1. KABUR
Musim dingin 1970, Daly City, California -- Aku sendirian. Dalam gelap, aku kelaparan dan menggigil kedinginan. Aku duduk di atas tanganku, di bawah tangga, di basement. Kepalaku lunglai ke belakang. Sudah berjam-jam sebelumnya tanganku tak bisa merasakan apa-apa. Otot-otot di bagian leher dan pundakku nyeri dan pegal. Tapi aku sudah terbiasa dengan semua itu, dan aku juga sudah tahu cara untuk tidak merasakannya.
Aku tawanan Ibu.
Umurku sembilan tahun. Hidup tidak menyenangkan seperti itu sudah kujalani selama beberapa tahun. Setiap hari. Bandun, beranjak dari dipan berkain tua,dari basement aku naik ke ruang atas untuk menyelesaikan semua tugasku, yang harus kukerjakan di pagi hari.
Kalau nasib sedang baik, aku mendapat sarapan sereal yang tersisa di mangkuk saudara-saudara lelakiku. Aku berlari kesekolah, mencuri makanan, pulang ke "Rumah Itu" dan dipaksa memuntahkan isi perutku di WC untuk membuktikan bahwa aku tidak melakukan kejahatan mencuri makanan apa pun.
Kemudian aku dipukuli atau dipaksa melakukan salah satu "permainan"-nya,kemudian menyelesaikan segala tugas yang harus kukerjakan pada siang hari,kemudian duduk di bawah tangga sampai dipanggil ke atas untuk menyelesaikan segala tugas yang harus kukerjakan pada malam hari. Kemudian, kalau aku bisa menyelesaikan semua tugasku tepat waktu, dan kalau aku tidak melakukan "kesalahan" apa pun, barulah aku diberi sisa-sisa makanan.
Bagiku, sebuah hari baru berakhir hanya saat Ibu mengizinkan aku tidur didipan berkain tua, tempat aku meringkukkan badan sebagai satu-satunya cara menjaga agar tubuhku tetap hangat. Tidur adalah satu-satunya kenikmatan dalam hidupku. Tidur adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk melarikan diri dari hidup keseharianku. Aku senang bermimpi.
Keadaan jauh lebih buruk pada setiap akhir pekan. Tidak ada kegiatan sekolah berarti tidak ada makanan, juga berarti aku lebih lama berada di "Rumah Itu". Pada saat-saat seperti itu, satu-satunya hiburan bagiku adalah berkhayal seolah-olah aku tidak berada di "Rumah Itu"--di tempat lain dimana pun. Sudah bertahun-tahun aku dianggap bukan anggota "Keluarga Itu".
Seingatku, tiba-tiba saja aku jadi anak yang selalu menimbulkan keonaran sehingga "sudah sepantasnya" dihukum. Pada mulanya aku mengira aku ini memang anak nakal. Tapi kemudian kupikir Ibu-lah yang "sakit" sebab sikapnya berubah jadi aneh hanya kalau di rumah cuma ada dia dan aku.
Bagaimanapun,aku tahu bahwa ada hubungan yang aneh antara Ibu dan aku. Selain itu, aku juga menyadari bahwa akulah yang menjadi satu-satunya sasaran Ibu untuk melampiaskan kemarahannya yang tidak jelas dan memuaskan kecenderungannya yang menyimpang.
Aku tak punya rumah. Aku bukan anggota keluarga mana pun. Aku memang anak yang tidak pernah layak merasakan kasih sayang, perhatian. Bahkan aku tidak pantas dianggap manusia--aku cuma "It", sesuatu.
Aku merasa sendirian.
Di ruangan atas, cekcok mulai. Aku tahu, setelah jam empat sore orangtuaku sudah mabuk. Cekcok makin seru. Pertama-tama, mereka saling meneriakkan nama, tapi lama-kelamaan mereka saling mengumpat. Aku hampir selalu bisa memperkirakan kapan aku jadi sasaran cekcok mereka. Pokok cekcok mereka selalu beralih ke aku. Suara Ibu membuat perutku mual.
"Apa kau bilang?" Ibu berteriak ke ayahku, Stephen. "Kau kira aku memperlakukan 'Anak Itu' dengan buruk? Begitu?" Suara Ibu tiba-tiba berubah dingin. Aku bisa membayangkan Ibu sedang menuding-nudingkan jarinya ke wajah Ayah. "Kau... dengar... aku. Kau... tidak tahu bagaimana kelakuan si 'It' itu. Kalau menurutmu aku memperlakukan 'It' dengan buruk... silakan 'It' mencari tempat tinggal lain."
Bisa kubayangkan ayahku--yang bagaimanapun juga selama bertahun-tahun ini masih berusaha melindungiku--memutar-mutar minuman di gelasnya sehingga gelas dan es di dalamnya beradu dan menimbulkan bunyi berdenting. "Tenang dulu," katanya. "Maksudku... bagaimana ya... tak seorang anak pun boleh diperlakukan seperti itu. Astaga, Roerva, kau memperlakukan... anjing saja masih lebih baik daripada kau memperlakukan Anak Itu."
Cekcok mereka mencapai puncaknya. Ibu membanting gelas minumannya ke bak pencuci piring. Dan itu berarti Ayah sudah "keterlaluan". Tak seorang pun berhak mengatakan apa yang harus dilakukan Ibu. Dan aku tahu, akulah yang harus menjadi korban kemarahan Ibu. Aku tinggal menunggu waktunya Ibu memanggilku ke atas. Aku sudah siap.
Pelan-pelan dan hati-hati sekali kubebaskan tanganku dari impitan pantatku. Begitu pun, aku tak berani terlalu membebaskan tanganku--aku tahu persis kadang kala Ibu memeriksa posisis dudukku. Aku tahu, aku tak berhak menggerakkan ototku sendiri kecuali atas perintahnya.
Aku merasa begitu kecil. Aku cuma berharap semoga aku bisa...
Tanpa diduga-duga, Ibu membuka pintu yang menuju ke basement. "Kau!" teriaknya. "Ke sini! Cepat! Sekarang juga!" Secepat kilat aku naik. Sampai di depan pintu aku berhenti, diam, menunggu perintah Ibu selanjutnya, baru kubuka pintu Ibu dan menanti salah satu "permainan" -nya.
Kali itu permainan "address". Aku disuruh berdiri dengan jarak hampir satu meter di depan Ibu; kedua tanganku rapat ke sisi badanku; kepalaku menunduk dengan kemiringan 45 derajat dan mataku harus tetap menatap kakinya.
Pada perintah pertama, aku harus melihat bagian badan Ibu di antara dada dan matanya. Pada perintah kedua, aku harus melihat matanya dan aku sama sekali tidak boleh bicara, bernapas, atau menggerakkan ototku sedikit pun kecuali Ibu mengizinkannya. Aku dan Ibu sudah melakukan permainan ini sejak usiaku tujuh tahun, jadi bagiku permainan hari itu sudah biasa.
Tiba-tiba saja Ibu menjewer kuping kananku. Dengan sendirinya aku menyentakkan kepalaku ke belakang. Karena aku bergerak, Ibu menghukumku dengan satu tamparan keras pada wajahku. Samar-samar, aku sempat melihat tangannya bergerak sebelum mengenai wajahku.
Aku tidak memakai kacamata,sehingga pandanganku agak kabur. Kalau bukan hari sekolah, aku tidak diizinkan memakai kacamata. Tamparannya terasa panas sekali di kulit wajahku. "Siapa suruh bergerak?" bentak Ibu. Aku berusaha tidak memejamkan mata, menatap terus ke satu titik di karpet. Ibu mengamati sikapku. Kemudian dengan menjewer lagi kupingku, Ibu menarikku ke dekat pintu depan.
"Berbalik!" bentak Ibu. "Lihat aku!" Tapi aku mencuranginya. Aku melirik,ternyata Ayah sedang berdiri di dekat situ. Ia menenggak minumannya. Bahunya yang dulu bidang dan tegap, sekarang tampak lunglai. Pekerjaannya sebagai petugas pemadam kebakaran, kebiasaan mabuknya, dan hubungannya yang tidak menenteramkan hati dengan ibu, semua itu menggerogoti dirinya.
Dulu, Ayah adalah pahlawan paling hebat bagiku. Aku bangga akan keberaniannya dalam menyelamatkan anak-anak kecil yang terjebak di dalam rumah atau gedung yang terbakar. Tapi sekarang, Ayah tampak seperti orang kalah.
Kulihat Ayah menenggak lagi minumannya. Lalu suara Ibu terdengar. "Ayahmu ingin mendengar darimu sendiri apakah aku memperlakukanmu dengan buruk. Apakah aku memperlakukanmu dengan buruk? Betul begitu? Betul begitu?"
Bibirku gemetar. Aku bingung, apakah aku harus menjawab Ibu atau tidak,sebab katanya aku dilarang berbicara. Ibu pasti menyaradi kebingunganku, dan itu membuat dia semakin menikmati "permainan"-nya. Apa pun pilihanku, aku tetap akan dihukum. Aku merasa seperti serangga yang menunggu untuk ditepak. Mulutku yang kering terbuka. Aku jadi merasa sulit bicara.
Sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun, Ibu sekali lagi menjewer keras kuping kananku. Jeweran itu membuat kupingku terasa panas sekali. "Tutup mulutmu! Tak ada yang menyuruhmu bicara! Iya, kan? Iya, kan?" Ibu menggeram.
Mataku mencari-cari Ayah. Tak lama kemudian Ayah pasti bisa merasakan apa yang kubutuhkan, sebab ia lalu berkata, "Roerva, bukan begitu caranya memperlakukan Anak Itu."
Kutegangkan lagi tubuhku, dan Ibu berteriak lagi di telingaku, sambil terus menjewer kupingku sedemikian rupa sehingga aku berdiri berjinjit. Wajah Ibu menjadi merah padam. "Jadi, menurutmu aku memperlakukannya dengan buruk?" Sambil menunjuk ke dadanya sendiri, Ibu meneruskan luapan marahnya, "Aku... aku tidak perlu begini. Stephen, kalau kau mengira aku memperlakukan It dengan buruk... ya, It pergi saja dari rumahku!"
Aku meregangkan kedua kakiku, mencoba berdiri lebih tinggi sedikit lagi, lalu mengendurkan tubuhku bagian atas supaya siap menerima pukulan Ibus etiap saat. Tiba-tiba Ibu melepaskan jewerannya, lalu membuka pintu depan. "Keluar!" bentaknya. "Pergi dari rumahku! Muak aku melihatmu! Aku tak menginginkanmu! Tak sedikit pun aku mencintaimu! Enyah dari rumahku!"
Aku mematung. Yang seperti ini belum pernah terjadi. Otakku berputar,mencoba memperkirakan tindakan apa yang akan diambil Ibu. Agar bisa bertahan hidup, aku harus memikirkan segala tindakanku sebelum melakukannya. Ayah melangkah maju sampai di depanku. "Jangan!" teriak Ayah. "Cukup. Cukup,Roerva. Hentikan semuanya. Biarkan Anak Itu apa adanya."
Kemudian Ibu berdiri di antara Ayah dan aku. "Jangan?" tanya Ibu, nada suaranya penuh ejekan. "Sudah berapa kali kau bilang begitu padaku setiap kali menyangkut Anak Itu? Anak Itu ini, Anak Itu itu, Anak Itu, Anak Itu,Anak Itu. Berapa kali, Stephen?" Ibu merentangkan tangannya, lalu memegang Ayah, lalu memperlihatkan sikap memohon pada Ayah; seolah-olah hidup mereka akan menjadi jauh lebih baik kalau aku tidak tinggal bersama mereka lagi--kalau aku tidak ada lagi.
Mendengar ucapan Ibu dan melihat sikapnya, otakku menjerit, Astaga! Ternyata begitu, toh!
Cepat-cepat Ayah memotong perkataan Ibu. "Tidak," kata Ayah dengan suara rencah. Sambil merentangkan tangannya ia berkata, "Semua ini keliru". Dari nada suaranya yang terdengar agak bergetar, aku tahu Ayah sudah kehilangan daya. Ayah tampak seperti mau menangis. Ia memandangku dan menggelengkan kepalanya sebelum menoleh kembali ke arah Ibu. "Dia akan tinggal di mana? Siapa yang akan merawat...?"
"Stephen, tidakkah kau memahami sesuatu? Aku sama sekali tak peduli akan apa yang menimpa dirinya. Peduli setan dengan Anak Itu."
Tiba-tiba pintu depan itu terbuka. Ibu tersenyum. Tangannya memegang pegangan pintu. "Kalau begitu, biar Anak Itu sendiri yang memutuskan pilihannya." Ibu membungkuk. Wajahnya jadi dekat sekali ke wajahku. Napas Ibu bau minuman keras. Sorot matanya dingin dan penuh kebencian. Ingin rasanya aku pergi dari situ, kembali ke basement. Dengan suara pelan dan tajam, Ibu berkata, "Kalau kau merasa aku memperlakukanmu dengan buruk, kau boleh pergi".
Aku memberanikan diri untuk bergerak sedikit dan menoleh kepada Ayah. Ia tidak sedang melihat ke arahku karena pada saat itu ia sedang menenggak minumannya. Aku mulai bingung lagi. Aku tidak tahu persis apa maksud Ibu dengan permainannya kali ini. Tiba-tiba aku sadar bahwa semua ini bukan permainan lagi. Aku perlu waktu beberapa detik untuk memahami bahwa inilah kesempatan bagiku--kesempatan untuk melepaskan diri.
Sudah bertahun-tahun aku berniat melarikan diri, tetapi ada rasa takut yang membuat aku selalu mengurungkan niat itu. Bagaimanapun, pada saat itu aku berkata dalam hati bahwa kesempatan kali itu terasa terlalu mulus. Ingin sekali aku melangkahkan kakiku dan pergi dari situ, tetapi kedua kakiku terasa kaku dan berat.
"Bagaimana?" Ibu berteriak di telingaku. "Semuanya terserah kau." Waktu terasa tak bergerak. Pada saat aku memandang ke bawah, ke karpet, aku mendengar Ibu berkata tajam seperti berbisik. "Dia tidak akan pergi. Anak itu tidak akan pernah pergi. Si "It" tidak berani pergi."
Aku merasakan tulang-belulangku mulai gemetar. Kupejamkan mata sebentar,berkhayal diriku ada di tempat lain. Dalam khayalanku itu aku seakan-akan bisa melihat diriku sedang berjalan ke luar melalui pintu. Aku tersenyum dalam hati. Ingin sekali aku pergi. Semakin kuat aku membayangkan diriku berjalan keluar melalui pintu, semakin kuat rasa hangat yang menjalari jiwaku.
Dan, tiba-tiba, aku merasakan tubuhku bergerak. Mataku terbuka lebar. Kupandangi sepatu ketsku yang sudah butut. Kaki-kakiku melangkah keluar melalui pintu depan. Ya Tuhan, kataku dalam hati, aku tak percaya aku melakukan ini! Tak lagi aku merasa takut. Aku berjalan terus.
"Nah," kata Ibu dengan rasa menang. "Anak Itu akhirnya pergi. Itu keputusannya sendiri. Aku tidak memaksanya. Ingat itu, Stephen. Aku perlu menegaskan padamu bahwa aku tidak memaksa dia pergi."
Aku sudah berada di teras rumah. Tapi aku sadar betul bahwa bisa saja Ibu mencekal kerah belakang bajuku lalu menarikku masuk lagi ke dalam rumah. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Kupercepat langkahku, berbelok ke kanan,menuruni anak tangga yang berwarna merah. Dari arah belakangku aku bias mendengar pembicaraan antara Ayah dan Ibu yang menegang. "Roerva," kudengar Ayah berkata dengan suara rendah, "ini keliru."
"Tidak!" jawab Ibu, pendek dan datar. "Dan ingat, itu keputusannya sendiri.
Lagipula, dia akan kembali."
Karena sedemikian tegang, aku hampir jatuh karena terjegal kakiku sendiri sewaktu menuruni anak-anak tangga itu. Cepat-cepat aku berpegangan pada pegangan tangga untuk menjaga keseimbangan. Sampai juga aku ke trotoar, dan sedapat mungkin kuatur napasku. Aku berbelok ke kanan, lalu menyusuri jalanan sampai tak seorang pun melihat aku menjauhi Rumah Itu, lalu lari. Agak lama kemudian aku berhenti berlari, menoleh ke belakang, melihat kearah Rumah Itu.
Aku berhenti, terengah-engah, kedua tanganku bertumpu pada kedua lututku. Kupasang telinga lebar-lebar agar bisa menangkap suara station wagon Ibu. Bagaimanapun, rasanya terlalu mulus bahwa Ibu membiarkan aku pergi begini. Paling-paling sebentar lagi dia akan mengejarku.
Setelah napasku agak teratur lagi, aku lari lagi. Aku sampai di ujung Crestline Avenue. Ujung jalan itu agak mendaki. Dari situ, agak ke bawah sana, kupandangi lagi rumah kecil berwarna hijau itu. Ternyata tidak ada station wagon yang tergesa-gesa keluar dari garasinya. Tidak ada yang mengejarku. Tidak ada yang memakiku.
Tidak ada yang berteriak padaku. Tidak ada yang memukuliku. Aku tidak sedang duduk di bawah tangga di basement. Aku tidak sedang dipukuli di bagian belakang lututku dengan gagang sapu. Aku tidak sedang dikunci di kamar mandi dan dipaksa menghirup uap campuran amonia dan Clorox.
Aku memutar badan ketika kudengar ada suara mobil melintas di jalan itu. Aku melambaikan tangan.
Sekalipun baju, celana, dan sepatu yang kukenakan rombeng, hatiku senang. Jiwaku merasa hangat. Aku berjanji pada diri sendiri aku tak akan pernah mau pulang lagi. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, berusaha mati-matian untuk tetap bertahan terhadap berbagai pukulan yang menyiksa,dan mengais-ngais tempat sampah untuk bisa makan, kini aku tahu bagaimanapun aku akan tetap hidup.
Aku tidak punya teman, tidak punya tempat berteduh, tidak punya siapa-siapa tempat aku bisa minta tolong. Tetapi aku tahu persis ke mana aku pergi—ke sungai itu. Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi anggota Keluarga Itu, setiap liburan musim panas kami pasti menuju Russian River di Guerneville.
Saat-saat bahagia bagiku adalah hari-hari ketika aku menghabiskan waktu untuk belajar berenang di Johnson's Beach, main perosotan Super Slide, berkeliling dengan gerobak atau mobil yang penuh jerami pada saat matahari terbenam, dan bermain bersama saudara-saudara lelakiku sambil memanjati pohon tua di depan pondok tempat kami menginap. Setiap kali ingat aroma pohon-pohon raksasa redwood dan keindahan sungai yang berair hijau tua itu, aku selalu tersenyum.
Aku tidak tahu persis di mana Guerneville. Yang aku tahu letaknya di sebelah utara Golden Gate Bridge. Aku juga tahu untuk sampai di sana aku butuh beberapa hari perjalanan. Aku tak peduli. Begitu sampai di sana aku bias bertahan hidup misalnya dengan mencuri roti Prancis dan salami dari pasar swalayan Safeway di situ; aku bisa tidur di Johnson's Beach sambil mendengarkan suara mobil-mobil yang lewat di atas jembatan berpenyangga Parker yang selalu hijau, yang mengarah ke kota.
Bagiku, Guerneville adalah satu-satunya tempat yang kurasakan paling aman. Sejak masih sekolah di taman kanak-kanak, aku merasa di Guerneville-lah aku akan menetap kelak. Dan begitu sampai di sana, aku akan tinggal di situ sepanjang hidupku.
Aku mulai memasuki Eastgate Avenue ketika angin dingin menerpa tubuhku. Matahari telah terbenam dan kabut petang mulai bergulung dari arah laut kedekat situ. Erat-erat kuselipkan kedua telapak tanganku ke bawah ketiak, dan terus berjalan sepanjang jalan itu. Gigi-gigiku mulai menggeletuk.
Semangat melarikan diri yang tadinya meluap sedikit demi sedikit sirna. Aku mulai berpikir mungkin, mungkin, Ibu benar juga. Sehebat apa pun Ibu memukuli dan berteriak padaku, paling tidak udara di basement masih lebih hangat daripada di luar sini.
Lagipula, kataku dalam hati, aku memang berbohong dan memang aku mencuri makanan. Mungkin aku memang pantas dihukum. Sejenak aku berhenti berjalan, berpikir sekali lagi tentang rencanaku pergi ke Russian River. Kalau sekarang ini aku pulang, Ibu akan memukuli aku dan berteriak padaku--tapi aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
Kalau nasibku baik, boleh jadi besok ia akan memberiku sisa-sisa makan malam. Esok harinya lagi aku bisa mencuri makanan di sekolah. Sepertinya aku memang harus pulang. Aku tersenyum sendiri. Bukankah aku pernah bertahan menghadapi perlakuan Ibu yang sangat buruk sekalipun?
Kuhentikan langkahku. Pikiran untuk pulang ke Rumah Itu sepertinya tidak jelek juga. Lagipula, kataku dalam hati, aku tak akan pernah sampai ke sungai itu. Aku berbalik arah. Ibu benar.
Aku membayangkan diriku duduk di bawah tangga, dengan tubuh gemetar karena takut--semua suara yang terdengar dari ruang atas membuatku takut. Kuhitung detik-detik yang berlalu, sebab aku ngeri akan apa yang mungkin terjadi setiap kali acara TV menayangkan paket iklan.
Saat salah satu paket iklan ditayangkan di TV, pasti akan terdengar derit lantai kayu di atas yang menandakan Ibu sedang berusaha bangun dari sofa, lalu berjalan ke dapur untuk menambah lagi minuman ke gelasnya, kemudian berteriak keras-keras memanggilku untuk naik--dan aku pun dipukulinya sampai hampir tak bias berdiri. Aku bahwa tidak mampu merangkak pergi.
Aku benci iklan.
Suara jangkrik di dekatku memecahkan lamunanku. Aku mencoba mencari jangkrik itu, lalu berhenti sejenak ketika aku merasa sudah dekat dengannya. Suara jangkrik itu berhenti. Aku tak bergerak. Kalau bisa kutangkap, jangkrik itu mungkin bisa kutaruh di sakuku dan kupelihara. Suara jangkrik itu terdengar lagi. Ketika aku membungkuk untuk menangkapnya, aku mendengar suara mobil Ibu dari arah belakangku.
Aku berlindung di balik mobil yang diparkir didekatku. Moibl itu berjalan pelan bagai merayap di sepanjang jalan itu. Bunyi remnya yang berdenging seakan mengebor gendang telingaku. Ibu sedang mencari-cari aku. Napasku mulai berat. Kupejamkan mata erat-erat begitu mobil Ibu dan sorot lampunya semakin mendekati aku.
Aku menunggu sampai mendengar suara mobil itu berhenti di dekatku, kemudian suara Ibu yang bergegas keluar dari mobil, lalu menyeret serta mendorong aku masuk kestation wagon-nya. Detik-detik waktu kuhitung. Pelan-pelan kubuka mataku,kemudian kutolehkan kepalaku ke arah kiri.
Bersamaan dengan itu lampu rem mobil itu menyala. Selesai sudah! Ia menemukan aku! Entah mengapa, itu melegakan aku juga. Aku tak akan pernah sampai ke sungai itu. Menanti apa yang akan terjadi berikutnya membuatku lemas. Ayo, ayo, kataku dalam hati. Lakukan saja. Ayo.
Mobil itu berlalu begitu saja.
Aku tidak percaya ini! Aku keluar dari balik mobil tempatku bersembunyi, dan memandangi mobil yang baru saja berlalu itu--sebuah sedan dua pintu yang mengikat, yang sebentar-sebentar berhenti. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Perutku mengencang. Terasa ada cairan yang mendesak naik ke kerongkonganku.
Aku terhuyung-huyung ke halaman rumput rumah orang, rasanya mau muntah. Berkali-kali ada desakan dari dalam, tapi tak ada yang kumuntahkan karena perutku memang tidak ada isinya. Setelah itu kupandangi binta-bintang dilangit. Dari balik kabut bisa kulihat potongan langit yang bersih. Di atasku sebuah bintang perak bersinar amat terang. Aku mencoba mengingat-ingat sudah berapa lama aku berada di luar sejak pergi dari rumah. Kutarik napas panjang beberapa kali.
"Tidak!" aku berteriak tiba-tiba. "Aku tidak mau pulang! Aku tidak mau pulang lagi!" aku berbalik arah, lalu kembali menyusuri jalan yang tadi, kearah utara, ke arah Golden Gate Bridge. Tidak berapa lama berjalan, aku melewati mobil sedan dua pintu tadi, yang saat itu sedang diparkir dihalaman sebuah rumah.
Kulihat seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di anak tangga paling atas, sedang disambut hangat oleh pemilik rumah itu. Dari pintunya yang terbuka, aku bisa mendengar suara tawa dan alunan music keluar dari rumah itu.
Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya disambut hangat dan dipersilakan masuk ke dalam sebuah rumah. ketika aku melewati sebuah rumah lain, hidungku mencium bau makanan. Langsung aku membayangkan diriku melahap makanan. Waktu itu hari Sabtu--berarti aku sudah tidak makan sejak hari Jumat pagi di sekolah. Makanan, pikirku. Y, aku harus mendapat makanan.
Beberapa waktu kemudian, aku melangkahkan kaki menuju gereja yang dulu biasa aku kunjungi. Dulu, bertahun-tahun sebelumnya, Ibu menyuruh kedua saudara lelakiku, Ron dan Stan, dan aku pergi ke gereja itu untuk mengikuti pelajaran agama. Aku tidak pernah lagi ke gereja itu sejak usiaku tujuh tahun. pelan-pelan kubuka pintunya.
Aku langsung bisa merasakan udara hangat menyusupi lubang-lubang di celanaku dan bajuku yang sudah sangat tipis. pelan-pelan juga kututup pintunya. Kulihat imam gereja itu sedang mengambili buku-buku dari bangku-bangku panjang. Aku bersembunyi di samping pintu,sambil berharap imam itu tidak melihatku.
Kemudian imam itu berjalan ke bangku panjang di bagian belakang, ke arahku. Ingin sekali aku tatap diam ditempatku, tetapi... kupejamkan mata, mencoba menarik sebanyak mungkin udara hangat ke tubuhku, lalu kubuka lagi pintu gereja.
Begitu berada di luar gereja, aku menyeberangi jalan, di mana kulihat sederetan toko. Di sebuah toko donat, aku berhenti. Pernah, pagi-pagi sekali, bertahun-tahun sebelumnya, Ayah mampir di toko ini untuk membeli donat dalam perjalanan kami sekeluarga ke Russian River. Itulah saat yang sangat berkesan bagiku. Sekarang ini, aku hanya bisa memandangi toko itu,lalu melihat-lihat gambar-gambar kartun di temboknya, dan proses pembuatan donat.
Aku mencium bau pizza, dari arah sebelah kiriku. Setelah berjalan pelan melalui sejumlah toko, sampailah aku di depan sebuah pizza bar. Terbit liurku. Tanpa ragu-ragu, kubuka pintunya. Aku masuk dan langsung menuju bagian belakang bar itu. perlu bagiku beberapa waktu untuk menyesuaikan penglihatanku.
Bisa kulihat sebuah meja biliar, juga bisa kudengar gelas-gelas bir yang beradu dan suara tawa. Aku bisa merasakan orang-orang dewasa memelototi aku. Aku berhenti di ujung bar. Mataku jelalatan sekeliling ruangan, mencari makanan yang tersisa.
Karena tidak menemukan yang aku cari, aku berjalan menuju meja biliat yang baru saja selesai dipakai bermain oleh dua orang. Di meja biliar itu kutemukan sekeping uang logam 25 sen, yang kemudian kututupi dengan tanganku.
Aku melihat berkeliling, sementara tanganku mengambil uang logam tadi. Uang logam itu terasa hangat. Dengan sikap sewajar mungkin, aku kembali ke bar. Ada suara agak keras kudengar dari atasku, tapi aku mencoba tidak menggubrisnya.
Lalu bahu kiriku terasa dipegang oleh seseorang dari arah belakang. Dengan sendirinya aku menegangkan bagian atas badanku, bersiap menerima pukulan diwajah atau perutku. "Hei, sedang apa kau di sini?"
Aku memutar tubuhku ke arah datangnya suara, namun aku tidak mau melihat ke atas.
"Aku tanya, sedang apa kau di sini?" suara itu bertanya lagi.
Aku mendongkak. Kulihat seseorang mengenakan celemek putih yang ternoda banyak saus merah pizza. Orang itu berkacak pinggang, menunggu jawaban dariku. Aku mencoba memberi jawaban, tetapi aku mulai diserang gugup. "Emm. Tid... Tidak sedang apa-apa... Pak."
Orang itu meletakkan tangannya di bahuku, lalu membimbingku ke ujung meja bar. Di situ ia berhenti, lalu membungkuk. "Hei Nak, kau harus mengembalikan padaku uang 25 sen itu."
Aku menggelengkan kepala, tidak. Sebelum aku bisa berbohong kepadanya, orang itu sudah lebih dulu berkata, "Hei, aku sendiri melihatmu mengambilnya dari atas meja biliar. Jadi, sini kembalikan uang itu kepadaku. Orang-orang disana itu membutuhkan uang logam itu supaya mereka bisa main biliar."
Aku menguatkan genggamanku. Uang logam 25 sen itu bisa kupakai untuk membeli makanan, mungkin bahkan bisa untuk membeli pizza utuh. Orang itu tidak melepaskan pandangannya dariku. Pelan-pelan kubuka genggamanku, lalu menjatuhkan uang logam itu ke tangan orang itu, yang kemudian melemparkannya kepada dua orang yang sudah memegang tongkat untuk bermain biliar. "Trims,Mark", kata salah seorang dari mereka.
- "Ya, sama-sama." Mark kemudian mencekal bahuku ketika aku berbalik untuk mencoba mencari pintu depan. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau curi uang itu?"
Aku mengeraskan diriku, dan mulai menatap lantai tanpa berkedip.
- "Hei," suara Mark meninggi, "aku bertanya padamu."
- "Aku tidak mencuri apa-apa. Aku... aku pikir... maksudku, aku melihat uang itu tergeletak begitu sana dan... aku..."
- "Begini. Pertama, aku sendiri melihatmu mencuri uang itu, dan kedua,teman-temanku itu perlu uang itu supaya mereka bisa main biliar. Lagipula,mau kau pakai untuk apa uang itu?"
- Aku merasa ada dorongan kemarahan yang memuncak di dalam diriku. "Untuk makan!" aku meledak. "Aku mau pakai uang itu untuk beli pizza! Ngerti?"
- "Pizza?" tanya Mark sambil tertawa. "Hei, dari mana asalmu... Planet Mars?"
"Hei, tenang. Sini, duduk di sini," Mark berkata dengan suara lembut. "Jerry, aku minta segelas Coke." Mark sekarang duduk berhadapan dengaku. Kucoba menyembunyikan bekas-bekas luka dan memar di kedua lengan tanganku dibalik lengan panjang bajuku. Aku mencoba menghindari Mark. "Hei, Nak. Kau baik-baik saja?" tanya Mark.
Aku menggeleng. Tidak! kataku dalam hati. Aku tidak baik-baik saja. Tidak ada yang baik-baik saja! Ingin sekali aku mengatakan semua itu kepadanya,tetapi...
"Minum ini," kata Mark sambil memberikan padaku segelas Coke. Dengan kedua tangan, aku terima gelas kertas berwarna merah itu, lalu kusedot isinya sampai tandas.
"Hei, Nak," kata Mark, "siapa namamu? Kau punya rumah? Di mana rumahmu?"
Aku malu sekali. Aku tahu aku tidak bisa menjawabnya. Aku bersikap seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakannya.
Mark menganggukkan kepalanya, memahami sikapku. "Jangan ke mana-mana," katanya sambil mengambil gelas kertasku. Dari balik bar aku bisa melihat Mark mengisi lagi gelasku, dan pada saat yang hampir bersamaan ia mengangkat gagang telepon.
Kabel teleponnya tertaarik sampai pol ketika Mark mengulurkan tangannya untuk memberi aku tambahan Coke. Setelah selesai menelepon, Mark duduk lagi di dekatku. "Kau mau menceritakan padaku apa yang kau alami?" "Ibu dan aku selalu bertengkar," gumamku, berharap tidak ada orang lain yang mendengar perkataanku. "Dia... dia mengusirku."
"Apakah dia tidak mencemaskanmu?" ia bertanya.
"Hebat! Kau bergurau?" aku meledak lagi. Ups, kataku dalam hari. Tutup mulutmu! Kuketuk-ketukkan jariku di atas meja bar, mencoba menghindar dari Mark. Kupandang dua teman Mark yang sedang bermain biliar dan teman-temannya yang lain di sekeliling meja biliar itu--tertawa, makan, bersenang-senang.
Aku ingin sekali menikmati rasanya jadi orang biasa. Tiba-tiba aku merasa muak lagi. Turun dari kursiku, aku berpaling kepada Mark. "Aku harus pergi."
"Mau ke mana kau?"
"Aku harus pergi saja, Pak."
"Ibumu benar-benar menyuruhmu pergi dari rumah?"
Tanpa menoleh ke arahnya, aku menganggukkan kepala, ya.
Mark tersenyum. "Aku berani bertaruh bahwa ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana menurutmu? Begini saja. Beri aku nomor telepon rumahmu, lalu aku akan menelepon ibumu, ya?"
Bisa kurasakan darahku mengalir sangat cepat. Pintu, kataku dalam hati. Berjalanlah ke pintu, lalu lari. Aku mulai panik. Kepalaku menoleh ke segala jurusan untuk mencari pintu keluar.
"Ayolah. Lagipula," kata Mark sambil memainkan alis matanya, "kau tak bias pergi sekarang. Aku sedang membuatkan pizza untukmu... pizza istimewa!"
Mendengar itu, kepalaku langsung tegak. "Betul?" kataku girang. "Tapi... aku tak punya..."
"Hei, jangan khawatir soal itu. Tunggu saja di sini." Mark berdiri dan beranjak pergi. Ia tersenyum kepadaku melalui bukaan di dapur. Mulutku mulai berair lagi. Aku membayangkan diriku sedang menikmati makanan hangat—bukan makanan dari tempat sampah atau roti basi, tapi benar-benar makanan.
Bermenit-menit selanjutnya aku duduk tegak, menanti tanda-tanda kemunculan Mark.
Dari pintu depan seorang polisi dengan seragam biru gelap memasuki toko. Aku tidak punya pikiran apa-apa mengenai kedatangan petugas polisi itu, sampai kulihat Mark berjalan menghampirinya. Kedua orang itu berbicara sebentar,lalu Mark menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arahku. Kuputar tubuhku untuk mencari pintu belakang.
Tidak ada. Kulihat lagi Mark. Dia sudah tidak di situ. Pak Polisi juga sudah tidak di situ. Aku menoleh ke segala arah sambil membuka mata lebar-lebar, mencari kedua orang itu. Dua-duanya sudah pergi. Dugaanku keliru. Detak jantungku berangsur-angsur normal kembali. Napasku normal kembali. Aku tersenyum.
"Permisi, Nak." Aku menengadahkan kepalaku. Seorang polisi sedang memandangku sambil tersenyum. "Mari ikut saya."
Tidak! kataku dalam hati. Aku tidak mau berdiri! Ujung-ujung jemari tanganku mencengkeram dalam-dalam bagian bawah tempat dudukku. Dengan mataku,kucari-cari Mark. Aku tak percaya ia memanggil Pak Polisi, padahal kelihatannya ia orang baik. Ia memberi aku Coke dan berjanji memberi aku makanan.
Tapi kenapa dia memanggil polisi? Aku jadi membenci Mark, tapi aku lebih membenci diriku sendiri. memang seharusnya aku berjalan terus saja,sama sekali tidak perlu mampir ke pizza bar ini. Memang seharusnya aku pergi dari kota ini secepat mungkin. Heran, aku jadi goblok begini!
Ya sudah. Aku tahu aku kalah. Kekuatan seperti apa pun yang kumiliki rasanya habis sudah. Aku pingin sekali menemukan sebuah lubang atau gua supaya aku bisa meringkuk dan tidur pulas-pulas di dalamnya. Aku turun dari kursi bar.
Pak Polisi tadi berjalan di belakangku. "Tenang saja," katanya. "Semuanya akan baik-baik saja." Cuma samar-samar aku mendengar perkataannya. Yang sedang memenuhi pikiranku adalah Ibu--dia pasti sedang menungguku, di suatu tempat, entah di mana. Aku akan pulang lagi ke Rumah Itu--kembali lagi ke Sang Ibu. Pak Polisi tadi membukakan aku pintu depan. "Terima kasih Anda sudah menelepon kami," katanya kepada Mark.
Aku menatap lantai. Marah sekali aku. Aku tidak mau melihat Mark. Seandainya saja aku bisa menghilang...
"Hei," sapa Mark sambil tersenyum dan memberiku sebuah kardus tipis putih,
"tadi aku janji memberimu pizza, bukan?"
Hatiku jadi trenyuh. Aku tersenyum padanya. Tapi, kepalaku menggeleng,tidak. Aku tahu, aku tidak pantas menerimanya. Aku menyodorkan kembali kardus itu ke Mark. Pada saat itu aku merasakan tidak ada sesuatu pun dari diriku yang pantas dihargai. Aku memandang Mark, memandang hatinya.
Aku tahu ia memahami aku. Meskipun ia tidak mengatakan apa-apa, aku tahu apa yang dikatakannya padaku. Kuterima kardus itu. Kutatap matanya lebih dalam lagi, "Terima kasih, Pak." Mark membelai rambutku. Kuhirup aroma yang keluar dari kardus di tanganku.
"Itu pizza paling istimewa yang dibuat di bar ini. Dan, hei... kau harus tabah. kau akan baik-baik saja," kata Mark kepadaku. Aku berjalan melalui pintu keluar sambil membawa hadiah pizza yang diberikan kepadaku. Kardus pizza itu terasa hangat di tanganku. Di luar, kabut abu-abu menutupi jalanan tempat Pak Polisi memarkir mobil polisinya.
Kudekap kardus pizza itu. Terasa isinya bergerak, merosot. Kemudian Pak Polisi membukakan pintu depan mobilnya untukku. Bisa kudengar suara halus dari pompa pemanas di lantai mobil polisi itu. Pelan-pelan kukibas-kibaskan jemari kakiku ke dekat pompa pemanas itu supaya kakiku cepat hangat.
Kuperhatikan Pak Polisi itu saat ia berjalan berputar menuju tempat duduk pengemudi. Ia masuk ke dalam mobil,lalu mengangkat mikrofon. Suara lembut seorang perempuan menjawab panggilan radionya. Aku menoleh ke luar, memandang pizza bar itu. mark dan beberapa temannya berdiri bergerombol di luar. Mereka kelihatan kedinginan.
Saat mobil polisi yang membawaku pelan-pelan berjalan meninggalkan pelataran parkir di situ, Mark mengangkat tangannya, membentuk tanda "peace", lalu melambai selamat jalan. Satu demi satu, teman-temannya tersenyum ke arahku dan mengikuti gerakan yang dilakukan Mark.
Tenggorokanku tercekat. Bisa kurasakan rasa asin air mataku yang mengalir diwajahku. Bagaimanapun, aku tahu aku akan selalu ingat Mark. Aku melihat sepatuku dan mengibaskan jemariku kakiku pelan. Satu jari kakiku nongol dari sebuah lubang di sepatuku.
"Nah," kata Pak Polisi itu, "baru pertama kali ini kau naik mobil polisi?"
"Ya, Pak," jawabku. "Apa... apa aku berbuat salah, Pak?"
Pak Polisi itu tersenyum. "Tidak. Kami cemas saja. Sudah malam sekali, dan kau masih terlalu kecil untuk keluyuran sendirian di luar rumah malam-malam begini. Siapa namamu?"
Kupandangi jari kakiku yang kotor.
"Ayolah. Tidak apa-apa memberitahu aku namamu, bukan?"
Aku membersihkan tenggorokanku. Aku tak mau bicara kepada Pak Polisi itu. Aku tak mau bicara kepada siapa pun. Aku tahu, setiap kali aku membuka mulut, semakin dekat aku dengan Ibu, semakin dekat dengan cengkeraman setannya.
Tapi, kataku dalam hati, apa yang bisa kuperbuat? Aku tahu, kesempatan yang tadi kumiliki untuk bisa pergi ke sungai itu sekarang sudah tidak ada lagi. Aku tak peduli. Yang penting, aku tidak perlu kembali kepada Ibu. Beberapa saat kemudian, aku menjawab pertanyaan Pak Polisi itu, "Da...Da... David, Pak," kataku gugup. "Namaku David."
Pak Polisi itu tertawa kecil. Aku membalasnya dengan ssenyum. Pak Polisi itu bilang aku cakep. "Berapa umurmu?"
"Sembilan tahun, Pak."
"Sembilan tahun? Masih kecil ya kau?"
Kami mulai ngobrol basa-basi. Aku tak percaya mengapa Pak Polisi itu begitu tertarik padaku. Aku merasa ia betul-betul menyukai aku. Ia memarkir mobil polisinya di depan kantor polisi dan menuntunku ke sebuah ruangan kosong. Ditengah ruangan itu ada meja biliar. Kami duduk di sisi meja biliar itu, lalu Pak Polisi itu berujar, "Hei, David, makanlah pizza itu sebelum jadi dingin."
Seperti berpegas, kepalaku mengangguk naik turun. Dengan tak sabar, kubuka kardus pizza itu. Aku membungkuk, kuhirup dalam-dalam aromanya. "Nah,David," Pak Polisi itu bertanya, "tadi kau bilang di mana rumahmu?"
Aku berhenti bergerak. Topping pizzaku jatuh. Aku berpaling muka. Aku ingin Pak Polisi itu melupakan dulu tugasnya.
"Ayolah, David. Aku sungguh-sungguh ingin membantumu." Pandangan matanya tidak beralih dariku. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Pelan-pelan kuletakkan lagi pizzaku ke kardusnya. Pak Polisi itu menjulurkan tangannya untuk memegang tanganku.
Sekadar gerak refleks, kutarik tanganku dengan sangat tiba-tiba. Sebelum Pak Polisi itu mencoba melakukannya lagi,aku memelototinya. Otakku seperti berteriak, Kau tak tahu? Ibu tidak menginginkan aku, tidak mencintai aku, tidak memedulikan aku! Ngerti? Jadi... biarkan aku sendirian, dan aku tahu ke mana harus pergi. Begitu?!
Pak Polisi itu menjauhkan kursinya dari meja biliar. Kemudian, dengan suara lembut, ia berkata, "David, aku punya kewajiban membantumu. Kuharap kau mengerti itu, dan aku akan terus mendampingimu sampai kapan pun." Ia mencondongkan tubuhnya, lalu mengangkat daguku dengan jarinya. Aku menangis. Hidungku berair. Sekarang aku tahu, tak ada kesempatan melarikan diri bagiku. Aku tak berani menatap mata Pak Polisi itu.
"Crestline Avenue, Pak," kataku dengan suara rendah.
"Crestline Avenue?" tanya Pak polisi itu.
"Ya, Pak... 40 Crestline Avenue."
"David, kau melakukan sesuatu yang benar. Apa pun masalahnya, aku yakin kita bisa memecahkannya."
Aku beritahu juga nomor telepon rumah kepada Pak Polisi itu. Kemudian ia pergi sebentar dari ruangan itu. Ketika kembali, ia mengatakan padaku untuk memakan pizza yang kubawa.
Kuambil lagi pizza yang sama, yang sekarang sudah dingin dan melempem. Aku ingin sekali makan, tetapi pikiranku berjuta-juta kilometer dari tempat itu. Dengan senyumnya, Pak Polisi itu mencoba menenteramkan hatiku, "Semuanya akan beres."
Masa bodoh! Kataku dalam hati. Satu-satunya saat ketika aku merasa aman,tenteram, dan diinginkan adalah ketika aku masih kecil sekali. Waktu itu umurku lima tahun. Keluargaku menunggu aku yang sedang berlari cepat mendaki bukit kecil, pada hari terakhirku di taman kanak-kanak.
Masih bias kubayangkan sinar wajah Ibu yang waktu itu penuh warna cinta, ketika ia berseru, "Ayo, Sayang. Ayo, David!" Setelah memelukku erat dan hangat, Mommy membukakan pintu mobil untukku. Ia sendiri kemudian masuk mobil, dan Ayah pun menjalankan mobilnya. Tujuan: sungai itu.
Pada liburan musim panas itu Ibu mengajari aku telentang mengapung di air. Aku takut, tetapi Ibu selalu berada di dekatku sampai akhirnya aku bisa melakukannya sendiri. Rasanya bangga sekali ketika aku memperlihatkan kepadanya kemahiranku itu,
sekaligus aku mau membuktikan kepada Ibu bahwa aku sudah besar dan pantas memperoleh perhatian serta pujian darinya. Itulah liburan musim panas yang menjadi saat paling membahagiakan dalam hidupku. Tetapi sekarang ini, saat aku duduk berhadapan dengan Pak Polisi itu, aku tahu bahwa masa bahagia seperti itu tak akan berulang lagi. Masa bahagiaku tinggal kenangan.
Pak Polisi itu menengadahkan wajahnya. Aku membalikkan bahuku, dan kulihat Ayah yang saat itu mengenakan salah satu kemeja merahnya, berdiri dibelakangku. Ada Pak Polisi lain yang kemudian menganggukkan kepalanya kepada Pak Polisi yang duduk di dekatku. "Pak Pelzer?" sapa polisi yang duduk didekatku.
Ayahku mengangguk, ya. Kemudian Ayah dan Pak Polisi yang tadi selalu bersamaku masuk ke sebuah ruangan. Pak Polisi itu menutup pintu ruangan tersebut. Ingin sekali rasanya bisa ikut mendengarkan apa yang mereka percakapkan. Pasti tentang diriku dan betapa aku selalu membuat Ibu marah.
Satu-satunya yang membuatku lega adalah bahwa dia tidak ikut datang. Bagaimanapun, aku tahu dia takut berurusan dengan pihak berwajib. Aku tahu dia selalu memanfaatkan Ayah untuk menutupi sikap buruknya. Dia mengatur Ayah--sama seperti dia mau mengatur semua orang.
Yang paling pokok, aku tahu bahwa dia harus menyembunyikan rahasianya. Tak seorang pun boleh tahu tentang hubungan istimewa kami berdua. Tapi aku tahu dia keterusan. Dia kehilangan kendali. Aku mencoba memahami apa arti semua itu. AGar mampu bertahan hidup, aku harus bisa berpikir lebih cepat.
Beberapa lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Ayah keluar dari ruangan itu sambil menjabat tangan Pak Polisi yang menjemputku. Pak Polisi itu melangkah mendekati aku. Ia membungkuk. "David, masalahnya cuma salah paham saja. Tadi ayahmu mengatakan padaku bahwa kau marah karena ibumu tidak mengizinkanmu main sepeda.
Kau tidak perlu pergi dari rumah hanya karena masalah kecil seperti itu. Nah, sekarang pulanglah bersama ayahmu, lalu bereskanlah masalah ini bersama ibumu. Ayahmu bilang bahwa ibumu sangat mencemaskan keadaanmu." Pak Polisi itu kemudian mengubah nada suaranya ketika ia mengacung-acungkan jari telunjuknya kepadaku. "
Dan jangan pernah lagi membuat orangtuamu cemas seperti itu. Aku berharap kau bisa menarik pelajaran dari masalah ini. Berada sendirian di luar pada saat seperti ini menakutkan, bukan?" kata Pak Polisi itu sambil memeragakan tingkah orang yang ketakutan.
Aku berdiri di depan Pak Polisi itu, melongo. aku sama sekali tidak bias mempercayai apa yang barusan kudengar. Main sepeda? Sepeda saja tidak punya! Bahkan naik sepeda punya orang lain pun belum pernah!
Aku tergoda untuk memalingkan tubuhku, untuk melihat siapa tahu Pak Polisi itu berbicara kepada anak lain, bukan kepadaku. Dari belakang Pak Polisi itu Ayah memandang aku. Sorot matanya hampa. Aku sadar ini hanya salah satu alas an yang dikarang Ibu untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Dan itu berhasil.
"Satu lagi, David," Pak Polisi itu menegaskan, "perlakukanlah orangtuamu dengan harga diri dan rasa hormat. Kau seharusnya sadar betapa beruntungnya dirimu."
Pikiranku jadi seperti berkabut. Yang terngiang di kepalaku adalah, "betapa beruntungnya dirimu... betapa beruntungnya dirimu...," begitu terus,berulang-ulang. Aku tersentak kaget ketika Ayah menutup pintu station wagon di bagian pengemudi. Ia menarik napas panjang sebelum mendoyongkan kepalanya ke arahku.
"Astaga, David!" katanya sambil memutar kunci kontak dan menginjak pedal gas. "Kau pikir apa sih yang kau lakukan? Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tahu akibat perbuatanmu terhadap Ibu?"
Aku mendekatkan kepalaku ke Ayah. Akibatnya bagi Ibu? Bagaimana dengan aku? Apakah tidak seorang pun peduli terhadapku? Tetapi... kataku dalam hati,mungkin saja dia terguncang. Mungkin saja dia betul-betul mencemaskan aku.
Apakah mungkin Ibu tahu bahwa perbuatannya sudah kelewatan? Selama beberapa saat aku bisa membayangkan bagaimana Ibu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ayah, bertanya-tanya di manakah gerangan aku berada, masih hidupkah aku.
Lalu aku bisa membayangkan ibuku lari menyambutku sambil menangis dan memelukku dengan rasa penuh cinta, menciumi aku bertubi-tubi, dan air matanya mengalir semakin deras. Rasanya aku bisa mendengar ibuku mengucapkan tiga kata yang paling penting, yang sangat aku dambakan sejak lama sekali. Lalu aku siap untuk mengucapkan empat kata yang paling penting, I love you,too!
"David!" Ayah mencengkeram lenganku. Aku terlonjak, sampai membentur langit-langit mobil. "Sadarkah kau apa yang selama ini Ibu lakukan? Aku tak bisa merasa damai barang sedetik pun di rumah itu. Astaga, rumah itu betul-betul jadi seperti neraka sejak kau pergi. Bisakah kau menahan diri untuk tidak bikin masalah?
Bisakah kau berusaha atau mencoba membuatnya senang? Cobalah jangan membantah dan kerjakan apa yang dia suruh. Kau bisa,bukan? Demi aku, bisakah kau lakukan itu? Bagaimana?" Ayah membentak. Suaranya tinggi dan keras sekali, sampai-sampai kulitku terasa jadi keriting.
Aku menganggukkan kepala, pelan-pelan. Tak kukeluarkan suara sedikit pun,sebab aku menangis sejadi-jadinya di dalam hati. Aku tahu aku salah. Dan,seperti biasanya, semua ini memang salahku. Waktu menganggukkan kepala itu,aku menoleh ke arah Ayah. Kemudian Ayah mengelus-elus kepalaku.
"Baiklah," katanya dengan suara lebih lunak, "baiklah. Itu baru Tiger-ku.
Sekarang, ayo kita pulang."
Saat Ayah menyusuri jalan yang sama yang juga kususuri beberapa jam yang lalu, aku duduk mepet dan bersandaar ke pintu mobil. Aku merasa seperti hewan yang masuk perangkap dan mencoba memanjat naik ke dindingnya yang terbuat dari kaca. Semakin dekat ke Rumah Itu, semakin bisa kurasakan rasa takut dalam diriku. Aku mau ke kamar kecil. Rumah, kataku dalam hati.
Kupandang kedua tanganku. Jemariku gemetar karena takut. Aku tahu, tak berapa lama lagi aku akan kembali ke keadaanku semula. Tak ada yang berubah,dan aku tahu tak akan pernah ada yang berubah. Aku ingin jadi orang lain,siapa pun, asal bukan diriku. Aku ingin punya kehidupan, sebuah keluarga,sebuah rumah.
Ayah memarkir mobil ke garasi. Ia berpaling kepadaku sebelum membuka pintu mobil. "Nah, kita sampai," katanya dengan senyuman yang dipaksakan. "Kita sudah sampai rumah."
Aku memandang Ayah langsung ke matanya, sambil berharap, berdoa semoga ia bisa merasakan rasa takutku, rasa sakitku, dari dalam diriku. Rumah? Kataku dalam hati.
Aku tak punya rumah.
Indo community
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback