Pages

Wednesday, March 4, 2009

Waspadai Gangguan Siklus Haid

Gangguan siklus haid, menjadi sangat pendek atau menjadi lebih panjang, harus diwaspadai, Apalagi jika disertai rasa tertekan pada kandung kemis, dubur, maupun organ lain dalam rongga perut, bisa jadi hal itu merupakan gejala kanker ovarium.Demikian dikemukakan dr. Nasdady SpOG Onk dalam ceramah umum tentang kanker ovarium di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta,

Menurut Nasdady, selain sel telur, ovarium juga memproduksi hormone reproduksi, seperti estrogen dan progesteron. Jika sel-sel ovarium terganggu, yang paling mudah dirasa adalah haid yang tak teratur. Kanker ovarium sebagaian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Sebelum adanya pembesaran perut, kista telah menekan organ-organ di daerah perut. " Jika menekan kandung kemih, daya tampung kandung kemih berkurang sehingga orang cenderung kencing (beser), jika menekan dubur, penderita akan sembelit, Kista juga bisa menekan panggul, pembluh darah dan syaraf,menyebabkan perut bagian bawah tegang dan nyeri, terutama saat bersenggama," papar Nasdady.

Berbeda dengan kanker leher rahim yang mudah dideteksi dengan Pap-smear, kanker ovarium boleh dikatakan silent killer alis pembunuh diam-diam. Pasalnya ovarium terletak di bagian dalam sehingga tak mudah dideteksi. Sejauh ini belum ada metode deteksi dini yang memuaskan. Akibatnya 70-60 persen kanker ovarium baru ditemukan pada stadium lanjut dan menyebar (metastesis) kemana-mana.

Hampir 50 persen kematian kanker ginekologi disebabkan kanker ovarium.
Padahal, angka kejadian hanya 25 persen kanker leher rahim. Menurut data RSKD, kaknker ovarium hanya sebanyak 30-50 kasus per tahun, sedangkan kanekr leher rahim sekitar 200 kasus.

DETEKSI
Tumor ganas obarium memeng bisa dideteksi lewat petanda (marker) tumor ca-125, tetapi tidak semua sel tumor ganas ovarium memproduksi ca-125. Deteksi bisa juga dilakukan dengan USG transvaginal. Meski lebih sensitive dibanding USG biasa, tetapi tetap belum bisa mendeteksi penyebaran sel tumor. "Seringkali kanker ovarium yang disangka masih satdium dini setelah dibedah baru ketahuan telah menyebar kemana-mana," tutur Nasdady.

Penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui. Namun ada beberapa factor risiko antara lain tidak menikah, tidak punya atau sedikit anak, kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina, haid dini, menopause terlambat, terkena radiasi, serta faktor genetik. Sedangkan yang menurunkan risiko adalah pernah hamil dan mepunyai anak, menggunakan pil kontrasepsi dan
strelisasi. Umunya penderita brusia 40 tahun keatas, namun tidak menutup kemungkinan anak/remaja bisa terkena, biasanya karena faktor genetik.


Sumber- Kompas

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback