Pages

Tuesday, October 27, 2009

Merger Di Langit

(inspiration) Penulis: Gede Prama

Dulu, ketika sedang asik-asiknya menekuni studi-studi konstruksi sosial di Inggris, kemudian menemukan serangkaian upaya untuk mencampur semua ide (dalam tema konstruksi sosial), sungguh teramat sulit untuk dimengerti.

Betapa tidak sulit, lontong dicampur dengan tahu, toge dan sayur, serta diaduk dengan bumbu kacang, jadinya memang enak, dan diberi nama gado-gado. Akan tetapi, kalau nasi dicampur dengan bunga mawar, daun pisang serta air kali Ciliwung, tidak bisa dibayangkan apa jadinya.

Kebingungan serupa juga menghinggapi saya ketika pertama kali mendengar istilah borderless world ala Kenichi Ohmae. Bagaimana batas-batas antar negara dan antar bangsa bisa lenyap begitu saja oleh tangan-tangan kapitalisme yang bernama pasar ?.

Pertanyaan yang kurang lebih sama dengan pertanyaan terakhir, juga muncul pertama kali ketika di tahun 80-an Porter mendefinisikan industri secara agak lain. Industri, demikian Porter,tidak lagi diidentikkan hanya dengan kumpulan perusahaan-perusahaan dengan jenis usaha sejenis. Ia terkait ke belakang, ke depan, ke atas dan ke bawah.

Tidak hanya saya, ada banyak orang yang alisnya dibikin berkerut oleh wajah-wajah dunia dan kecenderungan yang semakin lama semakin tercampur,semakin tanpa batas, dan yang paling penting mengobrak-abrik banyak sekali definisi yang penuh dengan garis batas dan kotak.

Coba Anda perhatikan krisis ekonomi yang melanda Indonesia, di mana persisnya letak garis pembatas antara ekonomi dan politik

Cermati lagi apa yang disebut orang sebagai industri asuransi dan industri perbankan, bukankah overlap-nya sudah demikian tinggi ?. Banyak asuransi yang memiliki program tabungan. Tidak sedikit bank yang mengikutsertakan program pertanggungan.

Campuran-campuran dan adonan-adonan aneh, unik, baru dan apapun namanya, semakin lama memang akan semakin banyak. Ada negara yang berkumpul. Ada perusahaan yang berkumpul.

Di Indonesia malah campurannya lebih unik lagi. Sejumlah lembaga tinggi negara sudah tidak mengakui lagi batas-batas yang berumur lama, dan mencoba membentuk adonan-adonan baru.

Di zaman Indonesia masih bangga-bangganya dengan kemampuan membuat pesawat terbang, konon pernah diisukan kalau Indonesia bisa membuat pesawat ulang-alik yang dijamin bisa terbang dan tidak dijamin bisa kembali.

Karena karakteristik jaminannya khas Indonesia, maka dicarilah pilot yang khas Indonesia. Setelah dilakukan test tertulis terhadap ribuan calon, akhirnya yang lolos ke tahap wawancara hanya tiga orang : orang Irian, orang Betawi dan orang Padang.

Ketika ditanya tentang gaji, ketiganya menjawab dengan cara berbeda. Orang Irian yang dipanggil pertama kali meminta gaji Rp. 20 juta saja. Ketika ditanya kenapa demikian tinggi permintaannya, ia menjawab sopan : untuk tunjangan keluarga di rumah, takut kalau ada apa-apa di luar angkasa sana.

Orang Betawi lain lagi. Ia minta gaji Rp. 40 juta saja. Sambil terhenyak pewawancaranya bertanya balik : kenapa demikian tinggi ? Dengan jawaban kalem khas betawi orang ini berujar : dua puluh juta untuk anak isteri dirumah, dua puluh juta lagi untuk kawin lagi di luar angkasa.

Bukan orang Padang namanya kalau tidak kreatif. Dengan mantap ia menyebut jumlah Rp. 60 juta saja. Pewawancaranya lebih terkejut lagi sambil bertanya alasannya. Dengan gaya dagang yang pas ia menjawab : dua puluh juta pertama buat orang Irian tadi (biar dia saja yang terbang ke luar angkasa),dua puluh juta lagi untuk dibagi-bagi oleh team pewawancara, dan dua puluh juta terakhir buat modal dagang saya di Pasar Minggu.

Anda boleh tertawa, asal jangan tersinggung karena ini hanya lelucon. Yang jelas, terlepas dari faktor etika dan faktor lainnya, orang Padang terakhir ternyata paling kreatif. Dan senjata kreativitasnya sebagaimana cerita di awal tentang senangnya kecenderungan bergerak ke arah yang saling mencampur - ternyata sederhana, yakni mencampur semua kepentingan.

Entah ini serius, entah ini mengada-ada, demikianlah kecenderungan sedang berjalan. Adonan-adonan dan campuran-campuran sedang terjadi di mana-mana. Industri perbankan dan industri asuransi hanya salah satu contoh saja. Dimana keduanya melakukan merger secara amat meyakinkan.

Dan bukan tidak tertutup kemungkinan, kalau nantinya semua industri bersatu jadi satu. Tidak ada batas-batas, batasnya hanya satu, yakni kemampuan kita melihatnya. Persis seperti kita melihat langit, batasnya tidak ada, hanya kemampuan kita melihatlah yang menjadi satu-satunya pembatas yang meyakinkan.

Kalau Anda setuju dengan analisa mengada-ada ini, siapkanlah kepala dan pikiran seperti kita melihat langit. Tidak hanya perbankan dan asuransi yang telah dan akan melakukan merger. Ia bisa melanda siapa saja dan dimana saja.

Mirip dengan Citibank yang menggandeng siapa saja yang mungkin digandeng. IBM dengan jaringannya yang jauh lebih lebar dari sekadar industri komputer. Demikian juga dengan dunia internet yang mencampur siapa saja ke dalam sebuah desa global.

Bukan tidak mungkin, kalau semua industri akan merger di langit. Semuanya serba tanpa batas, tanpa sekat, tercampur jadi satu, dan hanya keluasan dan kejauhan pandangan masing-masinglah yang menjadi batas-batasnya. ***

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback