Pages

Thursday, February 12, 2009

Agnes dan Mattie

(inspirational story)

Agnes dan Mattie
(taken from Chicken Soup for the Cat & Dog Lover's)

Pada usianya yang kesembilan puluh tiga tahun, Agnes, yang pikirannya masih setajam mata burung elang, didorong di kursi rodanya, menyusuri lorong remang-remang panti werdha itu, menuju kamar terakhir di sebelah kiri. Kamar No. 109.

"Kamarnya bagus, Bibi," kata keponakan perempuannya, yang merupakan salah satu dari dua kerabatnya yang masih hidup. "Rapi dan bersih."

Agnes memandangi tembok-tembok putih itu, juga lantai linoleum yang kelabu, dan ia terdiam. Malam. itu, saat berbaring di tempat tidur yang terasa asing baginya, sambil mencoba menutup telinga dari suara-suara televisi di kamar sebelah, ia merasa seakan-akan hidupnya telah berakhir waktu itu, karena kecerobohannya, ketika ia tersandung akar pohon, sehingga pingguInya patah dan kebebasannya pun lenyap.

la menggantungkan salib kayu miliknya di atas meja kecil yang terbuat dari logam. Ke dalam laci paling atas ia memasukkan semua surat-surat lama, foto-foto, sekotak permen, dan sepotong biskuit lama untuk anjing, yang ia temukan di bagian bawah dompetnya. Dulu, sebelum masuk ke panti werdha itu, ia selalu berjalan kaki setiap hari, dan anjing-anjing di lingkungan tempat
tinggaInya selalu menyambutnya dengan antusias, seperti halnya Rusty, anjing peliharaannya sendiri. Ia tidak sampai hati membuang biskuit itu.

Agnes tidak mau keluar dari kamarnya. la menolak men anggap panti werdha ini sebagai tempat tinggaInya. Ini bukan rumahku, pikirnya dengan geram.

Ini bukan rumahku, pikirnya dengan geram. Ini sama sekali tidak seperti rumahku.

Ia membaca, tidur siang, dan ia suka mengenang tahun tahun silam yang dilaluinya di rumah besar berwarna kuning di ujung jalan. Rusty selalu membuntuti di belakangnya saa ia berjalan-jalan. la terkenang pohon-pohon rimbun yang tinggi menjulang, yang ditanam oleh ayahnya tercinta untuk ia dan suaminya, jack,ketika mereka baru menikah.

Perkawinannya dengan jack bahagia. Mereka tidak punys anak. Hanya punya beberapa ekor anjing. Yang terakhir adalah Rusty, seekor anjing kampung yang tinggi dan penuh harga diri. Rusty-lah yang mendampinginya ketika Jack meningga karena pneumonia. Rusty tidur di lantai, di bawah tempat tidurnya, dan setiap pagi ia selalu meraih ke bawah untuk membelai-belai Rusty. Sekarang Agnes tidur meringkuk di tempat tidurnya, dan satu lengannya terjuntai melewati kasur.

Untuk sesaat yang mendebarkan ia merasa seperti bisa meraba kepala Rusty yang halus dan mendengar bunyi kibasan ekornya yang panjang. Tapi kemudian bunyi denting kereta-kereta makanan dan aroma tajam makanan sederhana menyentakkannya kembali ke alam nyata. la menangis di bantalnya.

Direktur aktivitas di panti werdha itu, seorang wanita bernama Ronnie, merasa prihatin akan keadaan Agnes. Pasti ada cara untuk melakukan pendekatan padanya, pikirnya. Setiap hari Ronnie datang ke kamar No. 109 itu, duduk di kursi. dan menunjukkan jadwal berbagai kegiatan di panti itu pada Agnes.

"Coba lihat," kata Ronnie sambil menelusurkan jarinya didaftar kegiatan tersebut. "Kita punya banyak kegiatan, bingo, masalah-masalah untuk wanita, musk kenangan-kenangan manis. Kau tidak mau mencoba salah satunya? Atau barangkali kau ingin ke aula untuk bertemu dengan yang lain nya?"

Tapi wanita tua dengan rambut poni bergaya remaja itu menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saia," katanya, matanya sayu oleh kesedihan.

Suatu hari, menjelang akhir musim gugur, Ronnie masuk ke kamar Agnes dan melihat sebuah kalender bergambar anjing di aras meja kecil.

"Bagus sekaii anjing itu," kata Ronnie sambil mengetuk kalender tersebut. Untuk pertama kalinya ia melihat binar-binar di mata biru yang sayu itu. "Aku suka anjing," kata Agnes.

Pikiran Ronnie mulai bekerja cepat. Dulu ia pernah mencoba mengatur agar ada anjing yang diperbolehkan mengunjungi panti werdha itu, tapi usahanya tak pernah berhasil. Sekarang sudah waktunya ia mencoba lagi. Setelah kembali ke kantornya, ia menghubungi sebuah tempat penampungan hewan lokal dan bicara pad direkturnya, seorang wanita bernama Mimi. Baru setengah mendengar cerita Ronnie, Mimi sudah berkata, "Kami punya anjing yang repat. Namanya Mattie"

Sudah berminggu-minggu Mimi memikirkan apa yang mesti dilakukan terhadap Mattie.
la teringat kembali malam musim dingin yang berat itu, ketika Mattie, seekor anjing kampung hitam yang besar, dibawa ke tempat penampungan tersebut sebagai anjing telantar. Anjing itu gemetar di ambang pintu, bulunya basah dan tertutup lumpur. Tapi, meski nampilannya seperti itu, ia tetap berwibawa, seperti wanita bangsawan yang sudah jatuh miskin.

"Sini, sini," panggil Mimi. Anjing itu mendekat dengan malu-malu, menaruh satu kakinya yang kotor di lutut Mimi, lalu mengangkatnya lagi, seakan-akan hendak mengatakan, "Maaf. Aku lupa kakiku berlumpur."

Mereka memandikan anjing itu dan menyisiri bulunya.Tidak ada yang mengakui anjing itu. la tinggal di tempat penampungan bersama empat-lima ekor anjing lainnya, menunggu diadopsi. Bulan-bulan bergulir menjadi tahun. Setiap kali orang datang, anjing-anjing itu berlomba-lomba lari ke gerbang, menggonggong dan mengibas-ngibaskan ekor dengan gembira. Mattie cuma berjalan sopan di belakang, dan dengan malu-malu mengangkat sepasang mata cokelatnya yang menyorotkan rasa percaya. Tapi ia selalu dilewati, seperti permata yang tidak bersinar. la
menjadi penghuni lama yang kesepian di situ. Seperti Agnes.

Sekarang Mimi berjalan menyusuri lorong panjang berisik itu, menuju sebuah kandang besar. "Mattie," panggilnya ke tengah anjing-anjing yang ribut menggonggong berdesak-desakan. Anjing kampung besar berbulu panjang melangkah ke pintu, dengan tenang menerobos kerumunan anjing-anjing yang lebih muda dan lincah. Ia menempelkan hidungnya ke kawat.

"Hei," kata Mimi sambil membungkuk hingga mata mereka bertemu. "Seorang wanita bernama Agnes membutuhkanmu." Kedua telinga Mattie langsung tegak.

Beberapa hari kemudian Mimi menuntun Mattie berjalan di lorong remang-remang panti werdha itu, menuju kamar terakhir di sebelah kiri. Kamar No. 109. Anjing itu sudah dimandikan dan didandani. Kedua telinganya berdiri tegak dan ekornya terangkat tinggi, penuh antisipasi. Mereka. berbelok di sudut dan kuku-kuku kaki Mattie menimbulkan bunyi di lantai linoleum. Agnes mengangkat wajah dari kursinya, buku yang sedang dibacanya merosot jatuh ke pangkuan. Mulutnya ternganga. Air matanya merebak dan menetes jatuh di pipinya.

"Kupikir aku tidak akan pernah melihat arijing lagi," isaknya.

"Namanya Mattie," kata Mimi.

"Kemari, Mattie, kemarilah," panggil Agnes. Mattie maju menghampirinya dengan tali terjuntai, sambil melambaikan ekornya yang panjang dan keriting, seperti yang biasa dilakukan Rusty dulu. Agnes membenamkan wajah di bulunya yang halus. Mattie berusaha mendekat sedapat mungkin dan menaruh satu kakinya di pangkuan Agnes. la mengangkat wajahnya dengan sayang, matanya mengajak bersahabat.

Agnes membelai kepalanya yang halus sambil berbisik, "Halo, Mattie. Anjing baik." Wajahriya yang keriput tampak lembut dan berseri-seri. Mattie membaringkan kepalanya di pangkuan Agnes dan mendesah ketika Agnes menggosok belakang telinganya.

Sekonyong-konyong Agnes teringat sesuatu. Dengan bantuan penopangnya, ia tertatih-tatih menuju meja kecil, diikuti oleh Mattie. Agnes membuka laci meja dan mengambil biskuit anjing yang selama ini tak sanggup dibuangnya. Kedua telinga Mattie menegak. Dengan hati-hati ia mengambil biskuit it Ialu menjilati remah-remahnya di lantai.

Sebelum pergi, Mimi berjanji pada Agnes bahwa mereka akan datang setiap minggu.
Agnes membalik-balik kalender anjingnya dan menandai sernua hari Selasa dengan nama Mattie.

Sekarang, kalau Mattie datang, laci lemari dari logam itu selalu penuh dengan macam-macarn makanan kesukaannya. Sebagai anjing yang sopan, Mattie akan memohon dengan manis, dengan cara mengendus-endus laci itu, lalu duduk menunggu. Tapi ia tak pernah perlu menunggu lama.

Setelah beberapa bulan berlalu, Agnes mulai menunjukkan minat pada berbagai peristiwa di sekitarnya. Tak lama kemudian Mattie sudah menemaninya mengikuti kelas menggambar, latihan-latihan merangkai bunga, dan lomba-lomba lagu gereja. Ia duduk dengan kepalanya di pangkuan Agnes, sementara Agnes mengobrol dengan teman-teman, dan ia akan memukul-mukulkan ekornya kalau mendengar tawa bahagia Agnes.

Merasa terdorong melihat perubahan dalam diri Agne Mimi membawa Mattie untuk mengunjungi para penghuni di panti-panti werdha lain. Hari-hari Mattie menjadi penuh kesibukan. Tak lama kemudian, banyak sukarelawan membawa anjing-anjing untuk mengunjungi orang-orang tua dan anak-anak di seluruh area tersebut. Maka Golden Outrea Program pun diluncurkan secara resmi.

Ketika Agnes merayakan ulang tahunnya yang keseratus, Mattie yang juga sudah tua dan masih menjadi pengunjung tetap, datang untuk ikut merayakannya. Sambil makan kue dan mengobrol dengan tamu-tamunya yang banyak, Agnes membelai kepala Mattie yang sudah kelabu, yang terbaring di pangkuannya, dan sering kali ia membalas tatapan sayang anjing tua itu. Pertemuan mereka telah mengubah hidup keduanya, juga kehidupan orang-orang lainnya melalui Golden Outreach -program yang lahir dari cinta antara seorang wanita tua dan seekor arijing yang lembut.

Shari Smyth
________________________________________________



0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback