(true story) The Lost Boy (2)
2.
Tanggal 5 Maret 1973 jawaban atas semua doaku selama bertahun-tahun akhirnya datang juga. Aku terselamatkan. Guru-guruku dan staf di Thomas Edison Elementary School turun tangan dan mengajukan laporan kepada pihak kepolisian.
Proses penyelamatan itu berlangsung cepat sekali. Aku menangis dengan perasaanku yang terdalam saat mengucapkan salam perpisahan kepada para guruku. Ada semacam perasaan yang mengatakan sepertinya aku tak akan pernah bertemu mereka lagi.
Tangisan mereka meyakinkan aku bahwa mereka tahu yang sebenarnya mengenai diriku--yang sebenar-benarnya. Kenapa aku begitu berbeda dengan murid-murid lain; kenapa aroma badanku tak sedap dan pakaianku rombeng; kenapa aku mengais-ngais tempat sampah untuk mendapat makanan.
Sebelum aku meninggalkan sekolah itu, salah seorang guruku, Mr. Ziegler,membungkuk untuk mengucapkan salam perpisahan. Ia menjabat tanganku dan berpesan agar aku menjadi anak baik.
Kemudian ia berbisik bahwa ia akan mengatakan yang sebenarnya mengenai diriku kepada semua murid di kelasnya. Janji Mr. Ziegler itu adalah kegembiraan besar bagiku. Aku begitu ingin disukai, diterima, oleh semua teman sekelasku, oleh semua murid di sekolah itu--oleh semua orang.
Pak Polisi yang datang ke sekolahku agak susah payah mengajakku meninggalkan sekolah. "Ayo, David. Kita pergi sekarang." Kuusap hidungku sebelum meninggalkan pintu sekolah. Begitu banyak pikiran melintas di kepalaku, dan semua pikiran itu jelek.
Aku takut akan banyak sekali akibat yang mungkin akan menimpa diriku kalau Ibu tahu semua ini. Belum pernah ada yang membuat Sang Ibu murka seperti kali ini. Kalau dia tahu, aku tahu derita yang bakal kuterima setimpal dengan derita di neraka.
Ketika Pak Polisi membimbingku ke mobil polisinya, bisa kudengar suara semua murid yang sedang bermain di lapangan saat istirahat makan siang. Lalu ketika mobil polisi yang membawaku bergerak meninggalkan sekolah, aku berpaling ke halaman sekolah, memandangnya untuk terakhir kali. Kutinggalkan Thomas Edison Elementary School tanpa seorang teman pun yang kumiliki.
Tetapi satu-satunya hal yang kusesali adalah aku tidak bisa mengucapkan salam perpisahan kepada guru bahasa Inggirku, Mrs. Woodworth, sebab ia sedang sakit hari itu. Pada saat-saat aku menjadi tawanan Ibu, Mrs.Woodworth, tanpa ia sendiri menyadarinya, telah membantu aku mengusir kesepianku dengan sarannya untuk membaca buku.
Selama tahun-tahun itu, aku membaca buku-buku petualangan yang menegangkan, dalam ruangan yang gelap,selama beratus-ratus jam. Bagaimanapun, semua bacaan itu bisa agak mengurangi rasa sakitku.
Setelah mengisi sejumlah formulir di kantor polisi, Pak Polisi yang menjemputku menelepon Ibu untuk memberitahu bahwa aku tidak akan pulang kerumah pada sore itu dan bahwa Ibu bisa menghubungi para petugas di lembaga-lembaga rehabilitasi anak bila ia punya pertanyaan menyangkut diriku.
Selama Pak Polisi itu berbicara dengan Ibu melalui telepon, aku duduk mematung, dengan perasaan ngeri bercampur ingin tahu. Aku hanya bias membayangkan apa saja yang muncul di kepala Ibu waktu itu. Saat berbicara di telepon itu dengan nada suara yang kering dan datar, butiran-butiran besar keringat muncul di kening Pak Polisi.
Setelah ia meletakkan gagang telepon,aku sempat bertanya-tanya dalam hati apakah pernah ada orang lain yang merasakan pengalaman yang sama seperti pengalaman Pak Polisi itu berbicara dengan Ibu melalui telepon. Tampaknya Pak Polisi itu punya alasan kuat untuk sesegera mungkin meninggalkan kantor polisi.
Aku tidak membantu memperbaiki situasi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi kuajukan kepadanya, "Apa katanya? Apa katanya?" Pak Polisi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Tampaknya ia baru bisa bernapas lega setelah kami melewati batas kota. Kemudian ia berkata kepadaku, "David, kau bebas sekarang. Ibumu tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."
Aku sama sekali tidak bisa memahami arti penting perkataannya itu. Aku tetap mengira bahwa ia akan mengirimku ke penjara, tempat anak-anak nakal lainnya dikumpulkan--seperti yang telah direncanakan Ibu bagiku selama bertahun-tahun ini. Aku sendiri sudah berketetapan hati sejak lama bahwa aku lebih baik hidup dalam penjara daripada hidup satu menit lebih lama bersama dia. Aku menghindari sorot sinar matahari. Setetes air mata mengalir diwajahku.
Seingatku, aku selalu menghapus air mataku untuk kemudian menarik diri kedalam tempurungku. Kali ini aku tidak mau menghapus air mata yang mengalir di wajahku. Bisa kurasakan air mata itu sampai ke bibirku, bisa kurasakan rasanya yang asin, dan kubiarkan air mata itu mengering terkena sinar matahari yang menembus kaca depan mobil polisi yang kutumpangi.
Aku ingin mengingatnya bukan sebagai air mata ketakutan, kemarahan, atau kesedihan,melainkan sebagai air mata sukacita dan kebebasan. Aku tahu bahwa sejak saat itu segala sesuatu dalam hidupku menjadi baru.
Pak Polisi membawaku ke rumah sakit setempat. Aku langsung dibawa ke ruang periksa. Perawat di situ tampak terkejut melihat keadaanku. Dengan perlahan ia membasuh sekujur tubuhku, dari kepala hingga kaki, dengan spons sebelum dokter memeriksaku. Aku tak mau memandang perawat itu.
Malu sekali rasanya duduk di meja periksa hanya dengan mengenakan pakaian dalamku yang sudah kotor dan penuh lubang. Ketika ia membasuh wajahku, kupalingkan wajahku dan kututup rapat kelopak mataku. Setelah selesai dirawat oleh perawat itu, aku mengalihkan perhatian ke sebuah ruangan bercat kuning yang dihiasi tokoh-tokoh kartun Snoopy dan teman-temannya.
Kupandangi diriku. Kaki dan tanganku berwarna campuran kuning dan cokelat. Banyak memar berbentuk lingkaran berwarna ungu tua dengan warna biru di sekelilingnya—bekas dijepit lalu ditarik, dipukul, atau dibanting ke lantai dapur. Dokter yang kemudian masuk ke ruangan itu tampak sangat mencemaskan keadaan tangan serta lenganku.
Jari-jariku kering, kasar, dan berwarna merah akibat bertahun-tahun terkena bermacam bahan kimia yang kugunakan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga. Dokter itu menjepit ujung jari-jariku, kemudian bertanya apakah aku bisa merasakan jepitan itu. Aku menggeleng, tidak.
Memang sudah sejak beberapa lama sebelumnya, ujung-ujung jariku mati rasa. Dokter itu menggerakkan kepalanya, sambil berkata tidak perlu khawatir--jadi aku pun tidak memikirkannya lagi.
Setelah itu Pak Polisi tadi dengan sabar mengantar aku berkeliling rumah sakit itu, menyusuri gang-gangnya, masuk ke satu ruangan kemudian ke ruangan lainnya untuk menjalani berbagai pemeriksaan tes, pengambilan sampel darah,pemeriksaan dengan sinar-X.
Begitu banyak hal baru, begitu banyak perlakuan berbeda yang kuterima selama di rumah sakit ini, sampai-sampai aku merasa seperti bukan diriku sendiri. Pikiranku seperti melayang keluar dari tubuhku, lalu menyaksikan tubuhku itu seperti aku menyaksikan orang lain saja. Sedikit demi sedikit rasa ngeri kurasakan juga.
Aku meminta Pak Polisi itu untuk memeriksa terlebih dulu pojok-pojok gang yang akan kulalui atau ruangan-ruangan yang akan kumasuki. Aku selalu merasakan kehadiran Ibu disuatu tempat--ia berdiri diam, mengintai aku, untuk kemudian menyambar dan menyeret aku.
Pada mulanya, permintaanku itu ditolak oleh Pak Polisi. Tetapi setelah aku memohon dengan sikap sedemikian rupa sampai aku nyaris tak bisa bernapas, barulah Pak Polisi itu menghiburku dengan gurauannya dan melakukan apa yang kuminta. Aku merasa jauh dalam lubuk hatiku, bahwa segala sesuatunya berlangsung terlalu cepat--rasanya terlalu mudah bagiku untuk bisa membebaskan diri dari cengkeraman Ibu.
Berjam-jam kemudian kami kembali lagi ke perawat yang semula merawat dan memandikan aku. Ia membungkuk untuk mengatakan sesuatu. Aku menunggu. Ia memandang ke mataku. Lalu, setelah beberapa saat, ia pergi. Dokter yang merawatku menghampiri aku dari arah belakangku.
Diremas-remasnya pundakku dengan lembut, sambil memberi aku kantong berisi krim untuk mengolesi lenganku. Kemudian ia mengingatkan aku untuk menjaga lenganku tetap bersih,sebersih mungkin. Ia juga mengatakan bahwa aku sudah terlalu terlambat untuk mengobati lenganku. Aku memandangi Pak Polisi, lalu memandangi lengan tanganku. Aku tidak mengerti.
Bagiku, tak ada yang aneh dengan lenganku,sama seperti biasanya--warnanya merah gelap, kulitnya tipis. Kedua lenganku memang agak cengkong, tapi itu biasa-biasa saja bagiku. Sebelum aku dan Pak Polisi pergi meninggalkan rumah sakit itu, Pak Dokter menggamit lengan Pak Polisi dan mengajaknya bicara sebentar, "David harus banyak makan, dan dia harus sering kena sinar matahari". Kemudian Pak Dokter lebih mendekatkan dirinya ke Pak Polisi dan bertanya, "Mana ibunya? Anda tidak akan memulangkan David ke...?"
Pak Polisi itu menatap tajam mata Pak Dokter. "Jangan khawatir, Dok. Aku sudah berjanji pada anak ini. Ibunya tak akan pernah menyakitinya lagi."
Sejak saat itu aku tahu bahwa aku aman. Ingin sekali aku memeluk kaki Pak Polisi yang berdiri di dekatku itu. Tapi aku tahu aku tak perlu melakukannya. Mataku berbinar karena senang. Pak Polisi itu menjadi pahlawanku.
Beberapa menit setelah kami meninggalkan rumah sakit, Pak Polisi melambatkan laju mobilnya saat memasuki daerah berbukit, menyusuri jalan kecil. Kuturunkan kaca jendela pintu mobil, lalu memandang takjub bukit-bukit terjal berwarna cokelat dan pepohonan redwood.
Tak berapa lama kemudian Pak Polisi memarkir mobilnya. "Nah, David, kita sudah sampai." Agak ke bawah sana kulihat rumah paling cantik yang pernah kulihat selama ini. Pak Polisi menjelaskan bahwa aku akan tinggal untuk sementara waktu di rumah itu, dan bahwa rumah itu adalah rumah orangtua asuhku yang baru.
Belum pernah aku mendengar "rumah orangtua asuh", tapi rasanya aku akan senang tinggal dirumah itu. Bagiku, rumah itu kelihatan seperti sebuah pondok yang amat besar yang terbuat dari kayu, dengan banyak jendela yang dibiarkan terbuka.
Aku bisa melihat ada sebuah pekarangan terbuka yang sangat luas di belakang rumah itu. Dari arah situ aku bisa mendengar suara teriakan gembira dan gelak tawa yang menggema melewati sebuah anak sungai kecil.
Ibu pengasuh rumah orangtua asuh itu memperkenalkan diri sebagai "Bibi Mary", ketika ia menyambut kedatanganku di pintu dapur. Ucapan terima kasihku kepada Pak Polisi kuungkapkan dengan menjabat tangannya keras-keras.
Aku merasa tidak enak karena telah memaksanya bekerja lembut demi diriku. Pak Polisi berlutut dan berkata dengan suara yang dalam, "David, anak-anak seperti kaulah yang mendorong aku menjadi seorang polisi." Langsung kupeluk lehernya. Pada saat memeluk itu, lenganku terasa panas seperti terbakar. Aku tak peduli. "Terima kasih, Pak."
"Hei... terima kasih kembali, Nak," jawabnya. Pak Polisi itu kemudian menjalankan mobilnya mengikuti jalan memutar di halaman rumah itu. Dari dalam mobil, dengan tangannya ia memberi hormat padaku, lalu meluncur pergi. Aku bahkan tak tahu namanya.
Setelah memberi aku makan malam daging sapi iris yang empuk dan lezat, Bibi Marry memperkenalkan aku kepada tujuh anak lain di rumah itu yang, seperti aku, juga tidak tinggal lagi bersama orangtua kandung mereka karena alasan tertentu. Satu per satu, kuperhatikan dengan saksama raut wajah mereka.
Ada yang sorot matanya hampa, ada yang penuh kecemasan, ada yang penuh kebingungan. Aku tidak tahu bahwa ada juga anak-anak lain yang tidak diinginkan oleh orangtuanya; selama bertahun-tahun ini, aku kira akulah satu-satunya anak seperti itu.
Mulanya aku malu-malu, tetapi setelah anak-anak itu melontarkan beberapa pertanyaan kepadaku, aku mulai banyak cakap. "Kenapa kau juga tinggal di sini?" tanya mereka. "Apa yang terjadi denganmu?"
Aku menundukkan kepala, baru menjawab bahwa ibuku tidak menyukai aku karena aku sering bikin masalah. Aku malu. Sebetulnya aku tak mau menceritakan rahasia di antara aku dan Ibu kepada mereka. Ternyata anak-anak itu bersikap biasa-biasa saja setelah mendengar jawabanku, sebab keadaanku tidak terlalu berbeda dengan mereka. Pada saat itu juga kehadiranku mereka terima.
Ada dorongan energi yang mau meluap dari dalam diriku. Sejak saat itu aku jadi anak yang tidak bisa berdiam diri. Aku berlarian ke segala penjuru rumah,seolah-olah celanaku terbakar. Aku melucu, tertawa, dan berteriak girang,meluapkan perasaan sendirian dan kesepian yang kualami selama bertahun-tahun.
Aku betul-betul tak bisa mengendalikan diri. Aku berlarian, keluar masuk semua kamar yang ada di rumah itu, melompat-lompat di kasur di setiap tempat tidur. Aku melompat tinggi sekali, sampai-sampai kepalaku bisa menyundul langit-langit. Aku baru berhenti bila kepalaku sakit dan mataku berkunang-kunang.
Tapi aku tak peduli. Anak-anak lain di rumah itu menyoraki aku, memberi aku semangat. Tawa mereka terasa hangat, ceria, dan penuh dukungan. Berbeda dengan perlakuan yang kuterima dari teman-temanku disekolah dulu yang selalu mengejek dan menghina.
Sikap ugal-ugalanku berhenti seketika, saat aku berlari ke ruang keluarga dan nyaris menabrak sebuah lampu. Secara refleks Bibi Mary mencekal tanganku, menahan laju lariku. Bibi Mary hampur memarahi aku, tetapi tidak jadi ketika ia melihat sikapku. Aku menutupi wajahku dan lututku gemetaran.
Bibi Mary adalah perempuan agak tua yang sangat disiplin. Sikapnya tegas,tetapi ia tidak pernah mamarahi orang sambil berteriak, tidak seperti yang dikatakan orang mengenai dirinya. kegiranganku yang meluap-luap sore itu mendadak hilang, secepat udara yang keluar dari balon yang sumbatannya dibuka. Bibi Mary melepaskan pegangannya dari lenganku, lalu berlutut, dan bertanya, "Kau diapakan saja oleh ibumu?"
"Aku minta maaf," kataku gagap dengan suara pelan. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Bibi Mary. Sikap tubuhku adalah sikap melindungi diri. "Aku anak nakal, jadi aku memang pantas menerima perlakuan ibuku."
Malam itu Bibi Mary menemani dan menjagai aku di tempat tidur. Kemudian aku mulai menangis, saat mengatakan kepadanya bahwa aku takut Ibu datang dan membawaku pergi dari rumah itu. Bibi Mary mengatakan agar aku tidak perlu khawatir, dan ia menemani aku sampai aku merasa tenteram kembali.
Aku memandang ke langit-langit rumah yang terbuat dari kayu cedar. Aku jadi ingat pondok di Guerneville. Akhirnya aku terlelap juga. Di kepalaku masih tersisa pikiran tentang Ibu yang ada di luar sana, di suatu tempat, dan siap menyeretku pulang.
Aku bermimpi. Aku sendirian, berdiri di ujung sebuah lorong yang panjang dan gelap. Di ujung sana, muncul sebuah sosok mirip bayangan, yang semakin lama bentuknya semakin jelas. Itu Ibu. Ia tampak berjalan ke arahku. Entah mengapa, aku cuma berdiri diam. Aku tidak bergerak; aku bahkan tidak berusaha untuk bergerak.
Semakin Ibu mendekat, semakin kelihatan jelas wajahnya yang merah dan penuh kebencian. Ibu memegang pisau di tangannya yang terangkat ke atas, dengan sikapnya yang mantap dan siap menyerangku.
Aku berbalik dan lari di sepanjang lorong yang rasanya tak berujung itu. Dengan sekuat tenaga, aku melangkahkan kaki-kakiku secepat mungkin. Aku mencari cahaya. aku merasa berlari terus dan terus, seperti tak berhenti. Aku mempercepat lariku ketika kulihat celah untuk menyelamatkan diri, tetapi tiba-tiba lorong itu berputar dan berbalik arah.
Aku bisa merasakan napas Ibu yang tak sedap di tengkukku. Aku juga bisa mendengar ia bernyanyi-nyanyi bahwa tak ada tempat bagiku untuk melarikan diri dan bahwa ia tak akan pernah melepaskan aku begitu saja.
Aku terputus dari mimpiku. Muka dan dadaku basah oleh keringat dingin. Tanpa sadar bahwa sebenarnya aku sudah tidak lagi dalam mimpi, aku menutupi wajahku. Setelah napasku berangsur-angsur teratur kembali, aku terjaga dan melihat ke sekelilingku dengan panik. Ternyata aku masih di kamar yang sama,di rumah berkayu cedar itu. aku masih mengenakan piama yang dipinjamkan Bibi Mary kepadaku.
Aku meraba-raba sekujur tubuhku untuk memeriksa jangan-jangan ada luka. Aku bermimpi, kataku dalam hati. Cuma mimpi buruk. Aku mencoba mengatur napasku, tetapi aku tidak mampu menghilangkan gambaran dari mimpiku tadi. Di kepalaku terngiang-ngiang suara Ibu: "Aku tak akan pernah melepaskanmu. Tak akan pernah!"
Aku turun dari tempat tidur dan dalam gelap aku bersusah payah mengganti pakaianku. Kemudian aku naik lagi ke tempat tidur. Aku duduk sambil mendekapkan kedua lututku ke dada. Aku tidak bisa tidur lagi. Jadi, disitulah sekarang Ibu berada--di dalam mimpiku. Aku merasa bahwa keputusan untuk membawaku pergi dari rumah adalah keliru, dan aku tahu bahwa sebentar lagi aku pasti dikembalikan kepada Ibu.
Malam itu, dan malam-malam sesudahnya, ketika semua orang sudah tidur, aku duduk di tempat tidur dengan mendekapkan kedua lututku ke dada, bergoyang ke depan ke belakang sambil menggumam sendiri.
Aku akan memandang ke luar jendela dan mendengarkan suara pepohonan yang dedaunannya melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku tak akan membiarkan diriku bermimpi buruk lagi.
Pertama kali aku berurusan dengan Child Protective Service (dinas perlindungan anak) di wilayah itu terjadi saat aku didatangi seorang bidadari bernama Ms. Gold. Rambutnya yang panjang, pirang, dan mengilat,serta wajahnya yang riang sepadan dengan namanya. "Hai," katanya sambil tersenyum. "
Aku pekerja sosial yang ditugaskan untuk menemanimu". Maka,mulailah kami mengobrol lama sekali. Kalau obrolan kami tidak selesai pada suatu hari, esok harinya atau lain waktu obrolan itu diteruskan lagi. Begitu seterusnya. Dalam obrolan-obrolan itu aku sering harus menjelaskan banyak hal yang sebetulnya aku sendiri tidak begitu memahaminya.
Pada saat-saat pertama kali kami mengobrol, aku duduk sampai mepet ke ujung sofa, sementara Ms. Gold duduk ujung yang satunya lagi. Tanpa aku sadari, pelan-pelan dan sedikit demi sedikit ia menggeser badannya sampai akhirnya ia duduk dekat dengan aku dan bisa menggenggam tanganku.
Mula-mula aku merasa takut sekali ketika ia menggenggam tanganku. Aku merasa tidak pantas menerima kelembutannya. Tetapi Ms. Gold tetap menggenggam tanganku, meremas-remas pelan telapak tanganku, sambil meyakinkan aku bahwa ia ditugaskan untuk membantuku. Pada hari pertama itu kami ngobrol sampai lima jam lebih.
Pertemuan-pertemuan kami berikutnya sama lamanya. Ada kalanya aku takut sekali untuk menceritakan atau menjelaskan sesuatu. Kalau sudah begitu,biasanya kami berdiam diri saja untuk waktu yang cukup lama. Pernah juga terjadi beberapa kali secaara tiba-tiba aku menangis tanpa sebab yang jelas.
Ms. Gold tidak menjadi kesal atau panik. Ia mendekapku erat-erat penuh kehangatan, mengayun-ayun, sambil berbisik di telingaku bahwa semuanya akan segera berakhir, semuanya akan beres. Kadang kala kamu sekadar bermalas-malasa di sofa itu, dan aku omong mengenai banyak hal yang tidak berkaitan dengan masa laluku yang buruk.
Pada saat-saat seperti itu biasanya aku memainkan rambut panjang Ms. Gold. Biasanya aku bermalas-malasan dengan berbantalkan lengan Ms. Gold, dan dalam setiap tarikan napasku aku mencium wangi bunga dari parfum yang dipakainya. Dalam waktu singkat aku bisa mempercayai Ms. Gold.
Ia jadi sahabatku. Pulang dari sekolah, setiap kali melihat mobil Ms. Gold,aku berlari sekencang mungkin, lalu menghambur masuk ke rumah Bibi Mary sebab aku tahu Ms. Gold sudah datang di situ untuk menemuiku. Di akhir obrolan, kami selalu berpelukan, saling menguatkan.
Kemudian Ms. Gold membungkuk dan meyakinkan aku bahwa aku tidak sepantasnya diperlakukan seperti yang pernah kualami, dan bahwa yang diperbuat Ibu terhadapku bukan akibat kesalahanku.
Sebetulnya sudah beberapa kali aku mendengar Ms. Gold berkata demikian, namun karena aku sudah bertahun-tahun mengalami "cuci otak"--untuk mendengarkan serta menuruti hanya perkataan Ibu--aku merasa agak aneh juga untuk menerima begitu saja perkataan Ms. Gold. Rasanya,banyak sekali peristiwa terjadi dalam waktu yang sangat cepat, bagiku.
Suatu kali pernah aku bertanya kepada Ms. Gold mengapa ia memerlukan semua informasi mengenai aku dan Ibu. Ia menjawab bahwa jaksa penuntut yang mewakili masyarakat di wilayah itu membutuhkan semua informasi tersebut untuk digunakan menuntut ibuku. Aku ngeri mendengar jawaban itu. "Jangan!" aku memohon. "Dia tidak boleh tahu aku menceritakannya padamu! Jangan sampai dia tahu!"
Ms. Gold tetap berusaha meyakinkan aku bahwa yang kulakukan sudah benar. Tetapi ketika ia sudah pergi dan aku bisa berpikir sendirian, aku berkesimpulan lain. Yang bisa aku ingat adalah bahwa dulu itu aku selalu membuat orang marah. Selalu ada masalah yang menjadi alasan aku pantas dihukum.
Setiap kali orangtuaku cekcok, namaku pasti disebut-sebut. Apakah memang Ibu yang bersalah? Mungkin juga memang aku yang pantas menerima segala sesuatu selama bertahun-tahun itu. Aku memang berbohong dan mencuri makanan, bukan?
Aku pun tahu bahwa akulah penyebab Ibu dan Ayah tidak lagi hidup bersama. Apakah jakwa pengadilan wilayah akan memasukkan Ibu kepenjara? Lalu, bagaimana nasib saudara-saudara lelakiku? Pada hari itu,setelah Ms. Gold pergi, aku duduk sendirian di sofa. Banyak pertanyaan bertubi-tubi muncul di kepalaku. Aku mulai merasa mual. Astaga! Apa yang telah kulakukan?
Beberapa hari kemudian, pada hari Minggu sore, saat aku sedang di luar rumah belajar main basket, aku mendengar suara station wagon Ibu yang sudah sangat kukenal. Jantungku terasa seperti berhenti berdenyut. Kupejamkan mata,jangan-jangan aku sedang bermimpi. Ketika kepalaku jerniih kembali, aku berlari masuk ke rumah Bibi Mary, langsung menghampirinya. "Itu... itu mobil..." kataku gugup.
"Ya, aku tahu," kata Bibi Mary lembut sambil mendekapku. "Dan kau akan baik-baik saja."
"Tidak! Kau tidak me... dia akan membawaku pergi dari sini! Dia menemukan aku!" jeritku. Aku berontak untuk melepaskan dekapan Bibi Mary, sehingga aku bisa lari keluar mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Dekapan Bibi Mary tidak melonggar sedikit pun. "Bukan maksudku membuatmu marah," kata Bibi Mary. "Ibumu sekadar ingin mengantarkan beberapa potong pakaian untukmu. Kau akan menghadiri pengadilan hari Rabi besok, dan Ibumu ingin kau kelihatan rapi."
"Tidak!" jeritku. "Dia mau membawaku! Dia mau membawaku pulang!"
"David, diamlah! Aku akan terus menemanimu kalau kau mau. Nah, diamlah dulu,anak muda!" Bibi Mary berbuat sebaik mungkin untuk membuatku tenang kembali. Tetapi mataku seperti mau copot ketika melihat Ibu berjalan memasuki halaman bersama keempat anak lelakinya berbaris di belakangnya.
Aku duduk di sampir Bibi Mary. Salam perjumpaan halo-hai-apa kabar meluncur. Aku sendiri bersikap seperti seekor anjing yang terlatih, menjadi diriku yang dulu--menjadi anak dengan panggilan "It". Aku jadi berubah begitu saja,dari anak yang penuh semangat menjadi budak Ibu yang tidak kelihatan,seperti dulu di rumah Ibu.
Ibu sedikit pun tidak melihat ke arahku. Dia cuma berbicara kepada Bibi Mary saja. "Jadi, bagaimana kabar Anak Itu?"
Aku memandang wajah Bibi Mary. Tampaknya ia agak terganggu dengan sikap yang ditunjukkan Ibu. Matanya berkejap. "David? David baik-baik saja, terima kasih. Ia ada di samping saya. Anda tahu, bukan?" jawab Bibi Mary sambil menggenggam tanganku lebih erat lagi.
"Ya," sahut Ibu dengan suara datar, "saya bisa melihatnya." Bisa kurasakan kebencian Ibu membakarku. "Dan bagaimana sikapnya terhadap anak-anak lain disini?"
Bibi Mary menelengkan kepalanya. "Sangat baik. David sangat ramah dan sangat membantu kami di sini. Dia selalu membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan," ia menjawab, tahu bahwa Ibu tidak mau berbicara langsung kepadaku.
"Tapi... Anda tetap harus berhati-hati," Ibu memperingatkan. "Dia selalu mencoba mencelakai anak-anak lain. Dia tidak pernah bisa bergaul baik dengan orang-orang lain. Anak Itu kejam. Dia butuh perhatian khusus, dan disiplin adalah satu-satunya cara yang selama ini saya tanamkan kepadanya. Anda tidak tahu bagaimana Anak Itu."
Bisa kurasakan otot lengan Bibi Mary menegang. Ia agak mencondongkan badannya ke depan sambil menyunggingkan senyumannya--senyuman yang penuh makna sekaligus tajam. "David adalah anak muda yang baik. David memang agak terlalu bersemangat... tapi itu semua wajar, mengingat apa yang selama bertahun-tahun ini ia alami!"
Tiba-tiba aku sadar apa yang sedang terjadi. Ibu sedang berusaha mempengaruhi Bibi Mary, tetapi Ibu kalah. Aku meringkukkan bahuku dan hampir selalu memandangi karpet di bawahku, memberi kesan kepada Ibu seolah-olah aku ini anak anjing yang takut berhadapan dengannya.
Tetapi diam-diam aku menyimak setiap kata, setiap kalimat yang keluar dalam percakapan kedua orang tua itu. Ah, akhirnya, kataku dalam hari. Akhirnya ada juga orang yang bisa memojokkan Ibu. Yes!
Semakin aku menyimak nada suara Bibi Mary dalam menanggapi perkataan Ibu,kepalaku semakin tegak. Aku sungguh menikmatinya. Pelan-pelan kepalaku semakin tegak. Aku memandang Ibu langsung ke matanya. Aku tersenyum dalam hati. Menyenangkan sekali. Memang sudah waktunya, kataku dalam hati.
Saking asyiknya menikmati pembicaraan itu, tanpa kusadari kepalaku bergerak ke kiri ke kanan lalu kembali lagi, begitu seterusnya, seakan-akan aku sedang menyaksikan pertandingan tenis. Bibi Mary sekali lagi berusaha mendesak Ibu untuk mau mengakui bahwa aku ada di antara mereka. Aku mengangguk kepada Ibu sebagai tanda aku menyetujui ucapan Bibi Mary.
Aku mulai merasa percaya diri. aku adalah seseorang. Aku sama seperti orang-orang lain, kataku dalam hati. Bahkan tubuhku pun mulai merasa semakin nyaman. Aku tidak lagi merasa takut. Itulah saat ketika aku merasa bisa menikmati banyak hal dengan wajar. Sampai akhirnya aku mendengar dering telepon.
Aku langsung menoleh ke sebelah kanan ketika telepon di dapur berdering. Deringnya terdengar keras sekali dan mengejutkan. Aku menghitung deringannya, sambil berharap ada orang yang mengangkatnya. Aku menjadi semakin tegang ketika telepon itu sudah berdering 12 kali.
Bibi Mary memutar tubuhnya ke arah dapur. Cepat-cepat kupegang lengannya. Ayo dong, kataku dalam hati. Tidak ada orang di rumah. Matikan saja teleponnya. Tetapi telepon itu tetap berdering--16, 17, 18 kali. Tutup! Tutup! Kemudian aku merasakan gerakan Bibi Mary yang bersiap untuk berdiri.
Tanganku tetap memegang lengannya, mencoba memaksanya untuk duduk terus, tidak usah berdiri. Ketika akhirnya ia berdiri, aku mengikutinya. Tangan kananku memegang erat lengan kirinya. Ia menghentikan langkahnya dan mencoba melepaskan pegangan tanganku. "David, jangan begitu ya. Aku cuma mau menjawab telepon itu sebentar saja. Ayo, kamu harus sopan.
Duduklah." Aku tetap berdiri. Aku tidak melepaskan pandanganku dari mata Bibi Mary. Baru kemudian Bibi Mary menangkap maksudku. Ia menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu," katanya dengan suara pelan. "Ayo, kamu boleh ikut aku."
Aku menarik napas lega, lalu mengikuti Bibi Mary ke dapur. Tiba-tiba tangan kiriku disentakkan ke belakang sampai aku hampir jatuh, tapi aku berhasil menyeimbangkan badanku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku.
Kedua kakiku mulai gemetar. Ibu duduk di depanku, sangat dekat. Napasnya yang berat terdengar jelas, dan itu membuatku takut. Mukanya merah gelap. Dari balik kacamatanya, kulihat sorot mata Ibu penuh kemarahan. Aku mencari-cari Bibi Mary, tetapi ia sudah masuk ke dapur.
Aku memandang ke lantai, sambil berharap Ibu tidak di situ. Ibu mencengkeram tanganku semakin erat. "Lihat aku!" desisnya. Aku seperti tidak bisa bergerak. Aku mau berteriak, tapi aku merasa seperti bisu. Sorot mata Ibu yang jahat menghujam ke mataku. Aku memejamkan mata saat kurasakan wajah Ibu semakin dekat ke wajahku.
Suara Ibu terdengar semakin kejam, "Kau betul-betul begundal kecil, bukan? Kenapa, kau tidak kelihatan seberani tadi. Betul, kan? Ada apa? Kau ditinggal oleh Bibi Mary-mu yang kecil itu ya?" Ibu menarik aku lebih dekat lagi kepadanya, sampai-sampai aku bisa mencium bau napasnya dan merasakan percikan ludahnya di wajahku.
Lalu suaranya terdengar dingin. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tahu?! Kau tahu aku ditanyai macam-macam oleh orang-orang itu? Kau tahu bahwa kau membuat malu Keluarga Ini?" Demikian Ibu bertanya, sambil tangan kirinya direntangkan ke arah saudara-saudara lelakiku yang duduk di sampingnya.
Lututku seperti tak mampu menahan berat badanku. Aku mau ke kamar kecil, aku mau muntah. Ibu tersenyum, sehingga tampak gigi-giginya yang kuning kehitaman. "Orang-orang mengira aku sengaja menyakitimu. Haruskah aku melakukannya?"
Aku mencoba menoleh ke arah dapur. Sepertinya aku tidak mendengar suara Bibi Mary menjawab panggilan telepon.
"Nak!" suara Ibu tajam, hampir berbisik, "Boy... dengar baik-baik! Aku tak peduli apa kata orang! Aku tak peduli apa yang mereka lakukan! Kau belum terbebas dari aku! Aku pasti mengambilmu lagi! Kau dengar? Aku pasti mengambilmu lagi!"
Ketika mendengar Bibi Mary selesai menelepon, Ibu melepaskan tanganku dan mendorongku. Aku duduk dan melihat penyelamatku berjalan kembali ke ruang tengah dan duduk di sampingku. "Maaf pembicaraan kita terpotong," kata Bibi Mary.
Ibu mengejap-ngejapkan matanya dan melambaikan tangan. Sikapnya langsung berubah jadi anggun. Dia berakting lagi. "Terpotong? Oh, telepon tadi? Tidak apa-apa. Aku harus... sepertinya kami pamit pulang saja sekarang."
Kulirik saudara-saudara lelakiku. Mata mereka kaku dan tidak tampak jenaka. Kupandangi mereka sambil bertanya-tanya dalam hari, mereka berpikir apa tentang aku. Kecuali Kevin yang masih kecil, ketiga saudara lelakiku yang lain itu kelihatannya ingin sekali membanting lalu menginjak-injak aku. Aku tahu mereka membenci aku, dan aku merasa pantas mereka benci, sebab aku sudah membocorkan rahasia keluarga.
Aku mencoba membayangkan bagaimana keadaan mereka hidup hanya bersama Ibu. Bagaimanapun, aku berdoa semoga mereka memaafkan aku. Aku merasa seperti orang yang mencurangi teman-temanku sendiri. Aku juga berdoa semoga tidak seorang pun di antara mereka tertulari sikap Ibu yang penuh kebencian. Aku kasihan terhadap mereka. Mau tak mau mereka hidup di dalam neraka.
Setelah berbasa-basi lagi dan setelah Ibu menyampaikan lagi peringatan-peringatannya kepada Bibi Mary, Keluarga itu pun pulang. Sampai suara mobil Ibu menjauh dari rumah Bibi Mary dan tak terdengar lagi, aku masih terpaku di tempat dudukku semula. Sepanjang sore itu aku duduk terusdi ruang tengah, badanku mengayun ke depan ke belakang sambil mengulang-ulang ucapan Ibu. "Aku akan mengambilmu lagi. Aku akan mengambilmu lagi."
Malam itu aku tidak bisa makan. Aku juga tidak bisa tidur. Aku resah, Cuma berguling-guling di tempat tidur, sampai akhirnya aku duduk dengan mendekap kedua lututku. Ibu betul. Dalam hati, aku tahu bahwa dia akan mengambilku lagi. Aku memandang ke luar jendela kamarku. Bisa kudengar suara angin menggesek pucuk-pucuk pohon sehingga ranting-rantingnya saling bergesekan. Dadaku sesak. Aku menangis. Saat itu juga aku sadar bahwa tidak ada jalan keluar bagiku.
Esok harinya, di sekolah, aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saat istirahat, aku berjalan-jalan di seputar tempat bermain, tanpa tujuan,seperti mayat hidup. Sore harinya aku bertemu Ms. Gold di rumah Bibi Mary.
"David, dua hari lagi kita akan ke pengadilan. Aku mau mengajukan beberapa pertanyaan lagi, cuma untuk memeriksa dan memastikan saja semuanya yang sudah pernah kita obrolkan. Setuju, Sayang?" tanya Ms. Gold dengan senyum lebar.
Aku tak mau bicara. Aku duduk kaku di pojok sofa. Aku tidak berani memandang Ms. Gold. Ketika ia tampak semakin putus asa, aku berkata pelan, "Menurutku,aku tidak perlu berkata apa-apa."
Ms. Gold melongo, tidak mempercayai apa yang baru saja aku katakan. Ia ingin berbicara, tapi kuangkat tanganku sebagai tanda agar ia tidak usah berbicara apa-apa. Lalu aku menyatakan bahwa semua yang pernah kuceritakan kepadanya bohong belaka. Akulah penyebab segala persoalan dalam rumah tangga. Kukatakan padanya bahwa memar-memar di tubuhku akibat jatuh dari tangga.
Aku menabrak pintu. Aku melukai dan memukuli diriku sendiri. Aku menusuk diriku sendiri. Kemudian aku berteriak, mengatakan kepada Ms. Gold bahwa ibuku adalah perempuan yang cantik dan baik hati, yang merawat kebun bunganya dengan telaten, mengurusi rumah tangganya dengan sempurna, memiliki keluarga yang sempurna, dan akulah yang menuntut perhatian darinya karena aku takut disaingi oleh saudara-saudara lelakiku. Semuanya adalah salahku.
Ms. Gold tidak bisa bicara apa-apa. Ia seperti menghambur ke arahku yang tetap dalam posisi duduk. Beberapa kali ia berusaha mengambil dan menggenggam tanganku. Kutepiskan jari-jarinya yang lembut itu. Tampak sekali ia jadi semakin putus asa, lalu mulai menangis.
Setelah beberapa jam berlalu dan berkali-kali berusaha melunakkan hatiku, Ms. Gold memandangiku. Air matanya mengering, meninggalkan bekas di pipinya. Bagian bawah matanya pun jadi berlepotan eyeliner. "David, Sayang," katanya sambil terisak, "aku tidak mengerti. Kenapa kau tidak mau bicara padaku? Kenapa, Sayang?"
Kemudian ia mencoba mengubah sikapnya. Ia berdiri dan menunjuk-nunjuk kearahku. "Kau tahu bahwa kasus ini sangat penting? Kau tahu bahwa yang kuceritakan kepada orang-orang di kantorku adalah seorang anak lelaki yang cakep, yang berani menceritakan segala rahasianya?"
Aku memandang Ms. Gold dengan tajam, dan itu membuatnya terdiam. "Aku tidak perlu berkata apa pun," jawabku dingin.
Ms. Gold membungkuk, berusaha memaksaku supaya tidak berpaling darinya.
"David, please..." ia seperti memohon.
Tapi bagiku ia tidak ada di situ. Aku tahu bahwa ia sebagai pekerja social yang ditugasi mendampingi aku sedang mengupayakan segala cara untuk membantuku. Sayangnya, kemurkaan Ibu lebih menakutkan bagiku daripada kemarahan Ms. Gold. Sejak Ibu menyatakan "Aku akan mengambilmu kembali", aku tahu bahwa segala sesuatu di duniaku yang baru lenyap sudah.
Ms. Gold mencoba memegang tanganku. Dengan kasar kutepiskan tangannya.Kemudian aku memunggunginya. "David James Pelzer!" bentaknya. "Kau tahu akibat dari perkataanmu? Kau tahu akibat dari sikapmu ini?
Lebih baik kau ceritakan semua yang kau alami dengan sebenar-benarnya! Sebentar lagi kau harus mengambil keputusan penting, maka sebaiknya kau bersiap-siap melakukannya!"
Ms. Gold kembali duduk di sebelahku. "David, kau harus tahu bahwa dalam hidup seseorang hanya ada sedikit saja saat di mana pilihan atau keputusan yang kau ambil saat ini akan mengubah hidupmu di kemudian hari, seumur hidupmu. Aku bisa membantumu, asalkan kau mau aku bantu. Kau mengerti,bukan?"
Sekali lagi, aku membuang muka. Tiba-tiba Ms. Gold berdiri. Wajahnya memerah dan tangannya gemetar. Aku mencoba menahan segala perasaanku, namun kemarahanku meluap juga. "Tidak!" aku berteriak.
"Anda tidak mengerti! Anda idak mengerti sama sekali! Dia akan mengambilku kembali. Dia pasti menang. Dia selalu menang. Tidak seorang pun bisa mencegah Ibu. Anda juga tidak,tidak seorang pun! Dia akan mengambilku kembali!"
Wajah Ms. Gold semakin merah padam. "Astaga!" katanya tertahan, sambil membungkuk, mencoba memelukku. "Ibumu bilang begitu? David, Sayang..." tangannya mulai menjangkauku.
"Tidak!" jeritku. "Biarkan aku sendirian. Anda... pergi saja!"
Ms. Gold berdiri. Sejenak ia memandangku, lalu meninggalkan aku dengan langkah-langkah lebar. Tidak lama kemudian kudengar pintu dapur ditutup dengan keras. Segera aku berlari ke dapur, tetapi langkahku hanya sampai kepintu dapur, dan aku berdiri terpaku. Dari balik pintu dapur yang berkawat kasa itu aku bisa melihat Ms. Gold berjalan cepat, dengan marah.
Langkahnya tersandung dan ia jadi terhuyung. Kertas-kertas di tangannya berhamburan tertiup angin. Aku sempat mendengarnya mengumpat. Susah payah ia mengumpulkan kembali kertas-kertasnya yang berhamburan itu. Ketika mencoba berdiri lagi, ia jatuh berlutut. Bisa kulihat wajahnya menampakkan rasa putus asa. Ia berdiri lagi, lalu berjalan menuju mobil dinasnya.
Ia menutup pintu mobilnya, lalu menyandarkan kepalanya ke stir mobil. Sambil berdiri dibalik pintu dapur berkawat kasa itu, bisa kudengar Ms. Gold—bidadari penolongku--terisak. Beberapa menit kemudian, barulah ia menyalakan mesin mobilnya dan pergi.
Aku masih berdiri di belakang pintu dapur. Dalam hati aku menangis. Aku tahu, aku tidak pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Bagaimanapun,menurutku, berbohong kepada Ms. Gold lebih ringan dosanya daripada mengatakan yang sebenarnya. Masih di balik pintu dapur, aku berdiri,bingung. Menurutku, aku tahu Ibu pasti akan mengambilku kembali, dan tak seorang pun bisa mencegahnya.
Tetapi ketika kemudian aku menyadari sikap Ms.Gold yang selalu baik, aku menyadari juga bahwa aku telah menempatkannya pada situasi yang tidak mengenakkan. Aku tak pernah bermaksud menyakiti siapa pun, apalagi Ms. Gold. Aku masih berdiri saja, mematung di balik pintu dapur. Ingin rasanya aku bersembunyi di balik batu-batu yang besar. Bersembunyi selamanya.
Indo community
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback