Pages

Saturday, November 28, 2009

Belajar Mengerti

(thoughtful -

Sudah beberapa lama saya melanggani mailing list ini dan tertarik membaca artikel-artikelnya yang bermakna. Sekarang saya ingin membagi sesuatu bagi member milis ini... Saat ini saya duduk di kelas 3 SLTP. Tahun keempat berturut-turut saya sekelas dengan cewek pendiam itu. Berturut-turut! Sejak kelas enam SD hingga sekarang.

Namanya Amel. Ia masuk ke sekolah kami sejak kelas 5 SD. Kelas 6 SD adalah pertama kali saya sekelas dengannya. Sejak pandangan pertama,saya tahu kalau dia pendiam. Tapi saya justru tertantang untuk membuatnya 'berbicara'.

Saya berusaha berbulan-bulan menyapanya setiap kali bertemu meskipun dia tidak membalas, memancing satu demi satu patah kata keluar dari mulutnya, dan mendengarkan kata-kata yang keluar lirik dari mulutnya perlahan dengan sabar.

Itu saya lakukan hingga kelas 1 SLTP. Di kelas 2 saya bergabung disebuah 'geng' (walau kami keberatan disebut 'geng'). Sebagian besar waktu saya di sekolah saya habiskan bersama mereka. Kadang saya masih meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Amel, tapi sangat jarang. Jarang sekali.

Di kelas 3, saya melihat bahwa kini dia yang berusaha untuk membuat dirinya lebih terbuka, agar tidak lagi mendapat julukan 'putri isolasi' seperti yang pernah diberikan teman-teman padanya. Tapi sikapnya itu justru membuat saya gerah.

Jika saya menunjukkan sesuatu pada teman dekat saya di kelas, dia mendatangi saya dan mengamati dengan seksama. Dia hampir selalu datang mengamati saat saya mengerjakan PS (tugas). Dia juga datang saat saya mengobrol dengan teman. Seperti ingin ikut, tapi ternyata hanya memandangi. Saya merasa sangat terganggu.

Saya tahu bahwa dia ingin mencoba terbuka, tapi saya justru merasa sikapnya itu amat mengganggu, maka saya melupakan segala usaha saya beberapa tahun lalu dan mengambil sikap yang berbeda 180 derajat. Saya tidak mempedulikannya, tidak mengajaknya bicara seperti dulu, dan apabila dia bicara, saya menanggapinya dengan dingin.

Natal tahun lalu, saya memberinya sebuah kartu. Saya ingat ekspresinya tahun lalu. Kaget. Keesokan harinya dia membalas kartu saya. Tahun ini saya tidak terpikir untuk memberinya kartu. Yang ada dalam daftar saya hanya teman-teman dekat saja, jadi otomatis namanya terlempar dari daftar itu.

Tapi kemarin dia mendatangi saya dengan malu-malu dan meletakkan sebuah kartu Natal tepat di hadapan saya. Saya kaget, tapi hanya tersenyum kecil, dan sambil memandangnya, saya mengucapkan terima kasih. Saya tidak merenungi sikap saya yang begitu keliru terhadapnya.

Malam ini saya hendak memindahkan kartu itu dari tas sekolah ke laci. Saya buka kartu itu, dan seketika terlintas suatu imajinasi tentang betapa keras usahanya untuk bisa diterima. Betapa keras usahanya untuk mendapatkan teman mengobrol.

Malam ini saya belajar mengerti. Besok adalah hari terakhir sekolah tahun ini, tapi saya akan bersikap baik padanya. Mengulang sikap saya sewaktu kelas enam SD dahulu. Besok saya akan menyapanya dan memberinya sebuah kartu natal sebagai balasan. Saya sudah belajar mengerti hari ini.

Oleh Sofia Tania

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback