(inspiration) Penulis: GedePrama
Dulu, seorang sahabat yang amat bijak pernah bertutur sopan ke saya.Hidup, kata dia sambil menelan ludah perlahan, tidaklah perlu terlalu hebat dan cepat. Tentu saja saya yang masih amat muda ketika itu, dan amat silau dengan gemerlap kehidupan orang-orang atas, protes dengan pesan alon-alon waton kelakon ini.
Seperti tidak perduli dengan pesan sahabat tadi, saya lanjutkan saja menancap gas mobil kehidupan. Memang, sempat menyentuh langit karir yang didambakan banyak orang.
Sekian tahun setelah pesan di atas berlalu, dan saya sudah demikian lelah dengan perjalanan yang berjalan cepat, suara lembut teman di atas terdengar lagi di telinga. Ada bagian akhir dari pesan sahabat di atas yang masih tertulis rapi dalam memori : puncak kehidupan tercapai ketika kita amat bahagia menjadi orang biasa.
Ingin rasanya memeluk sahabat lama tadi dalam dekapan dada erat-erat. Sayangnya kami dipisahkan jarak ribuan kilometer. Sehingga, hanya jembatan-jembatan renungan dan kontemplasilah yang bisa menghubungkan suara-suara rindu saya pada sahabat yang bijaksana sejak umur yang amat muda ini.
Sadar akan dalamnya renungan ini, pelan dan perlahan setir kehidupan saya putar ke arah yang lain. Arahnya, mungkin akan terus menelusuri bekas-bekas langkah yang pernah dilalui orang-orang seperti Jalaluddin Rumi, Hazrat Inayat Khan, Mahatma Gandhi, Dalai Lama,Rabindranath Tagore dan manusia-manusia sejenis.
Saya tidak bercita-cita apa lagi berjanji - akan bisa sehebat mereka, karena bekas-bekas jejak kaki orang-orang ini banyak sekali ditulisi kata-kata ikhlas, ikhlas dan ikhlas.
Disamping itu, kata lain yang amat terang tertulis dari jejak-jejak kaki manusia mengagumkan ini adalah kata cinta. Cinta bahkan menghiasi hampir seluruh jejak-jejak kaki ini. Oleh karena alasan inilah, maka sudah cukup lama saya membiasakan diri untuk menulis, melihat, merasakan, memegang,memeluk, membaui rasa cinta di manapun badan ini berada.
Benar seperti yang pernah ditulis Jalaludin Rumi, dalam cinta kita bisa merasakan kehadiran Tuhan di Masjid sahabat-sahabat Muslim, di Gereja teman-teman Nasrani, diVihara orang-orang Buddha, di Pura-nya orang Hindu, dan bahkan di setiap tempat di mana kita hadir.
Pengalaman yang mau saya bagi dengan Anda, semakin cinta itu kita dekati dan kita peluk, semakin banyak godaan yang muncul. Seperti sedang bertutur ke kita, mendalami cinta sebenarnya mirip dengan menggali sumur. Di tempat-tempat yang dangkal, kita menemukan lumpur. Akan tetapi di tempat yang dalam, itulah tempat di mana kejernihan dan kesejukan bersembunyi.
Seperti sedang mendidik dan mengajari saya, kehidupan saya bertutur disumur-sumur tertentu saya bertemu banyak lumpur. Di segelintir sumur yang lain, ada kejernihan dan keheningan. Di dua tempat di mana saya pernah dipercayai menjadi komandan perusahaan, ada banyak lumpur yang sempat membuat diri ini megap-megap.
Demikian juga ketika belajar mencintai keluarga sehari-hari. Ketika baru saja memberikan hadiah kepada isteri tercinta, tiba-tiba hadiah tadi hampir saja membuat nyawanya melayang.
Tatkala menyenangkan anak-anak terbang bersama saya ke sebuah tempat indah lengkap dengan fasilitas eksekutifnya, ada saja godaan-godaan yang bisa memancing rasa marah.
Dulu, ketika ayah dan Ibu masih hidup saya beberapa kali mencoba mengekspresikan cinta. Dan berapa kalipun cinta itu mau diekspresikan, sebanyak itu juga godaan-godaan muncul.
Seperti bercerita tentang keseimbangan yang sempurna, sang kehidupan juga pernah menghadiahkan sumur-sumur dalam yang menghadiahkan kejernihan ditempat lain. Sebagai penulis, ada banyak sekali orang yang mengungkapkan empatinya.
Sebagai pengisi acara di beberapa radio, ada banyak sekali pendengar yang menitikkan air mata syukur setelah mendengarkan saya. Disebuah penghujung tahun, radio Female Jakarta mengirimkan sekuntum bunga dengan sangat sedikit kata-kata.
Seperti mau mengatakan, cinta memang tidak untuk diungkapkan lewat kata-kata. Sebagai pembicara publik, ada saja orang yang menyentuh hati saya.
Mirip dengan sumur-sumur kehidupan banyak orang, demikianlah sumur-sumur saya. Di sekumpulan sumur, masih bertemu lumpur. Di sekumpulan sumur lain,sudah ada tanda-tanda kejernihan.
Semua ini seperti mau berbicara ke Anda dan saya, teruslah menggali sumur-sumur cinta. Lumpur memang hanya sekadar sasaran antara. Namun, ia menuntut satu hal yang tidak bisa ditawar : ketekunan untuk terus menggali, menggali dan menggali.
Ketekunan untuk terus menggali inilah yang ada di kepala ketika banyak godaan hidup kembali muncul dalam kualitas dan kuantitas yang jauh lebih besar dari biasanya. Baru memimpin perusahaan raksasa beberapa bulan saja, sudah dihadang tembok kehidupan yang tidak memberikan alternatif lain terkecuali harus mundur. Baru saja menarik nafas lega di puncak perusahaan swasta, ada angin godaan yang meniup saya bersedia turun.
Banyak sahabat mengira saya lagi bersedih ketika ditiup angin kehidupan untuk turun. Sayangnya tebakan itu keliru. Karena telah lama saya mendidik diri untuk tersenyum baik ketika naik maupun ketika turun.
Demikian juga ketika menggali sumur-sumur cinta. Tidak ada janji dari sang kehidupan, kapan bertemu air jernih. Yang jelas, tugas kita hanya satu menggali,menggali dan hanya menggali. Begitu kita bertemu satu sumur kejernihan,kitapun diwajibkan untuk menggalinya lagi di tempat lain.
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback