Pages

Tuesday, November 10, 2009

Membuat Diri Jadi Monyet

(thoughtful) Penulis: GedePrama

Entah apa sebabnya, belakangan saya banyak dibanjiri undangan berbicara dengan topik-topik bertema IT. Ia tidak bisa ditolak dengan argumen ? saya bukan orang IT?. Sebagian undangan yang tidak mau ditolak datang dari Telkom dan Lintas Arta.

Setelah didengarkan dan dipahami secara pelan, rupanya ide- ide saya tentang the social construction of IT-lah yang membuat banyak orang mengundang saya. Sebuah bidang yang dulunya kering peminat, dianggap oleh banyak sahabat akademisi di Inggris dulu sebagai bidang tanpa masa depan,sekarang diminati amat serius oleh banyak pemain bisnis.

Dan diantara serangkaian ide konstruksi sosial terhadap teknologi ini, yang paling banyak memperoleh perhatian adalah kekuatan teknologi untuk membuat ulang manusia, dan kekuatan teknologi untuk membuat manusia berlomba imajinasi.

Mari kita mulai dengan kekuatan IT yang pertama : membuat ulang atau membuat balik manusia. Sebagaimana sudah terjadi sejak lama, IT berpengaruh jauh lebih besar dari sekadar fungsi pendukung dan pembantu. Kehadiran barang- barang seperti komputer kecil, internet, telepon seluler dan sejenisnya, telah merubah banyak sekali kehidupan.

Daya rubahnya tidak sedangkal hanya membuat kehidupan lebih mudah dan bergengsi. Namun, secara lebih mendalam ikut merubah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Sekaligus, merubah bahasa-bahasa kehidupan.

Sebut saja kegiatan belajar. Dulu, ketika pengaruh IT belum dahsyat, orang muda belajar ke orang tua. Dalam dunia yang IT intensive, berlaku hukum terbalik : orang tua belajar dari anak muda. Atau sebut saja dunia kerja yang dulu indentik dengan absensi.

Sekarang, ada banyak sekali eksekutif yang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan lebih efektif, tanpa perlu hadir dan mengabsenkan diri di kantor. Dunia pendidikan juga berubah, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau akan ada virtual university.

Seorang sahabat dari Amerika bertutur, sejumlah universitas terkemuka di sana sedang berancang-ancang membuat dirinya jadi universitas virtual. DiIndonesia juga sudah ada yang memulainya.

Kegiatan berbisnis apa lagi, sekarang memang masih di persimpangan jalan antara ekonomi baru dan ekonomi lama. Sudah menjadi ciri IT sejak awal,perubahan agak lambat di awal, tetapi begitu perubahan datang, ia lebih cepat dan dahsyat dari air bah manapun.

Kegiatan pemerintahan juga tidak luput dari pengaruh IT. Sudah menjadi rahasia umum, kalau sejumlah negara yang fundamen ekonominya keropos, kemudian dipermainkan spekulan uang,hanya melalui sejumlah tekanan di key board komputer.

Belum lagi kalau semua ini ditambah dengan dunia anak-anak yang dimana-mana sedang keranjingan komputer dan play station. Tidak sedikit anak-anak, yang berhenti bermain dan kemudian duduk berlama-lama di depan komputer. Chatting berjam-jam dengan sahabat dari seluruh dunia. Putera saya belajar fisika, kimia dan bahkan merakit bom dari internet.

Digabung menjadi satu, tidak berlebihan kalau saya katakan, bahwa teknologi sedang membuat balik kita semua. Bila betul pengandaian ? If you give peanut, you get monkey?, maka siapa saja yang pelit mengeluarkan uang disektor IT, atau malas belajar IT, maka secara tidak langsung sedang membuat diri jadi monyet.

Bagaimana tidak jadi monyet, kalau orang lain lari kencang menunggangi kendaraan IT yang berjalan cepat, sementara kita masih berjalan lambat dengan kendaraan lama.

Lebih dari sekadar lari kurang kencang, bahasa-bahasa yang dihadirkan IT juga teramat berbeda. Siapa saja yang sekarang ini tidak memiliki alamat e-mail, entah ia tinggal di London atau di Jakarta, serupa dengan monyet yang tinggal dan hidup di tengah hutan.

Saya yang membawa note book kemana-mana saja sudah ditertawakan sebagai menggendong monyet ke mana-mana. Sebab, sebagian teman sudah ditemani personal digital assistant.

Ini baru berbicara aspek pertama dalam bentuk kemampuan teknologi untuk membuat ulang manusia. Dalam bentuknya yang lain, kita sedang berlomba-lomba imajinasi melawan teknologi.

Teknologi memang buatan manusia, namun demikian cepatnya ia berkembang dan berubah, sehingga kita dibuat demikian kewalahan. Tidak saja repot mempelajarinya, namun juga dibuat terbengong-bengong oleh fungsi-fungsi teknologi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kartu ucapan selamat, tidak saja bisa disampaikan lewat internet, tetapi juga lewat telepon seluler. Puteri semata wayang saya, kerap mengirim bunga dari tempat yang amat jauh, melalui telepon seluler. Anak-anak muda d iJepang, berpacaran face to face melalui teknologi. Bahkan praktek esek-esek sekalipun bisa dilakukan melalui teknologi.

Kalau Anda dan saya sering terbengong-bengong heran dan tidak mengerti oleh semua perubahan ini, ia adalah pertanda kalau kita sudah amat ketinggalan dalam hal imajinasi dibandingkan teknologi buatan manusia. Dan berpotensi untuk jadi monyet?.

Oleh karena alasan terakhirlah, saya sering mengemukakan bahwa the future belongs to the friends of technology. Pilihannya memang agak sulit,bersahabat dengan teknologi, atau membuat diri jadi monyet?.

Terserah Anda. Seorang sahabat secara setengah bercanda mengomentari ide ini dengan : Ah ini sih cerita monyet yang baru keluar dari hutan !. Kalau saya monyet baru keluar dari hutan, lantas Anda yang membaca tulisan ini sampai habis jadi apa ?

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback