat yang hampir bersamaan ia mengangkat gagang telepon.

Kabel teleponnya tertaarik sampai pol ketika Mark mengulurkan tangannya untuk memberi aku tambahan Coke. Setelah selesai menelepon, Mark duduk lagi di dekatku. "Kau mau menceritakan padaku apa yang kau alami?" "Ibu dan aku selalu bertengkar," gumamku, berharap tidak ada orang lain yang mendengar perkataanku. "Dia... dia mengusirku."

"Apakah dia tidak mencemaskanmu?" ia bertanya.

"Hebat! Kau bergurau?" aku meledak lagi. Ups, kataku dalam hari. Tutup mulutmu! Kuketuk-ketukkan jariku di atas meja bar, mencoba menghindar dari Mark. Kupandang dua teman Mark yang sedang bermain biliar dan teman-temannya yang lain di sekeliling meja biliar itu--tertawa, makan, bersenang-senang.

Aku ingin sekali menikmati rasanya jadi orang biasa. Tiba-tiba aku merasa muak lagi. Turun dari kursiku, aku berpaling kepada Mark. "Aku harus pergi."

"Mau ke mana kau?"
"Aku harus pergi saja, Pak."
"Ibumu benar-benar menyuruhmu pergi dari rumah?"
Tanpa menoleh ke arahnya, aku menganggukkan kepala, ya.

Mark tersenyum. "Aku berani bertaruh bahwa ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana menurutmu? Begini saja. Beri aku nomor telepon rumahmu, lalu aku akan menelepon ibumu, ya?"

Bisa kurasakan darahku mengalir sangat cepat. Pintu, kataku dalam hati. Berjalanlah ke pintu, lalu lari. Aku mulai panik. Kepalaku menoleh ke segala jurusan untuk mencari pintu keluar.

"Ayolah. Lagipula," kata Mark sambil memainkan alis matanya, "kau tak bias pergi sekarang. Aku sedang membuatkan pizza untukmu... pizza istimewa!"

Mendengar itu, kepalaku langsung tegak. "Betul?" kataku girang. "Tapi... aku tak punya..."

"Hei, jangan khawatir soal itu. Tunggu saja di sini." Mark berdiri dan beranjak pergi. Ia tersenyum kepadaku melalui bukaan di dapur. Mulutku mulai berair lagi. Aku membayangkan diriku sedang menikmati makanan hangat—bukan makanan dari tempat sampah atau roti basi, tapi benar-benar makanan.

Bermenit-menit selanjutnya aku duduk tegak, menanti tanda-tanda kemunculan Mark.

Dari pintu depan seorang polisi dengan seragam biru gelap memasuki toko. Aku tidak punya pikiran apa-apa mengenai kedatangan petugas polisi itu, sampai kulihat Mark berjalan menghampirinya. Kedua orang itu berbicara sebentar,lalu Mark menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arahku. Kuputar tubuhku untuk mencari pintu belakang.

Tidak ada. Kulihat lagi Mark. Dia sudah tidak di situ. Pak Polisi juga sudah tidak di situ. Aku menoleh ke segala arah sambil membuka mata lebar-lebar, mencari kedua orang itu. Dua-duanya sudah pergi. Dugaanku keliru. Detak jantungku berangsur-angsur normal kembali. Napasku normal kembali. Aku tersenyum.

"Permisi, Nak." Aku menengadahkan kepalaku. Seorang polisi sedang memandangku sambil tersenyum. "Mari ikut saya."

Tidak! kataku dalam hati. Aku tidak mau berdiri! Ujung-ujung jemari tanganku mencengkeram dalam-dalam bagian bawah tempat dudukku. Dengan mataku,kucari-cari Mark. Aku tak percaya ia memanggil Pak Polisi, padahal kelihatannya ia orang baik. Ia memberi aku Coke dan berjanji memberi aku makanan.

Tapi kenapa dia memanggil polisi? Aku jadi membenci Mark, tapi aku lebih membenci diriku sendiri. memang seharusnya aku berjalan terus saja,sama sekali tidak perlu mampir ke pizza bar ini. Memang seharusnya aku pergi dari kota ini secepat mungkin. Heran, aku jadi goblok begini!

Ya sudah. Aku tahu aku kalah. Kekuatan seperti apa pun yang kumiliki rasanya habis sudah. Aku pingin sekali menemukan sebuah lubang atau gua supaya aku bisa meringkuk dan tidur pulas-pulas di dalamnya. Aku turun dari kursi bar.


Pak Polisi tadi berjalan di belakangku. "Tenang saja," katanya. "Semuanya akan baik-baik saja." Cuma samar-samar aku mendengar perkataannya. Yang sedang memenuhi pikiranku adalah Ibu--dia pasti sedang menungguku, di suatu tempat, entah di mana. Aku akan pulang lagi ke Rumah Itu--kembali lagi ke Sang Ibu. Pak Polisi tadi membukakan aku pintu depan. "Terima kasih Anda sudah menelepon kami," katanya kepada Mark.

Aku menatap lantai. Marah sekali aku. Aku tidak mau melihat Mark. Seandainya saja aku bisa menghilang...

"Hei," sapa Mark sambil tersenyum dan memberiku sebuah kardus tipis putih,
"tadi aku janji memberimu pizza, bukan?"

Hatiku jadi trenyuh. Aku tersenyum padanya. Tapi, kepalaku menggeleng,tidak. Aku tahu, aku tidak pantas menerimanya. Aku menyodorkan kembali kardus itu ke Mark. Pada saat itu aku merasakan tidak ada sesuatu pun dari diriku yang pantas dihargai. Aku memandang Mark, memandang hatinya.

Aku tahu ia memahami aku. Meskipun ia tidak mengatakan apa-apa, aku tahu apa yang dikatakannya padaku. Kuterima kardus itu. Kutatap matanya lebih dalam lagi, "Terima kasih, Pak." Mark membelai rambutku. Kuhirup aroma yang keluar dari kardus di tanganku.

"Itu pizza paling istimewa yang dibuat di bar ini. Dan, hei... kau harus tabah. kau akan baik-baik saja," kata Mark kepadaku. Aku berjalan melalui pintu keluar sambil membawa hadiah pizza yang diberikan kepadaku. Kardus pizza itu terasa hangat di tanganku. Di luar, kabut abu-abu menutupi jalanan tempat Pak Polisi memarkir mobil polisinya.

Kudekap kardus pizza itu. Terasa isinya bergerak, merosot. Kemudian Pak Polisi membukakan pintu depan mobilnya untukku. Bisa kudengar suara halus dari pompa pemanas di lantai mobil polisi itu. Pelan-pelan kukibas-kibaskan jemari kakiku ke dekat pompa pemanas itu supaya kakiku cepat hangat.

Kuperhatikan Pak Polisi itu saat ia berjalan berputar menuju tempat duduk pengemudi. Ia masuk ke dalam mobil,lalu mengangkat mikrofon. Suara lembut seorang perempuan menjawab panggilan radionya. Aku menoleh ke luar, memandang pizza bar itu. mark dan beberapa temannya berdiri bergerombol di luar. Mereka kelihatan kedinginan.

Saat mobil polisi yang membawaku pelan-pelan berjalan meninggalkan pelataran parkir di situ, Mark mengangkat tangannya, membentuk tanda "peace", lalu melambai selamat jalan. Satu demi satu, teman-temannya tersenyum ke arahku dan mengikuti gerakan yang dilakukan Mark.

Tenggorokanku tercekat. Bisa kurasakan rasa asin air mataku yang mengalir diwajahku. Bagaimanapun, aku tahu aku akan selalu ingat Mark. Aku melihat sepatuku dan mengibaskan jemariku kakiku pelan. Satu jari kakiku nongol dari sebuah lubang di sepatuku.

"Nah," kata Pak Polisi itu, "baru pertama kali ini kau naik mobil polisi?"
"Ya, Pak," jawabku. "Apa... apa aku berbuat salah, Pak?"

Pak Polisi itu tersenyum. "Tidak. Kami cemas saja. Sudah malam sekali, dan kau masih terlalu kecil untuk keluyuran sendirian di luar rumah malam-malam begini. Siapa namamu?"

Kupandangi jari kakiku yang kotor.
"Ayolah. Tidak apa-apa memberitahu aku namamu, bukan?"

Aku membersihkan tenggorokanku. Aku tak mau bicara kepada Pak Polisi itu. Aku tak mau bicara kepada siapa pun. Aku tahu, setiap kali aku membuka mulut, semakin dekat aku dengan Ibu, semakin dekat dengan cengkeraman setannya.

Tapi, kataku dalam hati, apa yang bisa kuperbuat? Aku tahu, kesempatan yang tadi kumiliki untuk bisa pergi ke sungai itu sekarang sudah tidak ada lagi. Aku tak peduli. Yang penting, aku tidak perlu kembali kepada Ibu. Beberapa saat kemudian, aku menjawab pertanyaan Pak Polisi itu, "Da...Da... David, Pak," kataku gugup. "Namaku David."

Pak Polisi itu tertawa kecil. Aku membalasnya dengan ssenyum. Pak Polisi itu bilang aku cakep. "Berapa umurmu?"
"Sembilan tahun, Pak."
"Sembilan tahun? Masih kecil ya kau?"

Kami mulai ngobrol basa-basi. Aku tak percaya mengapa Pak Polisi itu begitu tertarik padaku. Aku merasa ia betul-betul menyukai aku. Ia memarkir mobil polisinya di depan kantor polisi dan menuntunku ke sebuah ruangan kosong. Ditengah ruangan itu ada meja biliar. Kami duduk di sisi meja biliar itu, lalu Pak Polisi itu berujar, "Hei, David, makanlah pizza itu sebelum jadi dingin."

Seperti berpegas, kepalaku mengangguk naik turun. Dengan tak sabar, kubuka kardus pizza itu. Aku membungkuk, kuhirup dalam-dalam aromanya. "Nah,David," Pak Polisi itu bertanya, "tadi kau bilang di mana rumahmu?"

Aku berhenti bergerak. Topping pizzaku jatuh. Aku berpaling muka. Aku ingin Pak Polisi itu melupakan dulu tugasnya.

"Ayolah, David. Aku sungguh-sungguh ingin membantumu." Pandangan matanya tidak beralih dariku. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Pelan-pelan kuletakkan lagi pizzaku ke kardusnya. Pak Polisi itu menjulurkan tangannya untuk memegang tanganku.

Sekadar gerak refleks, kutarik tanganku dengan sangat tiba-tiba. Sebelum Pak Polisi itu mencoba melakukannya lagi,aku memelototinya. Otakku seperti berteriak, Kau tak tahu? Ibu tidak menginginkan aku, tidak mencintai aku, tidak memedulikan aku! Ngerti? Jadi... biarkan aku sendirian, dan aku tahu ke mana harus pergi. Begitu?!

Pak Polisi itu menjauhkan kursinya dari meja biliar. Kemudian, dengan suara lembut, ia berkata, "David, aku punya kewajiban membantumu. Kuharap kau mengerti itu, dan aku akan terus mendampingimu sampai kapan pun." Ia mencondongkan tubuhnya, lalu mengangkat daguku dengan jarinya. Aku menangis. Hidungku berair. Sekarang aku tahu, tak ada kesempatan melarikan diri bagiku. Aku tak berani menatap mata Pak Polisi itu.

"Crestline Avenue, Pak," kataku dengan suara rendah.
"Crestline Avenue?" tanya Pak polisi itu.
"Ya, Pak... 40 Crestline Avenue."

"David, kau melakukan sesuatu yang benar. Apa pun masalahnya, aku yakin kita bisa memecahkannya."

Aku beritahu juga nomor telepon rumah kepada Pak Polisi itu. Kemudian ia pergi sebentar dari ruangan itu. Ketika kembali, ia mengatakan padaku untuk memakan pizza yang kubawa.

Kuambil lagi pizza yang sama, yang sekarang sudah dingin dan melempem. Aku ingin sekali makan, tetapi pikiranku berjuta-juta kilometer dari tempat itu. Dengan senyumnya, Pak Polisi itu mencoba menenteramkan hatiku, "Semuanya akan beres."

Masa bodoh! Kataku dalam hati. Satu-satunya saat ketika aku merasa aman,tenteram, dan diinginkan adalah ketika aku masih kecil sekali. Waktu itu umurku lima tahun. Keluargaku menunggu aku yang sedang berlari cepat mendaki bukit kecil, pada hari terakhirku di taman kanak-kanak.

Masih bias kubayangkan sinar wajah Ibu yang waktu itu penuh warna cinta, ketika ia berseru, "Ayo, Sayang. Ayo, David!" Setelah memelukku erat dan hangat, Mommy membukakan pintu mobil untukku. Ia sendiri kemudian masuk mobil, dan Ayah pun menjalankan mobilnya. Tujuan: sungai itu.

Pada liburan musim panas itu Ibu mengajari aku telentang mengapung di air. Aku takut, tetapi Ibu selalu berada di dekatku sampai akhirnya aku bisa melakukannya sendiri. Rasanya bangga sekali ketika aku memperlihatkan kepadanya kemahiranku itu,

sekaligus aku mau membuktikan kepada Ibu bahwa aku sudah besar dan pantas memperoleh perhatian serta pujian darinya. Itulah liburan musim panas yang menjadi saat paling membahagiakan dalam hidupku. Tetapi sekarang ini, saat aku duduk berhadapan dengan Pak Polisi itu, aku tahu bahwa masa bahagia seperti itu tak akan berulang lagi. Masa bahagiaku tinggal kenangan.

Pak Polisi itu menengadahkan wajahnya. Aku membalikkan bahuku, dan kulihat Ayah yang saat itu mengenakan salah satu kemeja merahnya, berdiri dibelakangku. Ada Pak Polisi lain yang kemudian menganggukkan kepalanya kepada Pak Polisi yang duduk di dekatku. "Pak Pelzer?" sapa polisi yang duduk didekatku.

Ayahku mengangguk, ya. Kemudian Ayah dan Pak Polisi yang tadi selalu bersamaku masuk ke sebuah ruangan. Pak Polisi itu menutup pintu ruangan tersebut. Ingin sekali rasanya bisa ikut mendengarkan apa yang mereka percakapkan. Pasti tentang diriku dan betapa aku selalu membuat Ibu marah.


Satu-satunya yang membuatku lega adalah bahwa dia tidak ikut datang. Bagaimanapun, aku tahu dia takut berurusan dengan pihak berwajib. Aku tahu dia selalu memanfaatkan Ayah untuk menutupi sikap buruknya. Dia mengatur Ayah--sama seperti dia mau mengatur semua orang.

Yang paling pokok, aku tahu bahwa dia harus menyembunyikan rahasianya. Tak seorang pun boleh tahu tentang hubungan istimewa kami berdua. Tapi aku tahu dia keterusan. Dia kehilangan kendali. Aku mencoba memahami apa arti semua itu. AGar mampu bertahan hidup, aku harus bisa berpikir lebih cepat.

Beberapa lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Ayah keluar dari ruangan itu sambil menjabat tangan Pak Polisi yang menjemputku. Pak Polisi itu melangkah mendekati aku. Ia membungkuk. "David, masalahnya cuma salah paham saja. Tadi ayahmu mengatakan padaku bahwa kau marah karena ibumu tidak mengizinkanmu main sepeda.

Kau tidak perlu pergi dari rumah hanya karena masalah kecil seperti itu. Nah, sekarang pulanglah bersama ayahmu, lalu bereskanlah masalah ini bersama ibumu. Ayahmu bilang bahwa ibumu sangat mencemaskan keadaanmu." Pak Polisi itu kemudian mengubah nada suaranya ketika ia mengacung-acungkan jari telunjuknya kepadaku. "

Dan jangan pernah lagi membuat orangtuamu cemas seperti itu. Aku berharap kau bisa menarik pelajaran dari masalah ini. Berada sendirian di luar pada saat seperti ini menakutkan, bukan?" kata Pak Polisi itu sambil memeragakan tingkah orang yang ketakutan.

Aku berdiri di depan Pak Polisi itu, melongo. aku sama sekali tidak bias mempercayai apa yang barusan kudengar. Main sepeda? Sepeda saja tidak punya! Bahkan naik sepeda punya orang lain pun belum pernah!

Aku tergoda untuk memalingkan tubuhku, untuk melihat siapa tahu Pak Polisi itu berbicara kepada anak lain, bukan kepadaku. Dari belakang Pak Polisi itu Ayah memandang aku. Sorot matanya hampa. Aku sadar ini hanya salah satu alas an yang dikarang Ibu untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Dan itu berhasil.

"Satu lagi, David," Pak Polisi itu menegaskan, "perlakukanlah orangtuamu dengan harga diri dan rasa hormat. Kau seharusnya sadar betapa beruntungnya dirimu."

Pikiranku jadi seperti berkabut. Yang terngiang di kepalaku adalah, "betapa beruntungnya dirimu... betapa beruntungnya dirimu...," begitu terus,berulang-ulang. Aku tersentak kaget ketika Ayah menutup pintu station wagon di bagian pengemudi. Ia menarik napas panjang sebelum mendoyongkan kepalanya ke arahku.

"Astaga, David!" katanya sambil memutar kunci kontak dan menginjak pedal gas. "Kau pikir apa sih yang kau lakukan? Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tahu akibat perbuatanmu terhadap Ibu?"

Aku mendekatkan kepalaku ke Ayah. Akibatnya bagi Ibu? Bagaimana dengan aku? Apakah tidak seorang pun peduli terhadapku? Tetapi... kataku dalam hati,mungkin saja dia terguncang. Mungkin saja dia betul-betul mencemaskan aku.


Apakah mungkin Ibu tahu bahwa perbuatannya sudah kelewatan? Selama beberapa saat aku bisa membayangkan bagaimana Ibu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ayah, bertanya-tanya di manakah gerangan aku berada, masih hidupkah aku.


Lalu aku bisa membayangkan ibuku lari menyambutku sambil menangis dan memelukku dengan rasa penuh cinta, menciumi aku bertubi-tubi, dan air matanya mengalir semakin deras. Rasanya aku bisa mendengar ibuku mengucapkan tiga kata yang paling penting, yang sangat aku dambakan sejak lama sekali. Lalu aku siap untuk mengucapkan empat kata yang paling penting, I love you,too!

"David!" Ayah mencengkeram lenganku. Aku terlonjak, sampai membentur langit-langit mobil. "Sadarkah kau apa yang selama ini Ibu lakukan? Aku tak bisa merasa damai barang sedetik pun di rumah itu. Astaga, rumah itu betul-betul jadi seperti neraka sejak kau pergi. Bisakah kau menahan diri untuk tidak bikin masalah?

Bisakah kau berusaha atau mencoba membuatnya senang? Cobalah jangan membantah dan kerjakan apa yang dia suruh. Kau bisa,bukan? Demi aku, bisakah kau lakukan itu? Bagaimana?" Ayah membentak. Suaranya tinggi dan keras sekali, sampai-sampai kulitku terasa jadi keriting.

Aku menganggukkan kepala, pelan-pelan. Tak kukeluarkan suara sedikit pun,sebab aku menangis sejadi-jadinya di dalam hati. Aku tahu aku salah. Dan,seperti biasanya, semua ini memang salahku. Waktu menganggukkan kepala itu,aku menoleh ke arah Ayah. Kemudian Ayah mengelus-elus kepalaku.

"Baiklah," katanya dengan suara lebih lunak, "baiklah. Itu baru Tiger-ku.
Sekarang, ayo kita pulang."

Saat Ayah menyusuri jalan yang sama yang juga kususuri beberapa jam yang lalu, aku duduk mepet dan bersandaar ke pintu mobil. Aku merasa seperti hewan yang masuk perangkap dan mencoba memanjat naik ke dindingnya yang terbuat dari kaca. Semakin dekat ke Rumah Itu, semakin bisa kurasakan rasa takut dalam diriku. Aku mau ke kamar kecil. Rumah, kataku dalam hati.


Kupandang kedua tanganku. Jemariku gemetar karena takut. Aku tahu, tak berapa lama lagi aku akan kembali ke keadaanku semula. Tak ada yang berubah,dan aku tahu tak akan pernah ada yang berubah. Aku ingin jadi orang lain,siapa pun, asal bukan diriku. Aku ingin punya kehidupan, sebuah keluarga,sebuah rumah.

Ayah memarkir mobil ke garasi. Ia berpaling kepadaku sebelum membuka pintu mobil. "Nah, kita sampai," katanya dengan senyuman yang dipaksakan. "Kita sudah sampai rumah."

Aku memandang Ayah langsung ke matanya, sambil berharap, berdoa semoga ia bisa merasakan rasa takutku, rasa sakitku, dari dalam diriku. Rumah? Kataku dalam hati.

Aku tak punya rumah.





Indo community

BIDADARI BERNAMA MS. GOLD

(true story) The Lost Boy (2)

2.

Tanggal 5 Maret 1973 jawaban atas semua doaku selama bertahun-tahun akhirnya datang juga. Aku terselamatkan. Guru-guruku dan staf di Thomas Edison Elementary School turun tangan dan mengajukan laporan kepada pihak kepolisian.

Proses penyelamatan itu berlangsung cepat sekali. Aku menangis dengan perasaanku yang terdalam saat mengucapkan salam perpisahan kepada para guruku. Ada semacam perasaan yang mengatakan sepertinya aku tak akan pernah bertemu mereka lagi.

Tangisan mereka meyakinkan aku bahwa mereka tahu yang sebenarnya mengenai diriku--yang sebenar-benarnya. Kenapa aku begitu berbeda dengan murid-murid lain; kenapa aroma badanku tak sedap dan pakaianku rombeng; kenapa aku mengais-ngais tempat sampah untuk mendapat makanan.

Sebelum aku meninggalkan sekolah itu, salah seorang guruku, Mr. Ziegler,membungkuk untuk mengucapkan salam perpisahan. Ia menjabat tanganku dan berpesan agar aku menjadi anak baik.

Kemudian ia berbisik bahwa ia akan mengatakan yang sebenarnya mengenai diriku kepada semua murid di kelasnya. Janji Mr. Ziegler itu adalah kegembiraan besar bagiku. Aku begitu ingin disukai, diterima, oleh semua teman sekelasku, oleh semua murid di sekolah itu--oleh semua orang.

Pak Polisi yang datang ke sekolahku agak susah payah mengajakku meninggalkan sekolah. "Ayo, David. Kita pergi sekarang." Kuusap hidungku sebelum meninggalkan pintu sekolah. Begitu banyak pikiran melintas di kepalaku, dan semua pikiran itu jelek.

Aku takut akan banyak sekali akibat yang mungkin akan menimpa diriku kalau Ibu tahu semua ini. Belum pernah ada yang membuat Sang Ibu murka seperti kali ini. Kalau dia tahu, aku tahu derita yang bakal kuterima setimpal dengan derita di neraka.

Ketika Pak Polisi membimbingku ke mobil polisinya, bisa kudengar suara semua murid yang sedang bermain di lapangan saat istirahat makan siang. Lalu ketika mobil polisi yang membawaku bergerak meninggalkan sekolah, aku berpaling ke halaman sekolah, memandangnya untuk terakhir kali. Kutinggalkan Thomas Edison Elementary School tanpa seorang teman pun yang kumiliki.

Tetapi satu-satunya hal yang kusesali adalah aku tidak bisa mengucapkan salam perpisahan kepada guru bahasa Inggirku, Mrs. Woodworth, sebab ia sedang sakit hari itu. Pada saat-saat aku menjadi tawanan Ibu, Mrs.Woodworth, tanpa ia sendiri menyadarinya, telah membantu aku mengusir kesepianku dengan sarannya untuk membaca buku.

Selama tahun-tahun itu, aku membaca buku-buku petualangan yang menegangkan, dalam ruangan yang gelap,selama beratus-ratus jam. Bagaimanapun, semua bacaan itu bisa agak mengurangi rasa sakitku.

Setelah mengisi sejumlah formulir di kantor polisi, Pak Polisi yang menjemputku menelepon Ibu untuk memberitahu bahwa aku tidak akan pulang kerumah pada sore itu dan bahwa Ibu bisa menghubungi para petugas di lembaga-lembaga rehabilitasi anak bila ia punya pertanyaan menyangkut diriku.

Selama Pak Polisi itu berbicara dengan Ibu melalui telepon, aku duduk mematung, dengan perasaan ngeri bercampur ingin tahu. Aku hanya bias membayangkan apa saja yang muncul di kepala Ibu waktu itu. Saat berbicara di telepon itu dengan nada suara yang kering dan datar, butiran-butiran besar keringat muncul di kening Pak Polisi.

Setelah ia meletakkan gagang telepon,aku sempat bertanya-tanya dalam hati apakah pernah ada orang lain yang merasakan pengalaman yang sama seperti pengalaman Pak Polisi itu berbicara dengan Ibu melalui telepon. Tampaknya Pak Polisi itu punya alasan kuat untuk sesegera mungkin meninggalkan kantor polisi.

Aku tidak membantu memperbaiki situasi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi kuajukan kepadanya, "Apa katanya? Apa katanya?" Pak Polisi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Tampaknya ia baru bisa bernapas lega setelah kami melewati batas kota. Kemudian ia berkata kepadaku, "David, kau bebas sekarang. Ibumu tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."

Aku sama sekali tidak bisa memahami arti penting perkataannya itu. Aku tetap mengira bahwa ia akan mengirimku ke penjara, tempat anak-anak nakal lainnya dikumpulkan--seperti yang telah direncanakan Ibu bagiku selama bertahun-tahun ini. Aku sendiri sudah berketetapan hati sejak lama bahwa aku lebih baik hidup dalam penjara daripada hidup satu menit lebih lama bersama dia. Aku menghindari sorot sinar matahari. Setetes air mata mengalir diwajahku.

Seingatku, aku selalu menghapus air mataku untuk kemudian menarik diri kedalam tempurungku. Kali ini aku tidak mau menghapus air mata yang mengalir di wajahku. Bisa kurasakan air mata itu sampai ke bibirku, bisa kurasakan rasanya yang asin, dan kubiarkan air mata itu mengering terkena sinar matahari yang menembus kaca depan mobil polisi yang kutumpangi.

Aku ingin mengingatnya bukan sebagai air mata ketakutan, kemarahan, atau kesedihan,melainkan sebagai air mata sukacita dan kebebasan. Aku tahu bahwa sejak saat itu segala sesuatu dalam hidupku menjadi baru.

Pak Polisi membawaku ke rumah sakit setempat. Aku langsung dibawa ke ruang periksa. Perawat di situ tampak terkejut melihat keadaanku. Dengan perlahan ia membasuh sekujur tubuhku, dari kepala hingga kaki, dengan spons sebelum dokter memeriksaku. Aku tak mau memandang perawat itu.

Malu sekali rasanya duduk di meja periksa hanya dengan mengenakan pakaian dalamku yang sudah kotor dan penuh lubang. Ketika ia membasuh wajahku, kupalingkan wajahku dan kututup rapat kelopak mataku. Setelah selesai dirawat oleh perawat itu, aku mengalihkan perhatian ke sebuah ruangan bercat kuning yang dihiasi tokoh-tokoh kartun Snoopy dan teman-temannya.

Kupandangi diriku. Kaki dan tanganku berwarna campuran kuning dan cokelat. Banyak memar berbentuk lingkaran berwarna ungu tua dengan warna biru di sekelilingnya—bekas dijepit lalu ditarik, dipukul, atau dibanting ke lantai dapur. Dokter yang kemudian masuk ke ruangan itu tampak sangat mencemaskan keadaan tangan serta lenganku.

Jari-jariku kering, kasar, dan berwarna merah akibat bertahun-tahun terkena bermacam bahan kimia yang kugunakan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga. Dokter itu menjepit ujung jari-jariku, kemudian bertanya apakah aku bisa merasakan jepitan itu. Aku menggeleng, tidak.

Memang sudah sejak beberapa lama sebelumnya, ujung-ujung jariku mati rasa. Dokter itu menggerakkan kepalanya, sambil berkata tidak perlu khawatir--jadi aku pun tidak memikirkannya lagi.

Setelah itu Pak Polisi tadi dengan sabar mengantar aku berkeliling rumah sakit itu, menyusuri gang-gangnya, masuk ke satu ruangan kemudian ke ruangan lainnya untuk menjalani berbagai pemeriksaan tes, pengambilan sampel darah,pemeriksaan dengan sinar-X.

Begitu banyak hal baru, begitu banyak perlakuan berbeda yang kuterima selama di rumah sakit ini, sampai-sampai aku merasa seperti bukan diriku sendiri. Pikiranku seperti melayang keluar dari tubuhku, lalu menyaksikan tubuhku itu seperti aku menyaksikan orang lain saja. Sedikit demi sedikit rasa ngeri kurasakan juga.

Aku meminta Pak Polisi itu untuk memeriksa terlebih dulu pojok-pojok gang yang akan kulalui atau ruangan-ruangan yang akan kumasuki. Aku selalu merasakan kehadiran Ibu disuatu tempat--ia berdiri diam, mengintai aku, untuk kemudian menyambar dan menyeret aku.

Pada mulanya, permintaanku itu ditolak oleh Pak Polisi. Tetapi setelah aku memohon dengan sikap sedemikian rupa sampai aku nyaris tak bisa bernapas, barulah Pak Polisi itu menghiburku dengan gurauannya dan melakukan apa yang kuminta. Aku merasa jauh dalam lubuk hatiku, bahwa segala sesuatunya berlangsung terlalu cepat--rasanya terlalu mudah bagiku untuk bisa membebaskan diri dari cengkeraman Ibu.

Berjam-jam kemudian kami kembali lagi ke perawat yang semula merawat dan memandikan aku. Ia membungkuk untuk mengatakan sesuatu. Aku menunggu. Ia memandang ke mataku. Lalu, setelah beberapa saat, ia pergi. Dokter yang merawatku menghampiri aku dari arah belakangku.

Diremas-remasnya pundakku dengan lembut, sambil memberi aku kantong berisi krim untuk mengolesi lenganku. Kemudian ia mengingatkan aku untuk menjaga lenganku tetap bersih,sebersih mungkin. Ia juga mengatakan bahwa aku sudah terlalu terlambat untuk mengobati lenganku. Aku memandangi Pak Polisi, lalu memandangi lengan tanganku. Aku tidak mengerti.

Bagiku, tak ada yang aneh dengan lenganku,sama seperti biasanya--warnanya merah gelap, kulitnya tipis. Kedua lenganku memang agak cengkong, tapi itu biasa-biasa saja bagiku. Sebelum aku dan Pak Polisi pergi meninggalkan rumah sakit itu, Pak Dokter menggamit lengan Pak Polisi dan mengajaknya bicara sebentar, "David harus banyak makan, dan dia harus sering kena sinar matahari". Kemudian Pak Dokter lebih mendekatkan dirinya ke Pak Polisi dan bertanya, "Mana ibunya? Anda tidak akan memulangkan David ke...?"

Pak Polisi itu menatap tajam mata Pak Dokter. "Jangan khawatir, Dok. Aku sudah berjanji pada anak ini. Ibunya tak akan pernah menyakitinya lagi."

Sejak saat itu aku tahu bahwa aku aman. Ingin sekali aku memeluk kaki Pak Polisi yang berdiri di dekatku itu. Tapi aku tahu aku tak perlu melakukannya. Mataku berbinar karena senang. Pak Polisi itu menjadi pahlawanku.

Beberapa menit setelah kami meninggalkan rumah sakit, Pak Polisi melambatkan laju mobilnya saat memasuki daerah berbukit, menyusuri jalan kecil. Kuturunkan kaca jendela pintu mobil, lalu memandang takjub bukit-bukit terjal berwarna cokelat dan pepohonan redwood.

Tak berapa lama kemudian Pak Polisi memarkir mobilnya. "Nah, David, kita sudah sampai." Agak ke bawah sana kulihat rumah paling cantik yang pernah kulihat selama ini. Pak Polisi menjelaskan bahwa aku akan tinggal untuk sementara waktu di rumah itu, dan bahwa rumah itu adalah rumah orangtua asuhku yang baru.

Belum pernah aku mendengar "rumah orangtua asuh", tapi rasanya aku akan senang tinggal dirumah itu. Bagiku, rumah itu kelihatan seperti sebuah pondok yang amat besar yang terbuat dari kayu, dengan banyak jendela yang dibiarkan terbuka.

Aku bisa melihat ada sebuah pekarangan terbuka yang sangat luas di belakang rumah itu. Dari arah situ aku bisa mendengar suara teriakan gembira dan gelak tawa yang menggema melewati sebuah anak sungai kecil.

Ibu pengasuh rumah orangtua asuh itu memperkenalkan diri sebagai "Bibi Mary", ketika ia menyambut kedatanganku di pintu dapur. Ucapan terima kasihku kepada Pak Polisi kuungkapkan dengan menjabat tangannya keras-keras.


Aku merasa tidak enak karena telah memaksanya bekerja lembut demi diriku. Pak Polisi berlutut dan berkata dengan suara yang dalam, "David, anak-anak seperti kaulah yang mendorong aku menjadi seorang polisi." Langsung kupeluk lehernya. Pada saat memeluk itu, lenganku terasa panas seperti terbakar. Aku tak peduli. "Terima kasih, Pak."

"Hei... terima kasih kembali, Nak," jawabnya. Pak Polisi itu kemudian menjalankan mobilnya mengikuti jalan memutar di halaman rumah itu. Dari dalam mobil, dengan tangannya ia memberi hormat padaku, lalu meluncur pergi. Aku bahkan tak tahu namanya.

Setelah memberi aku makan malam daging sapi iris yang empuk dan lezat, Bibi Marry memperkenalkan aku kepada tujuh anak lain di rumah itu yang, seperti aku, juga tidak tinggal lagi bersama orangtua kandung mereka karena alasan tertentu. Satu per satu, kuperhatikan dengan saksama raut wajah mereka.

Ada yang sorot matanya hampa, ada yang penuh kecemasan, ada yang penuh kebingungan. Aku tidak tahu bahwa ada juga anak-anak lain yang tidak diinginkan oleh orangtuanya; selama bertahun-tahun ini, aku kira akulah satu-satunya anak seperti itu.

Mulanya aku malu-malu, tetapi setelah anak-anak itu melontarkan beberapa pertanyaan kepadaku, aku mulai banyak cakap. "Kenapa kau juga tinggal di sini?" tanya mereka. "Apa yang terjadi denganmu?"

Aku menundukkan kepala, baru menjawab bahwa ibuku tidak menyukai aku karena aku sering bikin masalah. Aku malu. Sebetulnya aku tak mau menceritakan rahasia di antara aku dan Ibu kepada mereka. Ternyata anak-anak itu bersikap biasa-biasa saja setelah mendengar jawabanku, sebab keadaanku tidak terlalu berbeda dengan mereka. Pada saat itu juga kehadiranku mereka terima.

Ada dorongan energi yang mau meluap dari dalam diriku. Sejak saat itu aku jadi anak yang tidak bisa berdiam diri. Aku berlarian ke segala penjuru rumah,seolah-olah celanaku terbakar. Aku melucu, tertawa, dan berteriak girang,meluapkan perasaan sendirian dan kesepian yang kualami selama bertahun-tahun.

Aku betul-betul tak bisa mengendalikan diri. Aku berlarian, keluar masuk semua kamar yang ada di rumah itu, melompat-lompat di kasur di setiap tempat tidur. Aku melompat tinggi sekali, sampai-sampai kepalaku bisa menyundul langit-langit. Aku baru berhenti bila kepalaku sakit dan mataku berkunang-kunang.

Tapi aku tak peduli. Anak-anak lain di rumah itu menyoraki aku, memberi aku semangat. Tawa mereka terasa hangat, ceria, dan penuh dukungan. Berbeda dengan perlakuan yang kuterima dari teman-temanku disekolah dulu yang selalu mengejek dan menghina.

Sikap ugal-ugalanku berhenti seketika, saat aku berlari ke ruang keluarga dan nyaris menabrak sebuah lampu. Secara refleks Bibi Mary mencekal tanganku, menahan laju lariku. Bibi Mary hampur memarahi aku, tetapi tidak jadi ketika ia melihat sikapku. Aku menutupi wajahku dan lututku gemetaran.


Bibi Mary adalah perempuan agak tua yang sangat disiplin. Sikapnya tegas,tetapi ia tidak pernah mamarahi orang sambil berteriak, tidak seperti yang dikatakan orang mengenai dirinya. kegiranganku yang meluap-luap sore itu mendadak hilang, secepat udara yang keluar dari balon yang sumbatannya dibuka. Bibi Mary melepaskan pegangannya dari lenganku, lalu berlutut, dan bertanya, "Kau diapakan saja oleh ibumu?"

"Aku minta maaf," kataku gagap dengan suara pelan. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Bibi Mary. Sikap tubuhku adalah sikap melindungi diri. "Aku anak nakal, jadi aku memang pantas menerima perlakuan ibuku."

Malam itu Bibi Mary menemani dan menjagai aku di tempat tidur. Kemudian aku mulai menangis, saat mengatakan kepadanya bahwa aku takut Ibu datang dan membawaku pergi dari rumah itu. Bibi Mary mengatakan agar aku tidak perlu khawatir, dan ia menemani aku sampai aku merasa tenteram kembali.

Aku memandang ke langit-langit rumah yang terbuat dari kayu cedar. Aku jadi ingat pondok di Guerneville. Akhirnya aku terlelap juga. Di kepalaku masih tersisa pikiran tentang Ibu yang ada di luar sana, di suatu tempat, dan siap menyeretku pulang.

Aku bermimpi. Aku sendirian, berdiri di ujung sebuah lorong yang panjang dan gelap. Di ujung sana, muncul sebuah sosok mirip bayangan, yang semakin lama bentuknya semakin jelas. Itu Ibu. Ia tampak berjalan ke arahku. Entah mengapa, aku cuma berdiri diam. Aku tidak bergerak; aku bahkan tidak berusaha untuk bergerak.

Semakin Ibu mendekat, semakin kelihatan jelas wajahnya yang merah dan penuh kebencian. Ibu memegang pisau di tangannya yang terangkat ke atas, dengan sikapnya yang mantap dan siap menyerangku.


Aku berbalik dan lari di sepanjang lorong yang rasanya tak berujung itu. Dengan sekuat tenaga, aku melangkahkan kaki-kakiku secepat mungkin. Aku mencari cahaya. aku merasa berlari terus dan terus, seperti tak berhenti. Aku mempercepat lariku ketika kulihat celah untuk menyelamatkan diri, tetapi tiba-tiba lorong itu berputar dan berbalik arah.

Aku bisa merasakan napas Ibu yang tak sedap di tengkukku. Aku juga bisa mendengar ia bernyanyi-nyanyi bahwa tak ada tempat bagiku untuk melarikan diri dan bahwa ia tak akan pernah melepaskan aku begitu saja.

Aku terputus dari mimpiku. Muka dan dadaku basah oleh keringat dingin. Tanpa sadar bahwa sebenarnya aku sudah tidak lagi dalam mimpi, aku menutupi wajahku. Setelah napasku berangsur-angsur teratur kembali, aku terjaga dan melihat ke sekelilingku dengan panik. Ternyata aku masih di kamar yang sama,di rumah berkayu cedar itu. aku masih mengenakan piama yang dipinjamkan Bibi Mary kepadaku.

Aku meraba-raba sekujur tubuhku untuk memeriksa jangan-jangan ada luka. Aku bermimpi, kataku dalam hati. Cuma mimpi buruk. Aku mencoba mengatur napasku, tetapi aku tidak mampu menghilangkan gambaran dari mimpiku tadi. Di kepalaku terngiang-ngiang suara Ibu: "Aku tak akan pernah melepaskanmu. Tak akan pernah!"

Aku turun dari tempat tidur dan dalam gelap aku bersusah payah mengganti pakaianku. Kemudian aku naik lagi ke tempat tidur. Aku duduk sambil mendekapkan kedua lututku ke dada. Aku tidak bisa tidur lagi. Jadi, disitulah sekarang Ibu berada--di dalam mimpiku. Aku merasa bahwa keputusan untuk membawaku pergi dari rumah adalah keliru, dan aku tahu bahwa sebentar lagi aku pasti dikembalikan kepada Ibu.

Malam itu, dan malam-malam sesudahnya, ketika semua orang sudah tidur, aku duduk di tempat tidur dengan mendekapkan kedua lututku ke dada, bergoyang ke depan ke belakang sambil menggumam sendiri.

Aku akan memandang ke luar jendela dan mendengarkan suara pepohonan yang dedaunannya melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku tak akan membiarkan diriku bermimpi buruk lagi.

Pertama kali aku berurusan dengan Child Protective Service (dinas perlindungan anak) di wilayah itu terjadi saat aku didatangi seorang bidadari bernama Ms. Gold. Rambutnya yang panjang, pirang, dan mengilat,serta wajahnya yang riang sepadan dengan namanya. "Hai," katanya sambil tersenyum. "

Aku pekerja sosial yang ditugaskan untuk menemanimu". Maka,mulailah kami mengobrol lama sekali. Kalau obrolan kami tidak selesai pada suatu hari, esok harinya atau lain waktu obrolan itu diteruskan lagi. Begitu seterusnya. Dalam obrolan-obrolan itu aku sering harus menjelaskan banyak hal yang sebetulnya aku sendiri tidak begitu memahaminya.

Pada saat-saat pertama kali kami mengobrol, aku duduk sampai mepet ke ujung sofa, sementara Ms. Gold duduk ujung yang satunya lagi. Tanpa aku sadari, pelan-pelan dan sedikit demi sedikit ia menggeser badannya sampai akhirnya ia duduk dekat dengan aku dan bisa menggenggam tanganku.

Mula-mula aku merasa takut sekali ketika ia menggenggam tanganku. Aku merasa tidak pantas menerima kelembutannya. Tetapi Ms. Gold tetap menggenggam tanganku, meremas-remas pelan telapak tanganku, sambil meyakinkan aku bahwa ia ditugaskan untuk membantuku. Pada hari pertama itu kami ngobrol sampai lima jam lebih.

Pertemuan-pertemuan kami berikutnya sama lamanya. Ada kalanya aku takut sekali untuk menceritakan atau menjelaskan sesuatu. Kalau sudah begitu,biasanya kami berdiam diri saja untuk waktu yang cukup lama. Pernah juga terjadi beberapa kali secaara tiba-tiba aku menangis tanpa sebab yang jelas.


Ms. Gold tidak menjadi kesal atau panik. Ia mendekapku erat-erat penuh kehangatan, mengayun-ayun, sambil berbisik di telingaku bahwa semuanya akan segera berakhir, semuanya akan beres. Kadang kala kamu sekadar bermalas-malasa di sofa itu, dan aku omong mengenai banyak hal yang tidak berkaitan dengan masa laluku yang buruk.

Pada saat-saat seperti itu biasanya aku memainkan rambut panjang Ms. Gold. Biasanya aku bermalas-malasan dengan berbantalkan lengan Ms. Gold, dan dalam setiap tarikan napasku aku mencium wangi bunga dari parfum yang dipakainya. Dalam waktu singkat aku bisa mempercayai Ms. Gold.

Ia jadi sahabatku. Pulang dari sekolah, setiap kali melihat mobil Ms. Gold,aku berlari sekencang mungkin, lalu menghambur masuk ke rumah Bibi Mary sebab aku tahu Ms. Gold sudah datang di situ untuk menemuiku. Di akhir obrolan, kami selalu berpelukan, saling menguatkan.

Kemudian Ms. Gold membungkuk dan meyakinkan aku bahwa aku tidak sepantasnya diperlakukan seperti yang pernah kualami, dan bahwa yang diperbuat Ibu terhadapku bukan akibat kesalahanku.

Sebetulnya sudah beberapa kali aku mendengar Ms. Gold berkata demikian, namun karena aku sudah bertahun-tahun mengalami "cuci otak"--untuk mendengarkan serta menuruti hanya perkataan Ibu--aku merasa agak aneh juga untuk menerima begitu saja perkataan Ms. Gold. Rasanya,banyak sekali peristiwa terjadi dalam waktu yang sangat cepat, bagiku.

Suatu kali pernah aku bertanya kepada Ms. Gold mengapa ia memerlukan semua informasi mengenai aku dan Ibu. Ia menjawab bahwa jaksa penuntut yang mewakili masyarakat di wilayah itu membutuhkan semua informasi tersebut untuk digunakan menuntut ibuku. Aku ngeri mendengar jawaban itu. "Jangan!" aku memohon. "Dia tidak boleh tahu aku menceritakannya padamu! Jangan sampai dia tahu!"

Ms. Gold tetap berusaha meyakinkan aku bahwa yang kulakukan sudah benar. Tetapi ketika ia sudah pergi dan aku bisa berpikir sendirian, aku berkesimpulan lain. Yang bisa aku ingat adalah bahwa dulu itu aku selalu membuat orang marah. Selalu ada masalah yang menjadi alasan aku pantas dihukum.

Setiap kali orangtuaku cekcok, namaku pasti disebut-sebut. Apakah memang Ibu yang bersalah? Mungkin juga memang aku yang pantas menerima segala sesuatu selama bertahun-tahun itu. Aku memang berbohong dan mencuri makanan, bukan?

Aku pun tahu bahwa akulah penyebab Ibu dan Ayah tidak lagi hidup bersama. Apakah jakwa pengadilan wilayah akan memasukkan Ibu kepenjara? Lalu, bagaimana nasib saudara-saudara lelakiku? Pada hari itu,setelah Ms. Gold pergi, aku duduk sendirian di sofa. Banyak pertanyaan bertubi-tubi muncul di kepalaku. Aku mulai merasa mual. Astaga! Apa yang telah kulakukan?

Beberapa hari kemudian, pada hari Minggu sore, saat aku sedang di luar rumah belajar main basket, aku mendengar suara station wagon Ibu yang sudah sangat kukenal. Jantungku terasa seperti berhenti berdenyut. Kupejamkan mata,jangan-jangan aku sedang bermimpi. Ketika kepalaku jerniih kembali, aku berlari masuk ke rumah Bibi Mary, langsung menghampirinya. "Itu... itu mobil..." kataku gugup.

"Ya, aku tahu," kata Bibi Mary lembut sambil mendekapku. "Dan kau akan baik-baik saja."

"Tidak! Kau tidak me... dia akan membawaku pergi dari sini! Dia menemukan aku!" jeritku. Aku berontak untuk melepaskan dekapan Bibi Mary, sehingga aku bisa lari keluar mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.

Dekapan Bibi Mary tidak melonggar sedikit pun. "Bukan maksudku membuatmu marah," kata Bibi Mary. "Ibumu sekadar ingin mengantarkan beberapa potong pakaian untukmu. Kau akan menghadiri pengadilan hari Rabi besok, dan Ibumu ingin kau kelihatan rapi."

"Tidak!" jeritku. "Dia mau membawaku! Dia mau membawaku pulang!"

"David, diamlah! Aku akan terus menemanimu kalau kau mau. Nah, diamlah dulu,anak muda!" Bibi Mary berbuat sebaik mungkin untuk membuatku tenang kembali. Tetapi mataku seperti mau copot ketika melihat Ibu berjalan memasuki halaman bersama keempat anak lelakinya berbaris di belakangnya.

Aku duduk di sampir Bibi Mary. Salam perjumpaan halo-hai-apa kabar meluncur. Aku sendiri bersikap seperti seekor anjing yang terlatih, menjadi diriku yang dulu--menjadi anak dengan panggilan "It". Aku jadi berubah begitu saja,dari anak yang penuh semangat menjadi budak Ibu yang tidak kelihatan,seperti dulu di rumah Ibu.

Ibu sedikit pun tidak melihat ke arahku. Dia cuma berbicara kepada Bibi Mary saja. "Jadi, bagaimana kabar Anak Itu?"

Aku memandang wajah Bibi Mary. Tampaknya ia agak terganggu dengan sikap yang ditunjukkan Ibu. Matanya berkejap. "David? David baik-baik saja, terima kasih. Ia ada di samping saya. Anda tahu, bukan?" jawab Bibi Mary sambil menggenggam tanganku lebih erat lagi.

"Ya," sahut Ibu dengan suara datar, "saya bisa melihatnya." Bisa kurasakan kebencian Ibu membakarku. "Dan bagaimana sikapnya terhadap anak-anak lain disini?"

Bibi Mary menelengkan kepalanya. "Sangat baik. David sangat ramah dan sangat membantu kami di sini. Dia selalu membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan," ia menjawab, tahu bahwa Ibu tidak mau berbicara langsung kepadaku.

"Tapi... Anda tetap harus berhati-hati," Ibu memperingatkan. "Dia selalu mencoba mencelakai anak-anak lain. Dia tidak pernah bisa bergaul baik dengan orang-orang lain. Anak Itu kejam. Dia butuh perhatian khusus, dan disiplin adalah satu-satunya cara yang selama ini saya tanamkan kepadanya. Anda tidak tahu bagaimana Anak Itu."

Bisa kurasakan otot lengan Bibi Mary menegang. Ia agak mencondongkan badannya ke depan sambil menyunggingkan senyumannya--senyuman yang penuh makna sekaligus tajam. "David adalah anak muda yang baik. David memang agak terlalu bersemangat... tapi itu semua wajar, mengingat apa yang selama bertahun-tahun ini ia alami!"

Tiba-tiba aku sadar apa yang sedang terjadi. Ibu sedang berusaha mempengaruhi Bibi Mary, tetapi Ibu kalah. Aku meringkukkan bahuku dan hampir selalu memandangi karpet di bawahku, memberi kesan kepada Ibu seolah-olah aku ini anak anjing yang takut berhadapan dengannya.

Tetapi diam-diam aku menyimak setiap kata, setiap kalimat yang keluar dalam percakapan kedua orang tua itu. Ah, akhirnya, kataku dalam hari. Akhirnya ada juga orang yang bisa memojokkan Ibu. Yes!

Semakin aku menyimak nada suara Bibi Mary dalam menanggapi perkataan Ibu,kepalaku semakin tegak. Aku sungguh menikmatinya. Pelan-pelan kepalaku semakin tegak. Aku memandang Ibu langsung ke matanya. Aku tersenyum dalam hati. Menyenangkan sekali. Memang sudah waktunya, kataku dalam hati.

Saking asyiknya menikmati pembicaraan itu, tanpa kusadari kepalaku bergerak ke kiri ke kanan lalu kembali lagi, begitu seterusnya, seakan-akan aku sedang menyaksikan pertandingan tenis. Bibi Mary sekali lagi berusaha mendesak Ibu untuk mau mengakui bahwa aku ada di antara mereka. Aku mengangguk kepada Ibu sebagai tanda aku menyetujui ucapan Bibi Mary.

Aku mulai merasa percaya diri. aku adalah seseorang. Aku sama seperti orang-orang lain, kataku dalam hati. Bahkan tubuhku pun mulai merasa semakin nyaman. Aku tidak lagi merasa takut. Itulah saat ketika aku merasa bisa menikmati banyak hal dengan wajar. Sampai akhirnya aku mendengar dering telepon.

Aku langsung menoleh ke sebelah kanan ketika telepon di dapur berdering. Deringnya terdengar keras sekali dan mengejutkan. Aku menghitung deringannya, sambil berharap ada orang yang mengangkatnya. Aku menjadi semakin tegang ketika telepon itu sudah berdering 12 kali.

Bibi Mary memutar tubuhnya ke arah dapur. Cepat-cepat kupegang lengannya. Ayo dong, kataku dalam hati. Tidak ada orang di rumah. Matikan saja teleponnya. Tetapi telepon itu tetap berdering--16, 17, 18 kali. Tutup! Tutup! Kemudian aku merasakan gerakan Bibi Mary yang bersiap untuk berdiri.

Tanganku tetap memegang lengannya, mencoba memaksanya untuk duduk terus, tidak usah berdiri. Ketika akhirnya ia berdiri, aku mengikutinya. Tangan kananku memegang erat lengan kirinya. Ia menghentikan langkahnya dan mencoba melepaskan pegangan tanganku. "David, jangan begitu ya. Aku cuma mau menjawab telepon itu sebentar saja. Ayo, kamu harus sopan.

Duduklah." Aku tetap berdiri. Aku tidak melepaskan pandanganku dari mata Bibi Mary. Baru kemudian Bibi Mary menangkap maksudku. Ia menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu," katanya dengan suara pelan. "Ayo, kamu boleh ikut aku."

Aku menarik napas lega, lalu mengikuti Bibi Mary ke dapur. Tiba-tiba tangan kiriku disentakkan ke belakang sampai aku hampir jatuh, tapi aku berhasil menyeimbangkan badanku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku.

Kedua kakiku mulai gemetar. Ibu duduk di depanku, sangat dekat. Napasnya yang berat terdengar jelas, dan itu membuatku takut. Mukanya merah gelap. Dari balik kacamatanya, kulihat sorot mata Ibu penuh kemarahan. Aku mencari-cari Bibi Mary, tetapi ia sudah masuk ke dapur.

Aku memandang ke lantai, sambil berharap Ibu tidak di situ. Ibu mencengkeram tanganku semakin erat. "Lihat aku!" desisnya. Aku seperti tidak bisa bergerak. Aku mau berteriak, tapi aku merasa seperti bisu. Sorot mata Ibu yang jahat menghujam ke mataku. Aku memejamkan mata saat kurasakan wajah Ibu semakin dekat ke wajahku.

Suara Ibu terdengar semakin kejam, "Kau betul-betul begundal kecil, bukan? Kenapa, kau tidak kelihatan seberani tadi. Betul, kan? Ada apa? Kau ditinggal oleh Bibi Mary-mu yang kecil itu ya?" Ibu menarik aku lebih dekat lagi kepadanya, sampai-sampai aku bisa mencium bau napasnya dan merasakan percikan ludahnya di wajahku.

Lalu suaranya terdengar dingin. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tahu?! Kau tahu aku ditanyai macam-macam oleh orang-orang itu? Kau tahu bahwa kau membuat malu Keluarga Ini?" Demikian Ibu bertanya, sambil tangan kirinya direntangkan ke arah saudara-saudara lelakiku yang duduk di sampingnya.

Lututku seperti tak mampu menahan berat badanku. Aku mau ke kamar kecil, aku mau muntah. Ibu tersenyum, sehingga tampak gigi-giginya yang kuning kehitaman. "Orang-orang mengira aku sengaja menyakitimu. Haruskah aku melakukannya?"

Aku mencoba menoleh ke arah dapur. Sepertinya aku tidak mendengar suara Bibi Mary menjawab panggilan telepon.

"Nak!" suara Ibu tajam, hampir berbisik, "Boy... dengar baik-baik! Aku tak peduli apa kata orang! Aku tak peduli apa yang mereka lakukan! Kau belum terbebas dari aku! Aku pasti mengambilmu lagi! Kau dengar? Aku pasti mengambilmu lagi!"

Ketika mendengar Bibi Mary selesai menelepon, Ibu melepaskan tanganku dan mendorongku. Aku duduk dan melihat penyelamatku berjalan kembali ke ruang tengah dan duduk di sampingku. "Maaf pembicaraan kita terpotong," kata Bibi Mary.

Ibu mengejap-ngejapkan matanya dan melambaikan tangan. Sikapnya langsung berubah jadi anggun. Dia berakting lagi. "Terpotong? Oh, telepon tadi? Tidak apa-apa. Aku harus... sepertinya kami pamit pulang saja sekarang."

Kulirik saudara-saudara lelakiku. Mata mereka kaku dan tidak tampak jenaka. Kupandangi mereka sambil bertanya-tanya dalam hari, mereka berpikir apa tentang aku. Kecuali Kevin yang masih kecil, ketiga saudara lelakiku yang lain itu kelihatannya ingin sekali membanting lalu menginjak-injak aku. Aku tahu mereka membenci aku, dan aku merasa pantas mereka benci, sebab aku sudah membocorkan rahasia keluarga.

Aku mencoba membayangkan bagaimana keadaan mereka hidup hanya bersama Ibu. Bagaimanapun, aku berdoa semoga mereka memaafkan aku. Aku merasa seperti orang yang mencurangi teman-temanku sendiri. Aku juga berdoa semoga tidak seorang pun di antara mereka tertulari sikap Ibu yang penuh kebencian. Aku kasihan terhadap mereka. Mau tak mau mereka hidup di dalam neraka.

Setelah berbasa-basi lagi dan setelah Ibu menyampaikan lagi peringatan-peringatannya kepada Bibi Mary, Keluarga itu pun pulang. Sampai suara mobil Ibu menjauh dari rumah Bibi Mary dan tak terdengar lagi, aku masih terpaku di tempat dudukku semula. Sepanjang sore itu aku duduk terusdi ruang tengah, badanku mengayun ke depan ke belakang sambil mengulang-ulang ucapan Ibu. "Aku akan mengambilmu lagi. Aku akan mengambilmu lagi."

Malam itu aku tidak bisa makan. Aku juga tidak bisa tidur. Aku resah, Cuma berguling-guling di tempat tidur, sampai akhirnya aku duduk dengan mendekap kedua lututku. Ibu betul. Dalam hati, aku tahu bahwa dia akan mengambilku lagi. Aku memandang ke luar jendela kamarku. Bisa kudengar suara angin menggesek pucuk-pucuk pohon sehingga ranting-rantingnya saling bergesekan. Dadaku sesak. Aku menangis. Saat itu juga aku sadar bahwa tidak ada jalan keluar bagiku.

Esok harinya, di sekolah, aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saat istirahat, aku berjalan-jalan di seputar tempat bermain, tanpa tujuan,seperti mayat hidup. Sore harinya aku bertemu Ms. Gold di rumah Bibi Mary.


"David, dua hari lagi kita akan ke pengadilan. Aku mau mengajukan beberapa pertanyaan lagi, cuma untuk memeriksa dan memastikan saja semuanya yang sudah pernah kita obrolkan. Setuju, Sayang?" tanya Ms. Gold dengan senyum lebar.

Aku tak mau bicara. Aku duduk kaku di pojok sofa. Aku tidak berani memandang Ms. Gold. Ketika ia tampak semakin putus asa, aku berkata pelan, "Menurutku,aku tidak perlu berkata apa-apa."

Ms. Gold melongo, tidak mempercayai apa yang baru saja aku katakan. Ia ingin berbicara, tapi kuangkat tanganku sebagai tanda agar ia tidak usah berbicara apa-apa. Lalu aku menyatakan bahwa semua yang pernah kuceritakan kepadanya bohong belaka. Akulah penyebab segala persoalan dalam rumah tangga. Kukatakan padanya bahwa memar-memar di tubuhku akibat jatuh dari tangga.

Aku menabrak pintu. Aku melukai dan memukuli diriku sendiri. Aku menusuk diriku sendiri. Kemudian aku berteriak, mengatakan kepada Ms. Gold bahwa ibuku adalah perempuan yang cantik dan baik hati, yang merawat kebun bunganya dengan telaten, mengurusi rumah tangganya dengan sempurna, memiliki keluarga yang sempurna, dan akulah yang menuntut perhatian darinya karena aku takut disaingi oleh saudara-saudara lelakiku. Semuanya adalah salahku.

Ms. Gold tidak bisa bicara apa-apa. Ia seperti menghambur ke arahku yang tetap dalam posisi duduk. Beberapa kali ia berusaha mengambil dan menggenggam tanganku. Kutepiskan jari-jarinya yang lembut itu. Tampak sekali ia jadi semakin putus asa, lalu mulai menangis.

Setelah beberapa jam berlalu dan berkali-kali berusaha melunakkan hatiku, Ms. Gold memandangiku. Air matanya mengering, meninggalkan bekas di pipinya. Bagian bawah matanya pun jadi berlepotan eyeliner. "David, Sayang," katanya sambil terisak, "aku tidak mengerti. Kenapa kau tidak mau bicara padaku? Kenapa, Sayang?"

Kemudian ia mencoba mengubah sikapnya. Ia berdiri dan menunjuk-nunjuk kearahku. "Kau tahu bahwa kasus ini sangat penting? Kau tahu bahwa yang kuceritakan kepada orang-orang di kantorku adalah seorang anak lelaki yang cakep, yang berani menceritakan segala rahasianya?"

Aku memandang Ms. Gold dengan tajam, dan itu membuatnya terdiam. "Aku tidak perlu berkata apa pun," jawabku dingin.

Ms. Gold membungkuk, berusaha memaksaku supaya tidak berpaling darinya.
"David, please..." ia seperti memohon.

Tapi bagiku ia tidak ada di situ. Aku tahu bahwa ia sebagai pekerja social yang ditugasi mendampingi aku sedang mengupayakan segala cara untuk membantuku. Sayangnya, kemurkaan Ibu lebih menakutkan bagiku daripada kemarahan Ms. Gold. Sejak Ibu menyatakan "Aku akan mengambilmu kembali", aku tahu bahwa segala sesuatu di duniaku yang baru lenyap sudah.

Ms. Gold mencoba memegang tanganku. Dengan kasar kutepiskan tangannya.Kemudian aku memunggunginya. "David James Pelzer!" bentaknya. "Kau tahu akibat dari perkataanmu? Kau tahu akibat dari sikapmu ini?

Lebih baik kau ceritakan semua yang kau alami dengan sebenar-benarnya! Sebentar lagi kau harus mengambil keputusan penting, maka sebaiknya kau bersiap-siap melakukannya!"

Ms. Gold kembali duduk di sebelahku. "David, kau harus tahu bahwa dalam hidup seseorang hanya ada sedikit saja saat di mana pilihan atau keputusan yang kau ambil saat ini akan mengubah hidupmu di kemudian hari, seumur hidupmu. Aku bisa membantumu, asalkan kau mau aku bantu. Kau mengerti,bukan?"

Sekali lagi, aku membuang muka. Tiba-tiba Ms. Gold berdiri. Wajahnya memerah dan tangannya gemetar. Aku mencoba menahan segala perasaanku, namun kemarahanku meluap juga. "Tidak!" aku berteriak.

"Anda tidak mengerti! Anda idak mengerti sama sekali! Dia akan mengambilku kembali. Dia pasti menang. Dia selalu menang. Tidak seorang pun bisa mencegah Ibu. Anda juga tidak,tidak seorang pun! Dia akan mengambilku kembali!"

Wajah Ms. Gold semakin merah padam. "Astaga!" katanya tertahan, sambil membungkuk, mencoba memelukku. "Ibumu bilang begitu? David, Sayang..." tangannya mulai menjangkauku.

"Tidak!" jeritku. "Biarkan aku sendirian. Anda... pergi saja!"

Ms. Gold berdiri. Sejenak ia memandangku, lalu meninggalkan aku dengan langkah-langkah lebar. Tidak lama kemudian kudengar pintu dapur ditutup dengan keras. Segera aku berlari ke dapur, tetapi langkahku hanya sampai kepintu dapur, dan aku berdiri terpaku. Dari balik pintu dapur yang berkawat kasa itu aku bisa melihat Ms. Gold berjalan cepat, dengan marah.

Langkahnya tersandung dan ia jadi terhuyung. Kertas-kertas di tangannya berhamburan tertiup angin. Aku sempat mendengarnya mengumpat. Susah payah ia mengumpulkan kembali kertas-kertasnya yang berhamburan itu. Ketika mencoba berdiri lagi, ia jatuh berlutut. Bisa kulihat wajahnya menampakkan rasa putus asa. Ia berdiri lagi, lalu berjalan menuju mobil dinasnya.

Ia menutup pintu mobilnya, lalu menyandarkan kepalanya ke stir mobil. Sambil berdiri dibalik pintu dapur berkawat kasa itu, bisa kudengar Ms. Gold—bidadari penolongku--terisak. Beberapa menit kemudian, barulah ia menyalakan mesin mobilnya dan pergi.

Aku masih berdiri di belakang pintu dapur. Dalam hati aku menangis. Aku tahu, aku tidak pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Bagaimanapun,menurutku, berbohong kepada Ms. Gold lebih ringan dosanya daripada mengatakan yang sebenarnya. Masih di balik pintu dapur, aku berdiri,bingung. Menurutku, aku tahu Ibu pasti akan mengambilku kembali, dan tak seorang pun bisa mencegahnya.

Tetapi ketika kemudian aku menyadari sikap Ms.Gold yang selalu baik, aku menyadari juga bahwa aku telah menempatkannya pada situasi yang tidak mengenakkan. Aku tak pernah bermaksud menyakiti siapa pun, apalagi Ms. Gold. Aku masih berdiri saja, mematung di balik pintu dapur. Ingin rasanya aku bersembunyi di balik batu-batu yang besar. Bersembunyi selamanya.



Indo community