Pages

Friday, November 6, 2009

Hutan Dan Raja Hutan

(thoughtful) Oleh: Gede Prama
Sebuah tulisan di web site saya dengan judul 'Belajar kepemimpinan dari anjing' mengundang banyak komentar. Puluhan e-mail saya terima berkaitan dengan tulisan ini. Tidak sedikit yang merasa baru sadar, bahwa demikian banyak yang kita bisa peroleh dari kegiatan menyanyangi dan mencintai orang lain.

Demikian antusiasnya diskusi tentang kepemimpinan ala anjing Amerika ini,seorang pengunjung bahkan merekomendasikan saya untuk mencari sebuah buku dengan judul 'Why Dog Never Lie About Love.'

Sebagai penulis, ada semacam kebahagiaan tersendiri, bila mengetahui bahwa ide dan tulisan saya dibaca dan didiskusikan orang lain. Apa lagi sampai ada orang yang menghadiahkan sumber ilmu baru. Lebih-lebih kalau ada yang berterimakasih,bahwa dirinya dan keluarganya telah saya bantu dalam memperluas cakrawala hidup.

Orang boleh menyebut respon-respon terakhir dengan rangkaian pujian yang membuat hati jadi berbunga. Tetapi, saya menyebutnya sebagai pengalaman spiritual yang membersihkan jiwa.

Karena kesenangan dan kenikmatan spiritual seperti inilah,maka tulisan-tulisan di kolom ini saya buat tanpa mengenal rasa lelah. Entah dibandara, di pesawat, di kantor, di rumah, di hotel, atau di tempat wisata ketika bersama anak dan isteri, tetap saja kegiatan membersihkan jiwa terakhir saya lakukan dengan penuh suka cita.

Di tengah suka cita model terakhir ini, dalam sebuah kesempatan pulang kampung ke desa saya di Bali, saya dikejutkan oleh sejumlah kenyataan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Sahabat-sahabat masa kecil saya, yang kebanyakan tidak menyelesaikan sekolah dasarnya, ternyata mendalami makna hidup yang cukup dalam. Jalur belajarnya saja yang berbeda dengan saya. Mereka belajar kehidupan dari nyanyian-nyanyian tradisional (baca: kidung) yang berumur amat tua.

Seorang sahabat yang ketika di SD tidak naik kelas sampai tiga kali karena kebodohannya, malah mengejutkan saya melalui pemahamannya yang dalam tentang kepemimpinan. Dia menggunakan pengandaian hutan dan raja hutan (baca: singa).


Sebagaimana kita tahu, singa hidup di hutan. Dan telah lama dinobatkan sebagai raja hutan. Uniknya, tanpa hutan tidak ada singa yang bisa hidup panjang dan tenteram. Namun, tanpa singa banyak hutan yang bisa hidup tenteram dalam waktu yang lama.

Perlambang alam ini mengajarkan ke kita tentang pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Kalau ada orang yang bercerita tentang singa yang melindungi hutan, tentu saja Anda tertawa sambil tidak percaya. Akan tetapi, sudah menjadi kenyataan hidup sehari-hari, bahwa hutan telah lama menjadi rumah, ibu dan tempat hidupnya si raja hutan.

Kalau kita meneropong dunia pemimpin dan kepemimpinan dalam perspektif hutan dan singa, langsung terasa ada kejanggalan. Sebagaimana kita rasakan bersama, bangsa ini termasuk satu contoh - bersama Korea Selatan, Afrika selatan,dll - di mana rakyat dan pengikut tidak ditempatkan sebagai 'ibu', namun sebagai korban-korban yang tidak berdaya.

Di banyak perusahaan terjadi, karyawan bukanlah tempat berteduhnya pemimpin, melalui praktek-praktek hubungan industrial yang memperkosa, mereka sudah lama menjadi sapi perahnya pengusaha.

Di banyak organisasi pelayan publik seperti kelurahan dan rumah sakit, sudah menjadi catatan sejarah kalau rakyat menjadi hamba yang mesti menyembah. Ini semua tentu saja terbalik dengan pola hutan (baca: rakyat dan pengikut) yang menjadi ibunya raja hutan (pemimpin).

Kalau umur kepemimpinan yang menyakiti 'ibu' ini kemudian berumur amat dan teramat pendek, tentu saja bisa dimaklumi. Sebab disamping menjungkirbalikkan hukum-hukum alam yang berumur teramat lama,juga karena tidak ada satupun manusia yang hidup tenteram dalam jangka waktu yang lama dengan menyakiti sang ibu.

Selama apapun seorang pemimpin berkuasa, atau selama apapun sebuah teori kepemimpinan diyakini, tetapi tetap tidak bisa mengalahkan lamanya kenyataan dalam bentuk hutan yang melindungi rajanya. Bisa jadi, dia malah berumur lebih tua dari sejarah manusia sendiri.

Sebesar apapun kekuasaan seorang pemimpin,atau selegitimatif apapun proses lahirnya seorang pemimpin, namun melalui tindakan-tindakan yang menyakiti sang ibu, semuanya bisa lenyap ditelah ibu pertiwi.

Terinspirasi dari sini, mungkin sudah saatnya melihat rakyat dan karyawan dalam posisi sebagai ibu. Di mana, sebagaimana ibu yang sebenarnya yang tidak bisa dipilih, kita tidak hanya dituntut hormat, melainkan juga diundang untuk sampai pada tataran unconditional love.

Di tataran cinta terakhir, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Produktivitas bukanlah sebuah perkara yang teramat sulit. Yang membuatnya sulit adalah kemewahan pemimpin dalam waktu lama, untuk senantiasa duduk di atas dengan penuh kesombongan.

Dan meletakaan sang 'ibu' dalam posisi yang amat menderita. Mungkin saya terlalu dibungkus oleh keyakinan akan pentingnya penghormatan kepada ibu. Dan membuat penghormatan saya menjadi tampak agak berlebihan.

Boleh saja ada orang yang menyebutnya demikian. Namun, adakah orang yang bisa lahir, hidup lama dan tenteram tanpa ibu kandung, ibu pertiwi, ibu mertua dan jenis ibu lainnya? Kalau raja hutan tidak bisa hidup tanpa ibunya yang bernama hutan, adakah pemimpin yang dikenang dalam waktu yang lama tanpa memperhatikan sang 'ibu'?
______________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback