skip to main |
skip to sidebar
Written by Azril Kimin
Pengaruh mempengaruhi bukan fenomena politikus saja. Obat-obat yang yang kita konsumsipun bisa juga saling mempengaruhi yang dampaknya bisa negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan. Saling pengaruh yang terjadi bila kita menggunakan lebih dari 1 macam obat disebut juga interaksi obat.
Dalam praktek sehari-hari, interaksi obat jarang dituding sebagai biang kegagalan pengobatan. Sesungguhnya pemberian obat kepada pasien yang terlampau banyak jenisnya, misalnya lebih dari 4 macam, sangat potensial menimbulkan efek yang tidak diinginkan akibat interaksi obat.
Efek jeleknya antara lain: menurunnya/ hilangnya khasiat obat, bertambah kuatnya aksi obat dan bertambahnya efek samping obat. Berkurangnya khasiat obat dapat disebabkan adanya obat yang bersifat tinggi daya serap/adsorpsinya seperti norit yang sering digunakan pada obat diare.
Pemberian obat-obatan bersama norit menyebabkan obat yang dapat diserap tubuh menjadi sedikit karena kalah bersaing dengan norit yang dikenal sebagai obat penyerap racun, sehingga potensi obat untuk menyembuhkan menjadi berkurang.
Selain dengan norit, pengurangan penyerapan obat oleh tubuh dapat juga terjadi bila obat-obat ditelan bersama obat dan makanan yang mengandung kalsium, magnesium, aluminium dan zat besi. Zat-zat yang biasa terdapat dalam obat maag dan suplemen vitamin ini akan bereaksi dengan beberapa jenis antibiotik seperti tetrasiklin dan siprofloksasin membentuk senyawa chelate yang sukar diserap tubuh.
Tentu saja maksud semula menggunakan antibiotika membunuh kuman akan sia-sia. Bagi ibu-ibu yang menggunakan pil KB dan kebetulan juga mengkonsumsi rifampisin (obat TBC), sangat sering terjadi program KB nya kebobolan. Hal ini terjadi karena antibiotika rifampisin sangat potensial mengurangi efektifitas pil KB.
Bagi pasien yang menggunakan sirup obat batuk bersama obat penenang, akan bertambah berat efek samping mengantuknya. Apalagi kalau disertai menkonsumsi alkohol. Bagaimana menghindari interaksi ini.
Cara yang paling mudah adalah dengan mengatur penggunaan obat jangan bersamaan waktunya, misalnya obat yang satu ditelan setelah selang waktu 1 atau 2 jam. Namun cara yang lebih baik adalah mengganti jenis obat yang berinteraksi tersebut dengan obat yang sama khasiatnya namun tidak menimbulkan interaksi yang potensial . Tentu saja penggantian ini perlu pertimbangan dari dokter penulis resep.(AK
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback