Ketika aku dikelas enam, tangan kananku patah, dan hanya berkat bantuan ibu guruku yang baik, aku bisa mengikuti pelajaran2 diklas. Suatu hari, ketika tanganku masih dalam cetakan gips, seorang kawan dan aku duduk ngobrol soal sekolah selagi kami menunggu giliran diruang tunggu dokter perapi gigi.
- "Wahhh, kau bener hebat deh, memang jagoan pinter," ia menggodaku.
- "Tidak usah buat laporan2, kertas kerja, udah gitu bebas pula ujian tertulis."
- " Iiiiya dong, kan musti gitu," aku tertawa.
- "Dan tunggu deh ntar kalo ini sudah sembuh," sambil kuangkat tanganku yang terbungkus gips itu, "ini bakalan deh pastiiiiii aku patahkan lagi!"
- "....iya, dan segala perhatian khusus serta sayangnya bu guru, wuihhh, bisa jadi
murid emas ntar kau ini."
- "Ahhh, cemburu nih ye..,?" aku balas menggoda, "Lagian,aku ini kan unik toh?"
Pada mulanya aku tertegun sampai terbisu untuk bicara. Tapi kemudian aku sadar, ibu itu tidak sengaja untuk berbohong. Ia cuma mengulang semua kata2 kami diluar konteks, makna, sebenarnya dan dalam cara sedemikian yang telah secara keseluruhan mengubah arti sesungguhnya.
Nah, bagaimana dengan urusan yang baru kau dengar dan berniat akan kau terus ceritakan pada seorang teman lain? Apa kau sudah yakin berita itu sudah 100% benar? Akankah nada suaramu atau pencemaran yang ditimbulkan mengubah arti yang sesungguhnya? Akankah pengulangan cerita olehmu itu memalukan atau menyakiti seseorang? Kalau begitu, paling baik jangan dibicarakan.
(JM)
Indo community
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback