Pages

Friday, November 6, 2009

Inipun Akan Berlalu

(thoughtful) Oleh: Gede Prama

Seperti berjalan di jalan setapak, menelusuri lorong-lorong pencerahan hidup memang bisa menemukan berbagai macam hal di tengah jalan. Dari binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari terik, hujan, orang aneh dan bersahabat, sampai dengan bertemu wanita cantik. Ini juga yang saya alami dalam perjalanan sejauh ini.

Ada yang menyebut karya saya sebagai robekan-robekan tulisan koran yang dangkal,ada yang menyebut sebagai karya-karya yang kurang serius, ada yang menyebutnya dengan pemikiran yang jernih dan bening, ada yang mau menjadi murid setia, dan yang paling konyol ada yang mencalonkan saya sebagai presiden Republik Indonesia.

Dalam bahasa kehidupan yang umum, ini hanyalah dualisme yang saling mengisi dan saling melengkapi. Dalam bahasa saya , ini adalah hukum-hukum alam pencerahan. Siapapun yang melewati jalan ini, pasti bertemu variasi yang serupa.


Mirip dengan hukum alam pencerahan penulis buku The Road To Wisdom, yang menulis bahwa jalan menuju pencerahan hanya berisi batu-batu koral kesalahan. Yang permanen dalam perjalanan pencerahan ini hanyalah kesalahan. Cuman, diharapkan kesalahannya tambah mengecil dan mengecil.

Di awal-awal perjalanan, pujian dari pengagum memang bisa membuat badan dan jiwa ini seperti diisi ulang oleh energi baru, atau makian orang yang tidak suka bisa membuat stok energi berkurang amat drastis.

Sehingga jadilah stok energi menaik dan menurun tergantung pada pujian dan makian orang lain. Mirip dengan barang mati seperti mobil, di mana energinya tergantung semuanya pada kebaikan hati pihak luar.

Setelah lama energi hidup dipermainkan oleh kekuatan luar (baca: makian dan kekaguman orang lain), ada rasa bosan dan capek yang menggoda. Sampai suatu hari, sebuah dongeng yang ditulis seorang penulis sufi bisa membangunkan saya.


Konon, di sebuah kerajaan seorang raja sudah teramat bosan hidup. Kehidupan yang berlimpah harta, wanita dan tahta, semuanya sudah dimilikinya. Kehidupan yang dilingkupi kesedihan juga pernah ditemuinya.

Kebosanan sang raja kemudian muncul, setelah menyadari, bahwa hidup hanya dipermainkan oleh perasaan suka yang memproduksi kesombongan, dan perasaan duka yang mendorong kita ke jurang kesedihan. Maka, diadakanlah sandiwara, barang siapa yang bisa memberikan obat mujarab kebosanan hidup, ia akan diberikan hadiah amat besar oleh penguasa ini.

Ketika dead line sandiwara tiba, ada yang mengirim buku, ada yang memberi bola kristal, ada yang memberi mantra-mantra mistik, sampai dengan wanita super cantik yang berjanji bisa membuat paduka raja greng selamanya.

Dan semuanya tidak bisa mengobati penyakit bosan tokoh terakhir. Nyaris putus asa dengan benda-benda ini, hampir saja panitia menutup sandiwara tanpa satu pemenangpun. Tiba-tiba dari benda-benda besar tadi, jatuh sebuah cincin sederhana kecil yang bertuliskan: `inipun akan berlalu.'

Lama raja maupun penasehatnya dibuat bingung oleh maksud tulisan di bagian luar cincin ini. Setelah didalami, direnungkan dan dicermati, ternyata kata-kata sederhana dalam bentuk `inipun akan berlalu,' bisa mengobati kebosanan sang raja.

Mungkin ada yang dahinya berkerut sampai tataran ini. Izinkan saya berbagi kejernihan hanya pada mereka yang dahinya berkerut. Bagi saya terutama setelah lama diombang-ambingkan oleh makian dan pujian orang lain, pernah hidup amat miskin dan pernah juga duduk di kursi kehidupan yang cukup tidak ada satupun hal yang permanen: semuanya akan berlalu.

Bila kita kembali pada hekekat hidup dalam bentuk `inipun akan berlalu,' dalam keadaan apapun (suka maupun duka, kaya maupun miskin), grafik kehidupan senantiasa mendekati datar. Tidak ada kesedihan yang terlalu mendalam, tidak ada juga kesombongan yang terlalu memabokkan.

Mendengar penjelasan seperti ini, ada yang bertanya ke saya: `bukankah jalan yang datar tanpa kelokan cepat sekali membosankan?' Ini yang mesti diluruskan. Hidup dengan keyakinan `inipun akan berlalu,' bukanlah hidup tanpa keindahan.


Keindahan pencerahan demikian perjalanan saya bertutur justru terletak pada absennya makian dan pujian orang lain. Dalam dunia yang diisi rasa haus akan pujian, serta rasa takut akan makian, kita dipermainkan oleh cuaca dan kekuatan-kekuatan luar lainnya.

Di lain hal, dalam dunia `inipun akan berlalu' tidak ada satupun cuaca yang bisa mendikte kita secara amat berlebihan. Semuanya serba mengalir, mengalir, mengalir dan mengalir.

Lorong-lorong pencerahan melalui meditasi telah lama saya jalani, dan sampai sekarangpun masih berjalan. Yang jelas, dalam kehidupan yang dipandu oleh prinsip `inipun akan berlalu,' halangan memang senantiasa hadir, namun energi untuk berjalan seperti tidak ada habis-habisnya.

Dan yang lebih penting lagi,nafsu untuk `bertransaksi' (baca: menghitung untung rugi) dengan kehidupan menjadi amat berkurang. Bukankah transaksi adalah halangan terbesar dari ketulusan dan keihklasan?

Bercermin dari sini, kalau ada orang yang bermimpi punya murid dan pengagum, saya malah bermimpi tentang kehidupan tanpa murid dan pengagum. Bukan tidak mau menghargai pujian orang, bukan juga mau mencampakkan rasa hormat orang yang mau jadi murid.


Akan tetapi, hanya mau keluar dari tubuh dan jiwa yang dibuat amat tergantung oleh cuaca luar. Kenapa ini menjadi amat penting? Kembali ke inti dongeng sufi sebelumnya: `inipun akan berlalu.'
______________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback